Senin, 11 Mei 2015

SELAMAT ULANG TAHUN ARJUNA


                                   
Alhamdulillah akhirnya anak pertama kami berusia satu tahun pada tanggal Tujuh Mei tadi. Aku berhasil menghias kue sendiri untuk ulang tahunnya kali ini, dan alhamdulillah warnanya mera biru sesuai dengan harapanku! Kaya spiderman ya? Heheheheheee.
Sengaja nih aku cari warna merah biru karena aku emang ngefans berat dengan karakter spiderman, keren aja lah pokoknya. Rasanya menyenangkan sekali ya bisa membuatkan sesuatu untuk anak tercinta. Semoga nanti bisa bikin kue lagi untuk Juna dan Papa. Padahal waktu masih gadis paling malesssssssss kalo harus disuruh Ibu yang namanya masak! 

Happy B'day  anakku sayang, jadi anak sholeh dan penghafal Al-Qur'an kaya abang Musa ya nak. Amieennn ^^

'Merebut' Life of Pi


Kali ini aku tidak akan membahas tentang isi novel ini, karena mungkin sebagian besar orang sudah tahu bagaimana kisah novel ini bahkan novel ini sudah difilmkan, lho.

Ada yang menarik dari kisahku mendapatkan novel ini. Dari sekian banyak novel yang aku miliki hanya novel inilah yang tidak pernah aku baca. Entahlah, kata-kata yang termuat didalamnya tidak dapat aku mengerti. Novel ini 'diberikan' oleh seorang abang yang terkenal dengan nama Larsi de Isral. Sebenarnya tidak dberikan. Awalnya beliau menawariku sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca, maka aku yang sangat senang membaca novel ini , dengan senag hati menerima tawaran itu. Waktu berjalan sangat cepat dan akhirnya aku tidak tertarik untuk membaca novel ini. Ya karena itu tadi. Kalimat per kalimat yang disajikan penulis tidak bisa aku terima, mungkin selera yang berbicara. Kebanyakan novel yang aku baca tentang thriller, detektif dan teka teki. Wajar saja aku punya banyak kolek seri Dan Brown dan Stieg Larsson ^^.  Untuk Stieg Larsson aku punya triloginya,lho! Namun novel ini tidak aku kembalikan kepada di peminjam, untuk kenang-kenangan alasanku.

Beberapa hari yang lalu aku berniat mengembalikan novel ini setelah sekian tahun lamanya, masih terganjal dihatiku karena beliau bukan berniat memberikan pada awalnya. Hanya meminjamkan. Tapi niat itu aku urungkan, rasanya sayang novel sebagus ini tidak menjadi koleksi. Maka aku meminta izin kembali pada beliau untuk aku simpan. Ternyata beliau bahkan sudah lupa novel ini ada ditangan adeknya yang iseng ini. Hehehehehee :) Semoga ikhlas ya, Bang ^^

Kisah Istri Paruh Waktu

Rasanya tidak enak sekali memiliki 'titel' istri paruh waktu ini, kesannya seperti menyepelekan kedudukan yang seharusnya dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi apalah daya dengan kebutuhan yang tinggi  di zaman ini rasanya sulit untuk tidak 'membantu' suami.

Pernah terbayang, sering malah, betapa indahnya bila seorang istri hanya berada dirumah. Bangun tidur langsung mengurus sarapan dan kebutuhan suami, memandikan anak serta menyuapinya, membereskan rumah dan memasakkan makanan kesuakaan suami dan anak-anak, membaca buku yang disukai dan menanti kepulangan suami dengan wajah yang cantik dan tubuh harum. Betapa indahnya dunia itu. 

Tapi yang aku hadapi adalah kenyataan. Tidak mudah memang menjadi seorang wanita bekerja sekaligus istri dan ibu dari anak yang baru saja berusia satu tahun. Aku kehilangan masa-masa yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup, aku kehilangan kesempatan untuk menyaksikan setiap detik perkembangan anakku. Banyak momment berharga yang aku lewatkan hanya untuk mendapatkan beberapa juta rupiah yang hanya aku dapatkan satu bulan sekali. Seringkali merasa berdosa karena yang menyambutku pulang kerja adalah suami, bukan sebaliknya. Tapi, sungguh jika harus memilih maka aku lebih memilih menjadi istri yang penuh waktu alias fulltime! Alhamdulillah, rasa bersalah ini sedikit terobati dengan dukungan suami dan keluarga besar. Ya, suami tidak pernah mengeluh jika aku harus pulang malam dan bergaduh kelelahan. Suami tidak pernah cerewet dengan makanan dirumah. Bahkan beliau yang kerap membantuku untuk mencuci baju, menjemur dan menggosok baju. Suamiku tidak berkeberatan untuk menyapu rumah, mencuci piring atau pun membereskna rumah. Tidak ada gengsi dalam hubungan kami, semuanya saling membantu. Dan aku bersyukur Allah mengirimkan suami seperti suamiku.

Kembali dengan peran istri paruh waktu, hal itu merupakan sesuatu yang sangat melelahkan! Yup melelahkan. Ketika bangun pagi aku harus segera  mnenyiapkan sarapan suami, minimal kopi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk si kecil, jika ia sudah bangun dari tidurnya aku harus memandikannya terlebih dahulu, lalu harus berdandan dan bersiap sebelum bekerja, mengantarkan anak kerumah pengasuh (ini hal yang paling berat) , lalu ke kantor, pulang dari kantor yang hampir magrib, menjemput kembali si kecil, pulang, masak untuk makan malam, membereskan rumah (sesekali), mengasuh si kecil hingga ia tertidur. Rasanya aktifitas itu sudah terstruktur dengan sendirinya. Tired but fun!

Aku mencoba menanamkan dalam hatiku semua yang aku lakukan adalah ibadah dan harus dilakukan dengan senang hati. Karena itu walaupun lelah sehabis kerja aku merasa bahagia memasak untuk suamiku karena itu adalah ibadah dan tentunya aku senang karena suami selalu menghabiskan masakanku. Aku lelah setelah bekerja tapi harus tetap menghadapi rengekan si kecil karena aku sadar, aku hanya memiliki beberapa jam waktu bersamanya jadi tidak ada alasan untukku untuk marah ataupun kesal jika si kecil merengek dan meminta untuk digendong. Aku lelah, tapi aku berusaha untuk tetap memberskan rumah karena ini adalah surga kami yang wajib aku rawat demi kenyamanan kami bersama pula. Semua yang aku lakukan untuk keluarga ku adalah ibadah, karena itu aku bahagia dan berusaha untuk selalu menjalaninya dengan hati gembira.

Menjadi istri paruh waktu membutuhkan dukungan yang besar dari suami, karena jika suami tidak mendukung tentunya akan repot dan melelahkan sekali. Bisa-bisa malah pertengkaran yang terjadi. Yang terpenting, ridho suami diatas segalanya. Jika suami mendukung untuk berkerja, maka bertanggung  jawablah. Dan jika suami tidak mendukung, artinya beliau merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan kita harus menghormati juga menuruti keinginan beliau. Apapun pilihan kita sebagai istri harus dengan persetujuan suami. Istri berhak memilih, tapi suami adalah pengambil keputusan.

Semoga istri-istri paruh waktu lainnya juga bisa memposisikan dirinya pada titik yang tepat. Sehingga keharmonisan dan kesinambungan rumah tangga juga dapat terus terjaga. Insyaallah.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -