Rasanya tidak enak sekali memiliki 'titel' istri paruh waktu ini, kesannya seperti menyepelekan kedudukan yang seharusnya dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi apalah daya dengan kebutuhan yang tinggi di zaman ini rasanya sulit untuk tidak 'membantu' suami.
Pernah terbayang, sering malah, betapa indahnya bila seorang istri hanya berada dirumah. Bangun tidur langsung mengurus sarapan dan kebutuhan suami, memandikan anak serta menyuapinya, membereskan rumah dan memasakkan makanan kesuakaan suami dan anak-anak, membaca buku yang disukai dan menanti kepulangan suami dengan wajah yang cantik dan tubuh harum. Betapa indahnya dunia itu.
Tapi yang aku hadapi adalah kenyataan. Tidak mudah memang menjadi seorang wanita bekerja sekaligus istri dan ibu dari anak yang baru saja berusia satu tahun. Aku kehilangan masa-masa yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup, aku kehilangan kesempatan untuk menyaksikan setiap detik perkembangan anakku. Banyak momment berharga yang aku lewatkan hanya untuk mendapatkan beberapa juta rupiah yang hanya aku dapatkan satu bulan sekali. Seringkali merasa berdosa karena yang menyambutku pulang kerja adalah suami, bukan sebaliknya. Tapi, sungguh jika harus memilih maka aku lebih memilih menjadi istri yang penuh waktu alias fulltime! Alhamdulillah, rasa bersalah ini sedikit terobati dengan dukungan suami dan keluarga besar. Ya, suami tidak pernah mengeluh jika aku harus pulang malam dan bergaduh kelelahan. Suami tidak pernah cerewet dengan makanan dirumah. Bahkan beliau yang kerap membantuku untuk mencuci baju, menjemur dan menggosok baju. Suamiku tidak berkeberatan untuk menyapu rumah, mencuci piring atau pun membereskna rumah. Tidak ada gengsi dalam hubungan kami, semuanya saling membantu. Dan aku bersyukur Allah mengirimkan suami seperti suamiku.
Kembali dengan peran istri paruh waktu, hal itu merupakan sesuatu yang sangat melelahkan! Yup melelahkan. Ketika bangun pagi aku harus segera mnenyiapkan sarapan suami, minimal kopi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk si kecil, jika ia sudah bangun dari tidurnya aku harus memandikannya terlebih dahulu, lalu harus berdandan dan bersiap sebelum bekerja, mengantarkan anak kerumah pengasuh (ini hal yang paling berat) , lalu ke kantor, pulang dari kantor yang hampir magrib, menjemput kembali si kecil, pulang, masak untuk makan malam, membereskan rumah (sesekali), mengasuh si kecil hingga ia tertidur. Rasanya aktifitas itu sudah terstruktur dengan sendirinya. Tired but fun!
Aku mencoba menanamkan dalam hatiku semua yang aku lakukan adalah ibadah dan harus dilakukan dengan senang hati. Karena itu walaupun lelah sehabis kerja aku merasa bahagia memasak untuk suamiku karena itu adalah ibadah dan tentunya aku senang karena suami selalu menghabiskan masakanku. Aku lelah setelah bekerja tapi harus tetap menghadapi rengekan si kecil karena aku sadar, aku hanya memiliki beberapa jam waktu bersamanya jadi tidak ada alasan untukku untuk marah ataupun kesal jika si kecil merengek dan meminta untuk digendong. Aku lelah, tapi aku berusaha untuk tetap memberskan rumah karena ini adalah surga kami yang wajib aku rawat demi kenyamanan kami bersama pula. Semua yang aku lakukan untuk keluarga ku adalah ibadah, karena itu aku bahagia dan berusaha untuk selalu menjalaninya dengan hati gembira.
Menjadi istri paruh waktu membutuhkan dukungan yang besar dari suami, karena jika suami tidak mendukung tentunya akan repot dan melelahkan sekali. Bisa-bisa malah pertengkaran yang terjadi. Yang terpenting, ridho suami diatas segalanya. Jika suami mendukung untuk berkerja, maka bertanggung jawablah. Dan jika suami tidak mendukung, artinya beliau merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan kita harus menghormati juga menuruti keinginan beliau. Apapun pilihan kita sebagai istri harus dengan persetujuan suami. Istri berhak memilih, tapi suami adalah pengambil keputusan.
Semoga istri-istri paruh waktu lainnya juga bisa memposisikan dirinya pada titik yang tepat. Sehingga keharmonisan dan kesinambungan rumah tangga juga dapat terus terjaga. Insyaallah.