Rabu, 23 September 2015

Ketika Kau Merasa Jenuh

Aku mulai merasakan suatu titik jenuh.

Ya, suatu rasa yang alami tentunya karena bisa menghampiri siapapun dan kapanpun. Rasa jenuh ini berkutat pada rutinitas , pemikiran dan tentunya perasaan.

Lantas bagaimana bila rasa jenuh ini menghampiri?

Dalam bayangan saya, untuk menuntaskan kejenuhan ini adalah meninggalkan seluruh rutinitas yang monoton dalam beberapata tahun terakhir ini (baca : pekerjaan) dan melempar jubah kebosanan ini pada liburan yang menyenangkan. Tidak ada tugas, perintah bos, kekesalan, emosi dan juga segala 'pernak pernik' kericuhan di kantor yang menghampiri keseharian. Aku melepaskan jubah itu pada suatu pemandangan yang indah, petualangan bersama suami dan anaku yang akhirnya akan membuat suatu udara baru dalam hidup ini.

Liburan.
Mungkin saja aku butuh liburan.

Aku butuh memanjakan diri seperti saat masih single. Salon, tempat hiburan, nongkrong, rekreasi dan juga membaca buku sepuas hati tanpa terganggu dengan apapun. Bisa juga dengan kembali menekuni olahraga kesukaanku.

Jenuh.
Aku merasa jenuh secara fisik dan juga mental.
aku baru sadar, kejenuhan bisa datang pbahkan saat kita berada pada zona yang nyaman. Ya, aku merasa nyaman sekali dengan keadaanku. Suami yang baik luar biasa, anak yang tampan dan cerdas, rumah, pekerjaan, orangtua dan mertua yang menyayangiku. Semua telah lengkap. Tidak ada kekurangan materi dalam hidupku. Tapi tetap saja jenuh ini datang.

Ah.... entah bagaimana.
jenuh ini menggunung.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -