Tentang Crista
Oleh : Yulistia Akbari
Yuni berjalan menuju parkiran mobil.
Ditangannya banyak barang yang telah ia beli di supermarket hanya untuk sekedar melampiaskan amarahnya yang
tersisa walaupun ia tidak tahu apa yang harus dibelinya.
Ia
masuk kedalam mobil dan menutupnya. Kemudian menghela nafas panjang dan berat. Kenapa hal sekecil ini membuat pikiranku
menjadi kacau, batinnya.
Di
usianya yang menginjak kepala lima ia telah meraih apa yang belum tentu mampu
diraih oleh orang lain. Kedudukan yang terhormat, gaji yang lebih dari cukup,
suami yang setia dan baik, juga ia telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap
karena telah memiliki buah hati semata wayangnya, Crista, yang kini telah
menginjak usia 17 tahun.
Yang
menjadi pikirannya selama ini adalah anak perempuan semata wayangnya, Crista.
Gadis cantik jelita itu begitu memakan banyak pikiran Yuni diabnding dengan
pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Akhir- akhir ini Yuni merasakan perubahan
sikap Crista. Ataukah Yuni yang tidak bisa menerima keadaan Crista yang beranjak dewasa?
Saat
masih kecil Crista adalah anak yang sangat lucu. Paras manisnya yang berhidung
mancung dan lesung pipit membuat siapapun yang memandangnya akan merasa gemas.
Ditambah dengan sikap periangnya yang suka bercerita. Disekolah pun ia termasuk
anak yang pintar karena selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar
disekolahnya. Kecerdasan yang menurun dari Papanya, dan kecantikan yang menurun
dari Mamanya membuat Crista menjadi sosok yang sangat sempurna.
Namun
akhir-akhir ini Yuni merasakan perubahan pada sikap anaknya. Crista cenderung
lebih menutup diri dan sudah jarang bercerita mengenai hari-harinya kepada
dirininya. Crista lebih sering hang out
bersama teman-temannya. Lebih sering mengurung diri dikamar sambil mendengarkan
radio, browsing atau sekedar membaca
buku.
Dan
yang paling berubah dari diri Crista dalah ia mulai memiliki teman lelaki yang
sering datang kerumah setiap malam Minggu.
Entah
kenapa Yuni kurang merasa suka jika Crista harus memiliki hubungan dengan
lelaki disaat ia masih harus sekolah dan menuntut ilmu. Walalupun tidak bisa
dipungkiri di usianya yang belasan itu jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan
lawan jenis adalah hal yang sangat menyenangkan, karena Yuni juga pernah muda.
Tapi
ia tidak mau Crista terjebak lebih dalam dari yang seharusnya. Perubahan pada diri Crista membuat Yuni banyak
berfikir. Ia takut Crista terjebak dalam pergaulan yang salah yang dapat menghancurkan
masa depannya yang masih panjang.
Yuni
mulai melajukan mobilnya. Ia
mengikuti alur jalan yang bahkan ia tidak tahu harus kemana. ” Crista... ”
gumannya pelan.
Siang
tadi Yuni dan Crista bertengkar hebat.
” Mama pikir Crista tidak bisa menjaga diri?
Crista udah besar, Ma.” Kata Crista.
“ Iya, kamu memang sudah besar, tapi belum cukup
dewasa untuk bisa bersikap! Mama menghawatirkanmu karena Mama sayang padamu.”
“ Mama terlalu protektif! Apa salahnya Crista jalan bersama teman-teman. Toh nilai Crista di sekolah tetap
baguskan, Ma?! “
“ Tapi Mama tidak suka kamu berpacaran! Kamu masih
terlalu kecil!”
” Crista sudah dewasa, Ma! Teman teman Crista
semuanya juga sudah memiliki pacar, kenapa Crista tidak?! ”
” Tidak ada jawaban apa-apa untuk pertanyaanmu
itu, dan Mama tetap tidak mengizinkanmu untuk berpacaran disaat kamu masih sekolah!”
Crista
mengis dan segera masuk ke kamarnya. Selalu seperti itu. Seolah kamarnya adalah
surga kedua untuknya. Entah apa yang ia lakukan didalam kamarnya seolah ia
tidak punya waktu lagi untuk Mama nya.
Yuni
hanya merasa kesepian.
Mungkin inilah saat-saat tersulit yang harus Yuni
jalani dalam menghadapi anaknya yang sedang mengalami masa puber. Entahlah,
Yuni hanya merasa belum bisa menerima
dengan perubahan anaknya tersebut.
****
”Aku gak tau harus gimana lagi menghadapi Crista,
Ka.” Eka, sahabat yang selalu setia bersama Yuni. Tidak hanya sebagai rekan
kerja, tapi juga sahabat yang setia. Persahabatan yang telah mereka jalin sejak duduk di bangku perkuliahan.
Eka
menyuguhkan secangkir teh hangat, ”Diminum dulu tehnya. Itu hanya masalah pubertas, Yun. Bukankah kita dulu juga mengalaminya?”
” Tapi aku takut, Ka. Aku gak mau Crista salah
langkah. Aku takut.”
Eka diam sejenak dan mengalihkan pandangannya, ” Jangan
mengingat masa lalumu, Yuni. Aku tahu ini semua ketakutanmu.”
Yuni hanya terdiam.
Eka
benar. Sikap Yuni yang protektif dan berlebihan kepada Crista adalah wujud
ketakutannya atas semua kesalahan yang pernah Yuni lakukan di masa lalu. Yuni
kembali terbayang dengan kejadian di masa lalu, saat ia masih remaja.
Sama
halnya dengan Crista, di usia yang ke tujuh belas tahun Yuni mulai merasakan
jatuh cinta. Betapa indahnya perasaan yang ia miliki saat itu. Faisal. Nama
lelaki itu Faisal. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih. Senyum
manisnya dan tatap matanya yang tajam bagi Yuni adalah mantra terhebat yang
diberikan alam untuknya. Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu ia adalah
murid pindahan di SMA, Yuni sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak hanya wajahnya
yang manis itu yang membuat Yuni terpesona, tetapi lelaki kurus tinggi itu juga
memiliki tutur kata yang indah juga pintar. Yang
paling membahagiakan adalah ternyata ia juga menaruh hati pada Yuni. Dan pendek
kata, mereka pun menjalin cinta.
Cinta masa remaja memang
adalah cinta yang paling penuh dengan bunga-bunga. Begitupun apa yang Yuni
rasakan bersama Faisal. Kebersamaan dan kebahagiaan tiada duanya. Dan ternyata
kebersamaan itu membuat mereka terlena. Dan hal paling ternista pun terjadi
diantara insan remaja tersebut.
****
Masih
lekat dalam ingatakan Yuni saat orangtuanya memperlihatkan wajah berang. Papa memukul Yuni
dengan sebalok kayu yang entah ia dapatkan dari mana. Dan Mama hanya menangis
penuh dengan kesedihan saat mengetahui dirinya hamil. ”Papa tidak sudi punya
cucu diluar nikah! Dasar kamu
anak tidak tahu diuntung! Dasar tidak bisa menjaga diri! Mau jadi apa kamu?!” masih terngiang dan tak akan Yuni lupakan
perkataan Papa yang sangat menyakiti hati. Tapi ia hanya bisa diam dan menerima pukulan dari
Papa. Karena aku yang salah.
Papa
tidak sudi nama baiknya tercoreng dihadapan keluarga besar, akhirnya bersama
Mama dan Papa, mereka pergi ke luar kota dengan satu tujuan : menggugurkan
kandungan. Dan sejak hari itu, Yuni
tidak pernah lagi bertemu Faisal.
Teman-teman bilang, ia kembali pindah sekolah. Tapi, belakang Yuni tahu
bahwa Papa memanfaatkan kekuasaanya untuk membujuk Kepala Sekolah memindahkan
Faisal dari sekolah kami, entah bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Papa bisa melakukan apa saja demi
harga diri dan kehormatan.
Setelah
aku menggugurkan kandungan, waktu berjalan begitu mengambang bagi Yuni. Cinta
yang hilang tak tahu dimana. Memang harga dirinya terselamatkan, Yuni si gadis cantik
nan anggun. Wanita baik-baik dari keluarga terhormat. Tapi tak satu pun yang
tahu bahwa ia pernah mengandung dan
melakukan aborsi, kecuali Mama, Papa, Fasisal mungkin. Tapi Tuhan tahu. Hidup
Yuni berjalan sebagaimana adanya, tepatnya seperti yang Papa inginkan. Kuliah,
menikah, dan sukses.
*****
Dibangku
kuliah Yuni bertemu dengan Eka. Sosok supel, cerdas dan ramah adalah sahabat terbaik
yang aku punya. Melalui Eka lah Yuni bertemu dengan Anggara. Dan mereka pun
menjalin kasih. Saat hubungan mereka terasa semakin serius, Yuni pun memutuskan
untuk jujur kepada Eka dan Anggara tentang masa lalunya. Dan ternyata Tuhan masih menyayangi Yuni, Angga
dan Eka menerima masa lalunya dengan ikhlas walaupun awalnya tampak shock. Tapi, semuanya baik-baik saja bahkan
Anggara melamar Yuni dan telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun,
tanpa pernah mengungkit masa lalu.
”Kamu
gak bisa mengekang dia atas perubahan alami itu. Hanya butuh cara yang tepat.” Eka
berkata dengan santainya.
” Caranya bagaimana, Ka... aku bingung.”
” Dengan jujur, katakan ketakutanmu. Dan berikan ia alasan yang logis, jangan
hanya berkata tidak tanpa memberikan alasan yang bisa ia terima. Crista itu
cerdas, ia tidak akan menerima peraturan tanpa tahu tujuannya. Lagipula, siapa
sih yang bisa menahan perasaan jatuh cinta. Ingat, Crista itu masih 17 tahun.”
Lama
Yuni diam. Akhirnya rasa haus menggerogoti, teh manis yang sudah dingin itu pun
ia minum. ”Kamu benar, Ka. Aku harus jujur pada Crista.
****
Malam
menunjukkan pukul delapan. Anggara belum juga pulang dari kantor, macet membuat
ia terlambat. Dan Crista seperti biasa berada di dalam kamarnya. Ragu Yuni
melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi poster Spiderman, entah kenapa
gadis secantik Crista menyukai pahlawan laba-laba ini. Ia menarik nafas panjang, dan mengetuk pintunya. ”Crista, ini mama. Mama mau bciara,
boleh?” Diam. Tak ada sahutan. Tapi setu detik kemudian
pintu terbuka, ”Masuk ma.”
Yuni
memasuki istana pribadi Crista dan duduk di atas tempat tidurnya. “Tentang
peraturan mama yang ngelarang kamu pacaran.” Aku memulai pembicaraan. Crista
diam sambil memandangiku, penuh tanya.
“Ada alasannya, Crista. Mama gak mau sekolahmu terganggu.”
“ Tapi Crista tetap di tiga besar kan ma?”
Crita meyakinkan diri. Ya, Yuni tahu. Siapapun tidak akan bisa menampik
keenceran otak Crista.
“ Siapa nama pacarmu?” Yuni kembali
bertanya.
“ Baru pdkt kok ma,” jawab Crista. Ada sedikit kelegaaan
” Ada yang ingin mama ceritakan kepadamu, dan
Mama harap kamu sudah siap menerima cerita Mama.”
Dan
aku mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun silam pada Crista.*
****
”Aku menceritakan semuanya pada Crista, Mas.” Kata Yuni pada Anggara
malam ini, saat hanya berdua ditempat tidur. Anggara memandangnya heran.
“Tentang masa laluku, yang pernah aborsi.” Lanjutnya.
“ Kenapa, sayang? Apa yang terjadi
hingga kamu menceritakannya pada anak kita?”
“Crista sudah mulai jatuh cinta,
Mas. Dan kami bertengkar hebat karena aku melarangnya pacaran. Aku takut
kesalahan yang terjadi di masa lalu terjadi kembali kepada anak kita. Aku gak
mau, Mas. Aku takut.”
Anggara masih memandangku lembut, keteduhan hati yang ia pancarkan. Aku
melanjutkan cerita,
“Akhirnya aku jujur pada Crista,
ketakutan yang aku rasakan.”
“ Bagaimana reaksinya?”
“ Crista ternyata memiliki gen-mu
lebih dominan, Mas. Ia menerima ceritaku, seperti halnya ia menerima ku. Crista
berkata bahwa baginya aku adalah mama terbaik yang ia punya. Dengan atau tanpa
kesalahan di masa laluku. Seperti yang kamu katakan waktu melamarku, mas.”
Dan
Anggara memeluk Yuni dengan hangat malam itu. ia bahagia. Sangat bahagia.
****
Crista
mendekati Mamanya yang sedang memotong bonsai. Yuni berhenti sejenak dan memandangnya,
”Ada apa, sayang?”
”Ma, Crista gak mau pacaran.”
“Lho kenapa?”
“Cowok gak bisa dipercaya.”
“Lho..lho, kenapa sih?”
“Crista nyaris aja jadian sama Hari kalo
gak keburu ketauan kalo ternyata dia ceweknya banyak. Amit-amit deh ma pacaran
ama playboy.”
Yuni tersenyum. “Artinya Tuhan masih
sayang sama Crista. Crista masih dilindungi dari orang jahat.”
“Iya Ma, tar aja pacarannya. Kalo Crista
udah cukup gede. Sekarang mau sekolah aja dulu.”
Yuni
memeluk Crista erat, dan mencium pipinya.
“Crista mau dapet jodoh kaya Papa.”
Yuni tersenyum memandang Crista
yangcantik, “Pasti, sayang. Bahkan yang lebih baik dari papa.”
Sore
itu terasa sangat indah untuk Yuni
Maret
2011