Selasa, 21 April 2015

CERPEN



Nasehat Ibu
Oleh : Yulistia Akbari


“Bangun la Dek! Lah jam berape neh, leteh Ibu ni milang kek ikak bangun la pagi-pagi. Jangan bangun siang macem ni. Ka tu bini nya, masak kelak ka belaki nek macem ni la. Bangun siang teros!”  suara petir pun mungkin kalah besarnya dibandingkan suara Ibu pagi ini. Hampir setiap pagi Ibu akan mengeluarkan “nyanyian merdu” itu, begitu aku menjulukinya. Tapi jika tidak mendengar suara itu, boro-boro aku akan berangkat dari tempat tidur, malah aku akan semakin semangat menina-bobokan diriku. Dan dengan mata yang masih berat,  badan yang masih lesu dan rasa dingin yang menjalar, aku akan memaksakan diri beranjak dari pembaringan, semalam aku baru tidur jam empat pagi.
            Aku lihat Ibu sedang mencuci piring di dapur, “Lah besak-besak, dak kene-kene dibilang. Jam berape ari  ni. Agik gadis dulu dak de Ibu macem ka ni dak, Dek. Dirik tu la besak, bantulah Ibu ini. Badan Ibu ni dak kuat agik lah.” Oke, sepertinya iklan pagi akan berlanjut menjadi FTV pagi atau ceramah spiritual.
Aku ke kamar mandi dan cuci muka, lalu menuju meja makan. Mencomot pisang goreng dan menenguk teh hangat buatan Ibu. “Nyamen ok, bangun tiduk langsung makan. Cem mane kelak ka lah belaki Dek, dek. Anak ka nek sekolah, laki ka nek begawe. Masak ka nek bangun siang macem ni.  Heran bener lah ku kek ikak ni. Diajar, la diajar bangun pagi. Tapi dak pacak pacak la.  Jadilah beinternet tu, ku cabut ku kelak e!!!” Ibu mulai marah-marah. Dan aku tidak menyahut apa-apa, soalnya jika perkataan Ibu itu dijawab sedikit saja atau pun dibantah keabsahanya, bisa-bisa terjadi Perang Dunia 13.
            Aku beranjak dan mengambil sapu, kemudian mulai menyapu rumah. Hanya itu yang bisa meredakan amarah ibu saat ini, membersihkan rumah. Lumayanlah, untuk sementara suara Ibu yang membahana terdengar sayaup-sayup menghilang.
####
            Kali ini ada materi lain yang Ibu jadikan bahan “ceramah spiritual”, yaitu : susana kamarku. “Urus la Dek Dek kamar ka tu. Tempet tiduk belambur macem kapal pecah. Bersih sehari, belambur e seminggu. Dandan men keluar dak salah-salah bedeliw e, bidadari ge kalah wangi e. Men ditingok kamar e, Tuhan la tahu e.” Kali ini nada Ibu tidak begitu tinggi seperti pagi tadi, sedikit santai karena sambil menonton sinetron yang paling tidak aku sukai. “Kelak ken cerita e adek orang kayo, Bu. Pembantu banyak kek ngeringkes e.” Jawabku sambil bercanda.
“Kajin sek jadi orang kayo, dak kek ade kamar ge nek pembantu ngurus e. Cem mane tah ka ni men belaki kelak, kamar ka belambur, gancang ditinggal kek laki kelak e”.
“Wew, Bu. Jahat ge doa ibu kek Adek ni.” Protesku, ada juga sedikit ke khawatiran, kan perkataan Ibu itu didengar Tuhan.
“Bukan, sege dak kene-kene dibilang. Dirik tu bini, pacak-pacak la ngurus rumah, kamar diringkes, bangun tu pagi-pagi. Umur ka tu lah besak la dek, tahun ni la due puluh due, masak nek macem ni la. Ibu ni la makin tue, leteh begawe di kantor, leteh begawe dirumah. Dibantu la ibu ni, jangan la pemales macem ni.”
            Kalau Ibu sudah mulai mengeluarkan preambule nya, aku akan dengan wajah sumringah mengambil tumpukan baju yang sudah kering dari jemuran, dan melipatnya sambil menemani ibu menonton sinteron yang membosankan itu.
            Ibu adalah sosok Ibu rumah tangga yang sempurna sebenarnya. Masakannya enak, pintar mengurus rumah, dan juga sangat telaten terhadap keluarga. Tapi, takdir mengharuskannya menjadi salah satu pegawai negeri. Dan yang paling menyedihkan adalah, aku menjadi anak perempuannya yang ia didik agar menjadi seorang wanita sesungguhnya, hanya saja, entah kenapa gen yang ada ditubuhku menolak mentah-mentah semua yang diharapkan ibuku. Yang terjadi adalah, aku tidak suka memasak- walaupun bisa. Aku tidak suka membersihkan rumah- bisa, tapi malas. Aku juga bukan anak penurut-kalem-manis seperti yang diidam-pidamkan Ibu. Tapi, terlepas dari semua protes Ibu terhadap sifatku yang amburadul ini, aku tahu Ibu sangat sayang kepadaku. Dan aku pun begitu, aku sangat mencintai Ibu dari apapun di dunia. Ibu yang senyum dan tawanya selalu menceriakan, Ibu yang pelukanya selalu menghangatkan, Ibu yang setiap hari selalu mencium pipi dan mengucapkan rasa sayangnya padaku, Ibu yang rela memberikan dunia-andai ia bisa- kepadaku. Ibu, adalah segalanya.
####
            Pangkalpinang membara alias panas terik sedang melanda, aku baru saja mengangkat pakaian kering di samping rumah. Lalu mandi dan berdandan, siap untuk mengelilingi ibukota bersama dua sahabatku nanti sore, Hari dan Jo.
“Nek kemane, Dek?” Tanya ibu.
“Biasa Mam, jalan jalan.” Balasku tanpa mengalihkan wajah dari cermin.
“Bejalan, trus. Dak sua aben mateh dirumah. Kawan laki bai ude e. Pagi kek ni, siang kek ni, malem kek ni.”  
Hduuh, mulai deh si Ibu mengomel. Perasaan tiap hari ada saja materi  omelan Ibu. “Dak tau la Bu, takdir e kawan adek laki semue.”
“Aokla, tapi dak seger ditingok tetangga rumah ni. Siang, malem laen-laen jemput e. Orang yang nek dirik bener-bener kelak e ge mikir mikir men adek gati digonceng orang laki.”
“Ya ampun Bu, tu Hari kek Jo,Bu. Ude ge, kawan adek mane  ade orang bini ge bu. Men ade ge, tuh, la diluar pulau Bangka gale. Sege tu lah, Adek nek kuliah diluar dak jadi.”
“Kajin e sek, Dek. Tapi dak usah nue igak bekawan kek orang laki tu.”
Aku membalikkan badanku dan berkata, “Ibu sayang, Ibu tenang bai la pokok e. biar kawan adek laki semue, dyorang baek dan adek pacak jage diri.”
Lalu klakson motor terdengar. Aku mencium pipi Ibu dan menyambut kedua sahabatku.
####
            Itu kejadian dua puluh lima tahun yang lalu, saat aku masih bisa menyepelekan setiap perkataan Ibu. Sekarang aku mengerti setiap makna perkataan Ibu, kenapa seorang wanita harus bisa memasak, harus bisa mengurus rumah, harus bisa menjadi perempuan yang baik karena pada akhirnya wanita harus menjadi seorang istri dan ibu.
            Semua perubahan terjadi saat aku menikah dengan Bian. Setelah menikah, aku mengerti apa yang ibu katakan. Sulitnya bangun pagi, susahnya menjalani kehidupan rumah tangga. Sulit, karena Bian adalah tipikal suami sejati! Bian tidak menyukai masakan yang bukan buatan istrinya. Oh tidak, pada masa awal pernikahan aku merasa sangat tersiksa karena harus melakukan satu hal yang paling tidak aku suka : MASAK! Tapi, demi cinta dan bakti, aku harus rela melakukannya. Beruntung, Bian hanya tersedak saat sayur bayam yang aku buat sedikit keasinan. Entah kenapa hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus makan masakanku.
Dan cobaanku belum berakhir. Masih pada awal masa pernikahanku, kami masih tinggal bersama kedua orangtua Bian. Dan ibunda Bian tercinta alias mertuaku adalah Ibu rumah tangga sejati, yang artinya aku harus bisa mengimbanginya. Tidak mungkin sebagai menantu aku malah membebani Mama, begitu aku menyapa Ibunda Bian, dengan pekerjaan rumah setelah aku tinggal bersamanya. Apalagi, setelah Ibu meninggal sebelum aku menikah, Mama adalah pengganti Ibu, walaupun tidak akan pernah seperti Ibu.
            Jadi, hasilnya adalah pada masa awal pernikahanku, aku menampilkan edisi terbaik yang aku punya. Bangun pukul lima pagi, setelah sholat shubuh aku langsung memasakkan sarapan untuk Bian, membereskan rumah : menyapu-mengepel-mencuci piring. Dan kemudian menyiapkan diri sendiri untuk kekantor.  Masa awal pernikahan adalah masa-masa seperti dalam training camp menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Tapi ternyata, aku berhasil merubah kebiasaan burukku. Setelah menikah, apalagi ketika aku hamil, aku semakin giat untuk menyelaraskan kehidupan rumah tanggaku dengan menjadi istri yang baik dan mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik bagi anakku kelak. Dan dalam setiap gerak hidupku pada saat itu, aku selalu mengingat Ibu. Mengingat betapa beratnya perjuangan ibu, seperti yang aku rasakan. Ibu, andai bisa aku mengatakan betapa aku merindukanmu di surga. Dan betapa aku rindu dengan celotehanmu tentang bagaimana menjadi seorang wanita. Bu, Adek sayang Ibu.
####
Aku sudah berusia hampir setengah abad, dan Annika, putri semata wayangku baru saja menginjak usianya yang kedua puluh. Ternyata Annika adalah cetak biruku tanpa cela. Melihat tingkah dan wajahnya, seperti masuk dalam hidupku berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan aku juga seperti mengalami apa yang dulu Ibu alami. Semakin Annika besar, semakin aku merasakan kekhawatiran yang dulu Ibu rasakan. Dan rasanya, aku mulai menjadi seperti Ibu saat aku berkata : “Annika, cubelah kamar trui diringkes ok. Ka ni bejalan terus, pening kepala Ibu ningok e. Dak sua aben dirumah, dak retak agik la kek kaen baju, kek piring kotor. Macem mane ka ne men belaki kelak e.”

Tamat


Dedicated for my Mom,
Pangkalpinang, 11 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -