Aku pernah menangisimu
Sepanjang Sudirman hingga Ahmad Yani
Ku lahirkan bayi-bayi kekecewaanku dalam bentuk kristal yang menguap
Kau mengatakan padaku bahwa nafasmu nafasku satu helaan nafas
Namun pada akhirnya hilang sudah paru-paruku, satu.
Kini ku dengar lonceng berbunyi
Dengusan, bau miang, busuk, canda tawa
Mereka tertawa kegirangan
Tak tahu bahwa empedu mau pecah
Tak tahu bertahun-tahun setelah itu mereka bisa merasakan yang sama
Katanya aku galau
"Bu, dia kentut!"
Ah persetan dengan kentutmu!
Otakku sedang bekerjasama dengan hati dalam mengelabui diriku
Memaksa mengenangmu
Kembali tenggelam bersama perahu memori
Berlayar. Mengarungi hempasan.
Bahkan berjuta detik setelahnya aku masih mengenang harum tubuhmu
Tawamu seperti merah putih yang ditarik fan dikembangkan
Lalu petugas akan berkata : "Bendera siap!"
Cih!
Bagaimana bisa aku menganalogikan senyumu sedemikian rupa
Mungkin karena hanya senyummu dan kibaran Sang Saka yang membuat hatiku bergetar dan menangis dalam masa yang sama
Mengapa serumit itu Tuhan menciptakan
Harapan. Hasrat. Mimpi
Namun ternyata ia tertinggal
Karena hanya sebagai alunan. Lantunan. Dendangan nada indahku
Ketika ku diperkenalkan Tuhan tentang cara mencintai dan dicintai untuk kali pertama
Ku pandangi si wangi berkelupak layu
Layaknya asa.
Wangi.
Tapi telah layu.
Januari 2020
Kamis, 09 Januari 2020
Selasa, 07 Januari 2020
Kenanga
Kenanga
oleh :
Yulistia Akbari
Kampung
kami geger.
Desas-desus,
obrolan, ghibah ataupun percakapan panjang lebar sedang berlangsung dengan
khidmat di kampung yang memang ramai dengan ibu-ibu ini. Untung saja mereka
tidak membuat suatu whatsapp grup,
mungkin notifikasi nya akan penuh setiap detik beriisi gunjingan mereka yang
tidak berkesudahan.percakapan tak berkesudahan yang dapat membuat para ibu-ibu
itu lupa masak. Lupa mengurus anak. Lupa mencuci. Lupa membersihkan rumah
ataupun lupa bahwa lima menit lagi suaminya akan pulang kerumah dalam keadaan
lelah setelah bekerja.
Rupanya kampung kami sedang riuh dikarenakan
kedatangan seorang wanita muda yang baru beberapa bulan pindah ke kampung kami
ini. namanya Kenanga. Ia seorang janda. Pantas saja ibu-ibu itu berisik.
“Pak,
katanya janda itu sudah tiga kali menikah lho Pak.” Malam itu Bu Mimin memulai
percakapan dengan suaminya, seranya menyerahkan secangkir kopi panas. Pak Ono
sedang asing bermain dengan handphone-nya. Bu Mimin melirik, suaminya sedang
membaca Babe.
“Masa
semuda itu sudah tiga kali janda ya pak.” Sarkasme. Nada sindiran pedas keluar
dari bibir Bu Mimin. “Katanya, ia baru berusia empat puluh lima lho Pak.”
Akhirnya
Bu Mimin menceritakan gossip yang sedang beredar.
Wanita
yang dikenal dengan nama Kenanga itu pertama kali menikah saat ia berusia
delapan belas tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah kedua orangtuanya
langsung menikahkannya dengan seorang laki-laki tampan berusia dua puluh
Sembilan tahun, waktu itu suami pertamanya adalah seorang pegawai negeri.
Mereka di gadang-gadang sebagai pasangan yang serasi. Pengantin yang serasi
menurut masyrakat. Prianya tampan dan mapan, wanitanya cantik dan anggun.
Pernikahan mereka dikaruniai sepasang anak yang lucu, laki-laki dan perempuan.
Pendek kata, secara kasat mata pernikahan mereka sangat cocok. Serasi. Pas.
Mantab! Apalagi ditambah sepuluh tahun kemudian ternyata suaminya sudah
memegang salah satu jabatan strategis di pemerintahan. Semakinlah Kenanga
dielu-elukan dengan label “beruntung.” Kenanga hanya tersenyum simpul dan
selalu bersahaja walaupun banyak orang memuji keberuntungannya dan juga
kebahagiaan yang menurut mereka sempurna. Namun, tidak ada hidup yang sempurna.
Beberapa tahun kemudian, suami Kenanga meninggal karena serangan jantung.
Padahal usianya baru empat puluh tahun, sedang bugar-bugarnya. Sedang menanjak
pula karirnya. Mau dikata apalagi, Kenanga menjadi janda saat ia berusia
duapuluh Sembilan tahun, dengan tanggung jawab seorang anak laki-laki dan juga
perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenanga bingung bagimana ia
harus menghidupi anak-anaknya. Juga hidupnya. Pensiunan janda yang tidak
seberapa tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari. Akhirnya Kenanga memilih
untuk mencoba usaha. Bermodalkan peninggalan suaminya, ia membuka suatu butik
di pusat perbelanjaan kota. Katanya, usahanya maju.
Karena
kecantikan Kenanga, juga statusnya yang janda, membuat banyak sekali
kumbang-kumbang ingin hinggap menghisap madunya. Layaknya bunga yang masih
segar dan merekah, seperti itulah kumbang nakal banyak mengerumuninya. Namun
Kenanga kokoh. Kenanga tidak suka kumbang jantan nakal yang hanya menunjukan
eksistensi kejantanannya. Bayang-bayang almarhum suaminya masih melekat di hati
Kenanga. Bagaiman kebaikan, kesabaran dan kasih sayang yang dilimpahkan
suaminya membuat Kenanga tidak mudah jatuh jatuh dalam rayuan nakal sesaat para
kaum adam.
Dua
tahun berlalu. Kenanga menginjak usia tiga puluh satu. Entah bagaimana ada
seorang pria yang berhasil mengusik hatinya. Lelaki itu memang pernah singah
dalam kehidupan Kenanga. Ialah mantan kekasih Kenanga semasa SMA. Dengan status
duda beranak tiga, istrinya pun meninggal setelah melahirkan anak yang ketiga,
Kenanga menganggap itu adalah takdir yang menentukan bahwa Kenanga harus
bersatu dengan kekasih masa lalunya. Maka, di penghujung usia tiga puluh tiga Kenanga
memutuskan mengakhiri kesendiriannya. Kenanga menikahi kekasih masa lalu nya.
Katanya, Kenanga kembali hidup bahagia bersama kekasih masa lalunya. Namun
mereka tidak memiliki anak. Kenanga bersikeras tidak mau memiliki anak, karena
Kennga menganggap dua anak kandungnya dan tiga anak tiri sudah cukup meramaikan
keluarga barunya itu.
“Tapi,
apa Bapak tau. Ternyata suaminya tidak mau Pak! Suami barunya tetap mau punya
anak dari pernikahannya dengan Kenanga!” Bu Mimin menggebu-gebu.
Kenanga
mengarungi bahtera rumah tangganya dengan penuh gejolak. Di satu sisi, kenanga
merasa keberatan dengan permintaan suami keduanya untuk menambah momongan.
Bayangkan saja kerepotan yang sudah dialami oleh Kenanga mengasuh kelima
anaknya sekarang. Bahkan Kenanga tidak bisa fokus untuk menjaga butik karena
harus mengurus anak-anaknya. Maka Kenanga mencari orang untuk menjaga butiknya.
Dan di satu sisi lainnya, Kenanga merasa ia harus menuruti permintaan suaminya.
Titah suami adalah diatas segalanya. Dan hamil lah Kenanga untuk ketiga
kalinya. Ia kerepotan. Kacau. Balau.
Sedang
dalam kerepotannya tiba-tiba kabar yang sangat ditakutkan muncul. Suami
keduanya meninggal! Lagi! Kali ini karena kecelakaan. Avanza yang dikendarainya
menabrak truk yang tiba-tiba pecah ban. Saat itu suaminya dalam perjalanan
pulang dari Sadai ke Pangkalpinang. Lemas dan serasa lolos lah tulang belulang
Kenanga. Ia kembali menjanda. Kesedihan yang menghinggapinya membuat janin
berusia dua bulan itu luruh. Keguguran. Semakin lara dan nestapa hati Kenanga.
Kenaga
bersikeras mengurus anak-anak tirinya. Namun keluarga mantan suaminya
keberatan, maka dengan berat hati Kenanga “mengembalikan” anak-anak tirinya
kepada nenek dan atoknya. Bagaimanapun, mereka lebih berhak.
Cerai
mati. Dua kali. Mengerikan.
“Orang
bilang, Kenanga itu ada tahi lalat pak di dekat selangkangnya. Besar. Makanya
kata orang, itu bisa ‘makan laki’ Pak. Alias siapapun yang menikahinya pasti
mati! Bawa sial Pak!” Bu Mimin berapi-api.
“ah
ibu, percaya mitos saja.” Pak Ono menyanggah.
“Bapak
gak percaya, itu sudah ada buktinya Pak. Tapi, memang sih Kenanga itu cantik.
Badanya semok. Lihat saja, Pak Samin sudah mondar-mandir saja didepan rumahnya.
Gatal mau memperistri. Padahal, baru beberapa bulan saja Kenanga ada disini.”
“Sudahlah
Bu, jangan menggosipkan orang. Tidak baik. Dosa.”
“Pak,
kalo emang kenyataan bukan gossip Pak. Fakta!”
“Iya,
tapi tetap saja jadinya ghibah.”
Pak
Ono beranjak dari kursinya yang menuju dispenser, mengambil air putih. Keringat
kecil membasahi dahinya. Malam ini cuaca terasa panas.
“Pak,
masih ada satu lagi Pak ceritanya.” Seloroh Bu Mimin mengekori suaminya yang
menuju kamar tidur dan mengambil buku bacaan yang belum ia tamatkan.
Ternyata
setelah suami kedua Kenanga meninggal, Kenanga lama menjanda. Ia sibuk dengan
usaha dan anaknya-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa, mungkin
sekitaran duduk di bangku perkuliahan, Kenanga telah berusia tiga puluh
sembilan, ia kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang tertarik padanya.
Tentunya dengan banyak sekali pilihan lelaki yang berminat memperistrinya. Tapi
Kenanga bukanlah wanita yang sembarangan memilih pria. Dengan statusnya, ia
digadang-gadang hanya tertarik dengan pria tampan dan kaya. Gossip beredar,
karena Kenanga butuh dukungan secara financial. Ya wajar sih, jika seorang
janda membutuhkan sosok yang bisa mendukung dan memenuhi kebutuhan lahir nya,
tidak hanya batin. Wanita mana yang bisa hidup tanpa pakaian indah, tas yang
cantik ataupun sepatu yang mempesona? Apalagi harga perhiasa terus melambung
tinggi. Mana ada wanita yang bisa hidup tanpa kemilau yang membuat siapapun
pemakainya menjadi cantik seperti bidadari? Apalagi sosok seperti Kenanga.
Terkenal akan kecantikan keanggunannya.
“Nah
masalahnya sekarang kenapa kampung jadi heboh, katanya Paaaakkk……”
Katanya
suami ketiga kenanga adalah suami orang. ia adalah istri kedua. Kalo ini suami
Kenanga bukan duda. Jadi, Kenanga adalah pelakor. Pengganggu laki orang. namun,
tentu saja bisa jadi laki orang itu yang duluan mengganggu Kenanga. Wanita
cantik selalu menjadi pusat perhatian, bukan? Pria yang gatal liat janda
cantik, gelatik. Ya, gelatik. Burungnya
gelatik. Apakah salah Kenanga jika burung gelatik itu datang menggoda,
menawarkan kasih sayang dan juga rasa aman. Aman hatinya. Aman kantongnya.
Salah Kenanga kah? Pada suami ketiga, Kenanga sungguh jatuh cinta. Kenyamanan
yang ia rasakan melebihi apapun.
“katanya,
suami ketiga Kenanga ini biasa saja Pak wajahnhya. Tidak setampan suami-suai
sebelumnya. Juga tidak se-kaya suami-suami sebelumnya. Tapi, katanya ia pejabat
Pak. Pejabat biasa. Gak kaya-kaya amat.”
Pak
Ono membalikkan halaman novelnya. Bu Mimin membersihkan wajahnya dan
menggunakan krim malam. Ia masih berbicara dengan suaminya walaupun sedang
becermin.
“Nah,
katanya Pak suami ketiga Kenanga ada di kampung ini Pak!”
Kenanga
pindah ke kampung ini agar dapat melihat suaminya stiap hari walaupun harus
merahasiakannya. Itu kata gossip yang beredar. Beberapa kali orang melihat ada
lelaki yang masuk kerumahnya melalui pintu belakang, namun tak pernah kelihatan
mukanya. Kenanga sangat mencintai suami ketiganya, mungkin karena ia kesepia
sehingga sosok suami menjadi salah satu hal yang sangat ia butuhkan. Entah sekedar
untuk berbincang, mencurahkan perasaan, dan atau bercinta. Ayolah, janda
muda mana yang tahan tidak bercinta?
Kerinduan itu pasti menyeruak. Walaupun ia bukan janda gatal.
“Ibu
penasaran Pak siapa suami Kenanga. Kira-kira siapa ya Pak? Bu Mimin beralih ketempat
tidur, menarik selimut dan meredupkan lampu.
Pak
Ono menutup bukunya. Kemudian mengganti baju.
“hari
ini jadwal ronda lagi pak?”
“Iya
Bu. Ya udah, Bapak pergi dulu ya Bu. Sudang ditunggu pak Kodri dan teman-teman
disana. Sekalian mau gaple-an dulu.” Pak Ono mengecup kening istrinya dan
berpamitan.
Mata
Bu Mimin sudah sangat mengantuk. Padahala ia masih ingin bertanya kepada
suaminya. Kata orang, suami Kenanga itu posturnya tidak terlalu tinggi,
rambutnya ikal. Kulitnya putih. Jika berjalan terlihat gontai. Wajahnya tidak
kelihatan, tapi banyak yang bilang hidungnya bangir. Siapa tau pak Ono kenal orang dengan postur
seperti itu.
Bu
Mimin menguap, ia ngantuk sekali. Nyaris terlelap jika bukan karena dering
telpon.
Ah,
handphone Bapak ketinggalan.
Dengan malas Bu Mimin meraih handphone
dan bersiap me-reject panggilan
ketika ia melihat nama yang tertulis di layar : Kenanga.
Malam
itu pukul 23.45.
Barulah
Bu Mimin tersadar bahwa suaminya berambut ikal dan jika berjalan terlihat
gontai. Juga tidak terlalu kaya.
Sungailiat, 8 Januari 2020
Kamis, 02 Januari 2020
Januari 2020
ku lepas semua yang ku inginkan
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti
tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja
kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
***
sekarang aku memahami artinya.
sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.
sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.
aku hanya akan tersenyum.
aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.
mungkin aku menyesalinya.
namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti
tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja
kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
***
sekarang aku memahami artinya.
sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.
sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.
aku hanya akan tersenyum.
aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.
mungkin aku menyesalinya.
namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...