Nasehat Ibu
Oleh : Yulistia Akbari
“Bangun la Dek! Lah jam berape neh, leteh Ibu ni milang kek ikak bangun
la pagi-pagi. Jangan bangun siang macem ni. Ka tu bini nya, masak kelak ka
belaki nek macem ni la. Bangun siang teros!” suara
petir pun mungkin kalah besarnya dibandingkan suara Ibu
pagi ini. Hampir setiap
pagi Ibu akan mengeluarkan “nyanyian
merdu” itu, begitu aku menjulukinya. Tapi jika
tidak mendengar suara itu, boro-boro
aku akan berangkat dari tempat tidur,
malah aku akan semakin semangat menina-bobokan diriku.
Dan dengan mata yang masih berat, badan
yang masih lesu dan rasa dingin yang menjalar, aku akan memaksakan diri beranjak
dari pembaringan, semalam
aku baru tidur jam empat pagi.
Aku
lihat Ibu sedang mencuci piring di dapur, “Lah
besak-besak, dak kene-kene
dibilang. Jam berape ari ni. Agik gadis
dulu dak de Ibu macem ka ni dak, Dek. Dirik tu la besak, bantulah Ibu ini. Badan Ibu ni dak kuat agik
lah.” Oke, sepertinya iklan pagi akan
berlanjut menjadi FTV pagi atau ceramah spiritual.
Aku ke kamar
mandi dan cuci muka, lalu menuju meja makan. Mencomot pisang goreng dan
menenguk teh hangat buatan Ibu.
“Nyamen ok, bangun tiduk langsung makan.
Cem mane kelak
ka lah belaki Dek, dek. Anak ka nek sekolah, laki ka
nek
begawe. Masak ka nek bangun siang macem ni.
Heran bener lah ku kek ikak ni. Diajar, la diajar bangun pagi. Tapi dak
pacak pacak la. Jadilah beinternet tu,
ku cabut ku kelak e!!!” Ibu mulai marah-marah.
Dan aku tidak menyahut apa-apa, soalnya jika perkataan Ibu itu dijawab sedikit
saja atau pun dibantah keabsahanya, bisa-bisa terjadi Perang Dunia 13.
Aku
beranjak dan mengambil sapu, kemudian mulai menyapu rumah. Hanya itu yang bisa
meredakan amarah ibu saat ini, membersihkan rumah. Lumayanlah, untuk sementara
suara Ibu yang membahana
terdengar sayaup-sayup menghilang.
####
Kali
ini ada materi lain yang Ibu jadikan bahan “ceramah
spiritual”, yaitu :
susana kamarku. “Urus la Dek Dek kamar ka tu. Tempet tiduk
belambur macem kapal pecah. Bersih sehari, belambur e seminggu. Dandan men
keluar dak salah-salah bedeliw e, bidadari ge kalah wangi e. Men ditingok kamar
e, Tuhan la tahu e.” Kali ini nada Ibu tidak begitu tinggi seperti pagi
tadi, sedikit santai karena sambil menonton sinetron yang paling tidak aku
sukai. “Kelak ken cerita e adek orang
kayo, Bu. Pembantu banyak kek ngeringkes e.” Jawabku sambil bercanda.
“Kajin sek jadi orang kayo, dak kek ade kamar ge nek pembantu ngurus e.
Cem mane tah ka ni men belaki kelak, kamar ka belambur, gancang ditinggal kek
laki kelak e”.
“Wew, Bu.
Jahat ge doa ibu kek Adek ni.” Protesku, ada juga sedikit ke khawatiran, kan
perkataan Ibu itu didengar Tuhan.
“Bukan,
sege
dak
kene-kene dibilang. Dirik tu bini, pacak-pacak la ngurus rumah, kamar
diringkes, bangun tu
pagi-pagi. Umur ka tu lah besak la dek, tahun ni la due puluh due, masak nek
macem ni la. Ibu ni la makin tue, leteh begawe di kantor, leteh begawe dirumah.
Dibantu la ibu ni, jangan la pemales macem ni.”
Kalau
Ibu sudah mulai mengeluarkan preambule
nya, aku akan dengan wajah sumringah
mengambil tumpukan baju yang sudah kering dari jemuran, dan melipatnya sambil
menemani ibu menonton sinteron yang membosankan itu.
Ibu
adalah sosok Ibu rumah tangga yang sempurna
sebenarnya. Masakannya enak, pintar mengurus rumah, dan juga sangat telaten terhadap
keluarga. Tapi, takdir
mengharuskannya menjadi salah satu pegawai negeri. Dan yang paling menyedihkan
adalah, aku menjadi anak perempuannya yang ia didik agar menjadi seorang wanita
sesungguhnya, hanya saja, entah kenapa gen yang ada ditubuhku menolak mentah-mentah
semua yang diharapkan ibuku. Yang terjadi adalah, aku tidak suka memasak-
walaupun bisa. Aku tidak suka membersihkan rumah- bisa, tapi malas. Aku juga bukan anak penurut-kalem-manis
seperti yang diidam-pidamkan Ibu. Tapi, terlepas dari semua protes Ibu terhadap
sifatku yang amburadul ini, aku tahu
Ibu sangat sayang kepadaku. Dan aku pun begitu, aku sangat mencintai Ibu dari
apapun di dunia. Ibu yang senyum dan tawanya selalu menceriakan, Ibu yang
pelukanya selalu menghangatkan, Ibu yang setiap hari selalu mencium pipi dan
mengucapkan rasa sayangnya padaku, Ibu yang rela memberikan dunia-andai ia
bisa- kepadaku. Ibu, adalah segalanya.
####
Pangkalpinang membara alias panas
terik sedang melanda, aku baru saja mengangkat pakaian kering di samping rumah.
Lalu mandi dan berdandan, siap untuk mengelilingi ibukota bersama dua sahabatku
nanti sore, Hari dan Jo.
“Nek kemane, Dek?” Tanya ibu.
“Biasa Mam, jalan jalan.” Balasku tanpa
mengalihkan wajah dari cermin.
“Bejalan, trus. Dak sua aben mateh dirumah.
Kawan laki bai ude e. Pagi kek ni, siang kek ni, malem kek ni.”
Hduuh, mulai deh
si Ibu mengomel. Perasaan tiap hari ada saja materi omelan Ibu. “Dak tau la Bu, takdir e kawan adek laki semue.”
“Aokla, tapi dak seger ditingok tetangga rumah ni. Siang,
malem laen-laen jemput e. Orang yang nek dirik bener-bener kelak e ge mikir
mikir men adek gati digonceng orang laki.”
“Ya ampun Bu, tu Hari kek Jo,Bu. Ude ge, kawan adek
mane ade orang bini ge bu. Men ade ge,
tuh, la diluar pulau Bangka gale. Sege tu lah, Adek nek kuliah diluar dak
jadi.”
“Kajin e sek, Dek. Tapi dak usah nue igak bekawan kek
orang laki tu.”
Aku membalikkan
badanku dan berkata, “Ibu sayang, Ibu
tenang bai la pokok e. biar kawan adek laki semue, dyorang baek dan adek pacak
jage diri.”
Lalu klakson motor
terdengar. Aku mencium pipi Ibu dan menyambut kedua sahabatku.
####
Itu kejadian dua puluh lima tahun
yang lalu, saat aku masih bisa menyepelekan setiap perkataan Ibu. Sekarang aku
mengerti setiap makna perkataan Ibu, kenapa seorang wanita harus bisa memasak,
harus bisa mengurus rumah, harus bisa menjadi perempuan yang baik karena pada
akhirnya wanita harus menjadi seorang istri dan ibu.
Semua perubahan terjadi saat aku
menikah dengan Bian. Setelah menikah, aku mengerti apa yang ibu katakan.
Sulitnya bangun pagi, susahnya menjalani kehidupan rumah tangga. Sulit, karena
Bian adalah tipikal suami sejati! Bian tidak menyukai masakan yang bukan buatan
istrinya. Oh tidak, pada masa awal pernikahan aku merasa sangat tersiksa karena
harus melakukan satu hal yang paling tidak aku suka : MASAK! Tapi, demi cinta
dan bakti, aku harus rela melakukannya. Beruntung, Bian hanya tersedak saat
sayur bayam yang aku buat sedikit keasinan. Entah kenapa hal tersebut tidak
menyurutkan niatnya untuk terus makan masakanku.
Dan
cobaanku belum berakhir. Masih pada awal masa pernikahanku, kami masih tinggal
bersama kedua orangtua Bian. Dan ibunda Bian tercinta alias mertuaku adalah Ibu
rumah tangga sejati, yang artinya aku harus bisa mengimbanginya. Tidak mungkin
sebagai menantu aku malah membebani Mama, begitu aku menyapa Ibunda Bian,
dengan pekerjaan rumah setelah aku tinggal bersamanya. Apalagi, setelah Ibu meninggal
sebelum aku menikah, Mama adalah pengganti Ibu, walaupun tidak akan pernah
seperti Ibu.
Jadi, hasilnya adalah pada masa awal
pernikahanku, aku menampilkan edisi terbaik yang aku punya. Bangun pukul lima
pagi, setelah sholat shubuh aku langsung memasakkan sarapan untuk Bian,
membereskan rumah : menyapu-mengepel-mencuci piring. Dan kemudian menyiapkan
diri sendiri untuk kekantor. Masa awal
pernikahan adalah masa-masa seperti dalam training
camp menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Tapi
ternyata, aku berhasil merubah kebiasaan burukku. Setelah menikah, apalagi ketika
aku hamil, aku semakin giat untuk menyelaraskan kehidupan rumah tanggaku dengan
menjadi istri yang baik dan mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik bagi
anakku kelak. Dan dalam setiap gerak hidupku pada saat itu, aku selalu
mengingat Ibu. Mengingat betapa beratnya perjuangan ibu, seperti yang aku
rasakan. Ibu, andai bisa aku mengatakan betapa aku merindukanmu di surga. Dan
betapa aku rindu dengan celotehanmu tentang bagaimana menjadi seorang wanita. Bu, Adek sayang Ibu.
####
Aku sudah
berusia hampir setengah abad, dan Annika, putri semata wayangku baru saja menginjak
usianya yang kedua puluh. Ternyata Annika adalah cetak biruku tanpa cela.
Melihat tingkah dan wajahnya, seperti masuk dalam hidupku berpuluh-puluh tahun
yang lalu. Dan aku juga seperti mengalami apa yang dulu Ibu alami. Semakin Annika
besar, semakin aku merasakan kekhawatiran yang dulu Ibu rasakan. Dan rasanya,
aku mulai menjadi seperti Ibu saat aku berkata : “Annika, cubelah kamar trui diringkes ok. Ka ni bejalan terus, pening
kepala Ibu ningok e. Dak sua aben dirumah, dak retak agik la kek kaen baju, kek
piring kotor. Macem mane ka ne men belaki kelak e.”
Tamat
Dedicated for my Mom,
Pangkalpinang, 11 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar