Senin, 22 Mei 2017

Pangkalpinang, 22 Mei 2017





Akhir-akhir ini aku sering sekali mudah tersinggung dan marah kepada Ibu dan Bapak, terutama Ibu.
Tentunya dari sisi manapun sikap ini tidak akan penah dibenarkan. Sikap seperti itu hanya akan melabeli diri saya sebagai anak durhaka, tidak tahu diri ataupun kurang ajar. Seharusnya si anak tetap bersikap menyayangi, sabar dan juga tetap meuruti semua perkataan orangtuanya. Tanpa terkecuali.
Aku kembali merenungi kenapa mudah sekali timbul dihatiku pergesekan-pergesekan atas sikap orangtuaku kepadaku ataupun kepada anakku.
Ibu.
Tidak satupun dan tidak pernah sekalipun aku berhenti menyayangi Ibu. Hanya saja, terkadang sifat Ibu yang terlalu mengatur, protektif dan juga tidak dapat memahami keadaaku seringkali tidak dapat aku tolerir sehingga membuat Ibu marah. Seperti beberapa hari yang lalu sewaktu Ibu menyuruhku untuk membersihkan dan merapikan pakaian yang telah menumpuk, bukannya bermaksud untuk menolak, namun saat Ibu meminta melakukan itu aku merasa sangat lelah, badan terasa tidak enak dan sangat mengantuk. Sekiranya harapaku untuk Ibu dapat mengerti kelelahanku akibat selalu begadang karena Juna musnah sudah. Ibu marah, mendumel dibelakangku dan akhirnya tidak menegurku. Aku membiarkanya saja tidak meegurku, da aku pun memilih bersikap untuk tidak menegur Ibuku. Terhitung sejak malam Sabtu, artinya telah tiga hari kami saling mendiamkan.

Bapak.
Entahlah, jika berbicara Bapak yang aku rasakan adalah suatu perasaan yang absurd. Aku tidak mau membahas tetang perasaanku kepada Bapak. Terlepas dari semua itu, Bapak adalah sosok yang baik sesugguhnya. Hanya saja karakter Bapak yang angkuh dan tidak dapat meempatkan sikap apalagi perkataan lah yang serigkali membuatku tidak menyukainya. Kekesalaku memuncak ketika siang itu perutku sakit da harus BAB. Keti ka aku berada di kamar mandi aku mendengar Juna menyalakan kompor, sontak aku meeriakinya. Ingin sekali aku berangkat utuk mematika kompor itu namun apalah daya pencernaanku sedang tidka bersahabat, ia meghalagiku untuk segera beragkat mematikan kompor. Kemudian Bapak datag sambil sedikit megoceh, latas aku yag mendengar kedatagan Bapak sambil berteriak dari dalam kamar mandi memita tolong Bapak agar mematika kompor Karen aaku sedang BAB. Tapi jawaba Bapak malah membuatku tersiggung, “Sudah tau ini hidup ya dimatikan lah! Gila!” hardiknya. Jujur saja, aku sagat tersinggung dengan ucapan Bapak. Bagiku itu bukanlah ucapan yang pantas utuk dikatakan kepada anak. Latas saja aku meyahutnya, “Gimana kalo lagi keluar gii tai-nya!” balasku keras.

Kedua orangtuaku adalah orangtua yang baik, sangat baik malah. Aku ingat tidak satupun keinginaku yang tidak mereka usahakan untuk memenuhinya demi kami anak-anaknya. Mereka berusaha mati-matian untuk membahagiakanku. Lelah yang mereka tepiskan agar dapat melihat kami bahagia dan juga berhasil.

Permasalahan  timbul ketika aku telah menikah. Mereka masih menjadi wujud protektif dan menjadi lebih egois. Aku tidak tahu apa peyebabnya. Atau mungkin saja aku tidak sempat memikirkan tetang perasaan mereka karena aku pun sedang sibuk membagun rumah tanggaku. Ada suami yang harus aku pahami, salami dan juga perhatikan. Ada anak yang baru berusia 3 (tiga) tahun yang membutuhkan perhatianku, tenagaku da juga kehadiranku. Apalagi saat ini aku haya berdua degan Juna karena suamiku sedang berkuliah lagi di Kota Kembang.

Bayangkan saja, setiap malam aku tidur paling cepat pukul 01.00 wib pagi karena Juna paling cepat tidur pada jam tersebut. Akibat terlalu banyak tidur siang atau tidur sore. Bayangkan saja jika aku harus bangun pagi dan kemudian harus melajutkan bekerja hingga pukul 16.00 wib. Jika sepulag bekerja aku harus langsug membereska rumah, menghadapi tingkah Juna yang aktif tanpa ada rehat sedikitpun atau pun diberikan “dispensasi” untuk istirahat. Begitu saja terus berulang-ulang. Aku tidak pernah tidur siang samasekali. Lantas, bagaimana aku dapat mengimbagi posisi ku sebagai Ibu, Anak, Istri sekaligus Pegawai walaupun hanya sebatas honorer?

Aku hanya ingin tidak dibenturkan dengan sikap egois dan kasar dalam kesehariaku. Bukakah kita sama-sama lelah, sama-sama perlu istirahat, sama-sama memerlukan waktu untuk diri sendiri walaupun sedikit.

Aku tahu sebagai seorang anak aku belum memberikan yang terbaik untuk orangtuaku. Bahka pada sampai detik ini aku masih menyusahkan mereka dengan “menump\h hidup” pada Ibu Bapak. Merepoti mereka degan sikap Juna yang luar biasa aktif. Aku sangat bersyukur Allah memberikan kedua orangtua yang luar biasa baik hatinya.

Setelah meulis ini, aku merasakan kesedihan dan juga uap amarahku menghilang seketika.


Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -