Oleh : Yulistia Akbari
Kesibukan di kantor sempat mengalangiku
untuk memboyong keluarga berlibur ke kampung halaman. Lalu sejak satu minggu
yang lalu, aku membawa Juna, anakku,
untuk kembali ke kota ini. Pangkalpinang. Kali ini tanpa ditemani suami,
karena kesibukannya di kantor tentunya
Sore itu Juna merengek ingin jalan-jalan
mengitari kota, katanya bosan jalan-jalan ke pantai terus. Lalu aku putuskan
mengendarai mobil berdua bersama Juna untuk mengenalkannya dengan setiap sudut
kota. Tanpa sadar aku melewati jalan
ini, jalan yang sudah lama tidak aku lalui. Dulu jalan ini sepi sekali hanya
tedapat beberapa kantor saja, sekarang sudah menjadi komplek perkantoran.
Mataku tertuju pada salah satu kantor di sudut jalan.
Sudah lama aku tidak memperhatikan
pekarangan kantor itu. Sekarang bangungannya sudah modern, cat bangunannya pun
baru dengan tanaman hias yang berwarna-warni. Tapi plang kantor itu belum
berubah, masih tertulis Kantor Urusan Agama. Banyak sekali perubahan kantor
itu, termasuk pohon alpukat yang dulu rimbun sudah tak nampak disana. Dulu,
paling aku ingat pohon alpokat itu selalu berbuah banyak dengan daun yang besar
besar itu merindangi sekitarnya. Kantor itu menjadi tidak terlalu silau oleh
matahari yang terik.
Dadaku berdegup karena resonansi masa
lalu. Ada yang aku rindukan saat pohon alpukat itu masih berdiri kokoh dengan
daun rindangnya. Yang batangnya sangat besar sehingga mudah untuk dinaiki oleh
siapapun. Aku memandang pekarangan kantor itu dengan lekat, ah pohon itu telah
dihilangkan.
Aku ingat sekali bagaimana kehadiran
pohon alpukat itu membawa cerita yang amat panjang setelahnya. Sudah ribuan
kali aku berjalan melewati kantor itu setiap harinya, minimal dua kali dalam
satu hari yaitu saat pergi dan pulang menuju sekolahnya. Saat itu aku masih
duduk di bangku kelas tiga dengan seragam abu-abu. Ada yang berbeda sore itu,
saat aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti latihan silat , ketika aku
melewati pohon alpukat di depan kantor itu, tiba-tiba saja satu buah alpukat
jatuh tepat di depan kakiku. Hampir saja aku berteriak karena kaget, lantas aku
dongakkan kepala arah pohon alpukat arah jatuhnya si buah. Mataku menangkap
sosok tidak berbaju, hanya mengenakan kaos dalam dan celana jeans. Lelaki kurus
itu tersenyum. Aku mendengus kesal, siapa pula lelaki iseng itu. Apakah ia
sengaja menjatuhkan buah alpukat ke arahku? Aku berusaha tidak mempedulikan
lalu kembali berjalan kaki dan melewati kantor itu seolah tidak ada yang terjadi.
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah
dan kembali melewati jalan yang sama, aku kembali melihat lelaki yang kemarin
berada di pohon alpukat. Kali ini dandanannya berbeda, terlihat lebih rapih
dengan setelan cokelat. Wajahnya bersih tapi badannya kurus. Senyumnya manis
tapi terlihat terlalu lebar. Aku tidak mempedulikan ketika lelaki itu kembali
tersenyum padaku.
☻☻☻☻☻
“Siapa namamu?” saat itu hari kelima
setelah lelaki itu hampir menjatuhkan buah alpukatnya kepadaku. Lelaki itu
menyodorkan buah alpukat yang ia masukkan dalam kantung plastik hitam yang
besar. Ragu aku untuk mengambilnya. “Ambillah, aku sengaja mengambilkannya
untukmu.” Kembali ia menyodorkan kantung plastik berisi buah alpukat itu dari
balik pagar kantor.
“Terima
kasih.” Ujarku sambil meraih plastik itu. Saat tanganku ingin meraihnya, ia menahan
plastik itu, “Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini ia bertanya dengan senyum
yang manis, dapat aku lihat deretan giginya yang berbaris kecil dengan gigi
depan yang sedikit jarang. “Nia. Namaku Nia. “ Barulah ia melepaskan plastik
itu dan betul-betul menyerahkan kepadaku.
“Nama
abang siapa?” aku balik bertanya. Dalam hati aku bingung untuk memanggil lelaki
ini siapa, abang, om atau bapak? Karena tentu lelaki ini sudah bekerja dan
usianya diatasku. “Nama abang Arai. Panggil saja Rai.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima
kasih untuk yang kedua kalinya, lalu berpamitan untuk segara pulang. “Mau abang
antarkan?” tanya Bang Rai. Aku menggeleng pelan, menolaknya. Bisa dimarahi Ibu
bila aku pulang dengan orang tidak dikenalnya. Sore itu aku pulang membawa buah
alpukat yang besar-besar dan aku serahkan kepada Ibu. Ibu bertanya darimana aku
mendapatkannya, lalu aku jawab saja “Dari Bang Rai.”
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu entah kenapa aku sangat
senang sekali setiap akan pergi kesekolah. Mungkin karena aku bisa melewati
kantor itu dan bertemu dengan Bang Rai. Walaupun kami hanya sebatas saling
tersenyum dan menyapa ringan saat aku melewati kantornya. Pagi-pagi sekali ia
sudah berada di kantornya dan berdiri di dekat pintu untuk menungguku lewat. Aku
akan mengucapkan salam padanya dan meneruskan perjalananku menuju sekolah. Saat
siang pulang sekolah, Bang Rai pun sudah dengan seaku menunggu di dekat pintu
pagar kantor hanya untuk menyapaku dan mengucapkan “Hati-hati. Maukah abang
antar?” dan selalu saja aku menolaknya. Walaupun sebenarnya ingin.
Suatu siang, saat aku kembali melewati
kantornya saat pulang sekolah, ia tidak hanya menyapaku. Tetapi kembali
menghampiriku. “Maukah adek ikut bersama abang sore ini?” tanyanya.
Aku
mengernyitkan dahi, “Kemana?”
“Temani
abang mencari cemara di pantai.”
Aku
menimbang-nimbang, seharusnya sore ini aku latihan silat, tapi mungkin bisa aku
tunda sementara. Karena aku ingin sekali pergi dengan lelaki dihadapanku ini.
“Baiklah, tapi adek harus pulang sebelum pukul lima sore.”
Aku
melihat keriangan diwajahnya, “Baik, kita berangkat pukul tiga.”
Lantas sore itu kami berboncengan dengan
motornya yang berwarna biru untuk mencari cemara. Ia mengajakku ke pantai
Sampur. Ternyata disana memang banyak sekali pohon cemara. Sayang pantai ini
tidak biru lagi, sudah banyak hilang keindahannya karena tambang inkonvensional. Aku melihat banyak
ibu-ibu yang mencari lokan di pantai. Karena penasaran aku mengajaknya untuk mendekati
ibu-ibu itu dan ikut membantu mencari lokan.
“Ayo
kita cari cemaranya, Dek.” Ajak Bang Rai. Aku menuruti. “Abang suka sekali
dengan tanaman ya?” tanyaku.
“Ya,
abang senang sekali dengan tanaman. Adek lihat tanaman bonsai di depan kantor?
Itu abang semua yang menanam.”
“Abang
mirip Atok Adek. Atok Adek senang sekali mengurus bonsainya. Kadang seharian
waktunya ia habiskan untuk menyemprot bonsainya. Lalu kasihan bonsainya,
diikat-ikat atok dengan kawat. Katanya biar tetap kecil.”
Bang Rai tertawa mendengar pernyataanku,
“Itulah seninya berbonsai Dek. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti indah
dan seninya berbonsai.”
“Biasanya
orang yang suka berbonsai itu cerewet.”
“Adek
tahu darimana?”
“Nenek
yang becerita, tapi Atok memang cerewet sekali, Bang.”
Lalu
kami terbahak bersama-sama. Entah karena merasa lucu dengan jawabanku, atau
Bang Rai merasa ia memang berkarakter seperti itu. Belakangan aku baru tahu,
ternyata sifat Bang Rai hampir mirip dengan Atok.
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu Bang Rai memberanikan diri
untuk mendatangi rumahku dan memperkenalkan diri dengan keluargaku. Ibu, Bapak,
Atok dan Nenek menerima Bang Rai dengan baik. Apalagi nenek, yang merasa senang
sekali aku memiliki teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di departemen agama. Kata Ibu, nenek dulunya juga
pegawai negeri yang bekerja di departemen agama. Tapi sejak melahirkan paman ,
adik Ibu yang pertama, nenek memutuskan untuk berhenti bekerja karena lebih
memilih mengurus paman yang waktu itu sering sekali sakit-sakitan.
Hampir setiap malam Bang Rai yang
perantauan itu menghabiskan malamnya dirumah hanya untuk sekedar mengobrol
denganku. Hanya setiap malam minggu saja kami diizinkan untuk pergi makan malam
berdua ataupun sekedar mengelilingi
kota, itu pun tidak lewat dari jam sembilan malam.
Bang Rai senang sekali bercerita, dan
ceritanya tidak pernah membosankan. Ia senang sekali menceritakan tentang masa
kecilnya dan keluarganya yang berada di Sumatera Barat. Bang Rai pun bercerita
bahawa telah empat tahun merantau ke Pulau Bangka semenjak diterima sebagai
pegawai negeri. Karena hanya sendiri Bang Rai memutuskan untuk tinggal saja di
kantornya, sekalian menjaga kantor katanya. Terjawablah keherananku tentang
banyaknya tanaman yang indah di kantornya itu.
Bang Rai juga bercerita tentang
kesedihan saat ibunya meninggal dunia, tentang hobinya membaca buku dan tentang
sastra dan puisi yang tidak pernah aku pahami. Pernah ia mengajakku ke toko
buku untuk menemaninya membeli buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi,
alih-alih langsung ia baca, ia justru menyuruhku untuk membacanya terlebih
dahulu. Ternyata bertahun-tahun setelah itu buku yang ia berikan padaku untuk
dibaca ini di film kan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Ia
menjadi canduku dalam membaca, ia adalah salah satu orang yang membuatku
mencintai buku setelah Atok.
Entah sejak kapan hari-hariku selalu
bersama dengan Bang Rai. Ia selalu menjemputku setelah pulang sekolah, lalu
mengajakku makan siang. Kadang-kadang aku hanya menemaninya makan siang saja, “Adek
bosan makan nasi padang” kilahku. Lalu ia akan membelikanku es krim sebagai
penggantinya. Tidak ada hari tanpa Bang Rai. Uniknya, tidak pernah ada kata
cinta yang keluar dari bibir kami berdua. Tapi bisa dirasakan, dan siapapun
yang melihat akan tahu bahwa kami dimabuk cinta. Aku jatuh cinta, pertama
kalinya dalam hidupku. Beginilah cinta, rasanya indah dan juga membuat hati
berbunga. Pendek kata, aku bahagia.
☻☻☻☻☻
Kebiasaanku adalah suka membuka setiap
pesan yang masuk ke handphone Bang
Rai, beliau pun tidak pernah melarangku. Lalu saat pesan-pesan itu masuk aku
akan segera menyampaikannya pada Bang Rai. Kadang aku membacakannya ketika ia
sedang asik memotong daun-daun bonsai yang sudah kecil itu. Entahlah, Bang Rai
seperti ada di dunianya sendiri saat ia asyik memperindah tanaman-tanamannya,
atau sekedar menyirami tanaman-tanamannya yang sudah tertata rapi didepan
kantor. Dengan kaos dalam warna putih serta celana pendek, rokok yang tak lepas
dari bibir tipisnya, tangan yang memegang gunting tanaman itu artinya ia tidak
akan lagi peduli dengan handphone
atau ajakanku kemanapun. Saat sedang seperti itu, sebaiknya aku duduk saja
didekatnya sambil mendengarkan ia berkisah tentang tanaman-tanamannya. Jika
beruntung, sesekali ia menggumankan puisi untukku.
Siang
itu sepulang sekolah, Bang Rai membelikanku es krim. Aku hanya menunggunya di
motor sambil memegag handphone Bang
Rai. Terdengarlah bunyi bip beberapa
kali. Aku membaca pesan yang masuk :
Bang,
Dinda baru pulang dari tukang jahit. Ternyata baju yang akan Dinda pakai untuk
acara pernikahan kita nanti masih kebesaran. Padahal sewaktu diukur rasanya
pas. Tak sabar Dinda menunggu hari itu tiba, Bang.
Ada pilu yang mendadak menghujam
jantungku, ada godam yang meluluh lantakkan hatiku. Rasanya sakit sekali sampai
ke relung tulang terdalamku. Aku pandangi wajah Bang Rai yang tersenyum kepadaku
sambil memegang es krim kesukaanku, aku balas memandanginya lekat dan dalam. Aku
mengerti apa makna pesan singat ini.
Rasanya tak percaya Bang Rai
merahasiakan hal besar ini padaku. Rasanya sungguh menyakitkan. Bang Rai
menyerahkan es krim itu kepadaku. Dan aku membalas dengan menyerahkan handphone yang telah terbuka pesan
singkatnya. Bang Rai membaca pesan itu, dan menatapku kaku. Tak bisa berbicara.
Ia melihat genangan air mata disudut mataku. Aku tak ingin melihatnya. Dan ia
hanya terdiam terpaku saat melihatku membuang es krim pemberiannya. Dan sejak
saat itu aku tidak ingin mendengar kabar apapun darinya. Dan sejak saat itu pula
aku tidak menyukai es krim lagi.
Aku tidak ingin mengingat apa yang
terjadi setelah itu, karena hari-hari setelahnya adalah rasa nyeri di ulu hati
dan kerinduan yang bertalu-talu di hatiku yang harus aku lawan walaupun setiap
hari deraian air mata menghiasi. Inilah rasanya terluka oleh cinta, tak ada
bandingannya.
☻☻☻☻☻
Sudah
tujuh tahun berlalu.
Seiring
waktu aku mencoba melupakan setiap detail kejadian yang terjadi. Aku bersahabat
dengan kenangan, aku bersahabat dengan rasa sakit yang pernah aku rasakan
karena cinta pertama. Dan sekrang aku memandangi kantor itu yang telah berubah.
Begitupun dengan kehidupanku, yang telah berubah walaupun dengan susah payah
aku bangun kembali semenjak kejadian itu.
“Mama,
ayo kita pulang! Juna sudah mengantuk.” Lelaki mungil berusia tiga tahun ini
menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kepadanya, “Apa yang mama lihat dari
kantor itu Ma?” tanya Juna keheranan. Aku membelai kepalanya dengan lembut,
“Dulu di kantor itu ada pohon alpukat yang sangat rindang. Buahnya besar besar.
Sungguh enak jika dimakan. Mama kira pohon itu masih berdiri kokoh sejak
terakhir mama lihat, ternyata sudah tak ada.”
☻☻☻☻☻