Senin, 18 Mei 2015

CERPEN_Perempuan



Terlahirlah aku sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh agama. Aku seperti binatang sirkus yang  tersangkar.
Apalah artinya kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil anak oleh  manusia berpenis yang aku panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu, aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan “anak kampang” bila ia pulang dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar, lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku. Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung. “Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku. Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia. Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya saja, kalu bosan buka laptop dan bermain game! Bukannya membantu istri. Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama temannya.”
Baru saja aku berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.” Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan hal yang sama.”
“Tapi kenapa kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu, Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu. Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya, kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat, aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia anakku!!!”
Ibu seolah bukan Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu, “Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan masuk ke dalam rumah.

****
Sudah dua bulan aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu padaku.
Sebenarnya aku mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku, “Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama. Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua! Sayang sekali.”
“Tapi Jarot sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja. Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada Diana dan Puan.”
“Ah kasihan Puan….”
Mendadak aku memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!” aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk! Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah.  Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku ikut mati bersama Ibu.

****




Pangkalpinang, 13 Mei 2015

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -