Selasa, 21 April 2015

CERPEN 3



FAISAL
Oleh Yulistia Akbari

Pukul 07.35 wib
Aku terjebak di perempatan menunggu giliran untuk bisa melewati rute macet ibukota ini. Setidaknya traffic light yang sudah kehilangan warna kuning itu berkenan membantu kelancaran lalu lintas yang semakin semerawut.
“Koran Yuk, koran Yuk.”  Makhluk mungil menawarkan harian pagi di tangannya. Dekil, hitam, kecil dan pakaiannya sedikit kotor terkena debu. Sepersekian detik aku mencoba meneliti wajahnya yang tampak polos, wajah khas anak-anak, seperti belum mengerti makna dari kehidupan yang akan ia hadapi esok.  “Berapa, Dek?” tanyaku. “Dua ribu, Yuk.” Ia menatapku, seperti ada yang tertohok di jantung ini. Aku mengeluarkan lembaran lima ribu rupiah, “Satu ya. Kembaliannya untukmu.”  Aku menyerahkan uang tersebut sambil tersenyum. Si Adek, begitu aku menyapanya, tersenyum sambil menyerahkan harian pagi ke tanganku, “Terima kasih, yuk.”
Dan lampu hijau menyala, klakson mobil dan motor bergema dibelakang ku.  Menandakan aku harus menancapkan gas dengan segera. Aku membalas tatapan terima kasih si Adek dengan senyum.
****
Selalu seperti itu setiap pagi.
Setiap hari aku akhirnya selalu bertemu dengan si Adek di perempatan jalan raya itu dan sejak saat itu aku menjadi pelanggan tetapnya. Pelanggan perempatan, karena memang perempatan itu adalah salah satu rute yang aku lalui untuk pergi ke kantor. Entah apa yang menyebabkan aku merasa iba dengan keadaan si Adek, sampai saat ini aku belum sempat menanyakan namanya karena trafficlight seringkali tidak bersahabat denganku, membuat aku terkadang harus terburu-buru melewatinya.
Adek, sosok kecil dengan badan kurus, kulitnya hitam karena terpanggang sinar matahari, rambut lurusnya yang hitam kemerah-merahan, wajahnya biasa saja hanya mata dengan bulu yang lentik itu membuat wajahnya terlihat manis. Senyumnya, aku suka senyumnya yang tulus dan cerah itu. Setiap melihat ia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, ada getar hangat di hati ini. Aku melihat ketulusan disana, rasa terima kasih tanpa batas hanya kerena aku membli koran yang ia jajakan.

Sesampainya di kantor, aku menghidupkan laptop. Tapi ada sesuatu yang menganggu benakku. Aku memikirkan Adek. Aku bukannya jatuh cinta dengan anak laki-laki berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun, setidaknya aku bukan pedhofilia. Tapi ada perasaan tertentu. Sedih, simpati dan kagum. Sedih karena pada usianya yang masih kecil itu, ia harus menjajakan koran diperempatan dengan tubuh dekil serta menghirup debu jalanan yang tentu membuat paru-parunya kotor.

Memperkerjakan anak dibawah umur? Rasanya undang-undang sudah melarang anak dibawah umur untuk bekerja. Kewajiban mereka adalah sekolah.  Dan kenapa setiap pagi ia menjajakan koran? Dan rasa simpati dan kagum hadir saat aku memandang wajahnya. Yang terpancarkan bukanlah kesedihan atau penderitaan. Tapi ada semangat dan keyakinan, entahlah, ada secercah harapan yang ia miliki. Mungkin. Atau, ia bahagia dengan keadaanya sehingga melupakan kegetiran yang ia hadapi. Apa yang menyebabkan si kecil Adek menjadi penjaja koran, tanpa sekolahkah, atau tanpa orangtua? Atau itu yang dinamakan takdir?
Tanpa sadar aku telah memandangi  screensaver laptop sambil melamun. Banyak sekali pertanyaan yang bergumul di otakku hantya karena sosok yang tidak ku kenal itu.
****
Hari ini hari minggu pagi, waktunya berolahraga. Aku bersepeda mengelilingi komplek rumah dan tiba-tiba terbesit dibenakku untuk menuju perempatan berharap aku bertemu dengan si Adek, aku ingin mengajaknya ngobrol. Ku kayuh sepeda dengan semangat, mungkin rasa penasaranku akan terhapus. Dan aku bersyukur saat berada di dekat perempatan itu aku melihat sosok Adek yang sedang menawarkan koran kepada para pengendara motor di perempatan. Aku mengayuh sepeda lebih dekat dan ke tepi jalan. Ia melihatku, dan tersenyum, lalu mendekatiku. “Koran, Yuk?” tanyanya.
“Yup, dan semangkuk bubur ayam. Boleh nambah, mau? Ayuk tau warung bubur yang enak didekat sini.” Jawabku.
 Ia tertegun sepersekian detik, “Gratis Yuk ya?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Oke.”
Dan ia berjalan disampingku yang juga saat ini hanya berjalan sambil menuntun sepeda. Pemandangan yang cukup kontra pagi itu, setidaknya terlihat cukup banyak mata pengendara motor dan orang-orang dipinggir jalan melihat kami berjalan berdampingan.  Dan sampailah kami di warung bubur “Bu Syam”.  Setelah memesan dua porsi bubur dan dua teh botol, kami pun duduk. “Ada apa ya, Yuk?” tanyanya. Dan aku tersenyum, banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
****
Nama si Adek adalah Faisal dan baru kemarin ia berulang tahun yang  ke sepuluh, seperti perkiraanku. Ia lahir di salah satu kabupaten yang ada di pulau ini dengan kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Ayahnya adalah seorang petani karet yang tidak memiliki lahan, hanya menggarap kebun milik oranglain dengan upah yang tidak mencukupi mereka sekeluarga. Faisal memiliki dua orang adik, laki-laki dan perempuan dengan usia yang tidak berjarak jauh, masing-masing satu tahun. Dan yang paling miris adalah, Ibu Faisal meninggal setelah melahirkan adik bungsu mereka. Awalnya, Faisal masih masih sempat merasakan bangku sekolah, tapi hanya bertahan selama satu tahun dengan baru mengenal angka dan huruf. Kondisi perekonomian yang kurang baik, dibawah rata-rata malah,  membuatnya terpaksa membantu sang ayah dalam menjaga adik dan mencari nafkah.

Kemudian, datanglah seorang teman menawarkan sang ayah untuk mencari lapangan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan uang banyak dibanding menggarap karet, apalagi harga karet sekarang sedang turun, otomatis upah sang ayah semakin menurun pula. Teman ayahnya itu mengajak sang ayah untuk ber-TI (tambang inkonvensional) dengan iming-iming akan mendapatkan hasil yang lebih lumayan. Maka, pergilah sang ayah bersama temannya menuju desa teerpencil diseberang laut untuk mengeruk hasil bumi yang memang melimpah di pulau ini, dengan satu tujuan : memperbaiki kondisi perekonomian mereka. “Nanti biar Abang dan adek-adek bisa sekolah lagi, jaga mereka ya, Bang? Ayah titip sama Abang.” Itu ucapan sang Ayah ketika akan pergi bersama temannya untuk ber-TI.

Faisal bertahan tanpa ayahnya dengan membantu tetangga yang memiliki warung bakso disamping rumahnya. Ayahnya memang menitipkan sejumlah uang, tapi uang tersebut sudah ia belikan beras dan minyak tanah, peninggalan uang yang tidak seberapa memakasa bocah berusia belum genap sepuluh tahun waktu itu, untuk bisa memikirkan nasib tiga perut kecil. Ia sendiri, dan kedua adiknya. Mungkin ini yang membuat Faisal terlihat lebih dewasa, pancaran kepribadiannya. “Lumayan yuk, bisa makan bakso tiap hari. Ical dan adek  jadi tidak begitu kelaparan. Kalau bosan  makan bakso, kita makan nasi sama pucuk ubi. Ada batang ubi ditanam Ayah di belakang rumah.” Paparnya sambil menyedot teh botol dengan nikmat.

Sudah hampir satu bulan ayah Faisal tidak pulang, tanpa kabar. Kemudaian, Faisal mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal, tertimbun pasir TI. Sekelompok orang datang kerumahnya keesokan harinya dengan membawa jenazah ayahnya, dan memberikan sejumlah uang untuk Faisal. Ia tidak menangis, kedua adiknya terisak. Tapi Faisal meneguhkan untuk tidak menangis. Tekadnya kuat, ia tidak akan menangis, setidaknya didepan kedua adiknya. Dan satu tekad kembali muncul, ia harus melindungi dan menjaga kedua adiknya. Agar tidak miskin seperti ayahnya, adiknya harus sekolah.
****
Aku pun sulit mencerna cerita yang ia paparkan padaku, anak berusia sepuluh  tahun dengan tekad menyekolahkan adiknya, alangkah ajaib. Sedangkan banyak sekali aku menemukan mereka, orangtua, dengan umur yang sudah dewasa malah tidak bertekad menyekolahkan anaknya karena satu alasan yaitu tidak ada uang. Sedangkana bocah ingusan ini malah menjadikan kondisi perekonomian sebagai pemicunya untuk membahagiakan dan menyukseskan adik-adiknya. Sulit untuk tidak menahan airmata ketika dia bercerita.

Dan akhirnya, berbekal uang seadanya dan ajakan seorang amang di desanya yang memiliki usaha distributor oli di ibukota, maka pergilah Faisal ke kota, adik-adiknya dititipkan kepada salah satu sanak keluarga yang menawarkan diri untuk merawat mereka. Faisal bersyukur atas tawaran tersebut, dan dengan senang hati.  Sesampainya Faisal di kota, ia bekerja dengan rajin di kantor Mang Dul, begitu ia menyapa amang tersebut sebagai ,tukang-bersih kantor. Faisal yang memang rajin bekerja serta keprihatinan hidup yang ia alami membuat  Mang Dul memberikan gaji yang lumayan untuknya. “Lumayan Yuk, seminggu sekali Ical pulang ke kampung, atau dua minggu, Ical titip uang untuk adek-adek, untuk uang sekolah dan makan. Yang penting uang sekolahnya Ical bayar terus. Untung, bibik yang jagain adek-adek itu baik sekali yuk. Ngomong-ngomong, nama ayuk siapa, yuk?”. Aku menggigit krupuk lalu berkata, “Tia, nama ayuk Tia”.

Dan demi menambah penghasilan, ia menjadi penjual koran. Ia bekerja dari jam enam pagi hingga pukul sembilan. Dan setelah itu Faisal pergi ke kantor milik Mang Dul untuk bekerja. Malamnya, ternyata, ia jadi tukang parkir disalah satu sudut kota. Bahkan untuk bermain ia kehilangan rasa. “Lebih baik nyari uang yuk untuk adek-adek, yuk.” Katanya seraya menuntaskan bubur ayam dihadapannya. Penasaran aku bertanya, “kenapa sih Ical memilih bertekad menyekolahkan adek-adek? Kenapa sekolah?”.
Dia memasukkan sesendok bubur kemulutnya lalu menjawab, “Ical nonton di film Laskar Pelangi yuk, kalo pinter sekolah, jadi sukses. Malah bisa pergi ke Paris.”
****
Di Pulau yang dinobatkan sebagai salah satu Provinsi yang sejahtera ini, dengan angka kemiskinan terendah, ternyata aku menemukan fenomena langka yaitu warga yang benar-benar miskin, dan berjuang melawan kemiskinannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Ical, kini aku menyapanya dengan Ical, selain setiap pagi membeli koran yang ia tawarkan. Kadang aku memberinya sedikit uang untuk ia dan adik-adiknya. Jika sedang libur, kerap aku mengajaknya makan bubur di warung Bu Syam.

Satu hal yang aku rasakan, betapa aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku miliki. Keluarga yang bahagia dan orangtua yang lengkap, pekerjaan yang baik, dan tentunya kondisi perekonomian yang baik pula. Dibandingkan dengan anak sekecil itu yang harus berjuang setengah mati demi satu tekad menyekolahkan adiknya, usahaku selama ini tidak bermakna apa-apa. Dan alangkah mirisnya jika akau harus mengeluh atas apa yang telah aku miliki. Dan cerita Ical mengajarkan aku tentang rasa syukur, semangat dan tekad. Terima kasih Ical. Dan tetap semangat!!




Pangkalpinang, 24 Maret 2011



 *Cerpen ini dimuat di Bangka Pos pada bulan April 2011 dengan diubah Judul menjadi "Ical"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -