Selasa, 21 April 2015

CERPEN 4



Tentang Crista
Oleh : Yulistia Akbari


            Yuni berjalan menuju parkiran mobil. Ditangannya banyak barang yang telah ia beli di supermarket hanya untuk sekedar melampiaskan amarahnya yang tersisa walaupun ia tidak tahu apa yang harus dibelinya.
            Ia masuk kedalam mobil dan menutupnya. Kemudian menghela nafas panjang dan berat. Kenapa hal sekecil ini membuat pikiranku menjadi kacau, batinnya.
            Di usianya yang menginjak kepala lima ia telah meraih apa yang belum tentu mampu diraih oleh orang lain. Kedudukan yang terhormat, gaji yang lebih dari cukup, suami yang setia dan baik, juga ia telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap karena telah memiliki buah hati semata wayangnya, Crista, yang kini telah menginjak usia 17 tahun.
            Yang menjadi pikirannya selama ini adalah anak perempuan semata wayangnya, Crista. Gadis cantik jelita itu begitu memakan banyak pikiran Yuni diabnding dengan pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Akhir- akhir ini Yuni merasakan perubahan sikap Crista. Ataukah Yuni yang tidak bisa menerima keadaan  Crista yang beranjak dewasa?
            Saat masih kecil Crista adalah anak yang sangat lucu. Paras manisnya yang berhidung mancung dan lesung pipit membuat siapapun yang memandangnya akan merasa gemas. Ditambah dengan sikap periangnya yang suka bercerita. Disekolah pun ia termasuk anak yang pintar karena selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar disekolahnya. Kecerdasan yang menurun dari Papanya, dan kecantikan yang menurun dari Mamanya membuat Crista menjadi sosok yang sangat sempurna.
            Namun akhir-akhir ini Yuni merasakan perubahan pada sikap anaknya. Crista cenderung lebih menutup diri dan sudah jarang bercerita mengenai hari-harinya kepada dirininya. Crista lebih sering hang out bersama teman-temannya. Lebih sering mengurung diri dikamar sambil mendengarkan radio, browsing atau sekedar membaca buku.
            Dan yang paling berubah dari diri Crista dalah ia mulai memiliki teman lelaki yang sering datang kerumah setiap malam Minggu.
            Entah kenapa Yuni kurang merasa suka jika Crista harus memiliki hubungan dengan lelaki disaat ia masih harus sekolah dan menuntut ilmu. Walalupun tidak bisa dipungkiri di usianya yang belasan itu jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan lawan jenis adalah hal yang sangat menyenangkan, karena Yuni juga pernah muda.
            Tapi ia tidak mau Crista terjebak lebih dalam dari yang seharusnya. Perubahan  pada diri Crista membuat Yuni banyak berfikir. Ia takut Crista terjebak dalam pergaulan yang salah yang dapat menghancurkan masa depannya yang masih panjang.
            Yuni mulai melajukan mobilnya. Ia mengikuti alur jalan yang bahkan ia tidak tahu harus kemana. ” Crista... ” gumannya pelan.
            Siang tadi Yuni dan Crista bertengkar hebat.
” Mama pikir Crista tidak bisa menjaga diri? Crista udah besar, Ma.” Kata Crista.
“ Iya, kamu memang sudah besar, tapi belum cukup dewasa untuk bisa bersikap! Mama menghawatirkanmu karena Mama sayang padamu.”
“ Mama terlalu protektif! Apa salahnya Crista jalan bersama teman-teman. Toh nilai Crista di sekolah tetap baguskan, Ma?! “
“ Tapi Mama tidak suka kamu berpacaran! Kamu masih terlalu kecil!”
” Crista sudah dewasa, Ma! Teman teman Crista semuanya juga sudah memiliki pacar, kenapa Crista tidak?! ”
” Tidak ada jawaban apa-apa untuk pertanyaanmu itu, dan Mama tetap tidak mengizinkanmu untuk berpacaran disaat kamu masih sekolah!”
            Crista mengis dan segera masuk ke kamarnya. Selalu seperti itu. Seolah kamarnya adalah surga kedua untuknya. Entah apa yang ia lakukan didalam kamarnya seolah ia tidak punya waktu lagi untuk Mama nya.
            Yuni hanya merasa kesepian.
Mungkin inilah saat-saat tersulit yang harus Yuni jalani dalam menghadapi anaknya yang sedang mengalami masa puber. Entahlah, Yuni hanya merasa belum bisa menerima  dengan perubahan anaknya tersebut.
****
”Aku gak tau harus gimana lagi menghadapi Crista, Ka.” Eka, sahabat yang selalu setia bersama Yuni. Tidak hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sahabat yang setia. Persahabatan yang telah mereka  jalin sejak duduk di bangku perkuliahan.
            Eka menyuguhkan secangkir teh hangat, ”Diminum dulu tehnya. Itu hanya masalah pubertas, Yun. Bukankah kita dulu juga mengalaminya?”
” Tapi aku takut, Ka. Aku gak mau Crista salah langkah. Aku takut.”
Eka diam sejenak dan mengalihkan pandangannya, ” Jangan mengingat masa lalumu, Yuni. Aku tahu ini semua ketakutanmu.”
Yuni hanya terdiam.
            Eka benar. Sikap Yuni yang protektif dan berlebihan kepada Crista adalah wujud ketakutannya atas semua kesalahan yang pernah Yuni lakukan di masa lalu. Yuni kembali terbayang dengan kejadian di masa lalu, saat ia masih remaja.
            Sama halnya dengan Crista, di usia yang ke tujuh belas tahun Yuni mulai merasakan jatuh cinta. Betapa indahnya perasaan yang ia miliki saat itu. Faisal. Nama lelaki itu Faisal. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih. Senyum manisnya dan tatap matanya yang tajam bagi Yuni adalah mantra terhebat yang diberikan alam untuknya. Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu ia adalah murid pindahan di SMA, Yuni sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak hanya wajahnya yang manis itu yang membuat Yuni terpesona, tetapi lelaki kurus tinggi itu juga memiliki tutur kata yang indah juga pintar.    Yang paling membahagiakan adalah ternyata ia juga menaruh hati pada Yuni. Dan pendek kata, mereka pun menjalin  cinta.
Cinta masa remaja memang adalah cinta yang paling penuh dengan bunga-bunga. Begitupun apa yang Yuni rasakan bersama Faisal. Kebersamaan dan kebahagiaan tiada duanya. Dan ternyata kebersamaan itu membuat mereka terlena. Dan hal paling ternista pun terjadi diantara insan remaja tersebut.
****
            Masih lekat dalam ingatakan Yuni saat orangtuanya  memperlihatkan wajah berang. Papa memukul Yuni dengan sebalok kayu yang entah ia dapatkan dari mana. Dan Mama hanya menangis penuh dengan kesedihan saat mengetahui dirinya hamil. ”Papa tidak sudi punya cucu diluar nikah! Dasar kamu anak tidak tahu diuntung! Dasar tidak bisa menjaga diri! Mau jadi apa kamu?!”  masih terngiang dan tak akan Yuni lupakan perkataan Papa yang sangat menyakiti hati. Tapi ia hanya bisa diam dan menerima pukulan dari Papa. Karena aku yang salah.
            Papa tidak sudi nama baiknya tercoreng dihadapan keluarga besar, akhirnya bersama Mama dan Papa, mereka pergi ke luar kota dengan satu tujuan : menggugurkan kandungan.  Dan sejak hari itu, Yuni tidak pernah lagi bertemu Faisal.  Teman-teman bilang, ia kembali pindah sekolah. Tapi, belakang Yuni tahu bahwa Papa memanfaatkan kekuasaanya untuk membujuk Kepala Sekolah memindahkan Faisal dari sekolah kami, entah bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Papa bisa melakukan apa saja demi harga diri dan kehormatan.
            Setelah aku menggugurkan kandungan, waktu berjalan begitu mengambang bagi Yuni. Cinta yang hilang tak tahu dimana. Memang harga dirinya terselamatkan, Yuni si gadis cantik nan anggun. Wanita baik-baik dari keluarga terhormat. Tapi tak satu pun yang tahu bahwa ia  pernah mengandung dan melakukan aborsi, kecuali Mama, Papa, Fasisal mungkin. Tapi Tuhan tahu. Hidup Yuni berjalan sebagaimana adanya, tepatnya seperti yang Papa inginkan. Kuliah, menikah, dan sukses.
*****
            Dibangku kuliah Yuni bertemu dengan Eka. Sosok supel, cerdas dan ramah adalah sahabat terbaik yang aku punya. Melalui Eka lah Yuni bertemu dengan Anggara. Dan mereka pun menjalin kasih. Saat hubungan mereka terasa semakin serius, Yuni pun memutuskan untuk jujur kepada Eka dan Anggara tentang masa lalunya. Dan ternyata Tuhan masih menyayangi Yuni, Angga dan Eka menerima masa lalunya dengan ikhlas walaupun awalnya tampak shock. Tapi, semuanya baik-baik saja bahkan Anggara melamar Yuni dan telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun, tanpa pernah mengungkit masa lalu.
            ”Kamu gak bisa mengekang dia atas perubahan alami itu. Hanya butuh cara yang tepat.” Eka berkata dengan santainya.
” Caranya bagaimana, Ka... aku bingung.”
” Dengan jujur, katakan ketakutanmu. Dan berikan ia alasan yang logis, jangan hanya berkata tidak tanpa memberikan alasan yang bisa ia terima. Crista itu cerdas, ia tidak akan menerima peraturan tanpa tahu tujuannya. Lagipula, siapa sih yang bisa menahan perasaan jatuh cinta. Ingat, Crista itu masih 17 tahun.”
Lama Yuni diam. Akhirnya rasa haus menggerogoti, teh manis yang sudah dingin itu pun ia minum. ”Kamu benar, Ka. Aku harus jujur pada Crista.
****
Malam menunjukkan pukul delapan. Anggara belum juga pulang dari kantor, macet membuat ia terlambat. Dan Crista seperti biasa berada di dalam kamarnya. Ragu Yuni melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi poster Spiderman, entah kenapa gadis secantik Crista menyukai pahlawan laba-laba ini. Ia menarik nafas panjang, dan mengetuk  pintunya. ”Crista, ini mama. Mama mau bciara, boleh?” Diam. Tak ada sahutan. Tapi setu detik kemudian pintu terbuka, ”Masuk ma.”
Yuni memasuki istana pribadi Crista dan duduk di atas tempat tidurnya. “Tentang peraturan mama yang ngelarang kamu pacaran.” Aku memulai pembicaraan. Crista diam sambil memandangiku, penuh tanya.  “Ada alasannya, Crista. Mama gak mau sekolahmu terganggu.”
“ Tapi Crista tetap di tiga besar kan ma?” Crita meyakinkan diri. Ya, Yuni tahu. Siapapun tidak akan bisa menampik keenceran otak Crista.
“ Siapa nama pacarmu?” Yuni kembali bertanya.
“ Baru pdkt kok ma,” jawab Crista. Ada sedikit kelegaaan
” Ada yang ingin mama ceritakan kepadamu, dan Mama harap kamu sudah siap menerima cerita Mama.”
Dan aku mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun silam pada Crista.*
****
”Aku menceritakan semuanya pada Crista, Mas.” Kata Yuni pada Anggara malam ini, saat hanya berdua ditempat tidur. Anggara memandangnya heran. “Tentang masa laluku, yang pernah aborsi.” Lanjutnya.
“ Kenapa, sayang? Apa yang terjadi hingga kamu menceritakannya pada anak kita?”
“Crista sudah mulai jatuh cinta, Mas. Dan kami bertengkar hebat karena aku melarangnya pacaran. Aku takut kesalahan yang terjadi di masa lalu terjadi kembali kepada anak kita. Aku gak mau, Mas. Aku takut.”
Anggara masih memandangku lembut, keteduhan hati yang ia pancarkan. Aku melanjutkan cerita,
“Akhirnya aku jujur pada Crista, ketakutan yang aku rasakan.”
“ Bagaimana reaksinya?”
“ Crista ternyata memiliki gen-mu lebih dominan, Mas. Ia menerima ceritaku, seperti halnya ia menerima ku. Crista berkata bahwa baginya aku adalah mama terbaik yang ia punya. Dengan atau tanpa kesalahan di masa laluku. Seperti yang kamu katakan waktu melamarku, mas.”
Dan Anggara memeluk Yuni dengan hangat malam itu. ia bahagia. Sangat bahagia.
****
Crista mendekati Mamanya yang sedang memotong bonsai. Yuni berhenti sejenak dan memandangnya, ”Ada apa, sayang?”
”Ma, Crista gak mau pacaran.”
“Lho kenapa?”
“Cowok gak bisa dipercaya.”
“Lho..lho, kenapa sih?”
“Crista nyaris aja jadian sama Hari kalo gak keburu ketauan kalo ternyata dia ceweknya banyak. Amit-amit deh ma pacaran ama playboy.”
Yuni tersenyum. “Artinya Tuhan masih sayang sama Crista. Crista masih dilindungi dari orang jahat.”
“Iya Ma, tar aja pacarannya. Kalo Crista udah cukup gede. Sekarang mau sekolah aja dulu.”
Yuni memeluk Crista erat, dan mencium pipinya.
“Crista mau dapet jodoh kaya Papa.”
Yuni tersenyum memandang Crista yangcantik, “Pasti, sayang. Bahkan yang lebih baik dari papa.”
Sore itu terasa sangat indah untuk Yuni





Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -