Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.
Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.
Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))
Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta. Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.
Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.
satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.
Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.
