Awan, Si Mata Elang
Oleh : Yulistia Akbari
Akhir-akhir ini aku selalu terbangun dalam
keadaan berfikir. Lebih tepatnya memikirkan seseorang. Aku tahu, seharusnya
tidak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjalani kehidupanku dengan
normal-normal saja. Dan seharusnya perasaan ini tidak ada.
Tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku
selalu membayangkan orang itu. Wajahnya, tingkahnya dan juga bagaimana setiap
perkataanya yang membuatku tertawa. Aku suka setiap sudut ciptaan Sang
Mahakarya ini, semua titik seperti sempurna dimataku. Dan yang paling aku suka
adalah mata elangnya. Kadang aku akan tersenyum sendiri saat melihat gayanya
bercanda yang sering membuatku terpingkal.
Aku tau, aku telah jatuh cinta. Jatuh
cinta kembali padanya. Ia, cinta masa sekolahku, saat kami masih mengenakan
seragam putih abu-abu. Sudah cukup lama, aku kira rasa itu telah menghilang
seiring waktu mengalir. Ku kira, jarak juga sudah melenyapkan keinginan itu.
Tapi semuanya kembali, saat aku menemukan ia kembali datang.
****
Hari itu langit terlihat mendung,
tapi kami memutuskan untuk pergi ke pantai berdua, hanya sekedar duduk dan
bercerita. Kebiasaan yang kami lakukan saat ia pulang di musim liburan
kuliahnya. Dan sampailah kami di pantai
sejuta umat, Pasir Padi. Kami duduk disalah satu pondok sambil menikmati es
kelapa muda.
"Jadi, sekarang kamu sudah punya
pacar? Kok bisa?" Tanyaku sambil bercanda. Ia menggerutu kesal karena
ledekanku, "Ya iyalah, karena aku tampan." Balasnya tak mau kalah.
Selalu seperti itu, setiap pertemuan akan kami isi dengan candaan,
pertengkaran, kadang-kadang curahan hati tentang kisah cinta. "Namanya Jingga, ia
adik tingkatku. Orangnya biasa saja, tapi cukup menarik." Itu katanya saat
memulai kisahnya padaku. "Oh ya? Namanya bagus. Aku suka.". Walaupun
dalam hati, aku ingin bilang, “Sebenarnya
aku tidak suka. Tidak suka sama sekali”.
Petir menggelegar, dan hujan deras
pun turun. Pondok tempat kami bernaung ini hanya melindungi tubuh sekedarnya
saja dari percikan hujan yg turun. Aku pun merapat padanya. Karena tak ingin
basah dengan hujan, juga karena aku ingin lebih dekat dengannya. Saat itu, aku
berkata dalam hati "Terima kasih
hujan".
Dan sore itu kami bercerita dalam
keadaan hujan, sekaligus duduk berdekatan. Rapat sekali. Ia meneruskan
ceritanya tentang Jingga, "Tapi sayangnya, aku selalu membuat dia
bersedih." Aku menyeruput es kelapa dihadapanku dan bertanya, "Kenapa?
Bukankah kamu menyukainya?" Ia menarik nafas panjang, "Aku tidak bisa
bersikap romantis." Jawabannya yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
Ia membuatku merasa lucu, ya ya ya,
aku tau bagaimana si mata elang ini tidak bisa merangkai kalimat cinta, merayu
wanita ataupun menggombali wanita. Ia terlalu apa adanya. Terlalu kaku.
"Lantas, bagaimana kalian bisa berpacaran?" Tanyaku. "Ia yang
mengutarakannya lebih dulu." Jawabnya. “Dan kebetulan, kamu juga
menyukainya. Wow, beruntung sekali dirimu.” Aku menimpali, ia tidak menjawab.
Kembali kami diam. Sore itu hujan
semakin deras, petir semakin menjadi-jadi, "Wan, kalo tiba-tiba terjadi
tsunami, kita orangg pertama yang kena lho." Gumanku, dan langsung
mendapatkan jitakan dikepala. "Ngomong sembarangan, lagi dipinggir pantai
nih!" Dan aku hanya bersungut-sungut kesakitan karena jitakannya dari
tangannya yang kekar. Dan selama hujan itu, ia bercerita tentang si Jingga
kepadaku. Sejujurnya, aku tidak begitu memperhatikan ceritanya tentang Jingga.
Karena yang ingin aku rasakan adalah saat kami berdekatan, saat kami serapat
ini, saat aku bisa merasakan bahwa kulitnya hangat sekali.
Awan. Dia adalah sahabatku. Sekaligus
orang yang sangat aku cintai. Kepadanya aku selalu bercerita tentang
kesusahanku, tentang rahasia-rahasiaku, dan tentang semua yang aku lalui. Tapi
ia adalah orang yang terakhir yang ku harap tahu tentang perasaanku padanya.
Aku tidak ingin, perasaanku ini merubah kebersamaan kami yang telah lama dalam
ikatan persahabatan. Ia sangat dekat denganku, tapi sebetulnya sangat jauh.
Awan, masih saja ia bercerita tentang
Jingga yang memaksaku untuk berwajah cerah saat mendengarkan kisahnya, miris
bukan? Tapi aku selalu suka mendengarkan Awan saat bercerita, karena aku bisa
menjelajahi wajahnya saat melihatnya bercerita. Mata elangnya, dengan alis
hitam tebal. Juga bulu mata lentiknya. Aku juga menjelajahi hidungya yang
mancung dan bibir penuhnya yang selalu tersenyum itu. Aku suka. Suka sekali.
"Aku tidak tau bagaimana
hubungan kami nanti. Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan kuliahku. Dan akan
kembali kesini. Bekerja disini, mungkin"
"Hubungan jarak jauh bukan hal
yg mustahil,wan. Asal saling percaya"
"Dekat saja jarang aku
mendatanginya, apalagi jauh berseberangan laut."
"Ya kalau cinta, harus
diperjuangkan."
Awan diam, menatap laut.
"Entahlah."
Aku pun balas diam karena tidak bisa
memberi solusi, "Nikmati saja setiap detik kebersamaan. Apalagi jika kita
tahu bahwa akan sulit bersama dengan orang itu. Selama kesempatan dan waktu
masih ada." Aku seperti mengucapkan kalimat itu pada diriku sendiri.
"Ya, kau benar. Mungkin hanya
itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini."
"Jika ia memang ditakdirkan
untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya. Tapi, jika ia bukan takdirmu,
sekuat apapun mempertahankan, ia akan lepas."
Ia sahabatku, sebagai sahabat aku
harus membesarkan hatinya dan menyemangatinya. Karena itulah kewajiban sahabat.
Walaupun sahabat dihadapanku ini adalahan lelaki yang aku cintai. Cinta, tidak
boleh merusak persahabatan. Karena itu, perasaan cinta untuk Awan tak pernah
aku utarakan, sebesar apapun itu, karena aku takut kebahagiaan kami selama
menjadi sahabat ini akan lenyap dan hilang. Biarlah cinta ini ada dihatiku, dan
aku nikmati sendiri. Seperti kataku kepada Awan bahwa "Jika ia memang
ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya".
"Hujan sudah reda, bagaimana
kalau kita melihat orang menjaring ikan disana?" Ajaknya.
Dan kami berjalan ditepi pantai,
dibawah rintik hujan. Seperti sepasang kekasih, kami bergandengan menuju pantai
menghabiskan waktu sore itu bersama. Semuanya, sudah cukup membahagiakanku.
Aku mendongak keatas, langit terlihat
menampakkan kecerahannya. Dan awan putih, sedikit demi sedikit bermunculan.
Pangkalpinang, Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar