Sabtu, 03 September 2016

Beda status beda rasanya 😆

Malam ini saya ingin menceritakan gejolak yang berkecamuk di dalam hati. Saya menyebutnya rasa bersalah.

Alkisah malam ini saya pergi bertiga bersama para sohib sejak masa perkuliahan, panggil saja kumbang dan macan. Biasanya si bocah ganteng, Arjuna, akan nempel kemanapun mamanya pegi. Dikarenakan ia tertidur sejak pukul lima sore hingga saat tulisan ini dimuat, maka pegilah kami bertiga ke pesta pernikahan teman semasa kuliah dahulu.

Pulang dari pesta, secara mendadak kami meencabakan untuk nonton di bioskop. Mereka mengantar saya pulang terlebih dahulu dan menunggu saya berganti pakaian (so sweet kan?). Terjyata arjuna belum juga bangun, maka saya izin kepada bapak dan suami (via sms) untuk bermalam minggu bersama mereka.

Sesampainya di bioskop film yg tersedia hanya dua. Dan ternyata bangku penonton pun yang tersisa adalah pada deretan paling depan. Si kumbang menolak untuk menonton dengan alasan kepalanya sakit jika harus duduk di depan. Ia sudah beberapa kali merasakan hal tersebut.

Si macan terlihat datar saja, tapi saya tahu jika ia sangat ingin menonton. Hatisaya bimbang. Membatalkan menonton dan nogkrong bersama bertiga atau mengikuti macan untuk menonton, tetapi artinya kami hanya menonton berdua. Seperti orang berkencan dimalam minggu.

Akhirnya dengan semua jawaban "terserah" dari kumbang dan macan, saya memilih menonton karena memang saya belum pernah menonton di bioskop ini. Saya pikir, kapan lagi kesempatan merasakan jonton disini dengan keadaan punya si ganteng juna yang lagi aktif dan rempong?

Lalu pulanglah si kumbang (walaupun sungguh saya tak enak hati). Dan masuklah saya dan macan ke teater.  Sejak duduk hati saya gelisah. Entahlah. Saya merasa ini bukan hal benar.
Malam minggu nonton bioskop berdua bersama lelaki. Walaupun tidak melakukan hal yang tidak pantas, toh dia adalah teman karib, tapi tetap saja status saya adalah istri seorang laki-laki.

Rasanya menonton tadi tidak membuat saya bahagia. Rasanya tidak sebanding, rasa penasaran ini dengan rasa bersalah yang saya dera karena berduaan dengan teman lelaki saya ini. Walaupun tidak ada apa" diantara kami.

Andainya ini dilakukan suami saya, tentu saya sudah marah besar.

Setelah film selesai, saya bergas pulang takut sekali kelihatan orang yang dikenal atau teman dari suami yang mengenal saya. Kan tidak lucu mereka melihat saya hanya berduaan dengan macan. Apa kata dunia?

Akhirnya saya tahu, ketika sudah menikah wanita akan mengalami berbagai macam perubahan yang sangat drastis. Salah satunya   dengan keadaan seperti ini. Tidak ada lagi kebebasan untuk berkumpul dengan lawan jenis secara seenaknya seperti dulu. Hilang sudah kemerdekaan untuk menghabiskan wqktu bersama mereka dengan bebas tanpa beban.

Akan terasa canggung jika bersama salah satu dari mereka jika hanya hanya berdua di suatu tempat terbuka. Rasa tidak nyaman itu menyeruak di dalam hati dan pikiran. Pikiran saya hanya berkata " ini tidak pantas. Ini tidak boleh terjadi, seharusnya".
Selama ini Juna adalah penyelamat saya. Bersama juna saya bebas bersama siapapun, baik itu lelaki. Sendiri berdua atau bertiga, asal ada Juna hati ini akan terasa menyenangkan dan bebas. Tanpa rasa bersalah.

Malam ini adalah keputusan yang keliru. Dan saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Banyak hal yang tidak sepadan u tuk dikorbankan.

Pernikahan mengubah wanita.
Dan wanita yang sudah menikah harus berubah.
Menjadi lebih baik tentunya.


Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -