FAISAL
Oleh Yulistia Akbari
Pukul 07.35 wib
Aku terjebak di perempatan menunggu
giliran untuk bisa melewati rute macet ibukota ini. Setidaknya traffic light yang sudah kehilangan
warna kuning itu berkenan membantu kelancaran lalu lintas yang semakin semerawut.
“Koran Yuk, koran Yuk.” Makhluk mungil menawarkan harian pagi di
tangannya. Dekil, hitam, kecil dan pakaiannya sedikit kotor terkena debu.
Sepersekian detik aku mencoba meneliti wajahnya yang tampak polos, wajah khas
anak-anak, seperti belum mengerti makna dari kehidupan yang akan ia hadapi
esok. “Berapa, Dek?” tanyaku. “Dua ribu, Yuk.”
Ia menatapku, seperti ada yang tertohok di jantung ini. Aku mengeluarkan
lembaran lima ribu rupiah, “Satu ya. Kembaliannya untukmu.” Aku menyerahkan uang tersebut sambil
tersenyum. Si Adek, begitu aku menyapanya, tersenyum sambil menyerahkan harian
pagi ke tanganku, “Terima kasih, yuk.”
Dan lampu hijau menyala, klakson
mobil dan motor bergema dibelakang ku.
Menandakan aku harus menancapkan gas dengan segera. Aku membalas tatapan
terima kasih si Adek dengan senyum.
****
Selalu seperti itu setiap pagi.
Setiap hari aku akhirnya selalu
bertemu dengan si Adek di perempatan jalan raya itu dan sejak saat itu aku
menjadi pelanggan tetapnya. Pelanggan perempatan, karena memang perempatan itu
adalah salah satu rute yang aku lalui untuk pergi ke kantor. Entah apa yang
menyebabkan aku merasa iba dengan keadaan si Adek, sampai saat ini aku belum
sempat menanyakan namanya karena trafficlight
seringkali tidak bersahabat denganku, membuat aku terkadang harus terburu-buru
melewatinya.
Adek, sosok kecil dengan badan
kurus, kulitnya hitam karena terpanggang sinar matahari, rambut lurusnya yang
hitam kemerah-merahan, wajahnya biasa saja hanya mata dengan bulu yang lentik
itu membuat wajahnya terlihat manis. Senyumnya, aku suka senyumnya yang tulus
dan cerah itu. Setiap melihat ia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, ada
getar hangat di hati ini. Aku melihat ketulusan disana, rasa terima kasih tanpa
batas hanya kerena aku membli koran yang ia jajakan.
Sesampainya di kantor, aku
menghidupkan laptop. Tapi ada sesuatu yang menganggu benakku. Aku memikirkan
Adek. Aku bukannya jatuh cinta dengan anak laki-laki berusia sekitar sepuluh
atau sebelas tahun, setidaknya aku bukan pedhofilia.
Tapi ada perasaan tertentu. Sedih, simpati dan kagum. Sedih karena pada usianya
yang masih kecil itu, ia harus menjajakan koran diperempatan dengan tubuh dekil
serta menghirup debu jalanan yang tentu membuat paru-parunya kotor.
Memperkerjakan anak dibawah umur?
Rasanya undang-undang sudah melarang anak dibawah umur untuk bekerja. Kewajiban
mereka adalah sekolah. Dan kenapa setiap
pagi ia menjajakan koran? Dan rasa simpati dan kagum hadir saat aku memandang
wajahnya. Yang terpancarkan bukanlah kesedihan atau penderitaan. Tapi ada
semangat dan keyakinan, entahlah, ada secercah harapan yang ia miliki. Mungkin.
Atau, ia bahagia dengan keadaanya sehingga melupakan kegetiran yang ia hadapi.
Apa yang menyebabkan si kecil Adek menjadi penjaja koran, tanpa sekolahkah,
atau tanpa orangtua? Atau itu yang dinamakan takdir?
Tanpa sadar aku telah
memandangi screensaver laptop sambil melamun. Banyak sekali pertanyaan yang
bergumul di otakku hantya karena sosok yang tidak ku kenal itu.
****
Hari ini hari minggu pagi, waktunya
berolahraga. Aku bersepeda mengelilingi komplek rumah dan tiba-tiba terbesit
dibenakku untuk menuju perempatan berharap aku bertemu dengan si Adek, aku
ingin mengajaknya ngobrol. Ku kayuh
sepeda dengan semangat, mungkin rasa penasaranku akan terhapus. Dan aku
bersyukur saat berada di dekat perempatan itu aku melihat sosok Adek yang
sedang menawarkan koran kepada para pengendara motor di perempatan. Aku
mengayuh sepeda lebih dekat dan ke tepi jalan. Ia melihatku, dan tersenyum,
lalu mendekatiku. “Koran, Yuk?”
tanyanya.
“Yup, dan semangkuk bubur ayam.
Boleh nambah, mau? Ayuk tau warung
bubur yang enak didekat sini.” Jawabku.
Ia tertegun sepersekian detik, “Gratis Yuk ya?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Oke.”
Dan ia berjalan disampingku yang
juga saat ini hanya berjalan sambil menuntun sepeda. Pemandangan yang cukup
kontra pagi itu, setidaknya terlihat cukup banyak mata pengendara motor dan
orang-orang dipinggir jalan melihat kami berjalan berdampingan. Dan sampailah kami di warung bubur “Bu Syam”. Setelah memesan dua porsi bubur dan dua teh
botol, kami pun duduk. “Ada apa ya, Yuk?”
tanyanya. Dan aku tersenyum, banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
****
Nama si Adek adalah Faisal dan baru
kemarin ia berulang tahun yang ke sepuluh,
seperti perkiraanku. Ia lahir di salah satu kabupaten yang ada di pulau ini
dengan kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Ayahnya adalah seorang petani
karet yang tidak memiliki lahan, hanya menggarap kebun milik oranglain dengan
upah yang tidak mencukupi mereka sekeluarga. Faisal memiliki dua orang adik,
laki-laki dan perempuan dengan usia yang tidak berjarak jauh, masing-masing
satu tahun. Dan yang paling miris adalah, Ibu Faisal meninggal setelah
melahirkan adik bungsu mereka. Awalnya, Faisal masih masih sempat merasakan
bangku sekolah, tapi hanya bertahan selama satu tahun dengan baru mengenal
angka dan huruf. Kondisi perekonomian yang kurang baik, dibawah rata-rata
malah, membuatnya terpaksa membantu sang
ayah dalam menjaga adik dan mencari nafkah.
Kemudian, datanglah seorang teman
menawarkan sang ayah untuk mencari lapangan pekerjaan lain yang lebih
menghasilkan uang banyak dibanding menggarap karet, apalagi harga karet sekarang
sedang turun, otomatis upah sang ayah semakin menurun pula. Teman ayahnya itu
mengajak sang ayah untuk ber-TI (tambang
inkonvensional) dengan iming-iming
akan mendapatkan hasil yang lebih lumayan. Maka, pergilah sang ayah bersama
temannya menuju desa teerpencil diseberang laut untuk mengeruk hasil bumi yang
memang melimpah di pulau ini, dengan satu tujuan : memperbaiki kondisi
perekonomian mereka. “Nanti biar Abang dan adek-adek bisa sekolah lagi, jaga mereka
ya, Bang? Ayah titip sama Abang.” Itu ucapan sang Ayah ketika akan pergi
bersama temannya untuk ber-TI.
Faisal bertahan tanpa ayahnya
dengan membantu tetangga yang memiliki warung bakso disamping rumahnya. Ayahnya
memang menitipkan sejumlah uang, tapi uang tersebut sudah ia belikan beras dan
minyak tanah, peninggalan uang yang tidak seberapa memakasa bocah berusia belum
genap sepuluh tahun waktu itu, untuk bisa memikirkan nasib tiga perut kecil. Ia
sendiri, dan kedua adiknya. Mungkin ini yang membuat Faisal terlihat lebih
dewasa, pancaran kepribadiannya. “Lumayan yuk, bisa makan bakso tiap hari. Ical
dan adek jadi tidak begitu kelaparan.
Kalau bosan makan bakso, kita makan nasi
sama pucuk ubi. Ada batang ubi
ditanam Ayah di belakang rumah.” Paparnya sambil menyedot teh botol dengan nikmat.
Sudah hampir satu bulan ayah Faisal
tidak pulang, tanpa kabar. Kemudaian, Faisal mendapat kabar bahwa ayahnya
meninggal, tertimbun pasir TI. Sekelompok orang datang kerumahnya keesokan
harinya dengan membawa jenazah ayahnya, dan memberikan sejumlah uang untuk Faisal.
Ia tidak menangis, kedua adiknya terisak. Tapi Faisal meneguhkan untuk tidak
menangis. Tekadnya kuat, ia tidak akan menangis, setidaknya didepan kedua
adiknya. Dan satu tekad kembali muncul, ia harus melindungi dan menjaga kedua
adiknya. Agar tidak miskin seperti ayahnya, adiknya harus sekolah.
****
Aku pun sulit mencerna cerita yang
ia paparkan padaku, anak berusia sepuluh tahun dengan tekad menyekolahkan adiknya,
alangkah ajaib. Sedangkan banyak sekali aku menemukan mereka, orangtua, dengan
umur yang sudah dewasa malah tidak bertekad menyekolahkan anaknya karena satu
alasan yaitu tidak ada uang. Sedangkana bocah ingusan ini malah menjadikan
kondisi perekonomian sebagai pemicunya untuk membahagiakan dan menyukseskan
adik-adiknya. Sulit untuk tidak menahan airmata ketika dia bercerita.
Dan akhirnya, berbekal uang seadanya
dan ajakan seorang amang di desanya
yang memiliki usaha distributor oli di ibukota, maka pergilah Faisal ke kota,
adik-adiknya dititipkan kepada salah satu sanak keluarga yang menawarkan diri
untuk merawat mereka. Faisal bersyukur atas tawaran tersebut, dan dengan senang
hati. Sesampainya Faisal di kota, ia bekerja
dengan rajin di kantor Mang Dul, begitu ia menyapa amang tersebut sebagai ,tukang-bersih kantor. Faisal yang memang
rajin bekerja serta keprihatinan hidup yang ia alami membuat Mang Dul memberikan gaji yang lumayan
untuknya. “Lumayan Yuk, seminggu sekali Ical pulang ke kampung, atau dua
minggu, Ical titip uang untuk adek-adek, untuk uang sekolah dan makan. Yang
penting uang sekolahnya Ical bayar terus. Untung, bibik yang jagain adek-adek itu baik sekali yuk. Ngomong-ngomong, nama ayuk
siapa, yuk?”. Aku menggigit krupuk
lalu berkata, “Tia, nama ayuk Tia”.
Dan demi menambah penghasilan, ia
menjadi penjual koran. Ia bekerja dari jam enam pagi hingga pukul sembilan. Dan
setelah itu Faisal pergi ke kantor milik Mang Dul untuk bekerja. Malamnya,
ternyata, ia jadi tukang parkir disalah satu sudut kota. Bahkan untuk bermain
ia kehilangan rasa. “Lebih baik nyari uang yuk untuk adek-adek, yuk.” Katanya seraya menuntaskan bubur
ayam dihadapannya. Penasaran aku bertanya, “kenapa sih Ical memilih bertekad
menyekolahkan adek-adek? Kenapa sekolah?”.
Dia memasukkan sesendok bubur
kemulutnya lalu menjawab, “Ical nonton di film Laskar Pelangi yuk, kalo pinter
sekolah, jadi sukses. Malah bisa pergi ke Paris.”
****
Di Pulau yang dinobatkan sebagai
salah satu Provinsi yang sejahtera ini, dengan angka kemiskinan terendah,
ternyata aku menemukan fenomena langka yaitu warga yang benar-benar miskin, dan
berjuang melawan kemiskinannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan
terhadap Ical, kini aku menyapanya dengan Ical, selain setiap pagi membeli
koran yang ia tawarkan. Kadang aku memberinya sedikit uang untuk ia dan
adik-adiknya. Jika sedang libur, kerap aku mengajaknya makan bubur di warung Bu
Syam.
Satu hal yang aku rasakan, betapa
aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku miliki. Keluarga yang bahagia dan
orangtua yang lengkap, pekerjaan yang baik, dan tentunya kondisi perekonomian
yang baik pula. Dibandingkan dengan anak sekecil itu yang harus berjuang setengah
mati demi satu tekad menyekolahkan adiknya, usahaku selama ini tidak bermakna
apa-apa. Dan alangkah mirisnya jika akau harus mengeluh atas apa yang telah aku
miliki. Dan cerita Ical mengajarkan aku tentang rasa syukur, semangat dan
tekad. Terima kasih Ical. Dan tetap semangat!!
Pangkalpinang,
24 Maret 2011
*Cerpen ini dimuat di Bangka Pos pada bulan April 2011 dengan diubah Judul menjadi "Ical"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar