Kamis, 09 Januari 2020

"Bu, Dia Kentut!"

Aku pernah menangisimu
Sepanjang Sudirman hingga Ahmad Yani
Ku lahirkan bayi-bayi kekecewaanku dalam bentuk kristal yang menguap
Kau mengatakan padaku bahwa nafasmu nafasku satu helaan nafas
Namun pada akhirnya hilang sudah paru-paruku, satu.

Kini ku dengar lonceng berbunyi
Dengusan, bau miang, busuk, canda tawa
Mereka tertawa kegirangan
Tak tahu bahwa empedu mau pecah
Tak tahu bertahun-tahun setelah itu mereka bisa merasakan yang sama

Katanya aku galau

"Bu, dia kentut!"
Ah persetan dengan  kentutmu!
Otakku sedang bekerjasama dengan hati dalam mengelabui diriku
Memaksa mengenangmu
Kembali tenggelam bersama perahu memori
Berlayar. Mengarungi hempasan.

Bahkan berjuta detik setelahnya aku masih mengenang harum tubuhmu
Tawamu seperti merah putih yang ditarik fan dikembangkan
Lalu petugas akan berkata : "Bendera siap!"
Cih!
Bagaimana bisa aku menganalogikan senyumu sedemikian rupa
Mungkin karena hanya senyummu dan kibaran Sang Saka yang membuat hatiku bergetar dan menangis dalam masa yang sama

Mengapa serumit itu Tuhan menciptakan
Harapan. Hasrat. Mimpi
Namun ternyata ia tertinggal

Karena hanya sebagai alunan. Lantunan. Dendangan nada indahku
Ketika ku diperkenalkan Tuhan tentang cara mencintai dan dicintai untuk kali pertama

Ku pandangi si wangi berkelupak layu
Layaknya asa.
Wangi.
Tapi telah layu.








Januari 2020

Selasa, 07 Januari 2020

Kenanga

Kenanga

oleh :
Yulistia Akbari


Kampung kami geger.
Desas-desus, obrolan, ghibah ataupun percakapan panjang lebar sedang berlangsung dengan khidmat di kampung yang memang ramai dengan ibu-ibu ini. Untung saja mereka tidak membuat suatu whatsapp grup, mungkin notifikasi nya akan penuh setiap detik beriisi gunjingan mereka yang tidak berkesudahan.percakapan tak berkesudahan yang dapat membuat para ibu-ibu itu lupa masak. Lupa mengurus anak. Lupa mencuci. Lupa membersihkan rumah ataupun lupa bahwa lima menit lagi suaminya akan pulang kerumah dalam keadaan lelah setelah bekerja.
 Rupanya kampung kami sedang riuh dikarenakan kedatangan seorang wanita muda yang baru beberapa bulan pindah ke kampung kami ini. namanya Kenanga. Ia seorang janda. Pantas saja ibu-ibu itu berisik.
“Pak, katanya janda itu sudah tiga kali menikah lho Pak.” Malam itu Bu Mimin memulai percakapan dengan suaminya, seranya menyerahkan secangkir kopi panas. Pak Ono sedang asing bermain dengan handphone-nya. Bu Mimin melirik, suaminya sedang membaca Babe.
“Masa semuda itu sudah tiga kali janda ya pak.” Sarkasme. Nada sindiran pedas keluar dari bibir Bu Mimin. “Katanya, ia baru berusia empat puluh lima lho Pak.”
Akhirnya Bu Mimin menceritakan gossip yang sedang beredar.
Wanita yang dikenal dengan nama Kenanga itu pertama kali menikah saat ia berusia delapan belas tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah kedua orangtuanya langsung menikahkannya dengan seorang laki-laki tampan berusia dua puluh Sembilan tahun, waktu itu suami pertamanya adalah seorang pegawai negeri. Mereka di gadang-gadang sebagai pasangan yang serasi. Pengantin yang serasi menurut masyrakat. Prianya tampan dan mapan, wanitanya cantik dan anggun. Pernikahan mereka dikaruniai sepasang anak yang lucu, laki-laki dan perempuan. Pendek kata, secara kasat mata pernikahan mereka sangat cocok. Serasi. Pas. Mantab! Apalagi ditambah sepuluh tahun kemudian ternyata suaminya sudah memegang salah satu jabatan strategis di pemerintahan. Semakinlah Kenanga dielu-elukan dengan label “beruntung.” Kenanga hanya tersenyum simpul dan selalu bersahaja walaupun banyak orang memuji keberuntungannya dan juga kebahagiaan yang menurut mereka sempurna. Namun, tidak ada hidup yang sempurna. Beberapa tahun kemudian, suami Kenanga meninggal karena serangan jantung. Padahal usianya baru empat puluh tahun, sedang bugar-bugarnya. Sedang menanjak pula karirnya. Mau dikata apalagi, Kenanga menjadi janda saat ia berusia duapuluh Sembilan tahun, dengan tanggung jawab seorang anak laki-laki dan juga perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenanga bingung bagimana ia harus menghidupi anak-anaknya. Juga hidupnya. Pensiunan janda yang tidak seberapa tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari. Akhirnya Kenanga memilih untuk mencoba usaha. Bermodalkan peninggalan suaminya, ia membuka suatu butik di pusat perbelanjaan kota. Katanya, usahanya maju.
Karena kecantikan Kenanga, juga statusnya yang janda, membuat banyak sekali kumbang-kumbang ingin hinggap menghisap madunya. Layaknya bunga yang masih segar dan merekah, seperti itulah kumbang nakal banyak mengerumuninya. Namun Kenanga kokoh. Kenanga tidak suka kumbang jantan nakal yang hanya menunjukan eksistensi kejantanannya. Bayang-bayang almarhum suaminya masih melekat di hati Kenanga. Bagaiman kebaikan, kesabaran dan kasih sayang yang dilimpahkan suaminya membuat Kenanga tidak mudah jatuh jatuh dalam rayuan nakal sesaat para kaum adam.
Dua tahun berlalu. Kenanga menginjak usia tiga puluh satu. Entah bagaimana ada seorang pria yang berhasil mengusik hatinya. Lelaki itu memang pernah singah dalam kehidupan Kenanga. Ialah mantan kekasih Kenanga semasa SMA. Dengan status duda beranak tiga, istrinya pun meninggal setelah melahirkan anak yang ketiga, Kenanga menganggap itu adalah takdir yang menentukan bahwa Kenanga harus bersatu dengan kekasih masa lalunya. Maka, di penghujung usia tiga puluh tiga Kenanga memutuskan mengakhiri kesendiriannya. Kenanga menikahi kekasih masa lalu nya. Katanya, Kenanga kembali hidup bahagia bersama kekasih masa lalunya. Namun mereka tidak memiliki anak. Kenanga bersikeras tidak mau memiliki anak, karena Kennga menganggap dua anak kandungnya dan tiga anak tiri sudah cukup meramaikan keluarga barunya itu.
“Tapi, apa Bapak tau. Ternyata suaminya tidak mau Pak! Suami barunya tetap mau punya anak dari pernikahannya dengan Kenanga!” Bu Mimin menggebu-gebu.
Kenanga mengarungi bahtera rumah tangganya dengan penuh gejolak. Di satu sisi, kenanga merasa keberatan dengan permintaan suami keduanya untuk menambah momongan. Bayangkan saja kerepotan yang sudah dialami oleh Kenanga mengasuh kelima anaknya sekarang. Bahkan Kenanga tidak bisa fokus untuk menjaga butik karena harus mengurus anak-anaknya. Maka Kenanga mencari orang untuk menjaga butiknya. Dan di satu sisi lainnya, Kenanga merasa ia harus menuruti permintaan suaminya. Titah suami adalah diatas segalanya. Dan hamil lah Kenanga untuk ketiga kalinya. Ia kerepotan. Kacau. Balau.
Sedang dalam kerepotannya tiba-tiba kabar yang sangat ditakutkan muncul. Suami keduanya meninggal! Lagi! Kali ini karena kecelakaan. Avanza yang dikendarainya menabrak truk yang tiba-tiba pecah ban. Saat itu suaminya dalam perjalanan pulang dari Sadai ke Pangkalpinang. Lemas dan serasa lolos lah tulang belulang Kenanga. Ia kembali menjanda. Kesedihan yang menghinggapinya membuat janin berusia dua bulan itu luruh. Keguguran. Semakin lara dan nestapa hati Kenanga.
Kenaga bersikeras mengurus anak-anak tirinya. Namun keluarga mantan suaminya keberatan, maka dengan berat hati Kenanga “mengembalikan” anak-anak tirinya kepada nenek dan atoknya. Bagaimanapun, mereka lebih berhak.
Cerai mati. Dua kali. Mengerikan.
“Orang bilang, Kenanga itu ada tahi lalat pak di dekat selangkangnya. Besar. Makanya kata orang, itu bisa ‘makan laki’ Pak. Alias siapapun yang menikahinya pasti mati! Bawa sial Pak!” Bu Mimin berapi-api.
“ah ibu, percaya mitos saja.” Pak Ono menyanggah.
“Bapak gak percaya, itu sudah ada buktinya Pak. Tapi, memang sih Kenanga itu cantik. Badanya semok. Lihat saja, Pak Samin sudah mondar-mandir saja didepan rumahnya. Gatal mau memperistri. Padahal, baru beberapa bulan saja Kenanga ada disini.”
“Sudahlah Bu, jangan menggosipkan orang. Tidak baik. Dosa.”
“Pak, kalo emang kenyataan bukan gossip Pak. Fakta!”
“Iya, tapi tetap saja jadinya ghibah.”
Pak Ono beranjak dari kursinya yang menuju dispenser, mengambil air putih. Keringat kecil membasahi dahinya. Malam ini cuaca terasa panas.
“Pak, masih ada satu lagi Pak ceritanya.” Seloroh Bu Mimin mengekori suaminya yang menuju kamar tidur dan mengambil buku bacaan yang belum ia tamatkan.
Ternyata setelah suami kedua Kenanga meninggal, Kenanga lama menjanda. Ia sibuk dengan usaha dan anaknya-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa, mungkin sekitaran duduk di bangku perkuliahan, Kenanga telah berusia tiga puluh sembilan, ia kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang tertarik padanya. Tentunya dengan banyak sekali pilihan lelaki yang berminat memperistrinya. Tapi Kenanga bukanlah wanita yang sembarangan memilih pria. Dengan statusnya, ia digadang-gadang hanya tertarik dengan pria tampan dan kaya. Gossip beredar, karena Kenanga butuh dukungan secara financial. Ya wajar sih, jika seorang janda membutuhkan sosok yang bisa mendukung dan memenuhi kebutuhan lahir nya, tidak hanya batin. Wanita mana yang bisa hidup tanpa pakaian indah, tas yang cantik ataupun sepatu yang mempesona? Apalagi harga perhiasa terus melambung tinggi. Mana ada wanita yang bisa hidup tanpa kemilau yang membuat siapapun pemakainya menjadi cantik seperti bidadari? Apalagi sosok seperti Kenanga. Terkenal akan kecantikan keanggunannya.
“Nah masalahnya sekarang kenapa kampung jadi heboh, katanya Paaaakkk……”
Katanya suami ketiga kenanga adalah suami orang. ia adalah istri kedua. Kalo ini suami Kenanga bukan duda. Jadi, Kenanga adalah pelakor. Pengganggu laki orang. namun, tentu saja bisa jadi laki orang itu yang duluan mengganggu Kenanga. Wanita cantik selalu menjadi pusat perhatian, bukan? Pria yang gatal liat janda cantik, gelatik.  Ya, gelatik. Burungnya gelatik. Apakah salah Kenanga jika burung gelatik itu datang menggoda, menawarkan kasih sayang dan juga rasa aman. Aman hatinya. Aman kantongnya. Salah Kenanga kah? Pada suami ketiga, Kenanga sungguh jatuh cinta. Kenyamanan yang ia rasakan melebihi apapun.
“katanya, suami ketiga Kenanga ini biasa saja Pak wajahnhya. Tidak setampan suami-suai sebelumnya. Juga tidak se-kaya suami-suami sebelumnya. Tapi, katanya ia pejabat Pak. Pejabat biasa. Gak kaya-kaya amat.”
Pak Ono membalikkan halaman novelnya. Bu Mimin membersihkan wajahnya dan menggunakan krim malam. Ia masih berbicara dengan suaminya walaupun sedang becermin.
“Nah, katanya Pak suami ketiga Kenanga ada di kampung ini Pak!”
Kenanga pindah ke kampung ini agar dapat melihat suaminya stiap hari walaupun harus merahasiakannya. Itu kata gossip yang beredar. Beberapa kali orang melihat ada lelaki yang masuk kerumahnya melalui pintu belakang, namun tak pernah kelihatan mukanya. Kenanga sangat mencintai suami ketiganya, mungkin karena ia kesepia sehingga sosok suami menjadi salah satu hal yang sangat ia butuhkan. Entah sekedar untuk berbincang, mencurahkan perasaan, dan atau bercinta. Ayolah, janda muda  mana yang tahan tidak bercinta? Kerinduan itu pasti menyeruak. Walaupun ia bukan janda gatal.
“Ibu penasaran Pak siapa suami Kenanga. Kira-kira siapa ya Pak? Bu Mimin beralih ketempat tidur, menarik selimut dan meredupkan lampu.
Pak Ono menutup bukunya. Kemudian mengganti baju.
“hari ini jadwal ronda lagi pak?”
“Iya Bu. Ya udah, Bapak pergi dulu ya Bu. Sudang ditunggu pak Kodri dan teman-teman disana. Sekalian mau gaple-an dulu.” Pak Ono mengecup kening istrinya dan berpamitan.
Mata Bu Mimin sudah sangat mengantuk. Padahala ia masih ingin bertanya kepada suaminya. Kata orang, suami Kenanga itu posturnya tidak terlalu tinggi, rambutnya ikal. Kulitnya putih. Jika berjalan terlihat gontai. Wajahnya tidak kelihatan, tapi banyak yang bilang hidungnya bangir.  Siapa tau pak Ono kenal orang dengan postur seperti itu.
Bu Mimin menguap, ia ngantuk sekali. Nyaris terlelap jika bukan karena dering telpon.
Ah, handphone Bapak ketinggalan. Dengan malas Bu Mimin meraih handphone dan bersiap me-reject panggilan ketika ia melihat nama yang tertulis di layar : Kenanga.
Malam itu pukul 23.45.
Barulah Bu Mimin tersadar bahwa suaminya berambut ikal dan jika berjalan terlihat gontai. Juga tidak terlalu kaya.



Sungailiat, 8 Januari 2020

Kamis, 02 Januari 2020

Januari 2020

ku lepas semua yang ku inginkan
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti

pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti

tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja

kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa


***

sekarang aku memahami artinya.

sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.

sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.

aku hanya akan tersenyum.

aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.

mungkin aku menyesalinya.

namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.


Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -