Kamis, 18 Juni 2015

CERPEN

Adell dan Lais 
(Part I)




Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell  gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini. Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah, lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak. Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya. “Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral berwarna dominan pink, warna kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk, terlihat menarik dengan blazer yang ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai, kecil, simple dan elegan. Setidaknya tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer sebelum menyapukan foundation. Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft. Eyeliner yang membuat matanya yang sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya cokelat, setelah Adell melakukan mix and match beberapa warna lipstick hingga terciptalah warna baby pink yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya. Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi. Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu dengan gentleman meminta izin pada sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik. Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -