Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
_Sandy Sandoro_
Aku bergumul dengan perasaanku ketika ia berkata : "Ah, kamu seperti orang yang sedang jatuh cinta." dengan wajah santai sambil menghisap puntung rokok yang paling aku benci itu. Ia tidak memahami kecemasanku ketika harus menunggu kabar darinya, bertanya-tanya keberadaannya dan harus memastikan setiap detik arlojiku dan bertanya dalam hati apakah aku bisa menemuinya. Aku terus menerus merasa rindu padanya. Aku kecanduan ingin melihat wajah dan bercengkrama bersamanya. Tapi ia menganggapku hanya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada godam yang menghantam jantungku.
* * *
Kali pertama pertemuan kami di suatu pesta. Aku melihatnya dengan balutan gaun putih dengan potongan leher rendah. Ia menggenggam tas kecil yang dipenuhi mutiara. Senyumnya menawan hati, tutur katanya semanis delima. Saat itulah pertama kali aku menyentuh jemarinya yang lentik dan halus. Sekejap aku melupakan suasana pesta dan hanya menatapnya. "Bia." ketika dirinya memperkenalkan diri. Ia sungguh menggoda, sungguh memukau. Aku ingin melumat bibir ranumnya, sepertinya.
Lalu kita bertemu beberapa bulan kemudian.
"Aku tak menyangka kita akan bertemu disini". Itu adalah pertemuan kali kedua kami. Jantungku masih tersentak saat melihat senyumnya, darahku mendidih bergelora. Kenapa ia sangat menggairahkan? Batinku berteriak dan berontak. "Mau kopi?' tanyaku. Ia membalasnya dengan anggukan kecil. Lantas kami meninggalkan bookstore itu dan menuju cofeeshop.
Ia suka sekali bercerita. Tapi ceritanya tidak pernah membosankan ditelingaku. Ia bercerita tentang bagaimana ia menyukai pekerjaannya sebagai penulis buku. Menurutnya itu adalah pekerjaan paling menyenangkan karena ia bisa menuangkan seluruh ide dan juga bersenang-senang dengan khayalan. "Jika berkhayal, berkhayallah setinggi mungkin dan semustahil mungkin." Dari situ aku tahu betapa ia sangat menyukai hal-hal yang berbau literasi. Pantas saja bercerita dengannya terasa menyenangkan. Aku seperti melihat awan biru cerah yang mengelilinginya. Dan setiap ia tersenyum, darahku berdesir. Jantungku berdegup.
Ia juga bercerita tentang kedua orangtuanya yang telah meninggal. Bercerita tentang suami dan anak-anaknya. Santai, semua terasa santai. Natural. Dan ia menceritakannya dengan sangat menyenangkan, sambil menghisap rokok itu dalam-dalam. Tawanya renyah sehingga siapapun yang mendengarnya akan turut geli dan tertawa.
Kenapa Tuhan menciptakan sosok yang sangat mempesona ini?
Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.
Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.
* * *
Kau Candu
Canduku
Senyummu Candu
Matamu Candu
Tawamu Candu
Aromamu Candu
Suaramu Candu
Kehadiranmu Candu
Kau adalah candu
Dan hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Namun aku dan dirinya kini telah menjadi satu. Tidak pernah seharipun kami terlepas satu sama lain. Pertemuan adalah seperti obat pereda nyeri dalam hatiku. Setiap malam, wajahnya seperti potongan kolase yang bermain-main dalam benakku.
Aku membayangkan bagaimana bila disetiap malam aku bisa membelainya, menyentuhnya dan merasakan manis bibir ranumnya. Bia. Tidak pernah terjadi apapun diantara kami, setidaknya hingga detik ini. Setiap bertemu yang kami lakukan hanyalah minum kopi bersama dan menceritakan keseharian masing-masing, berbagi tentang kepenatan dan juga cerita remeh yang kami temui disepanjang hari.
"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat, aku sungguh merasa bosan namun ingin menemukan sedikit inspirasi." ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya dengan lembut. Bisakah aku saja yang kau hisap? lirihku dalam hati, fantasiku bermain.
Lalu kami melaju kencang menuju salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi bersamanya, hal itu telah aku putuskan beberapa minggu yang lalu.
"Aku suka tempat ini. Tenang, tapi menenggelamkan." ujarnya.
"Sesekali aku kesini jika sedang merasa ingin menyendiri."
"Apakah kau pernah merasa kesepian? Seperti ada potongan dalam hatimu, hilang. Dan belum kau temukan." Bia mentap air terjun yang menggulung-gulung dihadapannya. Bahkan saat percikan air itu jatuh di wajahnya, menghembuskan rambutnya yang ikal ia terlihat sungguh menarik.
Aku diam, enggan menjawab.
Ia pun diam.
"Kenapa?" tanya nya heran.
"Aku sedang merasakan hal tersebut." jawabku. Ia membalasnya dengan kernyitan di dahi.
"Bisa jadi, sebenarnya kau adalah potongan kosong dalam hatiku. Dan selamanya aku tidak akan pernah bisa melengkapi kekosongan yang tertinggal itu. Karena potongan itu adalah dirimu."
Ia tertegun,
Dan entah apa yang mendorongku untuk berani merasakan manisnya bibir berlipstik merah menyala itu.
Dan Bia tak menolak, ia menikmatinya.
* * *
Kami saling jatuh cinta.
Menjelajahi waktu dan ruang bersama. Melupakan apa yang telah mengikat kami selama ini, meluluh lantakkan sakralnya hidup yang selama ini mengikat. Bersamanya aku melupakan dogma dan norma. Aku menikmati setiap tawa, cerita dan sentuhan kami entah itu kecil ataupun bergairah. Aku sungguh merasa jatuh cinta padanya. Pada kesederhanaannya dan juga kecerdasannya. Bagaimana ia mampu mengolah semua kata terasa indah ditelingaku, ataupun perilaku nya yang manja mampu menyihirku. Aku terbutakan. Ataukan memang begini memabukkannya jatuh cinta saat telah terikat?
Pernah suatu malam aku ingin sekali memutuskan untuk berhenti. Sungguh berhenti menemuimu. Namun keesokannya aku akan berada dalam keadaan mencari-cari kehadiranmu. Begitu terus berulang dan berulang. Sehingga aku memutuskan untuk menikmati saja. Tenggelam dalam kecanduanku padamu.
Entah apa yang kau rasakan.
Bisa jadi aku hanyalah selingan, dan seharusnya itulah yang boleh ia rasakan. Begitupun diriku.
"Harusnya, kau memang hanya remahan biskuit dalam toples makanan ku." ujarnya suatu hari.
"Tapi entah kenapa, aku merasakan porsi yang sama. antara dirimu dan dirinya."
Aku hanya diam. Mencerna semua perkataannya.
"Namun, keberadaanku berbeda denganmu. Aku, tidak bisa mengorbankan kehidupanku untuk terus bersamamu."
Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?". Aku mencoba emmahami arah pembicaraan ini.
"Aku merasa kita harus berhenti." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Setelah selama ini? Kita sudah bersama selama lima bulan, Bia! Dan semua terasa menyenangkan."
Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, menciumnya dengan sepenuh hatiku. Bibirnya yang tebal memenuhi bibirku. Aku suka setiap ia melumatku. Manis.
Ia menarik diri.
"Aku tahu. Dan ini terasa terlalu menyenangkan." ia menjawab. matanya kosong. "Aku seperti membutuhkanmu setiap detik. Bahkan saat dirumah yang aku lakukan hanyalah mengecek sosial mediamu, melihat aktifitasmu dan berharap kau bisa mengirimu pesan setiap detik. Dan itu berpengaruh pada kehidupanku. Malam itu, Ben bertanya apakah ada yang salah dalam diriku. "
"Dan saat itu kau sadar bahwa kita harus berhenti?" tandasku.
Bia mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bersedia bertemu satu kali dalam sebulan. Tapi Bia, jangan berhenti menemuiku. Aku membutuhkanmu."
"Bagaimana bisa? Aku sungguh ketakukan sekarang!"
"Tidak ada yang tahu. Kita tidak akan membicarakannya pada siapapun."
"Perasaanku kacau! Aku takut ini akan mempengaruhi keluargaku. Kita harus berhenti. Berhenti!"
"Tapi Bia... aku sungguh mencintaimu."
"Dan kau pun tahu aku mencintaimu. Bersamamu seperti surga untukku."
Lalu kami terdiam. Aku tahu, Bia membutuhkan waktu untuk mengeti apa yang ia rasakan. Aku tidak akan memaksanya, tidak akan. Ia memiliki lebih banyak yang dipertaruhkan dalam hidupnya. Ia bergantung pada suaminya. Si brengsek Ben. Pria tampan, mapan dan juga setia itu. Yang akan ia ceritakan dengan bangga kepadaku betapa ia bersyukur memiliki Ben dalam hidupnya.
Ben yang selalu ada dalam kondisi tersulit Bia. Entah itu dalam mengurus anak-anak mereka atau pun sekedar mencuci pakaian untuknya. Aku sangat membenci itu, namun bersyukur. Setidaknya Bia bahagia dalam pernikahannya. Dan aku mengerti ia dalam persimpangan.
Hanya saja, aku berharap hubungan kami selamanya.
Aku memandang ujung sepatuku. Aku tidak akan mempertahankan Bia. Biarlah ia memutuskan suara hatinya, dan kebimbangannya. Tugas ku, hanya menunggunya.
* * *
Sudah 360 hari sejak pertemuan terakhir kami. Dan tidak ada komunikasi sama sekali. Kadang hatiku memanggil-manggilnya, terasa dahaga akan kehadirannya. Namun, aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin mengganggu keputusannya.
Sore itu aku memandang laut dari tepian jembatan. Rautmu menari-nari di pelupuk mataku. Ada rindu dalam hatiku yang mengingkan untuk meyentuhmu. Saat kau berkata betapa indahnya mata dan senyumku. Betapa kau menyukai kegenitanku. Dan betapa kau menyukai rasa yang ada diantara kita. "Bersamamu aku merasa dicintai." itu katamu.
Angin menghembus wajahku. Pori-poriku terasa menciut. Dingin. Sedingin hatiku.
"Mama, ayo kita bermain lempar bola ini. Papa menunggu." Alya memanggilku dengan nada riang. Di ujung sana Ali melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum memandangnya, lalu meraih tangan Alya untuk menuju Ali. Suamiku.
Sungailiat, Desember 2019