“Dan
Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya
kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang
dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]
Wajahnya
tampan, mata bulat indah dengan bulu mata lentiknya tersusun sempurna melengkapi
lengkungan alis hitam nya yang lebat. Hidungya terukir kokoh seperti melengkapi
kesempurnaan indah wajahnya. Kulitnya yang putih cemerlang akan kemerahan
ketika terpapar matahari. Dan ketampanannya akan memancar kala bibir tipisnya
melebarkan senyuman kepada siapapun yang memandangnya.
Banyak
orang menyebutnya sebagai “lucky guy”.
Sebuah julukan yang ambigu menurutku. Karena makna dari keberuntungannya
adalah, ia bisa mendapatkan segala yang ia miliki sekarang ini bukan karena
kerja kerasnya, namun pure dari factor x alias keberuntungan atau
sebenarnya ia telah berusaha maksimal dibalik sikap cengengesan-nya yang tidak meyakinkan siapapun.
Tapi ia
tidak pernah peduli dengan anggapan oranglain, entah orang menilai semua kerja
keras yang ia lakukan mati-matian dinilai “tidak berharga” karena ia sukses
karena berutung ataupun orang menilai dirinya dengan cara yang berbeda. “Aku
tidak berkeberatan samasekali jika memang aku adalah orang yang beruntung.” Ujarnya.
Pernah
aku mendapat cerita tetangnya yang mendaftar menjadi pegawai di detik-detik
terakhir dan akhirnya lulus pada satu kali tes. Pada masa nya harus
pemberkasan, ia adalah orang yang terakhir kali mengumpulkan berkas-berkas yang
dibutuhkan itu pun masih perlu dibantu temannya. Namun yang menyebalkan, justru
surat keputusan sebagai calon pegawai miliknya lebih dahulu terbit dibandingkan
teman-teman yang lain.
Itu hanya
salah satu dari kisah keberuntungannya.
Ia sering
mengatakan kepadaku, “dalam setiap keadaan selalu ada orang-orang yang bersedia
dan ikhlas membantu, atau disaat-saat genting keadaan yang baik selalu berpihak.
Makanya, jadilah orang yang ikhlas membantu oranglain.”
Aku sering
merasa iri kepadanya karena aku adalah tipikal yang selalu berusaha mati-matian
untuk meraih sesuatu. Aku tidak terlalu percaya dengan keberutungan. Menurutku,
untuk meraih sesuatu diperlukan usaha yang maksimal dan ketika kita berhasil
meraihnya itu lebih memuaskan daripada mendapatkan sesuatu secara kebetulan. Mungkin
itu yang membuat diriku menjadi sosok ambisius, sedangkan dia adalah sosok easy
going. Namun beberapa tahun terakhir aku akhirnya memahami mengapa ia selalu
menjadi oaring yang beruntung setelah menemukan hadist ini : “Sangat beruntung orang yang berbakti kepada
orangtuanya…” (HR. ath-Thabrani)
Jika pada
buku-buku yang aku baca selalu aku temukan kisah pemuda yang berbakti kepada
orangtuanya, mungkin dalam dunia nyata dia adalah salah satu dari pemuda itu. Ia
adalah pemuda paling berbakti yang pernah aku lihat didunia nyata.
Ia tidak
pernah membantah perkataan orangtuanya, apalagi bersikap dan berkata kasar. Semua
perkataan orangtua adalah titah baginya. ia akan dengan ikhlas mengurus
orangtuanya yang sekarang telah menua, mengurut kaki mereka, membuatkan jus,
memasakkan makanan dan apapun yang menyenangkan hati orangtuanya. Ia tidak
pernah bersikap nakal atau apapun yang membuat hati kedua orangtuanya jengkel. Ia
sungguh-sugguh contoh anak yang berbakti. Jangankan jika dimarahi orangtua,
dimarahi kakak-kakak nya pun ia tidak pernah marah ataupun sakit hati. Apalagi mendendam.
Kadang aku berfikir, hatinya terbuat dari apa.
Dan sikapnhya
yang lemah lembut dan berbakti kepada orangtua tersebutlah yang menurutku
membantunya dalam kehidupa. Allah membantunya dalah setiap langkah hidupnya
kini. Ia tidak pernah kesusahan karena Allah membantunya, balasan karena ia
tidak pernah menyusahkan kedua orangtuanya.
Tidak
hanya kepada kedua orangtuanya, kepada mertua-nya pun ia bersikap hormat,
patuh, tunduk dan juga penuh kasih sayang. Ia tidak perah membedakan sedikitpun
perhatian antara ibu kandungnya dan ibu mertua. Ketika ia membeli tas untuk
ibunya, maka ibu mertua akan mendapatkan serupa. Ketika ia membelikan baju
untuk mertua, maka ibunya pun akan mendapatkannya. Ia selalu berusaha bersikap
adil.
Dengan
sikap mulia seperti itu, bukankah wajar jika Allah memberikannya “hadiah”
dengan selalu melancarkan segala urusan kehidupannya yang kerap kita sebut
keberuntungan?