Senin, 17 Juli 2017

Cerpen_Tentang Cinta



Tentang Cinta
Oleh : Yulistia Akbari


Ini hari ketiga hujan mencurahkan tangisannya ke kotaku. Hawa dingin, namun tak sedingin hatiku yang telah membeku beberapa bulan terakhir, tidak mempengaruhiku untuk beristirahat sejenak saja dari pekerjaanku yang sepertinya tidak akan pernah habis walaupun aku bekerja selama 24 jam.

Aku butuh melarikan diri dari rasa tak menentu setelah perpisahan kami lima bulan yang lalu atau aku akan menjadi gila jika hanya berada dirumah. Aku tidak akan mampu membendung mataku ketika harus duduk di dapur, tempat dimana tujuh tahun aku memasakkan makanan untuknya. Atau aku akan menumpahkan tangisku saat aku menonton televisi, tempat kami menghabiskan sisa hari ketika malas keluar rumah. Berada dirumah hanya akan membuatku seperti membeku, seperti hawa kota ini.

Aku berhenti menyentuh laptopku.

“Kau tidak pernah bisa memahamiku!”

Aku teringat bagaimana aku selalu mengatakan padanya tentang bagaimana ia tidak membahagiakanku, tentang apa yag tidak ia penuhi, tentang apa yang tidak ia berikan padaku dan tentang apa yang selalu membuatku marah kepadanya. Tanpa aku pahami, apakah aku telah memahaminya, apakah aku telah membahagiakanya, atau apakah aku telah menjadi pasangan terbaik untukya. Itulah keegoisaku.

Biasanya ia tidak akan pernah membalas kemarahanku, ia hanya akan diam dan beberapa saat kemudian ia akan mendekatiku. Bertanya banyak hal kepadaku. Mecandaiku. Atau juga membelikanku es krim dalam jumlah banyak. Tapi ia tidak pernah meminta maaf padaku. Satu hal yang selalu membuatku memendam dendam.

“Apakah kau mencintaiku?” tanyaku malam itu padanya.
“Tentu.” Ujarnya tanpa megalihkan mata dari smartphone-nya. Hatiku kesal.
“Lantas, kenapa kau tidak pernah mengatakannya duluan?” balasku sambil menaikkan selimut hingga sebatas leher.
“Apakah masih perlu?”
“Tentu saja. Cinta itu tidak hanya ditunjukkan, tapi juga diucapkan.”
“Apakah ada kata yang lebih indah dari aku mencintaimu? Jika ada akan aku ucapkan.”

Hatiku kesal. Percakapan tentang perasaan ini tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah menjawab atau membalas pertanyaanku tentang perasaan cinta nya. Ia hanya akan bercanda. Lagi. Dan harapanku tentang perbicangan cinta ala film korea hanya akan membuat malamku semakin mengesalkan, dan terbawa mejadi mimpi buruk.

“Apakah kau akan tetap mencintaiku, bahkan ketika kita belum memiliki buah hati hingga tujuh tahun pernikahan ini?”. Itu adalah pertanyaanku saat ini, yang tidak perlu lagi kau jawab.

***

“Saya terima nikahnya Annisa Prameswari binti Muhammad Majid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!” Gun mengucapkannya dengan mantap dan tegas, yang diikuti koor “Amin” dari setiap tamu undangan. Semua orang meneteskan airmata bahagia hari itu. 11 Februari. Tujuh tahun silam.

Itu adalah saat paling bahagia untukku. Bagiku ia adalah pria paling tampan diseluruh dunia, dan aku menikahi orang yang aku yakini dapat memberikan masa depan padaku.

Gunawan, seperti namanya, adalah pria paling baik hati yang pernah aku kenal.  Hatinya seputih awan. Ia selalu membantuku dalam segala hal, ia tidak pernah membiarkaku kesulitan sendiri. Bahkan saat aku tertidur pun ia akan memberikan bantal dikepalaku. Ia adalah lelaki luar biasa yang Tuhan kirimkan untukku. Ia melayaniku seperti aku adalah emas nya yang paling berharga.

Namun sikapnya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tidak pernah ia iringi dengan kata-kata cinta seperti yag aku harapkan. Aku-lah yang pertama kali akan memeluknya dengan hangat dan mengatakan “Aku mencintaimu” setiap paginya. Akulah yang akan bersandar pada bahunya dan melingkarkan tangannya di pinggangku setiap malam sebelum tidur, dengan begitu aku baru dapat tertidur dengan nyenyak. Akulah yang setiap hari megirimkan pesan sigkat untuk mengatakan aku merindukannya. Aku, aku dan hanya aku. Tanpa aku sadari sikapku membuat aku haus akan pernyataan cintanya. Membuatku berpikir, bahkan kami menikah bukan karena ia melamarku. Namun karena kami bersepakat untuk menikah. Ya, ia tidak pernah melamarku.

Dan aku baru menyadari ketimpangan perasaan ini pada tahun keempat pernikahan kami. Tahun keempat bahkan disaat kami belum memiliki anak.

***

Aku tidak pernah sadar kapan perselisihan kami semakin meruncing. Perbedaan pendapat baik hal kecil sekalipun akan mudah menjadi pemicu pertengkaran kami. Gunawan yang dulu selalu sabar meghadapiku mulai terlihat emosi setiap kali aku mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Aku menjadi sosok mudah tersinggung, sensitif dan juga mudah terluka. Apapun yang Gun lakukan selalu salah dimataku. Apapun yag ia katakan akan mudah menyakitiku. Aku bahkan tidak tahu, apakah karena kesalahannya atau aku yang terlalu tidak bisa menerima apapun darinya. Bagiku semua sikap dan perkataannya akan selalu menyakitiku, karena aku selalu berpikir ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

“Aku lelah!” teriakku suatu hari, pada tahun keenam akhir perikahan kami. “Aku lelah selalu menduga apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku lelah menjadi yang paling mencintai didalam pernikahan ini. Aku lelah! Aku lelah selalu bertanya pada diriku apakah kau mencintaiku atau tidak! Ya, kau memang memberikan segalanya padaku, apapun yang aku inginkan selalu kau berikan. Kau selalu berusaha membahagiakaku. Tapi aku tidak pernah tau Gun, apakah kau mencintaiku atau tidak! Kau bahkan tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dan aku lelah dalam komitemen ini, komitmen yang bahkan aku tidak tau apakah kita saling mencintai atau tidak.”

Dan seperti biasa, Gun hanya akan diam tanpa membalas kata-kataku, sekasar apapun hardikaku. Ia hanya akan menerima. Dan bahkan ketika aku mengusulkan agar kami berpisah, ia hanya diam. Bersikap seolah menyetujui, dan kami benar-benar berpisah  setelah hakim mengetuk palu.

***
Dalam lima bulan terakhir aku menyandang status baruku, aku hanya menghabiskan waktu dengan pekerjaaku, setidaknya inilah yang membantuku untuk tetap bernyawa.

Walaupun disetiap hariku, aku selalu merindukannya higga darahku mendidih. Atau kadang aku sugguh membutuhkannya hingga aku menangis menggigil.

Aku ingin memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cinta yang ia harapkan, atau menemukan cintanya. Walaupun mungkin bukan aku adalah yang sesungguhnya ia cinta. Toh aku merasa kasihan padanya kerena aku akan selalu menjadi sosok paling egois baginya

Ah, hawa dingin ini memelukku.

Ponsel ku bergetar, pesan masuk. Apakah perutmu masih sering sakit?
Nomor yang sangat ku kenal.

Gun.





Pangkalpinang, 18 Juli 2017

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -