Sabtu, 26 September 2015

kisah sang Ibu

Pernah terjadi suatu percakapan singkat antara saya dan ibu di dapur suatu malam. Ibu bercerita tentang bagaimana kesusahan perekonomian ibu sejak menikah hingga kami dewasa. Saat masih remaja aku tidak terkalu menggubris kisah inibsebagai kisah yang istimewa, namun saat saya telah menikah tiba-tiba saja kisah ibu itu menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani kisah romansa rumah tangga kami yang baru seumur jagung ini.

Alkisah ibu menceritakan tentang bagaimana ia memutuskan menikahibseorang tentara tampan yang bergaji kecil. Malam itu atok bertanya apakah Ibu sudah siap dan bulat tekad menikahi seorang tentara yang gajinya kecil dan siap ditinggal lama untuk bertugas. Menjawablah ibu dengan kata "iya".

Tapi kata "iya" yang meluncur dari mulut ibu bukan sembarang jawaban demi meluluskan niat untuk menikah. Tapi leboh kepada keputusan seumur hidup yang haram untuk ibu keluhkan. Dan memang, sejak saat itu, bahkan sampai saya menikah tak pernah saya mendengar ibu mengguman barang selirih apapun tentang betapa sulitnya atau betapa kurangnya gaji bapak dalam memenuhi kebutuhan kami. Waktu itu gaji PNS belumedahsyat sekarang. Apalagai tentara, dizaman ibu PNS itu diremehkan, pegawai timah atau kobatin lah yang menjadi idola.

Tapi Ibu adalah sosok yang berkarakter. Seberapapun gaji bapak diterimaibu dengan ikhlas dan todak dengan mengeluh. Ia cukup cukupkan gaji itu untuk memenuhi kebutihan. Ibu berkata, memebeli baju adalah hal terakhir dalam pikiran ibu. Setahun sekali belumtentu. Boro boro untuk liburan.

Masih saya ingat saat masih kecil hingga remaja, saya adalah tipe anak yang "banyak maunya". Selalu minta dibelikan ini, dibelikan itu. Bando, mainan, pita, baju dan banyak lagi. Setiap permintaan saya selalu dijawab ibu : "iya, nanti kalau ibu sudah punya uang". Tidak pernah ibu mengabulkan permintaan saya serta merta. Mungkin memang ibu tidak punya uang, tapi dikemudian hari, entah itu bulan depan atau bulan bulan berikutnya ibu akan menghadirkan baranf yang saya minta itu. Sikap ibu itu menjadikan saya selalu sabar dalam memiliki sesuatu. tidak cepat marah atau kesal jika keinginan tidak dituruti sekaligus menumbuhkan pola pikir "pasti saya punya/dapatkan walaupun tidak sekarang".

Ibu pernah menceritakan bagaimana dulu bapak bisa mrnghasilkan uang jutaan dalam hitungan minggu drngan bisnis "ilegal" yang ia lakoni. MEmang, di masa itu hp bisa gonta ganti, beli ini beli itu tinggal minta sama bapak. Tapu ternyata, justru ibu yang blingsatan.
Hati ibu tak tenang melepas suaminya bekerja. Pikiran tentang resiko selalu membayang bayangi ibu. Bahkan sampai ibu tidak tidur. Akgirnya, ibu memutuskan bicara kepada bapak untuk menghentikan bisnisnya itu. "Biarlah ibu bapak kasih uang gaji saja, asal hati ibu tenang menerimanya. Daripada uang banyak, tapi ibu ketakukan." Kata ibu suatu malam.

Lalu kembali lah kami berhemat sejak bapak berhenti berbisnis. Dan rumah tangga bapak ibu selalu jauh dari perselisihan tentang uang. Hingga saat ini.

Kisah ibu sungguh menggajarkan aaya tentang arti bagaimana kita harus ikhlas menerima segala resski yang suami berikan. Entah itu cukup atau tidak versi istri. Apalagi jika sblm menikah si istri sudah tau berapa pendapatan suami. Ya, kisah ibu ini memotivasi saya untuk tidak mudah mengeluh tentang uang. Tentang sulitnya memenuhi kebutuhan. Tentang sedikit menurunkan standart. Tentang tidak mudah iri pada kehidupan orang. Tentang bagimana seorang istri yang baik adalah tidak pernah mengeluh tentang rezeki yang Allah berikan. 

Ah, masih jauhlah ilmu saya dibanding Ibu. Tapi semoga saja saya bisa meneladani ibu. Satu kata yang lekat di hati saya : "kalau sudah berkomitmen, harus siap menerima resiko! Jangan mengeluh atas apa yang sudah kita sanggupi di depan."

Mom  u're the best!! I love u.

catatan hati seorang istri (episode 1)

Ada kekhwatiran saat memutuskan memberi izin kepada suami untuk melanjutkan pendidikannya di pulau sebrang. Tapi kekhawatiran itu terkalahkan dengan kepercayaan bahwa suami akan selalu menjaga rasa percaya itu.

Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.

Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.

Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.

Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.

Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.

Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.

Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.

Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.

Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya

Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan.  Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?

Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.

Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -