Kamis, 18 Juni 2015

Cerpen_

Mudik


Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik. Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia  lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh melakukan froud. Sebagai seorang operation manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk mengunjungi Fatiah sebelum  mereka menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan pemecatan.  “Perusahaan tidak akan pernah memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi anti froud dihadapan muka Roky sekaligus maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu  setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika tak mau disebut kampong.  Ia merasa menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang, apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah, istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang. Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi istrinya, tapi tidak punya uang.  Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran. Ah, bagaimana ini!


CERPEN

_RIO_


Rasanya sangat tidak menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh, lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman! Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik, merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah, menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut versi Rio pula.
“Aku tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.” Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata  kantor yang selalu memberikan pelayanan prima kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen, Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai, apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu, baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu. Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit. Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu. Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota yang sama.
“Ya, manusia hanyalah seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?

 *********
“Selamat ulang tahun, Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua orang.
Akhirnya, Rio berhasil menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan juga senyum teman sekantornya.
*********








Pangkalpinang, 16 Juni 2015

CERPEN

Adell dan Lais 
(Part I)




Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell  gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini. Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah, lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak. Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya. “Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral berwarna dominan pink, warna kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk, terlihat menarik dengan blazer yang ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai, kecil, simple dan elegan. Setidaknya tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer sebelum menyapukan foundation. Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft. Eyeliner yang membuat matanya yang sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya cokelat, setelah Adell melakukan mix and match beberapa warna lipstick hingga terciptalah warna baby pink yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya. Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi. Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu dengan gentleman meminta izin pada sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik. Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -