Kamis, 20 Agustus 2015

Lirik Lagu Siti Nurhaliza & Cakra Khan - Seluruh Cinta

Menatap kepergian dirimu
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu

Tiada lagi bait yang indah
Terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tiada cinta yang setulus cintamu (Cintamu)
Tiada yang sanggup gantikan dirimu

Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku

Renungan Sore Sebelum Senja


Suatu ketika seorang sahabat lama mengirimkan aku sebuah pesan. Isinya : "aku ingin cerita" yang langsung aku balas dengan jawaban iya nan semangat. Taulah aku bahwa gosip, berita atau curhatan yang akan ia sampaikan akan sangat seru.

Ceritanya begini.
Temanku ini sudah menikah sekitar lima tahun dengan suaminya dan sudah dikaruniai dua orang anak. Pernikahannya bahagia dan bila kita lihat secara kasat mata, tidak ada yang kurang dari perpaduan antara mereka berdua. Si istri berwajah cantik dan memiliki pekerjaan yang mapan sama layaknya dengan suami yang tampan dan memiliki kedudukan di perusahaan tempat ia bekerja. Intinya mereka pasangan bahagia.

"Aku menyukai teman suamiku"
Rasanya pesan dari sahabatku itu membuat aku tertegun dan tersentak. Siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati sahabatku ini. Aku tahu bahwa ia bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata-kata suka. "Bagaimana bisa?" akhirnya aku balas pesan itu denga perasaan sedikit shock.

Lalu ia menceritakan tentang pertemuannya dengan sahabat suaminya itu secara tidak disengaja. Itu pun karena diperkenalkan oleh sang suaminya sendiri. Lalu seperti love at first sight, ia merasakan getaran yang telah lama padam sejak janji sehidup semati itu ia ikrarkan.

"Mungkin karena karakternya seperti suamiku." itu yang ia katakan ketika aku bertanya apa yang membuatnya jatuh cinta.

Aku belum bisa mencerna kenapa pada pernikahan yang bahagia dan nyaris sempurna, rasa kagum atau jatuh cinta pada orang ketiga masih mungkin terjadi. Ataukah rasa cinta satu untuk selamanya itu memang tidak pernah ada? Lantas bagaimana orang yang dalam pernikahan bisa setia satu sama lain dalam kurun waktu yang bertahun-tahun?

"Aku tidak tahu, rasa itu hadir tanpa bisa aku duga. Mungkin aku kagum saja." Hanya itu pembelaan diri yang sahabatku utarakan.

Perasaan.
Tidak ada yang bisa mencegah ia untuk jatuh dan tunduk. Maka aku hanya mengatakan pada sang sahabat lama untuk tidak mengikuti rasa itu. Bertahanlah, pasti hanya sementara. Tidak ada yang bisa mencegah perasaan itu muncul, tapi kita bisa menekan dan memilih untuk tidak menurutinya. Bersikap egois pada perasaan sendiri itu adalah perkara rumit, tapi tidak mustahil. Aku tidak mau menghakimi sahabatku itu, bagiku ia tidak dapat memilih untuk menjatuhkan rasa. Itu bukan salahnya. Hanya saja, saat ini rasa itu adalah ujian untuknya dan pernikahannya. Apakah ia memilih untuk mengabaikan dan setia pada sang suami, atau memilih untuk menuruti rasa lantas 'menduakan' sang suami. Bukankah setia tidak melulu tentang keberadaan raga, tapi juga hati dan jiwa di dalamnya?

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -