Hijrah kerumah mertua?
It’s so
shocking!
Itu adalah
reaksi pertama ku ketika suami mengatakan bahwa ia harus pindah ke Kota
Palembang akibat peralihan status nya sebagai pegawai kemetrian. Hiks…hiks….hikss….
Otomatis kalo
di Palembang pastinya bakalan tinggal dirumah mertua. Secara, belum tau nih aku
bakalan kerja atau enggak degan kondisi mertua yang memang sekarang
sakit-sakitan (FYI : mama mertua sakit diabetes dan stroke ringan plus papa
mertua yang kayanya sering batuk-batuk). Sebagai menantu yang baik hati mana
rela dan tega berada di kota yang sama tapi tinggal jauh dari mereka yang
sakit-sakitan tanpa ada yang stay dirumah itu. Iya, mama dan papa selama ini
hanya tiggal berdua tidak ditemani anak-anak lainnya. Tapi Alhamdulillah ada
dua orang ipar yang tinggalnya berdekatan dengan mertua. Cuma, menurutku tetep
aja lebih “aman” kalo ada yag tinggal bersama mereka. Dulu aku sempet ngomong
sama suami kalo mama dan papa di bawa aja ke Bangka, biar tinggal sama kami. Jujur,
aku kasia kalo ngebayangin mama dan papa berdua aja dirumah sebesar itu dengan
kondisi fisik yang tidak lagi bugar.
But, gimana
dengan Ibuku? Bapakku?
Ibu dan Bapak
pun hanya tinggal berdua disini. Sedangkan Abangku tinggal di Mentok, yang
otamatis ga bisa lihat ibu setiap hari atau menemani ibu setiap hari.
Aku kudu
piye????
Disatu sisi,
aku ingin berdekatan dengan suami.
Disatu sisi,
aku juga ingin berdekatan dengan Ibu dan Bapak di masa tua Ibu. Karena Ibu
hanya memiliki aku dan Abang (berbeda dengan suami yang merupakan enam
bersaudara, dan dua diantaraya tinggal di Palembang).
Dilema…. Sungguh
dilemaaaaaaaaaaaa………………..
Belum lagi dengan
ketakutan ku yang harus tinggal dirumah
mertua.
Ketakutan?
Iya, aku sangat
ketakukan untuk tinggal bersama mertua. Bukan karena mertua, tapi karena “keterbatasan”
diriku sendiri.
Selama ini
aku mengenal mertua sebagai orang yang sangat baik, pemuran dan juga tidak
cerewet. Namun : rajin dan pembersih!
Sedangkan aku?
Aku adalah
sosok yang pemalas, bekerja berdasarkan mood (bukan tipe konsisten), pemalas,
agak arogan, sensitif dan juga buka anak rumahan! Disini agak berbanding
terbalik denga kebiasaan dirumah mertua yang kudu bangun pagi, rajin beresi
rumah, rajin biki makanan dan sujka menghabiskan waktu dirumah aja.
Ngebayagin
ngeberesi rumah mertua yang luas totalnya bisa dua kali lipat dari rumah Ibu
(karena bertingkat) aja udah sesak napas! Hahahahhahahaa. Kan, kalo emang disana
kemugkinan aku bakalan jadi Mama Rumah Tangga, alias belom kerja. *pengen
nangis*. Aku sih bukan megkhawatirkan akan “mertua yang nyebelin’, tapi aku
khawatir bakalan jadi “menantu yang nyebelin ataupu menantu yang tidak
diharapkan” karena “kedok”-ku terbuka setelah tinggal bersama. Aku takut
predikat “menantu kesayangan nomor-3” bakalan melucur ke predikat terakhir.
*tuhhhh kaaaaaaaaannn jadi sedih lagi*
Ada opsi aku
tinggal terpisah aja dari suami, tapi gakk… gakkk… udah prinsip aku untuk gak
bakal jauhan dari suami. Aku ingin kami selalu bersama membangun rumah tangga
yang sakinah mawaddah warrohmah. Akuuu
gak mau jauh dari suamikuuuu yang aku cintai ataupu anakku jauh dari papanya
yang sangat ia sayangi. Aku ga mau anak-anakku kekurangan kasih saying ataupun
merasa kurang akan kasih-sayang dari papa nya.
Ahhhh……..
galau ku sungguh galaaaaauuuuuuuuuuuu!!!
Galau banget ninggalin
Ibuku.
Semoga Ibu
selalu sehat dan bahagia. Dan kami pun dimurahkan rezeki agar bisa gunjungi Ibu
Bapak sesering mungkin. Aku sayang sekali sama Ibu.
Dan semoga
Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk kami semua.
Niatku, untuk
dapat mengurus orangtuaku seperti mereka mengurusku diwaktu kecil. Semoga dalam
waktu dekat dapat berkumpul dan berdekatan dengan Ibu, Bapak, Mama dan Papa. Jadi
bisa ngurusin keempatnya secara brsamaan, adil dan juga peuh cinta.
Amiiennnnnn ^,^