Minggu, 24 September 2017

Bahagiaku Bukan Bahagiamu




Hidup ini selalu dinamis, berubah dan juga tidak stagnan. Selalu mengarah pada perubahan yang tidak akan pernah berhenti berputar. Entah perubahan itu kearah yang lebih baik, atau menjemukan bahkan merusak, kita tidak pernah tahu.
Perubahan sedikit demi sedikit pun tidak luput dalam kehidupaku. Aku yang dahulu hanyalah anak bungsu yang manja, hanya memikirkan tentang bahagiaku saja, karirku saja, dan pusat kebahagiaanku hanya bermain dan menemani Ibu, lambat laun pun berubah setelah menjadi istri.
Suamiku yang baik hati membawaku kerumahnya yang mungil namun membahagiakan. Membesarkan buah hati kami dan juga menjalani aktifitas sebagaimana layaknya pasangan muda pada umumnya. Pagi hari bekerja dengan sebelumnya menitipkan anak ke pengasuhnya, pulang kerja di sore hari (bersyukurlah kota ini bebas macet yang membuat kepala mau pecah), dan menjalankan rutinitas ibu rumah tangga dimulai sejak beduk magrib berkumadang. Aku menjalaninya dalam lelah yang bahagia. Setelah pulang kerja, aku akan segera memasakkan lauk untuk makan malam, mencuci piring, membereskan rumah dan bercanda bersama anak dan suamiku. Aku bahagia. Walaupun harus tidur paling cepat pukul duabelas malam dan bagun pagi-pagi sekali. Aku bahagia karena aku didukung oleh suami yang sungguh baik dan perhatian.

Namun dalam bahagiaku, aku melupakan ada Ibu yang kesepian.

Ketika suami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kota Hujan, otomatis aku dan buah hati harus ‘hijrah’ kerumah Ibu karena selain lokasi rumah kami dan tempat aku bekerja cukup jauh dan membuatku kesulitan untuk mengasuh anak sendirian selepas pulang bekerja, masalah financial pun menjadi prioritas utama. Harapan kami, dengan tinggal sementara dirumah Ibu akan dapat mengurangi keterbatasan financial yang akan aku hadapi ketika suami harus melajutkan kuliah. Ibu pun menyanggupi dan dalam aku kembali masuk dalam zona nyamanku.

Ketika seorang anak telah menikah, bagaimanapun anak tersebut akan tetap dianggap sebagai “anak kecil” yang masih harus diatur, diarahkan dan juga diawasi. Sedangkan dalam paradigma seorang anak yang telah menikah, ia akan berpikir bahwa ia adalah seseorang yang telah dewasa, memiliki pendapat, pola dan pemikiran tertentu tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Entah itu dalam mengelola keuangan, mengasuh anak, mengurus anak dan juga memenejemen waktu.
Tapi perbedaan “idealisme” antara  orangtua dan anak yang telah menikah namun tinggal serumah tidak akan berjalan dengan mulus dan rata seperti jalan tol ataupun paha cherrybelle. Perlahan tapi pasti pergesekan akan terjadi. Seperti yang terjadi antara aku, Ibu dan Bapak.
Terutama Ibu.
Ibu masih seperti Ibu yang dulu, tidak berubah. Aku yang telah berubah. Ibu masih Ibu yang manja, yang ingin dimengerti, yang mudah merajuk, dan juga keras kepala. Ibu seyogyaya tidak pernah berubah. Aku telah mahfum dengan sikap Ibu ini. Tapi sekali lagi, aku yang berubah.
Ibu yang tetap ingin bisa berkisah dan bercerita denganku berjam-jam.
Ibu yang tetap ingin aku menyapu dipagi hari, mencuuci piring disore hari.
Ibu yang tetap ingin memarahiku ketika aku tidak mencuci baju, memasak ataupun bangun kesiangan.
Ibu yang tetap ingin mengatur bagaimana aku berpakaian dan bersikap.
Ibu yang tetap ingin aku memboncengnya kemanapun ia pergi  dengan senang hati.
Ibu tidak berubah. Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat lagi menemaninya bercerita sampai tengah malah dan memeluknya sepanjang malam karena harus mengurus anakku yang aktif luar biasa, Alhamdulillah.  
Aku yang tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah seperti seharusnya karena anakku yang rewel tidak mau ditinggal, atau seringkali merecokiku setiap kali aku bekerja dan juga kelelahan dahsyat yang melanda setiap kali pulang bekerja.
Aku yang tidak dapat lagi menemani Ibu pergi dengan bebas dan nyaman karena harus membawa anakku kemana-mana dengan segala kerepotan dan kehebohan yang ada.
Aku yang terlalu memprioritaskan suamiku dan anakku sehingga aku melupakan bahwa Ibu pun ingin tetap menjadi prioritasku.
Aku yang terlalu asyik dengan duniaku sehigga aku melupaka bahwa aku adalah dunia Ibu.
Aku berubah.
Aku merasa telah dewasa, sehingga walaupun aku memiliki keterbatasan financial, aku tetap memiliki hak utuk menentukan dan mengatur ingin seperti apa aku mengasuh anakku. Dengan caraku. Dengan polaku. Yang tentunya berbeda dengan cara mereka mendidikku.
Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat memberikan perhatian yang sama antara Ibu, Suamiku dan Anakku. Aku mengorbakan Ibu dalam kebahagiaanku.

Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana harus menjadi seseorang yang adil bagi mereka. Ditambah dengan kenyataan bahwa kami harus mengikuti suami yang akan ditempatkan bekerja di kota Palembang, membuat hubungan ini menjadi semakin memburuk.
Ibu down.
Ibu seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku adalah dunia Ibu. Karena aku sedang menggenggam duniaku, aku lebih memikirkan duniaku sehingga melupakan Ibu. Aku yang lebih mengejar bahagiaku sehingga melupakan bahagia Ibu.
Aku sadar aku terlihat kejam dimata Ibu ketika aku  memilih  untuk bersama keluargaku dibandingkan bersama Ibu. Bahkan aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak. Tinggal dengan mertua terdengar tidak lebih baik dibadingkan tinggal bersama dengan orangtua sendiri. Bisa jadi keputusan ini akan aku sesali, tapi aku sadar aku akan lebih menyesal jika harus membuat anak-anakku nantinya hidup seperti aku sewaktu kecil. Selalu berjauhan dengan Bapakku. Aku hanya mampu memotivasi diriku bahwa aku akan bahagia dimanapun aku berada asalkan aku bersama dengan keluargaku. Aku yakin semua kesulitan akan mampu aku hadapi asalkan aku bersama dengan orang yang aku cintai, dan mencitaiku.
Aku berubah.
Hidupku berubah. Aku bukan lagi anak gadis remaja Ibu yang dapat menemani Ibu seperti yang dahulu aku lakukan.
Semoga Allah memberikan jalan keluar atas segala kecamuk yang sedang aku hadapi.
Semoga Allah memberikanku kesempatan untuk membahagiakan Ibu dan Bapak, setidaknya agar mereka bisa meganggapku sebagai anak yang mereka harapkan. Bukannya sebagai aak yang mereka sesalkan.

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -