Rabu, 27 September 2017

The Lucky Guy



 “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]





Wajahnya tampan, mata bulat indah dengan bulu mata lentiknya tersusun sempurna melengkapi lengkungan alis hitam nya yang lebat. Hidungya terukir kokoh seperti melengkapi kesempurnaan indah wajahnya. Kulitnya yang putih cemerlang akan kemerahan ketika terpapar matahari. Dan ketampanannya akan memancar kala bibir tipisnya melebarkan senyuman kepada siapapun yang memandangnya.

Banyak orang menyebutnya sebagai “lucky guy”. Sebuah julukan yang ambigu menurutku. Karena makna dari keberuntungannya adalah, ia bisa mendapatkan segala yang ia miliki sekarang ini bukan karena kerja kerasnya, namun pure dari factor x alias keberuntungan atau sebenarnya ia telah berusaha maksimal dibalik sikap cengengesan-nya yang tidak meyakinkan siapapun.

Tapi ia tidak pernah peduli dengan anggapan oranglain, entah orang menilai semua kerja keras yang ia lakukan mati-matian dinilai “tidak berharga” karena ia sukses karena berutung ataupun orang menilai dirinya dengan cara yang berbeda. “Aku tidak berkeberatan samasekali jika memang aku adalah orang yang beruntung.” Ujarnya.

Pernah aku mendapat cerita tetangnya yang mendaftar menjadi pegawai di detik-detik terakhir dan akhirnya lulus pada satu kali tes. Pada masa nya harus pemberkasan, ia adalah orang yang terakhir kali mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan itu pun masih perlu dibantu temannya. Namun yang menyebalkan, justru surat keputusan sebagai calon pegawai miliknya lebih dahulu terbit dibandingkan teman-teman yang lain.

Itu hanya salah satu dari kisah keberuntungannya.

Ia sering mengatakan kepadaku, “dalam setiap keadaan selalu ada orang-orang yang bersedia dan ikhlas membantu, atau disaat-saat genting keadaan yang baik selalu berpihak. Makanya, jadilah orang yang ikhlas membantu oranglain.”

Aku sering merasa iri kepadanya karena aku adalah tipikal yang selalu berusaha mati-matian untuk meraih sesuatu. Aku tidak terlalu percaya dengan keberutungan. Menurutku, untuk meraih sesuatu diperlukan usaha yang maksimal dan ketika kita berhasil meraihnya itu lebih memuaskan daripada mendapatkan sesuatu secara kebetulan. Mungkin itu yang membuat diriku menjadi sosok ambisius, sedangkan dia adalah sosok easy going. Namun beberapa tahun terakhir aku akhirnya memahami mengapa ia selalu menjadi oaring yang beruntung setelah menemukan hadist ini : “Sangat beruntung orang yang berbakti kepada orangtuanya…” (HR. ath-Thabrani)

Jika pada buku-buku yang aku baca selalu aku temukan kisah pemuda yang berbakti kepada orangtuanya, mungkin dalam dunia nyata dia adalah salah satu dari pemuda itu. Ia adalah pemuda paling berbakti yang pernah aku lihat didunia nyata.

Ia tidak pernah membantah perkataan orangtuanya, apalagi bersikap dan berkata kasar. Semua perkataan orangtua adalah titah baginya. ia akan dengan ikhlas mengurus orangtuanya yang sekarang telah menua, mengurut kaki mereka, membuatkan jus, memasakkan makanan dan apapun yang menyenangkan hati orangtuanya. Ia tidak pernah bersikap nakal atau apapun yang membuat hati kedua orangtuanya jengkel. Ia sungguh-sugguh contoh anak yang berbakti. Jangankan jika dimarahi orangtua, dimarahi kakak-kakak nya pun ia tidak pernah marah ataupun sakit hati. Apalagi mendendam. Kadang aku berfikir, hatinya terbuat dari apa.

Dan sikapnhya yang lemah lembut dan berbakti kepada orangtua tersebutlah yang menurutku membantunya dalam kehidupa. Allah membantunya dalah setiap langkah hidupnya kini. Ia tidak pernah kesusahan karena Allah membantunya, balasan karena ia tidak pernah menyusahkan kedua orangtuanya.

Tidak hanya kepada kedua orangtuanya, kepada mertua-nya pun ia bersikap hormat, patuh, tunduk dan juga penuh kasih sayang. Ia tidak perah membedakan sedikitpun perhatian antara ibu kandungnya dan ibu mertua. Ketika ia membeli tas untuk ibunya, maka ibu mertua akan mendapatkan serupa. Ketika ia membelikan baju untuk mertua, maka ibunya pun akan mendapatkannya. Ia selalu berusaha bersikap adil.

Dengan sikap mulia seperti itu, bukankah wajar jika Allah memberikannya “hadiah” dengan selalu melancarkan segala urusan kehidupannya yang kerap kita sebut keberuntungan?





Selasa, 26 September 2017

Resah Sang Mama



Rasanya ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak yang kritis.
“Mama, mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua atau siapapun. Juna harus sabar.”  

Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang kerap membuatku naik pitam. 

Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan Merajuk?
Anak tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup, aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.”  Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam kemudian.

Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.

Aku akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka. 
Aku cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan  oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik. 
Sikap Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku tersebut. Bismillah.

Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran,  tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.


Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!" 



  

Minggu, 24 September 2017

Bahagiaku Bukan Bahagiamu




Hidup ini selalu dinamis, berubah dan juga tidak stagnan. Selalu mengarah pada perubahan yang tidak akan pernah berhenti berputar. Entah perubahan itu kearah yang lebih baik, atau menjemukan bahkan merusak, kita tidak pernah tahu.
Perubahan sedikit demi sedikit pun tidak luput dalam kehidupaku. Aku yang dahulu hanyalah anak bungsu yang manja, hanya memikirkan tentang bahagiaku saja, karirku saja, dan pusat kebahagiaanku hanya bermain dan menemani Ibu, lambat laun pun berubah setelah menjadi istri.
Suamiku yang baik hati membawaku kerumahnya yang mungil namun membahagiakan. Membesarkan buah hati kami dan juga menjalani aktifitas sebagaimana layaknya pasangan muda pada umumnya. Pagi hari bekerja dengan sebelumnya menitipkan anak ke pengasuhnya, pulang kerja di sore hari (bersyukurlah kota ini bebas macet yang membuat kepala mau pecah), dan menjalankan rutinitas ibu rumah tangga dimulai sejak beduk magrib berkumadang. Aku menjalaninya dalam lelah yang bahagia. Setelah pulang kerja, aku akan segera memasakkan lauk untuk makan malam, mencuci piring, membereskan rumah dan bercanda bersama anak dan suamiku. Aku bahagia. Walaupun harus tidur paling cepat pukul duabelas malam dan bagun pagi-pagi sekali. Aku bahagia karena aku didukung oleh suami yang sungguh baik dan perhatian.

Namun dalam bahagiaku, aku melupakan ada Ibu yang kesepian.

Ketika suami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kota Hujan, otomatis aku dan buah hati harus ‘hijrah’ kerumah Ibu karena selain lokasi rumah kami dan tempat aku bekerja cukup jauh dan membuatku kesulitan untuk mengasuh anak sendirian selepas pulang bekerja, masalah financial pun menjadi prioritas utama. Harapan kami, dengan tinggal sementara dirumah Ibu akan dapat mengurangi keterbatasan financial yang akan aku hadapi ketika suami harus melajutkan kuliah. Ibu pun menyanggupi dan dalam aku kembali masuk dalam zona nyamanku.

Ketika seorang anak telah menikah, bagaimanapun anak tersebut akan tetap dianggap sebagai “anak kecil” yang masih harus diatur, diarahkan dan juga diawasi. Sedangkan dalam paradigma seorang anak yang telah menikah, ia akan berpikir bahwa ia adalah seseorang yang telah dewasa, memiliki pendapat, pola dan pemikiran tertentu tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Entah itu dalam mengelola keuangan, mengasuh anak, mengurus anak dan juga memenejemen waktu.
Tapi perbedaan “idealisme” antara  orangtua dan anak yang telah menikah namun tinggal serumah tidak akan berjalan dengan mulus dan rata seperti jalan tol ataupun paha cherrybelle. Perlahan tapi pasti pergesekan akan terjadi. Seperti yang terjadi antara aku, Ibu dan Bapak.
Terutama Ibu.
Ibu masih seperti Ibu yang dulu, tidak berubah. Aku yang telah berubah. Ibu masih Ibu yang manja, yang ingin dimengerti, yang mudah merajuk, dan juga keras kepala. Ibu seyogyaya tidak pernah berubah. Aku telah mahfum dengan sikap Ibu ini. Tapi sekali lagi, aku yang berubah.
Ibu yang tetap ingin bisa berkisah dan bercerita denganku berjam-jam.
Ibu yang tetap ingin aku menyapu dipagi hari, mencuuci piring disore hari.
Ibu yang tetap ingin memarahiku ketika aku tidak mencuci baju, memasak ataupun bangun kesiangan.
Ibu yang tetap ingin mengatur bagaimana aku berpakaian dan bersikap.
Ibu yang tetap ingin aku memboncengnya kemanapun ia pergi  dengan senang hati.
Ibu tidak berubah. Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat lagi menemaninya bercerita sampai tengah malah dan memeluknya sepanjang malam karena harus mengurus anakku yang aktif luar biasa, Alhamdulillah.  
Aku yang tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah seperti seharusnya karena anakku yang rewel tidak mau ditinggal, atau seringkali merecokiku setiap kali aku bekerja dan juga kelelahan dahsyat yang melanda setiap kali pulang bekerja.
Aku yang tidak dapat lagi menemani Ibu pergi dengan bebas dan nyaman karena harus membawa anakku kemana-mana dengan segala kerepotan dan kehebohan yang ada.
Aku yang terlalu memprioritaskan suamiku dan anakku sehingga aku melupakan bahwa Ibu pun ingin tetap menjadi prioritasku.
Aku yang terlalu asyik dengan duniaku sehigga aku melupaka bahwa aku adalah dunia Ibu.
Aku berubah.
Aku merasa telah dewasa, sehingga walaupun aku memiliki keterbatasan financial, aku tetap memiliki hak utuk menentukan dan mengatur ingin seperti apa aku mengasuh anakku. Dengan caraku. Dengan polaku. Yang tentunya berbeda dengan cara mereka mendidikku.
Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat memberikan perhatian yang sama antara Ibu, Suamiku dan Anakku. Aku mengorbakan Ibu dalam kebahagiaanku.

Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana harus menjadi seseorang yang adil bagi mereka. Ditambah dengan kenyataan bahwa kami harus mengikuti suami yang akan ditempatkan bekerja di kota Palembang, membuat hubungan ini menjadi semakin memburuk.
Ibu down.
Ibu seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku adalah dunia Ibu. Karena aku sedang menggenggam duniaku, aku lebih memikirkan duniaku sehingga melupakan Ibu. Aku yang lebih mengejar bahagiaku sehingga melupakan bahagia Ibu.
Aku sadar aku terlihat kejam dimata Ibu ketika aku  memilih  untuk bersama keluargaku dibandingkan bersama Ibu. Bahkan aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak. Tinggal dengan mertua terdengar tidak lebih baik dibadingkan tinggal bersama dengan orangtua sendiri. Bisa jadi keputusan ini akan aku sesali, tapi aku sadar aku akan lebih menyesal jika harus membuat anak-anakku nantinya hidup seperti aku sewaktu kecil. Selalu berjauhan dengan Bapakku. Aku hanya mampu memotivasi diriku bahwa aku akan bahagia dimanapun aku berada asalkan aku bersama dengan keluargaku. Aku yakin semua kesulitan akan mampu aku hadapi asalkan aku bersama dengan orang yang aku cintai, dan mencitaiku.
Aku berubah.
Hidupku berubah. Aku bukan lagi anak gadis remaja Ibu yang dapat menemani Ibu seperti yang dahulu aku lakukan.
Semoga Allah memberikan jalan keluar atas segala kecamuk yang sedang aku hadapi.
Semoga Allah memberikanku kesempatan untuk membahagiakan Ibu dan Bapak, setidaknya agar mereka bisa meganggapku sebagai anak yang mereka harapkan. Bukannya sebagai aak yang mereka sesalkan.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -