Jumat, 15 Mei 2015

Cerpen_CINTA PERTAMA



Oleh : Yulistia Akbari


Kesibukan di kantor sempat mengalangiku untuk memboyong keluarga berlibur ke kampung halaman. Lalu sejak satu minggu yang lalu, aku membawa Juna, anakku,  untuk kembali ke kota ini. Pangkalpinang. Kali ini tanpa ditemani suami, karena kesibukannya di kantor tentunya
Sore itu Juna merengek ingin jalan-jalan mengitari kota, katanya bosan jalan-jalan ke pantai terus. Lalu aku putuskan mengendarai mobil berdua bersama Juna untuk mengenalkannya dengan setiap sudut kota.  Tanpa sadar aku melewati jalan ini, jalan yang sudah lama tidak aku lalui. Dulu jalan ini sepi sekali hanya tedapat beberapa kantor saja, sekarang sudah menjadi komplek perkantoran. Mataku tertuju pada salah satu kantor di sudut jalan.
Sudah lama aku tidak memperhatikan pekarangan kantor itu. Sekarang bangungannya sudah modern, cat bangunannya pun baru dengan tanaman hias yang berwarna-warni. Tapi plang kantor itu belum berubah, masih tertulis Kantor Urusan Agama. Banyak sekali perubahan kantor itu, termasuk pohon alpukat yang dulu rimbun sudah tak nampak disana. Dulu, paling aku ingat pohon alpokat itu selalu berbuah banyak dengan daun yang besar besar itu merindangi sekitarnya. Kantor itu menjadi tidak terlalu silau oleh matahari yang terik.
Dadaku berdegup karena resonansi masa lalu. Ada yang aku rindukan saat pohon alpukat itu masih berdiri kokoh dengan daun rindangnya. Yang batangnya sangat besar sehingga mudah untuk dinaiki oleh siapapun. Aku memandang pekarangan kantor itu dengan lekat, ah pohon itu telah dihilangkan.
Aku ingat sekali bagaimana kehadiran pohon alpukat itu membawa cerita yang amat panjang setelahnya. Sudah ribuan kali aku berjalan melewati kantor itu setiap harinya, minimal dua kali dalam satu hari yaitu saat pergi dan pulang menuju sekolahnya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga dengan seragam abu-abu. Ada yang berbeda sore itu, saat aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti latihan silat , ketika aku melewati pohon alpukat di depan kantor itu, tiba-tiba saja satu buah alpukat jatuh tepat di depan kakiku. Hampir saja aku berteriak karena kaget, lantas aku dongakkan kepala arah pohon alpukat arah jatuhnya si buah. Mataku menangkap sosok tidak berbaju, hanya mengenakan kaos dalam dan celana jeans. Lelaki kurus itu tersenyum. Aku mendengus kesal, siapa pula lelaki iseng itu. Apakah ia sengaja menjatuhkan buah alpukat ke arahku? Aku berusaha tidak mempedulikan lalu kembali berjalan kaki dan melewati kantor itu seolah tidak ada yang terjadi.
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah dan kembali melewati jalan yang sama, aku kembali melihat lelaki yang kemarin berada di pohon alpukat. Kali ini dandanannya berbeda, terlihat lebih rapih dengan setelan cokelat. Wajahnya bersih tapi badannya kurus. Senyumnya manis tapi terlihat terlalu lebar. Aku tidak mempedulikan ketika lelaki itu kembali tersenyum padaku.
☻☻☻☻☻
“Siapa namamu?” saat itu hari kelima setelah lelaki itu hampir menjatuhkan buah alpukatnya kepadaku. Lelaki itu menyodorkan buah alpukat yang ia masukkan dalam kantung plastik hitam yang besar. Ragu aku untuk mengambilnya. “Ambillah, aku sengaja mengambilkannya untukmu.” Kembali ia menyodorkan kantung plastik berisi buah alpukat itu dari balik pagar kantor.
“Terima kasih.” Ujarku sambil meraih plastik itu. Saat tanganku ingin meraihnya, ia menahan plastik itu, “Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini ia bertanya dengan senyum yang manis, dapat aku lihat deretan giginya yang berbaris kecil dengan gigi depan yang sedikit jarang. “Nia. Namaku Nia. “ Barulah ia melepaskan plastik itu dan betul-betul menyerahkan kepadaku.
“Nama abang siapa?” aku balik bertanya. Dalam hati aku bingung untuk memanggil lelaki ini siapa, abang, om atau bapak? Karena tentu lelaki ini sudah bekerja dan usianya diatasku. “Nama abang Arai. Panggil saja Rai.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya, lalu berpamitan untuk segara pulang. “Mau abang antarkan?” tanya Bang Rai. Aku menggeleng pelan, menolaknya. Bisa dimarahi Ibu bila aku pulang dengan orang tidak dikenalnya. Sore itu aku pulang membawa buah alpukat yang besar-besar dan aku serahkan kepada Ibu. Ibu bertanya darimana aku mendapatkannya, lalu aku jawab saja “Dari Bang Rai.”
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu entah kenapa aku sangat senang sekali setiap akan pergi kesekolah. Mungkin karena aku bisa melewati kantor itu dan bertemu dengan Bang Rai. Walaupun kami hanya sebatas saling tersenyum dan menyapa ringan saat aku melewati kantornya. Pagi-pagi sekali ia sudah berada di kantornya dan berdiri di dekat pintu untuk menungguku lewat. Aku akan mengucapkan salam padanya dan meneruskan perjalananku menuju sekolah. Saat siang pulang sekolah, Bang Rai pun sudah dengan seaku menunggu di dekat pintu pagar kantor hanya untuk menyapaku dan mengucapkan “Hati-hati. Maukah abang antar?” dan selalu saja aku menolaknya. Walaupun sebenarnya ingin.
Suatu siang, saat aku kembali melewati kantornya saat pulang sekolah, ia tidak hanya menyapaku. Tetapi kembali menghampiriku. “Maukah adek ikut bersama abang sore ini?” tanyanya.
Aku mengernyitkan dahi, “Kemana?”
“Temani abang mencari cemara di pantai.”
Aku menimbang-nimbang, seharusnya sore ini aku latihan silat, tapi mungkin bisa aku tunda sementara. Karena aku ingin sekali pergi dengan lelaki dihadapanku ini. “Baiklah, tapi adek harus pulang sebelum pukul lima sore.”
Aku melihat keriangan diwajahnya, “Baik, kita berangkat pukul tiga.”
Lantas sore itu kami berboncengan dengan motornya yang berwarna biru untuk mencari cemara. Ia mengajakku ke pantai Sampur. Ternyata disana memang banyak sekali pohon cemara. Sayang pantai ini tidak biru lagi, sudah banyak hilang keindahannya karena tambang inkonvensional. Aku melihat banyak ibu-ibu yang mencari lokan di pantai. Karena penasaran aku mengajaknya untuk mendekati ibu-ibu itu dan ikut membantu mencari lokan.
“Ayo kita cari cemaranya, Dek.” Ajak Bang Rai. Aku menuruti. “Abang suka sekali dengan tanaman ya?” tanyaku.
“Ya, abang senang sekali dengan tanaman. Adek lihat tanaman bonsai di depan kantor? Itu abang semua yang menanam.”
“Abang mirip Atok Adek. Atok Adek senang sekali mengurus bonsainya. Kadang seharian waktunya ia habiskan untuk menyemprot bonsainya. Lalu kasihan bonsainya, diikat-ikat atok dengan kawat. Katanya biar tetap kecil.”
Bang Rai tertawa mendengar pernyataanku, “Itulah seninya berbonsai Dek. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti indah dan seninya berbonsai.”
“Biasanya orang yang suka berbonsai itu cerewet.”
“Adek tahu darimana?”
“Nenek yang becerita, tapi Atok memang cerewet sekali, Bang.”
Lalu kami terbahak bersama-sama. Entah karena merasa lucu dengan jawabanku, atau Bang Rai merasa ia memang berkarakter seperti itu. Belakangan aku baru tahu, ternyata sifat Bang Rai hampir mirip dengan Atok.
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu Bang Rai memberanikan diri untuk mendatangi rumahku dan memperkenalkan diri dengan keluargaku. Ibu, Bapak, Atok dan Nenek menerima Bang Rai dengan baik. Apalagi nenek, yang merasa senang sekali aku memiliki teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di  departemen agama. Kata Ibu, nenek dulunya juga pegawai negeri yang bekerja di departemen agama. Tapi sejak melahirkan paman , adik Ibu yang pertama, nenek memutuskan untuk berhenti bekerja karena lebih memilih mengurus paman yang waktu itu sering sekali sakit-sakitan.
Hampir setiap malam Bang Rai yang perantauan itu menghabiskan malamnya dirumah hanya untuk sekedar mengobrol denganku. Hanya setiap malam minggu saja kami diizinkan untuk pergi makan malam berdua  ataupun sekedar mengelilingi kota, itu pun tidak lewat dari jam sembilan malam.
Bang Rai senang sekali bercerita, dan ceritanya tidak pernah membosankan. Ia senang sekali menceritakan tentang masa kecilnya dan keluarganya yang berada di Sumatera Barat. Bang Rai pun bercerita bahawa telah empat tahun merantau ke Pulau Bangka semenjak diterima sebagai pegawai negeri. Karena hanya sendiri Bang Rai memutuskan untuk tinggal saja di kantornya, sekalian menjaga kantor katanya. Terjawablah keherananku tentang banyaknya tanaman yang indah di kantornya itu.
Bang Rai juga bercerita tentang kesedihan saat ibunya meninggal dunia, tentang hobinya membaca buku dan tentang sastra dan puisi yang tidak pernah aku pahami. Pernah ia mengajakku ke toko buku untuk menemaninya membeli buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi, alih-alih langsung ia baca, ia justru menyuruhku untuk membacanya terlebih dahulu. Ternyata bertahun-tahun setelah itu buku yang ia berikan padaku untuk dibaca ini di film kan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Ia menjadi canduku dalam membaca, ia adalah salah satu orang yang membuatku mencintai buku setelah Atok.
Entah sejak kapan hari-hariku selalu bersama dengan Bang Rai. Ia selalu menjemputku setelah pulang sekolah, lalu mengajakku makan siang. Kadang-kadang aku hanya menemaninya makan siang saja, “Adek bosan makan nasi padang” kilahku. Lalu ia akan membelikanku es krim sebagai penggantinya. Tidak ada hari tanpa Bang Rai. Uniknya, tidak pernah ada kata cinta yang keluar dari bibir kami berdua. Tapi bisa dirasakan, dan siapapun yang melihat akan tahu bahwa kami dimabuk cinta. Aku jatuh cinta, pertama kalinya dalam hidupku. Beginilah cinta, rasanya indah dan juga membuat hati berbunga. Pendek kata, aku bahagia.
☻☻☻☻☻
Kebiasaanku adalah suka membuka setiap pesan yang masuk ke handphone Bang Rai, beliau pun tidak pernah melarangku. Lalu saat pesan-pesan itu masuk aku akan segera menyampaikannya pada Bang Rai. Kadang aku membacakannya ketika ia sedang asik memotong daun-daun bonsai yang sudah kecil itu. Entahlah, Bang Rai seperti ada di dunianya sendiri saat ia asyik memperindah tanaman-tanamannya, atau sekedar menyirami tanaman-tanamannya yang sudah tertata rapi didepan kantor. Dengan kaos dalam warna putih serta celana pendek, rokok yang tak lepas dari bibir tipisnya, tangan yang memegang gunting tanaman itu artinya ia tidak akan lagi peduli dengan handphone atau ajakanku kemanapun. Saat sedang seperti itu, sebaiknya aku duduk saja didekatnya sambil mendengarkan ia berkisah tentang tanaman-tanamannya. Jika beruntung, sesekali ia menggumankan puisi untukku.
Siang itu sepulang sekolah, Bang Rai membelikanku es krim. Aku hanya menunggunya di motor sambil memegag handphone Bang Rai. Terdengarlah bunyi bip beberapa kali. Aku membaca pesan yang masuk :

Bang, Dinda baru pulang dari tukang jahit. Ternyata baju yang akan Dinda pakai untuk acara pernikahan kita nanti masih kebesaran. Padahal sewaktu diukur rasanya pas. Tak sabar Dinda menunggu hari itu tiba, Bang.

Ada pilu yang mendadak menghujam jantungku, ada godam yang meluluh lantakkan hatiku. Rasanya sakit sekali sampai ke relung tulang terdalamku. Aku pandangi wajah Bang Rai yang tersenyum kepadaku sambil memegang es krim kesukaanku, aku balas memandanginya lekat dan dalam. Aku mengerti apa makna pesan singat ini.
Rasanya tak percaya Bang Rai merahasiakan hal besar ini padaku. Rasanya sungguh menyakitkan. Bang Rai menyerahkan es krim itu kepadaku. Dan aku membalas dengan menyerahkan handphone yang telah terbuka pesan singkatnya. Bang Rai membaca pesan itu, dan menatapku kaku. Tak bisa berbicara. Ia melihat genangan air mata disudut mataku. Aku tak ingin melihatnya. Dan ia hanya terdiam terpaku saat melihatku membuang es krim pemberiannya. Dan sejak saat itu aku tidak ingin mendengar kabar apapun darinya. Dan sejak saat itu pula aku tidak menyukai es krim lagi.
Aku tidak ingin mengingat apa yang terjadi setelah itu, karena hari-hari setelahnya adalah rasa nyeri di ulu hati dan kerinduan yang bertalu-talu di hatiku yang harus aku lawan walaupun setiap hari deraian air mata menghiasi. Inilah rasanya terluka oleh cinta, tak ada bandingannya.
☻☻☻☻☻

Sudah tujuh tahun berlalu.
Seiring waktu aku mencoba melupakan setiap detail kejadian yang terjadi. Aku bersahabat dengan kenangan, aku bersahabat dengan rasa sakit yang pernah aku rasakan karena cinta pertama. Dan sekrang aku memandangi kantor itu yang telah berubah. Begitupun dengan kehidupanku, yang telah berubah walaupun dengan susah payah aku bangun kembali semenjak kejadian itu.
“Mama, ayo kita pulang! Juna sudah mengantuk.” Lelaki mungil berusia tiga tahun ini menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kepadanya, “Apa yang mama lihat dari kantor itu Ma?” tanya Juna keheranan. Aku membelai kepalanya dengan lembut, “Dulu di kantor itu ada pohon alpukat yang sangat rindang. Buahnya besar besar. Sungguh enak jika dimakan. Mama kira pohon itu masih berdiri kokoh sejak terakhir mama lihat, ternyata sudah tak ada.”

☻☻☻☻☻





Ibu oh Ibu

Ada kejadian yang cukup membuat perasaan ini terasa tidak enak dikarenakan seseorang : Ibu.

Sejak aku masih remaja hingga sekrang menurutku Ibu adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk menjadi wadahku bercerita segala hal. tentang apa yang telah aku alami, lalui dan rasakan. Ibu menjadi tempat yang tepat untuk berkeluh kesah serta meminta pendapat. Hampir tidak ada hal yang aku rahasiakan pada Ibu.

Kebiasaan menceritakan segala hal kepada Ibu ternyata sedikit membuatku 'galau' saat telah menjadi istri. Tentunya sama seperti saat aku masih belum menikah, aku masih saja menceritakan berbagai kisah termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku dan suamiku. Yang tentunya tidak aku sortir sama sekali, baik buruk semuanya aku ceritakan pada Ibu. Lantas pada siapa lagi yang aku percaya cerita itu akan aman bila selain Ibu? Tidak ada Ibu yang akan menjatuhkan anaknya, bukan?

Sayangnya aku tidak memahami bagaimana perasaan Ibu. 
Aku seharusnya bisa membatasi diri atas  cerita-ceritaku. Karena Ibu tetaplah seorang Ibu.

Setiap kali ada masalah atau bertengkar dengan suami (walaupun sampai sekrang bertengkar kami hanya hal-hal sepele, paling tinggi aku merajuk kepada beliau) aku akan langsung menceritakannya kepada Ibu. menumpahkan segala emosi dan kemarahanku. Ternyata hal itu berpengaruh kepada Ibu. Ibu ikut menjadi kesal dengan suamiku!

Oke, perbedaannya adalah jika seorang istri kesal dengan suaminya, kekesalannya itu akan menguap seiring dengan kembali harmonisnya hubungan itu. Jadi, saat aku dan suamiku sudah kembali mesra aku akan melupakan kekesalanku itu. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan selalu kesal dan mempengaruhi perasaannya kepada si menantu!

Kacaulah aku!
Bagaimanapun aku tidak mau Ibu menjadi kesal atau berkurang rasa sukanya kepada suamiku. Aku bahagia melihat bagaimana Ibu menyayangi suamiku dan bagaimana suamiku menyayangi suamiku. Setiap manusia punya kekurangan, termasuk suamiku. Setiap manusia memiliki sisi yang bertentangan dengan orang lain, termasuk suamiku. Dan sekarang aku yang pusing menghadapi kegamangan sikap Ibu. Antara masih sayang dan kesal dengan suamiku.

Pernyataan Ibu yang merasa kesal dengan sikap suamiku (yang tentunya berdasarkan apa yangaku ceritakan pada Ibu) membuat Ibu malas datang kerumah kami. Ibu lebih memilih menahan rindunya kepada sang cucu daripada datang kerumah kami. Pun jika kami kesana Ibu hanya bereaksi sekedarnya. Makin bingunglah aku!

Pada titik ini aku menyadari bahwa seorang Ibu tetaplah Ibu. Tetaplah ia akan merasa sakit saat anaknya disakiti, tetaplah akan menyimpan luka saat melihat anaknya menangis atau terluka. Hal ini memberikan pelajaran untukku, aku harus mampu berperan ditengah-tengah. Sebagai anak dan sebagai istri. Aku belajar untuk tidak menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, cukuplah yang indah-indah dan bagusnya saja agar Ibu tidak memiliki beban pikiran atau perasaan tentang kehidupan rumah tanggaku.

Lantas, kepada siapa aku mengadu? 
Jawaban terbaiknya adalah : Tuhan.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -