Selasa, 26 September 2017

Resah Sang Mama



Rasanya ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak yang kritis.
“Mama, mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua atau siapapun. Juna harus sabar.”  

Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang kerap membuatku naik pitam. 

Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan Merajuk?
Anak tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup, aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.”  Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam kemudian.

Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.

Aku akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka. 
Aku cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan  oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik. 
Sikap Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku tersebut. Bismillah.

Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran,  tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.


Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!" 



  

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -