Sabtu, 30 Januari 2021

Aku Bumi

 Aku bumi

Kau bintang 

Saling memandangi

Namun tak akan serupa

Tak pernah bersua


- 7 Januari 2021 -

Puisi (Jikustik)

 Aku yang pernah engkau kuatkan

Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa
Saat kuterjaga
Hingga kuterlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau 'kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu
Saat kuterjaga
Hingga kuterlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu
Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau 'kan kembali lagi
Menemaniku menulis…

Jumat, 22 Januari 2021

Kisah Pisang Krispi

Allah menjabah doaku yang ingin segera hamil. Setelah berbagai cara, harapan dan doa yang diusahakan akhirnya Allah berkenan untuk mengamanahkan  bayi mungil ini di dalam rahimku.

Berita yang sangat membahagiakan untuk suami dan seluruh keluarga. Betapa penantian selama beberapa tahun ini akhirnya terwujud juga.

Semenjak ia mengetahui aku kembali hamil, suami semakin menyayangiku dan memperhatikanku. Ia samakin rajin dan rutin menelfonku, menanyakan kabarku dan anak-anaknya serta memberikan perhatian ekstra padaku. Walaupun masih melalui media karena kami masih LDR di pernikahan kami yang menjelang tahun ke-8.

Suamiku berusaha setidaknya minimal satu bulan sekali untuk datang dan menemaniku check up ke dokter. Ia akan dengan ikhlas mendengarkan keluhan-keluhanku saat trisemester pertama, menyaksinkan airmataku yang kadang lelah dengan mual sepanjang hari (dulu saat hamil anak pertama ini tak terjadi), juga sabar menghadapi emosiku yang sedikit labil : mudah menangis, mudah tertawa.

Suatu hari, aku berkata pada suamiku : 

"Bang, dulu Adek pernah lihat temen Adek dikirimin pacarnya makanan. Padahal pacarnya ada di Jakarta dan dia di Palembang. Bisa kok pake go-food. Ayoooo Abaanggg Adek juga mau di romantisin kaya gituuuu."

Saat itu ia hanya diam dan berkata gak tau cara pesen via gofood kalo beda pulau. Udahlah, apa yang aku harapkan sihhhhh dari suamiku yang tidak romantis. Hfffttttttt. Bhhay!!!

Hari-hari pun berlalu.

Suatu hari aku sangat ingin makan pisang krispi. Setiap kali aku memesan via online, selalu habis atau tak jualan. Alhasil lupalah aku akan keinginan pisang krispi itu. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba seorang driver grab  datang mengantarkan pesanan, ternyata dari suamiku! Isinya pisang krispi cokelat dan keju! Makanan yang aku nanti-nantikan sejak beberapa hari kemarin. Senangnya hatiku bukan main. Padahal ia tak tahu bahwa aku menginginkan pisang krispi, tapi ia tiba-tiba memesankan makanan itu. Betapa bahagianya aku. Kadang aku merasa miris dengan diri sendiri, betapa aku haus akan hal-hal manis dari pasangan seperti ini walaupun hanya hal-hal sederhana.

Akhirnya, aku merasakan jua keromantisan sederhana namun berkesan itu. Hohohhooo ^^

Keromantisan yang tak akan aku lupa, selamanya. 

Mungkinkah keromantisan itu muncul karena aku hamil?

Terserahlah, yang penting aku bahagia ketika ia memperlakukanku dengan sangat special seperti itu. Terima kasih suamiku :)

Aku dan Kopi

Cerita persahabatanku dengan kopi dimulai ketika aku mulai bekerja di salah satu perusahaan. Saat itu kerap sekali ku habiskan waktu menjelajahi dunia maya hingga tengah malam, balas dendam setelah seharian lelah menjelajahi dokumen dan pergulatan bersama tim. Agar tubuh terasa fit dan siap menjalani rutinitas tanpa rasa kantuk, aku akan menyeduh menyeduh kopi, walaupun masih berupa kopi instan. Cukup satu sachet satu hari, kalau tidak aku tidak akan bisa tidur hingga subuh menyerang. 

Sejak saat itu tiada hari tanpa kopi instan. 

Jika pekerjaan menumpuk, dan mencegah mata ini terlelap maka si kopi adalah solusinya.  

Aku tidak menyukai kopi hitam. Bagiku rasanya terlalu "tua", pekat dan juga tak cocok ditambahkan es. 

Aku menyukai kopi, namun yang instan.

Mungkin seperti itulah karakterku : suka yang simpel, enak dan cocok dengan segala sesuatu yang fleksibel. Otentik tidak terlalu menjadi pertimbangan. Aku tak suka yang terlalu rumit, cukuplah kehidupanku yang rumit.

Berkali-kali aku bertanya, kenapa aku tidak menyukai kopi hitam. Semua kembali pada satu kesimpulan : aku dapat meminumnya namun tidak terlalu ku sukai.

Sedangkan kopi instan, aku dapat meminumnya setiap hari namun tidak boleh melebihi kadar toleransi tubuhku. Kalau tidak, bencana akan datang. Aku tak bisa tidur! Namun, aku membutuhkan lebih dari dua sachet kopi disaat-saat yang tak terduga, disaat-saat kritis dan genting. 

Rasa manis yang mampu membangkitkan semangat.
Pahit yang tak pekat membuatku mengercap

Kopi ku.

Terasa menyenangkan ketika menikmatinya sambil berhadap-hadapan.
Bersama menyeruput kopi dan memandang wajahmu.

Kopi ku. 

Kopi mu.

Kopi kita.

Semenjak hamil, aku memutuskan untuk tidak meminum kopi instan lagi. Menurutku tak baik untuk kesehatan janin. Telah lima bulan aku menghindari dan meminimalisir menikmati kopi instan. Sesekali aku tergoda, namun aku selalu berusaha kembali ke jalan yang benar.

Menghindari sesuatu yang sudah kita sukai bertahun-tahun ternyata sangat sulit.

Namun aku memiliki alasan yang sangat tepat : ada kehidupan yang ingin ku jaga.

Demikianlah kisah persabahatanku bersama kopi. Suatu saat kau akan ku nikmati kembali, cepat atau lambat namun pada waktu yang tepat. Tentunya.
 

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -