Senin, 04 April 2016

Maafkan Mama, Arjuna.

Beberapa minggu terakhir adalah hari-hari dengan penuh ujian kesabaran bagi saya karena Arjuna sedang sakit. Bagi Ibu bekerja seperti saya, anak yang sakit adalah suatu keadaan dimana dilema menjadi raja.  Disatu sisi rasanya nurani sebagi ibu sedang diuji konsistensinya untuk mengurus dan menjaga si kecil. Mebayangkan ia demam sambil menangis memanggil nama sang mama adalah hal paling menyedihkan yang pernah dibayangkan, rasa sakit karena diputus kekasih mengalahkan pilu itu.

Kesabaran pun diuji batas maksimalnya, dimana saat seharusnya jam yang berderak lamat-lamat itu menunjukkan kesempatan kita untuk istirahat setelah hampir setengah hari berada di kantor harus diisi dengan menangkan si kecil yang menangis tiada henti. Apalagi si Juna selalu ingin digendong, mama-nya tidak boleh meletakkannya diatas kasur. Harus selalu dipeluk.  Lelah itu mnejadi berlipat-lipat membuat kadar kesabaran berada pada titik nol.

Menulis cerita ini membuat airmata ku berurai, menyesali ketidak sabaranku dalam menjaga si kecil yang sedang rewel. Harusnya seorang ibu adalah sosok yang paling bisa menahan amarah, bukan? sosok yang bisa menahan beribu kesakitan demi anak. Tapi si Ibu ini hanya bisa marah-marah saat si kecilnya rewel di pertigaan malam. Alasannya cuma dua : lelah dan kurang tidur.

Dimana kesabaranku sebagai mama nya Arjuna?

Dimana kesabaranku ketika Juna hanya ingin dipeluk, di gendong dan  dibuai seperti ia masih kecil?
Aku mengutuk kelemahan fisikku, yang aku kira sangat kuat.
Aku menyumpah ketidak mampuanku untuk selalu kuat dan bertahan dalam keterbatasan fisik itu.
Aku memaki diriku sendiri yang telah menaikkan intonasi suaraku disetiap pertigaan malam karena kerewelan Arjuna, disaat aku belum tidur sedetikpun.

Ah, menjadi Ibu bukanlah hal yang mudah. Inilah alasan bahwa kita harus mencintai dan menghormati Ibu lebih dari appaun. Saya akan mengatakan bahwa sangat tidak mudah menjadi Ibu.

salah satu  cita-cita saya sampai pada titik ini adalah : menjadi ibu rumah tangga. 

Cita-cita yang sangat saya tidak mampu menyegerakannya. Pertimbangan-pertimbangan yang banyak saya sesalkan. Jika ada ibu rumah tangga yang berkata pekerjaannya membosankan, mohon bawa kehadapan saya dan saya ceritakan bagaiman sakitnya hati ini melihat anak sakit tapi tidak bisa cuti dari pekerjaan atau cuti telah habis. Bagaimana saya harus diam-diam membawa anak saya pergi keluar dari kantor untuk sekedar imunisasi. Jika ada ibu rumah tangga yang mengatakan bahwa ia tidak bernilai karena ia tidak bekerja, bawa kepada saya dan katakan bahwa bertapa berharganya setiap waktu bersama si kecil yang bisa diisi dengan bermain bersama dan juga mengajarinya banyak hal dibandingan menguyrus beratus-ratus dokumen yang tidak membuat diri ini bahagia layaknya menemani si kecil. Menjawab semua pertanyaannya. Menjadi sosok yang ia cari dan butuhkan. Memasak dan juga membuatkan apa saja yang ia butuhkan.

Tidak akan berguna jabatan yang tinggi bila anak-anak kita hanya menjadi orang yang tidak bermanfaat.
Bukanlah orang yang berhasil apabila kita memiliki gaji yang besar, tetapi anak-anak kekurangan kasih sayang.
Dan bukanlah kesuksesan ketika kita menjadi terhormat dimata manusia tapi anak-anak tidak pernah menyentuh sajadah dan AL qurannya.

Ah, Arjuna.
Maafkan mama dengan segala ketidak sabaran Mama.
Dengan segala sedikitnya waktu yang Mama punya untukmu.
Dengan semua kekurangan yang mama miliki dalam mengasuhmu.
Maafkan Mama yang selalu meninggalkanmu.
Maafkan Mama, Nak.

Semoga seiring berjalannya hari Mama akan menjadi Mama yang selalu sabar untukmu nak.
Airmata ini tidak henti-hentinya saat menulis kalimat-kalimat diatas.  Hati Mama masih terlalu cengeng ya, Nak?

Ya. Karena Mama sangat mencintai Arjuna.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -