Kau adalah muaraku
perjalanan yang mendidikku
Ku labuhkan padamu
Cintaku tak pernah akn usai
Ada ataupun tiadanya raga
Berlarilah, kebanggaanku
Berlalirah mengejar cita-citaku
Yang aku harapkan akan menjadi cita-citamu
Bila pun tak searah
Aku percaya kau akan bahagia
"Karna doaku hanya satu
Jadikan anak-anakku sebagai ahli duniaMu, dan ahli syurgaMu"
Rabu, 02 Desember 2015
Nikmat Yang Menguji
Tidak bisa aku tampik bahwa kehidupanku yang sekarang sangat patut aku syukuri dengan sebanyak-banyaknya. Berkali-kali aku mengatakan betapa aku sangat berterima kasih kepadaNya yang telah menganugerahiku keluarga yang penuh kasih sayang, suami yang begitu bertanggung jawab dan penuh perhatian kepadaku, mertua yang sangat baik, tidak pernah pilih kasih dan juga sangat mencintai cucunya, serta ipar-ipar yang sangat menyayangi kami sekeluarga. Kebahagiaan itupun dilengkapi dengan kehadiran buah hati kami yang sangat tampan tanpa harus menunggu terlalu lama.
Secara
financial walaupun kami bukan tergolong keluarga yang memiliki banyak
kelebihan, tapi cukuplah bagiku untuk merasa bahagia. Suami yang telah meiliki
rumah dan pekerjaannya sebagai pegawai negeri, sedikit banyak membuat hatiku
cukup bangga. Tidak hanya itu, orangtuaku pun turut bangga. Pekerjaanku sebagai
pegawai Bank, walaupun bergaji yang tidak besar, setidaknya cukup memenuhi
kebutuhan pribadi. Pendek kata, aku bersyukur atas semua nikmatNya.
Tapi
rasa syukur dan juga rasa terima kasih ini tidak aku refleksikan dalam bentuk
yang real kepada Tuhanku, Allah SWT.
Aku
menyadari menurunnya keimananku yang sangat drastis. Padahal, suasana sekelilingku
sangat menunjang untuk beribadah dengan leluasa dan juga tepat waktu. Aku mengakui,
telah tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan keimanan. Terhitung jari aku
melakukan sholat lima waktu, paling banyak empat waktu. Subuh adalah sholat
yang paling seing aku lewatkan. Berbeda dengan masa aku masih berstatus sebagai anak sekolahan, sholat adalah hal yang paling tidak bisa aku tinggalkan.
Ya,
disinilah Allah mengujiku. Allah mengujiku dengan mengamanahkan aku dengan
pekerjaan yang baik, namun menguras tenaga dan pikiran. Pulang malam merupakan
hal biasa, sehingga rasa letih yang luar biasa membuatku merasa malas untuk
sholat subuh. Disitulah Allah mengujiku. Dan sepertinya aku belum lulus ujian
ini.
Kemudian,
Allah mengujiku dengan menghadirkan anak. Dimana tugasku adalah 24 jam. Waktu tidur
tidak seenak dulu. Anak yang terbangun tengah malam dan rasa lelah yang luar biasa,
menjadi alasan utama aku melewatkan sholat subuh. Padahal, aku selalu
terbangun ketika azan berkumandang. Sungguh celaka hidupku.
Aku
pun merasakan kenikmatan sholatku berkurang. Jika dulu, aku berdoa
sejadi-jadiNya kepada Allah dan terasa legalah hatiku, tapi kini aku seperti
hanya menjalankan ritual. Tanpa bisa memaknainya atau meresapiNyA. Aku merasa
hatiku terlalu kotor.
Ah…
hal paling bodoh didunia adalah, kita mengetahui ahwa apa yang kita lakukan itu
salah namun tetap melakukannya.
Menurunnya
keimananku ini tentu saja berimbas pasa semua sisi pribadiku. Sering bergunjing,
pemarah, tidak sabar dan tentu saja mudah mengjina orang lain adalah hal biasa
yang aku lakukan.
Allah
sedang mengujiku di dunia, dan aku
merasa kini ia mulai bosan menegurku yang tidak pernah menggubris tegurannya. Dulu,
Allah seringkali memberikanku masalah-masalah yang membuatku ingat untuk
bersujud kepadaNya. Tapi kini hidupku terasa datar tanpa ada masalah, selalu
apa yang aku inginkan aku dapatkan. Dan aku mulai merasa takut dengan hal itu.
Apakah dugaanku benar? Allah mengujiku, dengan seluruh kenikmatan ini karena ia
sudah bosan untuk menugurku, dan tidak rindu lagi dengan rintihan serta
tangisanku padaNya?
Pangkalpinang,
03 Desember 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...
