Rabu, 08 April 2020

Hamil? Insyaallah segera!

Usia yang insyaallah akan menginjak 31 tahun.

Anak kami yang pertama telah menginjak usia hampir enam tahun, insyaallah. Dengan segala kecerdasan dan keceriaan yang diberikan Allah kepadanya. Alhamdulillah, anak kami tumbuh sehat dan menggembirakan setiap harinya.

Mengingat usia anak kami yang sudka semakin besar, sebentar lagi akan menginjak sekolah dasar, setiap orang selalu menanyakan hal yang sama : "kapan punya adek?" membuatku teringat akan salah satu iklan yang dulu kerap muncul di televisi.

Saya selalu menjawab "doakan ya, segera". Karena saya juga mau!

Bagi sebagian orang hamil dan melahirkan seolah semudah melemparkan underwear ke dalam keranjang pakaian kotor, simsalabim jadi apa prok! prok! prok! Lalu hamil-lah sang istri. Namun bagi saya ternyata tidak semudah itu. Walaupun mendapatkan Arjuna hanya berjarak empat bulan, ternyata setelahnya saya harus menunggu empat tahun sejak kami memutuskan untuk memiliki anak kembali. Ya, saya dua tahun menunda memiliki ankaa dikarenakan pertimbangan ceasar. Waktu itu saya masih khawatir akan kondisi rahim saya yang belum begitu kuat jika harus hamil dalam jangka waktu satu atau dua tahun. 

Saya mau sekali punya anak lagi!

Kadang, jika saya bertemu ibu hamil saya akan meminta diinjak kaki saya oleh mereka. Biar nular! hehehehhee. Minta didoakan dan dielus-elus perutnya. Anak kami pun kerap bertanya kapan adiknya lahir.

Melihat teman-teman yang lain pun sudah memiliki anak minimal dua, bahkan ada yang lebih dari tiga. Ipar-ipar pun memiliki anak lebih dari satu. Mereka selalu bertanya : "Arjuna kapan punya adek?"

Seolah kami bisa menjawabnya. 

Tapi, walaupun hati tergores saya kerap menenangkan diri dengan berkata semoga apa yang mereka tanyakan bisa menjadi doa bagi keluarga kami. Doa agar segera memiliki anak.

Semoga Allah segera mengabulkan harapan kami berdua. Semoga sebentar lagi kami akan menimang anak kembali, merasakan betapa indahnya keajaiban Allah itu. Hamil-melahirkan-menyusui adalah suatu proses yang luar biasa. Aku merindukan  proses itu dan rutinitas setelahnya. 

Aku ingin hamil lagi, ya Allah!

Di usia ku ini, perlahan-lahan Allah mengabulkan doa-doa yang telah aku panjatkan seumur hidupku. Aku yakin, Allah pun akan berkenan mengabulkan doa kami untuk segera memiliki keturunan kembali, segera, pada waktunya. 

Saat ini, aku ingin menambah wishlist doaku : Anak, kembar pun tak masalah, dan segera berkumpul satu rumah bersama suamiku tercinta : Febri Gunawan. 

Semoga kami dipanjangkan dan diberkahkan usia, agar dapat membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan warrohmah bersama anak-anak kami tercinta.

Hamil?

Insyaallah, segera!

Minggu, 05 April 2020

Ketika Harus ASI Pumping Eksklusif


Ketika Harus ASI Pumping Eksklusif
Penulis : Yulistia Akbari

Melahirkan adalah suatu proses yang sangat luar biasa. Semua keajaiban di dunia seolah dikumpulkan Tuhan dalam satu moment yaitu melahirkan. Rasa sakit yang tidak bisa didefinisikan lagi apa maknanya , melebur menjadi titik –titik tidak berbekas saat bayi pertama kami lahir secara caesar setelah dua belas jam induksi yang tidak membuahkan hasil yang memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Lalu lahirlah bayi tampan yang kami beri nama Arjuna Zabran Gunawan dengan gagahnya ke dunia yang penuh dengan tantangan ini sekitar pada pukul sembilan malam.
Saya mengalami sedikit kekecewaan kepada pihak rumah sakit ditempat saya melahirkan, karena para bidannya tidak memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada saat anak saya lahir. Walaupun dalam keadaan terbius, saya dapat merasakan bahwa tidak adanya tindakan IMD tersebut, padahal saya tahu seharusnya IMD itu diberikan kepada bayi baik si Ibu melahirkan normal ataupun operasi. Setelah beberapa menit saya sadar pun IMD tersebut tidak kunjung diberikan. Beberapa jam berlalusetelah melahirkan barulah kemudiann para perawat di Rumah Sakit mengatakan kepada saya bahwa anak saya akan diberikan susu formula (sufor) , “Ibu, bayi nya kita kasih sufor dulu ya biar gak kelaperan nanti”.
“Nanti kalau dikasih sufor, anak saya tidak mau lagi menyusui.” Alasan saya dengan hati-hati, takut menggurui atau menyinggung para perawat yang mungkin seharusnya sudah mumpuni dibidangnya.
“Besok kami ajari cara menyusuinya, Bu. Tenang saja, bayinya mau kok nanti menyusui kan sekarang ASI-nya aja belum keluar.” Jawab perawat bertubuh gempal tersebut.
Berat hati saya untuk menyetujui pemberian sufor itu, tapi kondisi yang masih lemah setelah operasi membuat saya tidak mau berbantah dengan perawat, apalagi Ibu saya terlihat tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Mata saya mencari keberadaan suami saya yang sepertinya sibuk mengurus mempersiapkan barang-barang untuk dibawa kerumah sakit. Seandainya suami saya berada di dekat saya waktu itu, pastilah ia akan mencegah si perawat memberikan sufor. Akhirnya saya berdiam diri dan hanya menahan sakit sakit sambil hanya menatap slogan-slogan tentang pentingnya ASI dan IMD bagi bayi yang tertempel didinding kamar rumah sakit. Walaupun pada nyatanya apa yang tertempel di dinding rumah sakit bertentangan dengan apa yang saya alami. Keesokan harinya barulah saya diajarkan untuk menyusui, tentang pelekatan dan rasa sabar oleh perawat. Saat pertama kali merasakan Arjuna bersemangat untuk menyusui, seperti orang kelaparan, air mata ini jatuh dengan sedirinya. Bangga , terharu, cinta juga bahagia menjadi satu.
Tantangan yang sesungguhnya dalam memberikan ASI dimulai saat kami telah pulang dari rumah sakit. Rasa semangat untuk memberi ASI sedikit terganggu dengan banyaknya pendapat “orang-orang lama” entah itu saudara ataupun teman yang menyarankan untuk memberikan susu formula. “Biar anaknya kenyang, ga nangis terus terusan” asumsinya.
Saja jawab santai aja , “Namanya juga bayi, ya nangis dong kerjaannya” saya keukeh tidak mau susu formula. Cukuplah si perawat yang ‘meracuni’ niat untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak saya dengan susu formula. Setiap ‘godaan’ yang datang untuk menggunakan susu formula berhasil saya tepis , apalagi suami sangat mendukung untuk memberikan ASI eksklusif. Suami tidak pernah absen untuk bangun malam walaupun hanya sekedar membantu meletakkan bantal diatas tangan demi kenyamanan sang anak untuk bersandar kala menyusi ditengah malam.

Pada bulan kedua setelah Arjuna lahir, tiba-tia saja ia tidak mau lagi menyusui. Entah itu dikarenakan ASI saya yang selalu membuatnya kewalahan karena setiap kali ia menyusui, beberapa menit kemudian ia akan tersedak karena ASI yang keluar terlalu kencang tidak sebanding dengan kekuatannya dalam menelan ASI tersebut. Atau karena ia merasa lebih nyaman menyusi dari dot yang tidak muncrat seperti saat menyusi langsung, atau bisa jadi karena keduanya. Memang, kebiasaan saya adalah  saat Arjuna menyusui di salah satu payudara, saya akan menampung ASI yang keluar dari payudara sebelahnya di botol. Kemudian ASI yang keluar tersebut saya berikan kepada Arjuna melalui botol. Waktu itu saya berpikir : “Sayang kalo dibuang. Ntar aja stok ASI-nya kalo udah kerja.”
Pola pikir saya itu salah besar, akibatnya Arjuna lebih suka menyusui di botol karena lebih teratur keluarnya dibanding ASI saya yang muncrat kemana-mana. Istilahnya, bingung puting. Pernah saya mencoba untuk relaktasi, tapi saya menyerah karena suasana tidak mendukung. Ibu saya tidak tahan mendengar tangisan Arjuna yang membahana ketika disodorkan payudara, “Biarin aja lah dikasih dot, daripada nangis kaya gitu. Malu sama tetangga.”. Ah, saya memilih mengalah saja menuruti nasihat Ibu walaupun berat hati. Sama seperti saya membiarkan perawat memberikan sufor pada Arjuna disaat ia lahir.
Kemudian saat Arjuna berusia dua bulan setengah, ia sama sekali sudah enggan menyusui langsung. Tak terhitung rasanya sakit hati ini saat melihat Arjuna membuang muka ketika disodori payudara untuk menyusui. Ibaratnya sakit patah hati kalah dengan sakitnya ditolak anak menyusui. Tapi, ASI eksklusif harus tetap berjalan. Harus! Itu tekad saja.
Hasilnya, adalah saya membeli pompa ASI sebanyak dua buah. Kiri dan kanan. Memerah asi setiap dua jam sekali adalah hal wajib. Terhitung dalam sehari saya melakukan dua belas kali pumping. Memberikan ASI pumping eksklusif, istilah yang saya buat ini, menjadi semakin berat ketika usia Arjuna menginjak tiga bulan dimana saya harus kembali bekerja. Perusahaan yang bergerak dibidang perbankan ini tidak memungkinkan saya untuk fleksibel memberikan ASI Perah (ASIP) segar adalah salah satu tantangannya. Tapi hal tersebut dapat diatasi dengan cooler bag yang menjadi menjadi andalan.

Tantangan lainnya adalah fisik. Setelah mulai bekerja, saya akui rasa lelah mudah sekali menyerang. Apalagi pumping yang saya lakukan setiap dua jam sekali. Titik paling berat adalah saat harus bangun setiap dua jam mulai pukul 21.00 WIB sampai dengan 05.00 WIB demi memberikan ASIP segar kepada Arjuna. Niat ini memang sudah saya canangkan sejak memberikan ASI pumping eksklusif bahwa saat dirumah ASIP segar harus selalu saya sediakan bagi Juna dan saat saya berada di dekat Juna. Hasilnya, kurang tidur dan makan menjadi hal biasa.
Tak terbayangkan remuk redam dan kerepotannya saat memberikan ASIP pada Juna ini. Bangun tengah malam, mengurus Juna yang termasuk kategori anak yang rewel, bekerja dan bolak-balik mengantar ke rumah pengasuh, rasanya dua puluh empat jam terasa kurang.  Pernah terlintas dalam pikiran untuk berhenti bekerja saja demi memberikan ASI eksklusif ini ini, tapi pertimbangan lain membuat saya harus menghemas rapat-rapat niat itu.

Semakin hari, produksi ASI saya semakin menipis. Entah itu dikarenakan karena ASI yang keluar melalui pumping bukan isapan, atau karena kelelahan, atau juga karena pumping yang biasanya dari dua jam sekali menjadi empat jam sekali karena saya tertidur kelelahan atau kesibukan kerja, saya tidak tahu pasti. Lalu hal yang paling mengerikan terjadi : stok ASI dan juga produksi ASI benar-benar menurun di usia Ajuna delapan bulan  menjelang sembilan bulan.

Dengan berat hati kami memberikan susu formula kepada Arjuna, walaupun masih diselingi  ASI. Air mata merebak kemana-mana. Gagal sudah niat S2. untuk Arjuna tersayang. Tapi suami menguatkan hati saya dengan berkata : “Tidak apa-apa, kan setidaknya sudah berhasil eksklusif sampai lewat enam bulan. Nanti kalau Juna punya adek, insyaallah samapai S2, jadikan ini pelajaran”

Perjuangan memberikan ASI menurut saya sangat luar biasa, karenanya saya sangat iri dengan para ibu yang tidak bekerja yang mampu mengurus anak dan memberikan anak mereka ASI eksklusif sampai dua tahun. Dan saya sangat kagum pada para ibu bekerja yang berhasil memberikan ASI hingga dua tahun pada anak mereka. Semoga saja apabila Tuhan memberikan kesempatan lain, saya mampu untuk memberikan ASI sampai 2 tahun untuk anak saya tanpa satu tetes pun susu formula. Amin, semoga Tuhan selalu merahmati para ibu yang berjuang demi memberikan ASI pada buah hatinya.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -