Selasa, 21 April 2015

CERPEN 2



Awan, Si Mata Elang
Oleh : Yulistia Akbari


 Akhir-akhir ini aku selalu terbangun dalam keadaan berfikir. Lebih tepatnya memikirkan seseorang. Aku tahu, seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjalani kehidupanku dengan normal-normal saja. Dan seharusnya perasaan ini tidak ada.

Tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku selalu membayangkan orang itu. Wajahnya, tingkahnya dan juga bagaimana setiap perkataanya yang membuatku tertawa. Aku suka setiap sudut ciptaan Sang Mahakarya ini, semua titik seperti sempurna dimataku. Dan yang paling aku suka adalah mata elangnya. Kadang aku akan tersenyum sendiri saat melihat gayanya bercanda yang sering membuatku terpingkal.

Aku tau, aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta kembali padanya. Ia, cinta masa sekolahku, saat kami masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sudah cukup lama, aku kira rasa itu telah menghilang seiring waktu mengalir. Ku kira, jarak juga sudah melenyapkan keinginan itu. Tapi semuanya kembali, saat aku menemukan ia kembali datang.

****

Hari itu langit terlihat mendung, tapi kami memutuskan untuk pergi ke pantai berdua, hanya sekedar duduk dan bercerita. Kebiasaan yang kami lakukan saat ia pulang di musim liburan kuliahnya.  Dan sampailah kami di pantai sejuta umat, Pasir Padi. Kami duduk disalah satu pondok sambil menikmati es kelapa muda.
"Jadi, sekarang kamu sudah punya pacar? Kok bisa?" Tanyaku sambil bercanda. Ia menggerutu kesal karena ledekanku, "Ya iyalah, karena aku tampan." Balasnya tak mau kalah. Selalu seperti itu, setiap pertemuan akan kami isi dengan candaan, pertengkaran, kadang-kadang curahan hati tentang kisah cinta. "Namanya Jingga, ia adik tingkatku. Orangnya biasa saja, tapi cukup menarik." Itu katanya saat memulai kisahnya padaku. "Oh ya? Namanya bagus. Aku suka.". Walaupun dalam hati, aku ingin bilang, “Sebenarnya aku tidak suka. Tidak suka sama sekali”.

Petir menggelegar, dan hujan deras pun turun. Pondok tempat kami bernaung ini hanya melindungi tubuh sekedarnya saja dari percikan hujan yg turun. Aku pun merapat padanya. Karena tak ingin basah dengan hujan, juga karena aku ingin lebih dekat dengannya. Saat itu, aku berkata dalam hati "Terima kasih hujan".

Dan sore itu kami bercerita dalam keadaan hujan, sekaligus duduk berdekatan. Rapat sekali. Ia meneruskan ceritanya tentang Jingga, "Tapi sayangnya, aku selalu membuat dia bersedih." Aku menyeruput es kelapa dihadapanku dan bertanya, "Kenapa? Bukankah kamu menyukainya?" Ia menarik nafas panjang, "Aku tidak bisa bersikap romantis." Jawabannya yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Ia membuatku merasa lucu, ya ya ya, aku tau bagaimana si mata elang ini tidak bisa merangkai kalimat cinta, merayu wanita ataupun menggombali wanita. Ia terlalu apa adanya. Terlalu kaku. "Lantas, bagaimana kalian bisa berpacaran?" Tanyaku. "Ia yang mengutarakannya lebih dulu." Jawabnya. “Dan kebetulan, kamu juga menyukainya. Wow, beruntung sekali dirimu.” Aku menimpali, ia tidak menjawab.

Kembali kami diam. Sore itu hujan semakin deras, petir semakin menjadi-jadi, "Wan, kalo tiba-tiba terjadi tsunami, kita orangg pertama yang kena lho." Gumanku, dan langsung mendapatkan jitakan dikepala. "Ngomong sembarangan, lagi dipinggir pantai nih!" Dan aku hanya bersungut-sungut kesakitan karena jitakannya dari tangannya yang kekar. Dan selama hujan itu, ia bercerita tentang si Jingga kepadaku. Sejujurnya, aku tidak begitu memperhatikan ceritanya tentang Jingga. Karena yang ingin aku rasakan adalah saat kami berdekatan, saat kami serapat ini, saat aku bisa merasakan bahwa kulitnya hangat sekali.

Awan. Dia adalah sahabatku. Sekaligus orang yang sangat aku cintai. Kepadanya aku selalu bercerita tentang kesusahanku, tentang rahasia-rahasiaku, dan tentang semua yang aku lalui. Tapi ia adalah orang yang terakhir yang ku harap tahu tentang perasaanku padanya. Aku tidak ingin, perasaanku ini merubah kebersamaan kami yang telah lama dalam ikatan persahabatan. Ia sangat dekat denganku, tapi sebetulnya sangat jauh.

Awan, masih saja ia bercerita tentang Jingga yang memaksaku untuk berwajah cerah saat mendengarkan kisahnya, miris bukan? Tapi aku selalu suka mendengarkan Awan saat bercerita, karena aku bisa menjelajahi wajahnya saat melihatnya bercerita. Mata elangnya, dengan alis hitam tebal. Juga bulu mata lentiknya. Aku juga menjelajahi hidungya yang mancung dan bibir penuhnya yang selalu tersenyum itu. Aku suka. Suka sekali.

"Aku tidak tau bagaimana hubungan kami nanti. Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan kuliahku. Dan akan kembali kesini. Bekerja disini, mungkin"
"Hubungan jarak jauh bukan hal yg mustahil,wan. Asal saling percaya"
"Dekat saja jarang aku mendatanginya, apalagi jauh berseberangan laut."
"Ya kalau cinta, harus diperjuangkan."
Awan diam, menatap laut. "Entahlah."
Aku pun balas diam karena tidak bisa memberi solusi, "Nikmati saja setiap detik kebersamaan. Apalagi jika kita tahu bahwa akan sulit bersama dengan orang itu. Selama kesempatan dan waktu masih ada." Aku seperti mengucapkan kalimat itu pada diriku sendiri.
"Ya, kau benar. Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini."
"Jika ia memang ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya. Tapi, jika ia bukan takdirmu, sekuat apapun mempertahankan, ia akan lepas."

Ia sahabatku, sebagai sahabat aku harus membesarkan hatinya dan menyemangatinya. Karena itulah kewajiban sahabat. Walaupun sahabat dihadapanku ini adalahan lelaki yang aku cintai. Cinta, tidak boleh merusak persahabatan. Karena itu, perasaan cinta untuk Awan tak pernah aku utarakan, sebesar apapun itu, karena aku takut kebahagiaan kami selama menjadi sahabat ini akan lenyap dan hilang. Biarlah cinta ini ada dihatiku, dan aku nikmati sendiri. Seperti kataku kepada Awan bahwa "Jika ia memang ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya".

"Hujan sudah reda, bagaimana kalau kita melihat orang menjaring ikan disana?" Ajaknya.
Dan kami berjalan ditepi pantai, dibawah rintik hujan. Seperti sepasang kekasih, kami bergandengan menuju pantai menghabiskan waktu sore itu bersama. Semuanya, sudah cukup membahagiakanku.

Aku mendongak keatas, langit terlihat menampakkan kecerahannya. Dan awan putih, sedikit demi sedikit bermunculan.









Pangkalpinang, Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -