Ku bisa hadapi perihnya terluka
Yang pernah ku rasa di waktu dulu
Sakitnya sakit sudah ku rasa
Dengan yang dulu, dengan yang dulu
Ku pernah tersenyum waktu di hatiku
Lagi hancur lebur berkeping-keping
Pahitnya pahit sudah ku rasa
Dengan yang dulu, dengan yang dulu
Kecuali kamu, cuma sama kamu
Kecuali kamu, sakit sekali, sakit sekali
Tuhan tolong aku, bisakah ku minta
Janganlah kau beri sakit yang ini
Cintaku hanya yang satu ini
Ku belum pernah, ku belum pernah
Kecuali kamu, cuma sama kamu
Kecuali kamu, aku tak mengerti
Mengapa ku rasa sakit sekali mencintaimu
Kecuali kamu, cuma sama kamu
Kecuali kamu, aku tak mengerti
Mengapa ku rasa sakit sekali mencintaimu, mencintaimu
Pernah merasakan jatuh cinta tapi sakit dalam waktu yang bersamaan? Jika belum, mungkin anda bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang beruntung ataupun bisa juga termasuk orang-orang yang belum merasakan 'keunikan' rasa cinta. Yup, cinta itu unik.
Karena hanya orang-orang yang memiliki hati yang memiliki rasa cinta.
Rabu, 22 April 2015
Wanita Lelakiku
Wanita Lelakiku
oleh Yulistia Akbari
Hujan.
Seperti mengguyurkan tirai kenangan dalam imajinasiku. Rasanya syahdu, rasanya pilu, rasanya tersentak. Setiap hujan turun yang ia kabarkan adalah kerinduan, adalah kebencian, adalah penyesalan dan adalah kenangan. Kenangan yang telah merobek mimpi-mimpi dan perasaan, kenangan akan dalamnya buaian.
Ada yang berkata cinta pertama tidak akan padam, akan selalu menggelayuti setiap langkah kehidupan. Apakah seburuk itu cinta pertama? bahkan untuk cinta pertama yang harus usai? Rasanya tak adil jika cinta pertama diperlakukan sangat istimewa sedemikian rupa. Bagaimana dengan cinta yang seharusnya menjadi cinta terakhir, cinta yang sah! cinta yang menjadi masa depan, cinta yang seharusnya diperjuangkan mati-matian.
"Kau sangat cantik, Dinda. Abang beruntung sekali memilikimu." Rasanya kalimat itu tak pernah habis aku dengar dari mulut lelaki yang sangat aku cintai ini. ia selalu membuatku merasa percaya bahwa aku adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia cintai, yang ia miliki dan sangat ia sayangi. Aku selalu tersenyum manja saat suamiku mengucapkan kata itu.
Ya, suamiku. Lelaki pertamaku, lelaki terakhirku. Lelaki yang telah aku percayakan untuk kubiarkan menanamkan benih kasih sayangnya di rahimku. Lelaki yang dimana aku berjanji di depan Tuhan akan selalu setia dan menjaganya, lelaki yang telah aku tuliskan dalam hatiku. Satu dan selamanya. Lelaki yang aku anggap sangat sempurna, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada keluarga ini.
Namun segalanya ternyata berbeda. Ternyata ia tak sama dengan apa yang aku perkirakan. Tidak... Tidak... ia tidak secinta itu pada diriku. Mungkin pada Ghazi, anak kami, ia mencintai penuh.
Bagiku, kamu adalah sesuatu yang teramat spesial dalam kehidupanku. Ya, aku juga merindukanmu.
Rasanya aku ingin menghempaskan benda itu ke lantai, menghancurkannya. Pesan singkat yang aku baca, seperti merubuhkan pertahananku.
Siapa di antara kamu yang tidak merasakan bahwa kekuatan untuk mencintai adalah tanpa batas? Dan bukanlah waktu sebagaimana halnya cinta tak terbagi dan tak mengenal ruang. -Khalil Gibran-
Tidak Suamiku, kau tak akan pernah bisa adil dalam membagi hatimu. Karena keadilan tidak akan pernah berbanding lurus dengan membagi cinta. Akan selalu ada yang kecewa, tersisih dan kalah di dalamnya. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu pada suamiku yang sedang asyik bercengkrama dengan Ghazi. Aku tersenyum kepada mereka. "Kemarilah, Dinda. Bergabunglah bersama kami. Letakkan lah sejenak celemek mu itu." ujar suamiku.
Tak akan ada habisnya aku mencintai lelakiku ini. Lelaki cerdas nan tampan ini telah memikatku sejak pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini pun ia masih memikatku. Tak pernah sejengkal pun aku meragukan cintanya padaku. Namun aku pun memahami bahwa dihatinya yang luas itu tidak hanya ada namaku, ia telah membaginya pada wanita lain. Hanya saja aku tak tahu seberapa besar bagian yang telah diambil wanita itu.
Inilah rasa sakitnya terhianat cinta, lebih hebat dibandingkan rasa cinta itu sendiri.
"Apakah kau setia padaku, Dinda?" suatu malam suamiku bertanya padaku. Kala itu kami menikmati indahnya bintang setelah Ghazi terlelap, sepi namun hangat. Ia memelukku, dan aku berujar "Ya, Kanda. Hanya dirimu. Lantas... bagaimana denganmu?"
Ia tidak langsung menjawab, aku merasakan belaian tangannya pada rambutku berhenti beberapa detik. "Jika kau mengartikan setia adalah tidak sedetik pun aku berhenti mencintaimu, maka aku termasuk di dalamnya."
"Apakah bisa seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanyaku.
Ia menghentikan belaiannya, dan merenggangkan pelukannya. Ia pandangi wajahku lekat , "Kenapa Dinda pertanyakan hal ini ? "
Aku tersenyum, "Hanya bertanya. Jawablah"
Aku melihatnya berfikir. Aku telusuri wajahnya yang tampan itu. Matanya yang indah, dengan bulu mata nan lentik. Hidungnya terukir indah, dan garis bibirnya selalu membuatku terpesona kala tersenyum. "Ya, tentu bisa. Seperti aku mencintaimu dan Ghazi dalam waktu yang bersamaan...."
"Bukan. Bukan tentang aku dan Ghazi, kanda."
"Lantas?"
"Apakah ada wanita lain dihatimu selain aku? wanita selain diriku yang kau cintai. Wanita selain diriku yang menempati hatimu...."
Ilham terdiam, getir.
Aku menyapu langkahku yang gontai, lemah. Aku tahu tak akan mudah menghapus semua kenangan yang terukir dalam diantara kita, manalah mungkin dapat aku musnahkan dari ingatakanku. Bahkan imajinasi terliarku adalah untuk dapat memilikimu, menyentuhmu, dan selalu mendekapmu. Tidak sedetikpun aku mampu melupakanmu, karena melupakanmu seperti tergelung oleh duri. Semakin aku coba lepaskan, semakin erat.
Maka aku biarkan namamu, cintamu, kasihmu bebas dalam aliran darahku. Bukankah di hati pula akan melekatnya?
Aku tidak tahu harus berharap apa padamu, karena tak pantas rasanya meletakkan harapan disana. Kita bukanlah merpati yang saling mengejar bebas. Kita seperti kisah lama namun tak akan usang. Maka biarkanlah seperti itu adanya.
Andaikan saja aku seperti pelangi, yang akan hadir disetiap hujanmu.
Sandingkan saja aku seperti matahari, yang cukup hangatkanmu dari jauh.
Cukup seperti itulah.... karna saat ini Tuhan bukan untuk kita.
Ginan membaca e-mail yang akan ia alamatkan pada Ilham. Berat rasanya untuk menghela nafas. Ia paham apa yang telah terjadi. Mungkin sudah terlalu lama Ginan masuk dalam kehidupan Ilham, mengoyak ketenangan yang seharusnya tidak ia usik. Ginan memandang dua wajah cantik di wallpaper laptop nya. Rasanya seperti setengah bernyawa saat harus melepaskan bayangan yang melekat dalam kehidupannya dalam kurun delapan tahun terakhir ini, namun inilah keputusan. Walaupun hati ini terlalu luas untuk hanya mencintai satu orang, namun dalam cinta tidak ada tempat untuk orang ketiga. Ginan harus melepaskan Ilham, walau tidak berarti melupakan.
Ma, Papa sudah di jalan bersama anak-anak. Tunggu di kantor ya, sebentar lagi Papa jemput.
Pesan singkat itu menyadarkan Ginan dari lamunanya. Segera ia menekan tombol sent pada menu email nya. Menutup laptop dan kemudian membalas pesan singkat suaminya. Mama tunggu ya Papa sayang...
"Kau sangat cantik, Dinda. Abang beruntung sekali memilikimu." Rasanya kalimat itu tak pernah habis aku dengar dari mulut lelaki yang sangat aku cintai ini. ia selalu membuatku merasa percaya bahwa aku adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia cintai, yang ia miliki dan sangat ia sayangi. Aku selalu tersenyum manja saat suamiku mengucapkan kata itu.
Ya, suamiku. Lelaki pertamaku, lelaki terakhirku. Lelaki yang telah aku percayakan untuk kubiarkan menanamkan benih kasih sayangnya di rahimku. Lelaki yang dimana aku berjanji di depan Tuhan akan selalu setia dan menjaganya, lelaki yang telah aku tuliskan dalam hatiku. Satu dan selamanya. Lelaki yang aku anggap sangat sempurna, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada keluarga ini.
Namun segalanya ternyata berbeda. Ternyata ia tak sama dengan apa yang aku perkirakan. Tidak... Tidak... ia tidak secinta itu pada diriku. Mungkin pada Ghazi, anak kami, ia mencintai penuh.
Bagiku, kamu adalah sesuatu yang teramat spesial dalam kehidupanku. Ya, aku juga merindukanmu.
Rasanya aku ingin menghempaskan benda itu ke lantai, menghancurkannya. Pesan singkat yang aku baca, seperti merubuhkan pertahananku.
* * * *
Siapa di antara kamu yang tidak merasakan bahwa kekuatan untuk mencintai adalah tanpa batas? Dan bukanlah waktu sebagaimana halnya cinta tak terbagi dan tak mengenal ruang. -Khalil Gibran-
Tidak Suamiku, kau tak akan pernah bisa adil dalam membagi hatimu. Karena keadilan tidak akan pernah berbanding lurus dengan membagi cinta. Akan selalu ada yang kecewa, tersisih dan kalah di dalamnya. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu pada suamiku yang sedang asyik bercengkrama dengan Ghazi. Aku tersenyum kepada mereka. "Kemarilah, Dinda. Bergabunglah bersama kami. Letakkan lah sejenak celemek mu itu." ujar suamiku.
Tak akan ada habisnya aku mencintai lelakiku ini. Lelaki cerdas nan tampan ini telah memikatku sejak pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini pun ia masih memikatku. Tak pernah sejengkal pun aku meragukan cintanya padaku. Namun aku pun memahami bahwa dihatinya yang luas itu tidak hanya ada namaku, ia telah membaginya pada wanita lain. Hanya saja aku tak tahu seberapa besar bagian yang telah diambil wanita itu.
Inilah rasa sakitnya terhianat cinta, lebih hebat dibandingkan rasa cinta itu sendiri.
"Apakah kau setia padaku, Dinda?" suatu malam suamiku bertanya padaku. Kala itu kami menikmati indahnya bintang setelah Ghazi terlelap, sepi namun hangat. Ia memelukku, dan aku berujar "Ya, Kanda. Hanya dirimu. Lantas... bagaimana denganmu?"
Ia tidak langsung menjawab, aku merasakan belaian tangannya pada rambutku berhenti beberapa detik. "Jika kau mengartikan setia adalah tidak sedetik pun aku berhenti mencintaimu, maka aku termasuk di dalamnya."
"Apakah bisa seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanyaku.
Ia menghentikan belaiannya, dan merenggangkan pelukannya. Ia pandangi wajahku lekat , "Kenapa Dinda pertanyakan hal ini ? "
Aku tersenyum, "Hanya bertanya. Jawablah"
Aku melihatnya berfikir. Aku telusuri wajahnya yang tampan itu. Matanya yang indah, dengan bulu mata nan lentik. Hidungnya terukir indah, dan garis bibirnya selalu membuatku terpesona kala tersenyum. "Ya, tentu bisa. Seperti aku mencintaimu dan Ghazi dalam waktu yang bersamaan...."
"Bukan. Bukan tentang aku dan Ghazi, kanda."
"Lantas?"
"Apakah ada wanita lain dihatimu selain aku? wanita selain diriku yang kau cintai. Wanita selain diriku yang menempati hatimu...."
Ilham terdiam, getir.
* * * *
Aku menyapu langkahku yang gontai, lemah. Aku tahu tak akan mudah menghapus semua kenangan yang terukir dalam diantara kita, manalah mungkin dapat aku musnahkan dari ingatakanku. Bahkan imajinasi terliarku adalah untuk dapat memilikimu, menyentuhmu, dan selalu mendekapmu. Tidak sedetikpun aku mampu melupakanmu, karena melupakanmu seperti tergelung oleh duri. Semakin aku coba lepaskan, semakin erat.
Maka aku biarkan namamu, cintamu, kasihmu bebas dalam aliran darahku. Bukankah di hati pula akan melekatnya?
Aku tidak tahu harus berharap apa padamu, karena tak pantas rasanya meletakkan harapan disana. Kita bukanlah merpati yang saling mengejar bebas. Kita seperti kisah lama namun tak akan usang. Maka biarkanlah seperti itu adanya.
Andaikan saja aku seperti pelangi, yang akan hadir disetiap hujanmu.
Sandingkan saja aku seperti matahari, yang cukup hangatkanmu dari jauh.
Cukup seperti itulah.... karna saat ini Tuhan bukan untuk kita.
Ginan membaca e-mail yang akan ia alamatkan pada Ilham. Berat rasanya untuk menghela nafas. Ia paham apa yang telah terjadi. Mungkin sudah terlalu lama Ginan masuk dalam kehidupan Ilham, mengoyak ketenangan yang seharusnya tidak ia usik. Ginan memandang dua wajah cantik di wallpaper laptop nya. Rasanya seperti setengah bernyawa saat harus melepaskan bayangan yang melekat dalam kehidupannya dalam kurun delapan tahun terakhir ini, namun inilah keputusan. Walaupun hati ini terlalu luas untuk hanya mencintai satu orang, namun dalam cinta tidak ada tempat untuk orang ketiga. Ginan harus melepaskan Ilham, walau tidak berarti melupakan.
Ma, Papa sudah di jalan bersama anak-anak. Tunggu di kantor ya, sebentar lagi Papa jemput.
Pesan singkat itu menyadarkan Ginan dari lamunanya. Segera ia menekan tombol sent pada menu email nya. Menutup laptop dan kemudian membalas pesan singkat suaminya. Mama tunggu ya Papa sayang...
Selasa, 21 April 2015
Persahabatan 3 Serangkai
PERSAHABATAN
Sahabat, teman, karib atau apalah istilahnya merupakan sosok yang dibutuhkan siapa saja didunia ini. Tentu saja, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa Tuhannya dan orang lain (untuk paham ini sedikit saya modifikasi ya, guys!) Sama seperti saya, yang tidak bisa hidup tanpa makhluk yang namanya sahabat.
Sahabat atau teman ini sama seperti cinta, ia seperti candu yang membuatmu ketagihan dan ingin terus bersama. Karena didalamnya lah kita bisa berbagi tawa, kesusahan, cerita dan mimpi. Jika kamu belum melakukannya kepada teman-temanmu, berarti mereka bukan sahabatmu. Sahabat saya kategorikan sebagai makhluk wajib dalam hidup sosial saya, ya ya ya tentu saja. karena mungkin hampir sebagian rahasia hidup saya ceritakan dan diskusikan kepada sahabat-sahabat saya ini.
kali ini saya akan bercerita tentang dua sahabat saya yang ada di foto ini.
Saya lupa bagaimana persabahatan kami bertiga bisa terjalin. Kira-kira dengan Titok dimulai sejak kami duduk di bangku SMA. saat itu kami duduk satu bangku. nah, sejak itulah kami mulai akrab. Mulai dari curhat, belajar , contek-contekan, dan menjahili oranglain. Persahabatan ini semakin akrab karena saya kerap kali menjadi mak comblang sahabat saya yang super cantik ini (blah, kalo si doi tau pasti senaaaang sekali saya memujinya). Titok pribadi yang lugas, cenderung pendiam tapi kalu sudah akrab dia itu lebih 'judes' dari yang kita kira, sedikit emosian, tapi baik hati. yup, emosi kami masih labil. hahahha. istilahnya, belum dewasa secara utuh.
Beralih ke Iznarita. Gadis cantik bertumbuh tambun ini bisa dikategorikan sebagai pribadi yang 9 betul! (jika dibandingkan dengan aku dan titok) dia ramah, cantik, alim (dibandingkan kami tentunya) , tidak pernah ngomong kasar, santun dan yaa... yaa... yaaa..... sejauh ini merupakan pribadi yang bersahabat dan menyenangkan. keakraban kami bermula saat kami harus menjalani masa-masa pemusatan latihan untuk menghadapi kejuaran nasional ditingkat pelajar, hanya beda jenis olahraga yang diikuti saja. Ita mengikuti tenis meja dan saya pencak silat. entah benang merah apa yang menghubungkan kami, saya lupa hingga akhirnya kami bertiga bersahabat nan akrab hingga sekarang menjadi istri dan ibu.
Ada kejadian lucu diantara kami yang tidak akan kami lupakan.
Terkisahlah pada saat itu kami sedang jalan-jalan ke Pantai Pasir Padi, hal wajib yang kami lakukan saat mereka berdua pulang ke Bangka saat libur kuliah. Saat itu kebetulan aku dan Titok sudah memiliki pacar, hanya ita yang masih jomblo. Lalu lewatlah kami di depan Biru Laut, restoran di pinggir pantai yang menjadi icon pantai pasir padi tersebut. Aku kemudian berkata : "Hei, siapa yang menikah dulu... pokoknya traktir ya." ucapku. :Ya, traktirnya di Biru Laut!" kata Ita. untuk anak kuliahan tentu makan di restoran itu tergolong mahal. "Wah, curang! kata titok." saat itu titok sungguh galau mendengar ucapakan kami. Tentu saja, saat itu titok merasa takut harus mentraktir kami karena saat itu ia lah yang memiliki hubungan serius dengan seorang pria yang telah mapan. Kamibertiga akhirnya sepakat akan janji itu.
Bertahun-tahun berlalu, akhirnya masa itu tiba. Namun apa yang kami bayangkan waktu itu jauh berbeda dengan apa yang terjadi. ternyata yang lebih dulu menikah adalah Ita!!!! Ya, siapa disangka! ita akhirnya melepas masa lajangnya lebih dulu dibanding kami. Aku dan titok tertawa lega. sangat legaaaa!!! karena akhirnya Italah yang ditasbihkan harus membayar janji itu. Baru kemudian aku yang lebih dulu menikah, dan Titok lah yang akhirnya terakhir.
Setiap berkumpul janji itu saja yang kami ulang-ulang pada Ita. akhirnya, janji untuk mentraktir kami terealisasi pada tahun 2014 setelah kami memiliki satu orang anak. Walaupun bukan di Biru Laut! :P
CERPEN 4
Tentang Crista
Oleh : Yulistia Akbari
Yuni berjalan menuju parkiran mobil.
Ditangannya banyak barang yang telah ia beli di supermarket hanya untuk sekedar melampiaskan amarahnya yang
tersisa walaupun ia tidak tahu apa yang harus dibelinya.
Ia
masuk kedalam mobil dan menutupnya. Kemudian menghela nafas panjang dan berat. Kenapa hal sekecil ini membuat pikiranku
menjadi kacau, batinnya.
Di
usianya yang menginjak kepala lima ia telah meraih apa yang belum tentu mampu
diraih oleh orang lain. Kedudukan yang terhormat, gaji yang lebih dari cukup,
suami yang setia dan baik, juga ia telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap
karena telah memiliki buah hati semata wayangnya, Crista, yang kini telah
menginjak usia 17 tahun.
Yang
menjadi pikirannya selama ini adalah anak perempuan semata wayangnya, Crista.
Gadis cantik jelita itu begitu memakan banyak pikiran Yuni diabnding dengan
pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Akhir- akhir ini Yuni merasakan perubahan
sikap Crista. Ataukah Yuni yang tidak bisa menerima keadaan Crista yang beranjak dewasa?
Saat
masih kecil Crista adalah anak yang sangat lucu. Paras manisnya yang berhidung
mancung dan lesung pipit membuat siapapun yang memandangnya akan merasa gemas.
Ditambah dengan sikap periangnya yang suka bercerita. Disekolah pun ia termasuk
anak yang pintar karena selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar
disekolahnya. Kecerdasan yang menurun dari Papanya, dan kecantikan yang menurun
dari Mamanya membuat Crista menjadi sosok yang sangat sempurna.
Namun
akhir-akhir ini Yuni merasakan perubahan pada sikap anaknya. Crista cenderung
lebih menutup diri dan sudah jarang bercerita mengenai hari-harinya kepada
dirininya. Crista lebih sering hang out
bersama teman-temannya. Lebih sering mengurung diri dikamar sambil mendengarkan
radio, browsing atau sekedar membaca
buku.
Dan
yang paling berubah dari diri Crista dalah ia mulai memiliki teman lelaki yang
sering datang kerumah setiap malam Minggu.
Entah
kenapa Yuni kurang merasa suka jika Crista harus memiliki hubungan dengan
lelaki disaat ia masih harus sekolah dan menuntut ilmu. Walalupun tidak bisa
dipungkiri di usianya yang belasan itu jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan
lawan jenis adalah hal yang sangat menyenangkan, karena Yuni juga pernah muda.
Tapi
ia tidak mau Crista terjebak lebih dalam dari yang seharusnya. Perubahan pada diri Crista membuat Yuni banyak
berfikir. Ia takut Crista terjebak dalam pergaulan yang salah yang dapat menghancurkan
masa depannya yang masih panjang.
Yuni
mulai melajukan mobilnya. Ia
mengikuti alur jalan yang bahkan ia tidak tahu harus kemana. ” Crista... ”
gumannya pelan.
Siang
tadi Yuni dan Crista bertengkar hebat.
” Mama pikir Crista tidak bisa menjaga diri?
Crista udah besar, Ma.” Kata Crista.
“ Iya, kamu memang sudah besar, tapi belum cukup
dewasa untuk bisa bersikap! Mama menghawatirkanmu karena Mama sayang padamu.”
“ Mama terlalu protektif! Apa salahnya Crista jalan bersama teman-teman. Toh nilai Crista di sekolah tetap
baguskan, Ma?! “
“ Tapi Mama tidak suka kamu berpacaran! Kamu masih
terlalu kecil!”
” Crista sudah dewasa, Ma! Teman teman Crista
semuanya juga sudah memiliki pacar, kenapa Crista tidak?! ”
” Tidak ada jawaban apa-apa untuk pertanyaanmu
itu, dan Mama tetap tidak mengizinkanmu untuk berpacaran disaat kamu masih sekolah!”
Crista
mengis dan segera masuk ke kamarnya. Selalu seperti itu. Seolah kamarnya adalah
surga kedua untuknya. Entah apa yang ia lakukan didalam kamarnya seolah ia
tidak punya waktu lagi untuk Mama nya.
Yuni
hanya merasa kesepian.
Mungkin inilah saat-saat tersulit yang harus Yuni
jalani dalam menghadapi anaknya yang sedang mengalami masa puber. Entahlah,
Yuni hanya merasa belum bisa menerima
dengan perubahan anaknya tersebut.
****
”Aku gak tau harus gimana lagi menghadapi Crista,
Ka.” Eka, sahabat yang selalu setia bersama Yuni. Tidak hanya sebagai rekan
kerja, tapi juga sahabat yang setia. Persahabatan yang telah mereka jalin sejak duduk di bangku perkuliahan.
Eka
menyuguhkan secangkir teh hangat, ”Diminum dulu tehnya. Itu hanya masalah pubertas, Yun. Bukankah kita dulu juga mengalaminya?”
” Tapi aku takut, Ka. Aku gak mau Crista salah
langkah. Aku takut.”
Eka diam sejenak dan mengalihkan pandangannya, ” Jangan
mengingat masa lalumu, Yuni. Aku tahu ini semua ketakutanmu.”
Yuni hanya terdiam.
Eka
benar. Sikap Yuni yang protektif dan berlebihan kepada Crista adalah wujud
ketakutannya atas semua kesalahan yang pernah Yuni lakukan di masa lalu. Yuni
kembali terbayang dengan kejadian di masa lalu, saat ia masih remaja.
Sama
halnya dengan Crista, di usia yang ke tujuh belas tahun Yuni mulai merasakan
jatuh cinta. Betapa indahnya perasaan yang ia miliki saat itu. Faisal. Nama
lelaki itu Faisal. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih. Senyum
manisnya dan tatap matanya yang tajam bagi Yuni adalah mantra terhebat yang
diberikan alam untuknya. Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu ia adalah
murid pindahan di SMA, Yuni sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak hanya wajahnya
yang manis itu yang membuat Yuni terpesona, tetapi lelaki kurus tinggi itu juga
memiliki tutur kata yang indah juga pintar. Yang
paling membahagiakan adalah ternyata ia juga menaruh hati pada Yuni. Dan pendek
kata, mereka pun menjalin cinta.
Cinta masa remaja memang
adalah cinta yang paling penuh dengan bunga-bunga. Begitupun apa yang Yuni
rasakan bersama Faisal. Kebersamaan dan kebahagiaan tiada duanya. Dan ternyata
kebersamaan itu membuat mereka terlena. Dan hal paling ternista pun terjadi
diantara insan remaja tersebut.
****
Masih
lekat dalam ingatakan Yuni saat orangtuanya memperlihatkan wajah berang. Papa memukul Yuni
dengan sebalok kayu yang entah ia dapatkan dari mana. Dan Mama hanya menangis
penuh dengan kesedihan saat mengetahui dirinya hamil. ”Papa tidak sudi punya
cucu diluar nikah! Dasar kamu
anak tidak tahu diuntung! Dasar tidak bisa menjaga diri! Mau jadi apa kamu?!” masih terngiang dan tak akan Yuni lupakan
perkataan Papa yang sangat menyakiti hati. Tapi ia hanya bisa diam dan menerima pukulan dari
Papa. Karena aku yang salah.
Papa
tidak sudi nama baiknya tercoreng dihadapan keluarga besar, akhirnya bersama
Mama dan Papa, mereka pergi ke luar kota dengan satu tujuan : menggugurkan
kandungan. Dan sejak hari itu, Yuni
tidak pernah lagi bertemu Faisal.
Teman-teman bilang, ia kembali pindah sekolah. Tapi, belakang Yuni tahu
bahwa Papa memanfaatkan kekuasaanya untuk membujuk Kepala Sekolah memindahkan
Faisal dari sekolah kami, entah bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Papa bisa melakukan apa saja demi
harga diri dan kehormatan.
Setelah
aku menggugurkan kandungan, waktu berjalan begitu mengambang bagi Yuni. Cinta
yang hilang tak tahu dimana. Memang harga dirinya terselamatkan, Yuni si gadis cantik
nan anggun. Wanita baik-baik dari keluarga terhormat. Tapi tak satu pun yang
tahu bahwa ia pernah mengandung dan
melakukan aborsi, kecuali Mama, Papa, Fasisal mungkin. Tapi Tuhan tahu. Hidup
Yuni berjalan sebagaimana adanya, tepatnya seperti yang Papa inginkan. Kuliah,
menikah, dan sukses.
*****
Dibangku
kuliah Yuni bertemu dengan Eka. Sosok supel, cerdas dan ramah adalah sahabat terbaik
yang aku punya. Melalui Eka lah Yuni bertemu dengan Anggara. Dan mereka pun
menjalin kasih. Saat hubungan mereka terasa semakin serius, Yuni pun memutuskan
untuk jujur kepada Eka dan Anggara tentang masa lalunya. Dan ternyata Tuhan masih menyayangi Yuni, Angga
dan Eka menerima masa lalunya dengan ikhlas walaupun awalnya tampak shock. Tapi, semuanya baik-baik saja bahkan
Anggara melamar Yuni dan telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun,
tanpa pernah mengungkit masa lalu.
”Kamu
gak bisa mengekang dia atas perubahan alami itu. Hanya butuh cara yang tepat.” Eka
berkata dengan santainya.
” Caranya bagaimana, Ka... aku bingung.”
” Dengan jujur, katakan ketakutanmu. Dan berikan ia alasan yang logis, jangan
hanya berkata tidak tanpa memberikan alasan yang bisa ia terima. Crista itu
cerdas, ia tidak akan menerima peraturan tanpa tahu tujuannya. Lagipula, siapa
sih yang bisa menahan perasaan jatuh cinta. Ingat, Crista itu masih 17 tahun.”
Lama
Yuni diam. Akhirnya rasa haus menggerogoti, teh manis yang sudah dingin itu pun
ia minum. ”Kamu benar, Ka. Aku harus jujur pada Crista.
****
Malam
menunjukkan pukul delapan. Anggara belum juga pulang dari kantor, macet membuat
ia terlambat. Dan Crista seperti biasa berada di dalam kamarnya. Ragu Yuni
melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi poster Spiderman, entah kenapa
gadis secantik Crista menyukai pahlawan laba-laba ini. Ia menarik nafas panjang, dan mengetuk pintunya. ”Crista, ini mama. Mama mau bciara,
boleh?” Diam. Tak ada sahutan. Tapi setu detik kemudian
pintu terbuka, ”Masuk ma.”
Yuni
memasuki istana pribadi Crista dan duduk di atas tempat tidurnya. “Tentang
peraturan mama yang ngelarang kamu pacaran.” Aku memulai pembicaraan. Crista
diam sambil memandangiku, penuh tanya.
“Ada alasannya, Crista. Mama gak mau sekolahmu terganggu.”
“ Tapi Crista tetap di tiga besar kan ma?”
Crita meyakinkan diri. Ya, Yuni tahu. Siapapun tidak akan bisa menampik
keenceran otak Crista.
“ Siapa nama pacarmu?” Yuni kembali
bertanya.
“ Baru pdkt kok ma,” jawab Crista. Ada sedikit kelegaaan
” Ada yang ingin mama ceritakan kepadamu, dan
Mama harap kamu sudah siap menerima cerita Mama.”
Dan
aku mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun silam pada Crista.*
****
”Aku menceritakan semuanya pada Crista, Mas.” Kata Yuni pada Anggara
malam ini, saat hanya berdua ditempat tidur. Anggara memandangnya heran.
“Tentang masa laluku, yang pernah aborsi.” Lanjutnya.
“ Kenapa, sayang? Apa yang terjadi
hingga kamu menceritakannya pada anak kita?”
“Crista sudah mulai jatuh cinta,
Mas. Dan kami bertengkar hebat karena aku melarangnya pacaran. Aku takut
kesalahan yang terjadi di masa lalu terjadi kembali kepada anak kita. Aku gak
mau, Mas. Aku takut.”
Anggara masih memandangku lembut, keteduhan hati yang ia pancarkan. Aku
melanjutkan cerita,
“Akhirnya aku jujur pada Crista,
ketakutan yang aku rasakan.”
“ Bagaimana reaksinya?”
“ Crista ternyata memiliki gen-mu
lebih dominan, Mas. Ia menerima ceritaku, seperti halnya ia menerima ku. Crista
berkata bahwa baginya aku adalah mama terbaik yang ia punya. Dengan atau tanpa
kesalahan di masa laluku. Seperti yang kamu katakan waktu melamarku, mas.”
Dan
Anggara memeluk Yuni dengan hangat malam itu. ia bahagia. Sangat bahagia.
****
Crista
mendekati Mamanya yang sedang memotong bonsai. Yuni berhenti sejenak dan memandangnya,
”Ada apa, sayang?”
”Ma, Crista gak mau pacaran.”
“Lho kenapa?”
“Cowok gak bisa dipercaya.”
“Lho..lho, kenapa sih?”
“Crista nyaris aja jadian sama Hari kalo
gak keburu ketauan kalo ternyata dia ceweknya banyak. Amit-amit deh ma pacaran
ama playboy.”
Yuni tersenyum. “Artinya Tuhan masih
sayang sama Crista. Crista masih dilindungi dari orang jahat.”
“Iya Ma, tar aja pacarannya. Kalo Crista
udah cukup gede. Sekarang mau sekolah aja dulu.”
Yuni
memeluk Crista erat, dan mencium pipinya.
“Crista mau dapet jodoh kaya Papa.”
Yuni tersenyum memandang Crista
yangcantik, “Pasti, sayang. Bahkan yang lebih baik dari papa.”
Sore
itu terasa sangat indah untuk Yuni
Maret
2011
CERPEN 3
FAISAL
Oleh Yulistia Akbari
Pukul 07.35 wib
Aku terjebak di perempatan menunggu
giliran untuk bisa melewati rute macet ibukota ini. Setidaknya traffic light yang sudah kehilangan
warna kuning itu berkenan membantu kelancaran lalu lintas yang semakin semerawut.
“Koran Yuk, koran Yuk.” Makhluk mungil menawarkan harian pagi di
tangannya. Dekil, hitam, kecil dan pakaiannya sedikit kotor terkena debu.
Sepersekian detik aku mencoba meneliti wajahnya yang tampak polos, wajah khas
anak-anak, seperti belum mengerti makna dari kehidupan yang akan ia hadapi
esok. “Berapa, Dek?” tanyaku. “Dua ribu, Yuk.”
Ia menatapku, seperti ada yang tertohok di jantung ini. Aku mengeluarkan
lembaran lima ribu rupiah, “Satu ya. Kembaliannya untukmu.” Aku menyerahkan uang tersebut sambil
tersenyum. Si Adek, begitu aku menyapanya, tersenyum sambil menyerahkan harian
pagi ke tanganku, “Terima kasih, yuk.”
Dan lampu hijau menyala, klakson
mobil dan motor bergema dibelakang ku.
Menandakan aku harus menancapkan gas dengan segera. Aku membalas tatapan
terima kasih si Adek dengan senyum.
****
Selalu seperti itu setiap pagi.
Setiap hari aku akhirnya selalu
bertemu dengan si Adek di perempatan jalan raya itu dan sejak saat itu aku
menjadi pelanggan tetapnya. Pelanggan perempatan, karena memang perempatan itu
adalah salah satu rute yang aku lalui untuk pergi ke kantor. Entah apa yang
menyebabkan aku merasa iba dengan keadaan si Adek, sampai saat ini aku belum
sempat menanyakan namanya karena trafficlight
seringkali tidak bersahabat denganku, membuat aku terkadang harus terburu-buru
melewatinya.
Adek, sosok kecil dengan badan
kurus, kulitnya hitam karena terpanggang sinar matahari, rambut lurusnya yang
hitam kemerah-merahan, wajahnya biasa saja hanya mata dengan bulu yang lentik
itu membuat wajahnya terlihat manis. Senyumnya, aku suka senyumnya yang tulus
dan cerah itu. Setiap melihat ia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, ada
getar hangat di hati ini. Aku melihat ketulusan disana, rasa terima kasih tanpa
batas hanya kerena aku membli koran yang ia jajakan.
Sesampainya di kantor, aku
menghidupkan laptop. Tapi ada sesuatu yang menganggu benakku. Aku memikirkan
Adek. Aku bukannya jatuh cinta dengan anak laki-laki berusia sekitar sepuluh
atau sebelas tahun, setidaknya aku bukan pedhofilia.
Tapi ada perasaan tertentu. Sedih, simpati dan kagum. Sedih karena pada usianya
yang masih kecil itu, ia harus menjajakan koran diperempatan dengan tubuh dekil
serta menghirup debu jalanan yang tentu membuat paru-parunya kotor.
Memperkerjakan anak dibawah umur?
Rasanya undang-undang sudah melarang anak dibawah umur untuk bekerja. Kewajiban
mereka adalah sekolah. Dan kenapa setiap
pagi ia menjajakan koran? Dan rasa simpati dan kagum hadir saat aku memandang
wajahnya. Yang terpancarkan bukanlah kesedihan atau penderitaan. Tapi ada
semangat dan keyakinan, entahlah, ada secercah harapan yang ia miliki. Mungkin.
Atau, ia bahagia dengan keadaanya sehingga melupakan kegetiran yang ia hadapi.
Apa yang menyebabkan si kecil Adek menjadi penjaja koran, tanpa sekolahkah,
atau tanpa orangtua? Atau itu yang dinamakan takdir?
Tanpa sadar aku telah
memandangi screensaver laptop sambil melamun. Banyak sekali pertanyaan yang
bergumul di otakku hantya karena sosok yang tidak ku kenal itu.
****
Hari ini hari minggu pagi, waktunya
berolahraga. Aku bersepeda mengelilingi komplek rumah dan tiba-tiba terbesit
dibenakku untuk menuju perempatan berharap aku bertemu dengan si Adek, aku
ingin mengajaknya ngobrol. Ku kayuh
sepeda dengan semangat, mungkin rasa penasaranku akan terhapus. Dan aku
bersyukur saat berada di dekat perempatan itu aku melihat sosok Adek yang
sedang menawarkan koran kepada para pengendara motor di perempatan. Aku
mengayuh sepeda lebih dekat dan ke tepi jalan. Ia melihatku, dan tersenyum,
lalu mendekatiku. “Koran, Yuk?”
tanyanya.
“Yup, dan semangkuk bubur ayam.
Boleh nambah, mau? Ayuk tau warung
bubur yang enak didekat sini.” Jawabku.
Ia tertegun sepersekian detik, “Gratis Yuk ya?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Oke.”
Dan ia berjalan disampingku yang
juga saat ini hanya berjalan sambil menuntun sepeda. Pemandangan yang cukup
kontra pagi itu, setidaknya terlihat cukup banyak mata pengendara motor dan
orang-orang dipinggir jalan melihat kami berjalan berdampingan. Dan sampailah kami di warung bubur “Bu Syam”. Setelah memesan dua porsi bubur dan dua teh
botol, kami pun duduk. “Ada apa ya, Yuk?”
tanyanya. Dan aku tersenyum, banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
****
Nama si Adek adalah Faisal dan baru
kemarin ia berulang tahun yang ke sepuluh,
seperti perkiraanku. Ia lahir di salah satu kabupaten yang ada di pulau ini
dengan kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Ayahnya adalah seorang petani
karet yang tidak memiliki lahan, hanya menggarap kebun milik oranglain dengan
upah yang tidak mencukupi mereka sekeluarga. Faisal memiliki dua orang adik,
laki-laki dan perempuan dengan usia yang tidak berjarak jauh, masing-masing
satu tahun. Dan yang paling miris adalah, Ibu Faisal meninggal setelah
melahirkan adik bungsu mereka. Awalnya, Faisal masih masih sempat merasakan
bangku sekolah, tapi hanya bertahan selama satu tahun dengan baru mengenal
angka dan huruf. Kondisi perekonomian yang kurang baik, dibawah rata-rata
malah, membuatnya terpaksa membantu sang
ayah dalam menjaga adik dan mencari nafkah.
Kemudian, datanglah seorang teman
menawarkan sang ayah untuk mencari lapangan pekerjaan lain yang lebih
menghasilkan uang banyak dibanding menggarap karet, apalagi harga karet sekarang
sedang turun, otomatis upah sang ayah semakin menurun pula. Teman ayahnya itu
mengajak sang ayah untuk ber-TI (tambang
inkonvensional) dengan iming-iming
akan mendapatkan hasil yang lebih lumayan. Maka, pergilah sang ayah bersama
temannya menuju desa teerpencil diseberang laut untuk mengeruk hasil bumi yang
memang melimpah di pulau ini, dengan satu tujuan : memperbaiki kondisi
perekonomian mereka. “Nanti biar Abang dan adek-adek bisa sekolah lagi, jaga mereka
ya, Bang? Ayah titip sama Abang.” Itu ucapan sang Ayah ketika akan pergi
bersama temannya untuk ber-TI.
Faisal bertahan tanpa ayahnya
dengan membantu tetangga yang memiliki warung bakso disamping rumahnya. Ayahnya
memang menitipkan sejumlah uang, tapi uang tersebut sudah ia belikan beras dan
minyak tanah, peninggalan uang yang tidak seberapa memakasa bocah berusia belum
genap sepuluh tahun waktu itu, untuk bisa memikirkan nasib tiga perut kecil. Ia
sendiri, dan kedua adiknya. Mungkin ini yang membuat Faisal terlihat lebih
dewasa, pancaran kepribadiannya. “Lumayan yuk, bisa makan bakso tiap hari. Ical
dan adek jadi tidak begitu kelaparan.
Kalau bosan makan bakso, kita makan nasi
sama pucuk ubi. Ada batang ubi
ditanam Ayah di belakang rumah.” Paparnya sambil menyedot teh botol dengan nikmat.
Sudah hampir satu bulan ayah Faisal
tidak pulang, tanpa kabar. Kemudaian, Faisal mendapat kabar bahwa ayahnya
meninggal, tertimbun pasir TI. Sekelompok orang datang kerumahnya keesokan
harinya dengan membawa jenazah ayahnya, dan memberikan sejumlah uang untuk Faisal.
Ia tidak menangis, kedua adiknya terisak. Tapi Faisal meneguhkan untuk tidak
menangis. Tekadnya kuat, ia tidak akan menangis, setidaknya didepan kedua
adiknya. Dan satu tekad kembali muncul, ia harus melindungi dan menjaga kedua
adiknya. Agar tidak miskin seperti ayahnya, adiknya harus sekolah.
****
Aku pun sulit mencerna cerita yang
ia paparkan padaku, anak berusia sepuluh tahun dengan tekad menyekolahkan adiknya,
alangkah ajaib. Sedangkan banyak sekali aku menemukan mereka, orangtua, dengan
umur yang sudah dewasa malah tidak bertekad menyekolahkan anaknya karena satu
alasan yaitu tidak ada uang. Sedangkana bocah ingusan ini malah menjadikan
kondisi perekonomian sebagai pemicunya untuk membahagiakan dan menyukseskan
adik-adiknya. Sulit untuk tidak menahan airmata ketika dia bercerita.
Dan akhirnya, berbekal uang seadanya
dan ajakan seorang amang di desanya
yang memiliki usaha distributor oli di ibukota, maka pergilah Faisal ke kota,
adik-adiknya dititipkan kepada salah satu sanak keluarga yang menawarkan diri
untuk merawat mereka. Faisal bersyukur atas tawaran tersebut, dan dengan senang
hati. Sesampainya Faisal di kota, ia bekerja
dengan rajin di kantor Mang Dul, begitu ia menyapa amang tersebut sebagai ,tukang-bersih kantor. Faisal yang memang
rajin bekerja serta keprihatinan hidup yang ia alami membuat Mang Dul memberikan gaji yang lumayan
untuknya. “Lumayan Yuk, seminggu sekali Ical pulang ke kampung, atau dua
minggu, Ical titip uang untuk adek-adek, untuk uang sekolah dan makan. Yang
penting uang sekolahnya Ical bayar terus. Untung, bibik yang jagain adek-adek itu baik sekali yuk. Ngomong-ngomong, nama ayuk
siapa, yuk?”. Aku menggigit krupuk
lalu berkata, “Tia, nama ayuk Tia”.
Dan demi menambah penghasilan, ia
menjadi penjual koran. Ia bekerja dari jam enam pagi hingga pukul sembilan. Dan
setelah itu Faisal pergi ke kantor milik Mang Dul untuk bekerja. Malamnya,
ternyata, ia jadi tukang parkir disalah satu sudut kota. Bahkan untuk bermain
ia kehilangan rasa. “Lebih baik nyari uang yuk untuk adek-adek, yuk.” Katanya seraya menuntaskan bubur
ayam dihadapannya. Penasaran aku bertanya, “kenapa sih Ical memilih bertekad
menyekolahkan adek-adek? Kenapa sekolah?”.
Dia memasukkan sesendok bubur
kemulutnya lalu menjawab, “Ical nonton di film Laskar Pelangi yuk, kalo pinter
sekolah, jadi sukses. Malah bisa pergi ke Paris.”
****
Di Pulau yang dinobatkan sebagai
salah satu Provinsi yang sejahtera ini, dengan angka kemiskinan terendah,
ternyata aku menemukan fenomena langka yaitu warga yang benar-benar miskin, dan
berjuang melawan kemiskinannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan
terhadap Ical, kini aku menyapanya dengan Ical, selain setiap pagi membeli
koran yang ia tawarkan. Kadang aku memberinya sedikit uang untuk ia dan
adik-adiknya. Jika sedang libur, kerap aku mengajaknya makan bubur di warung Bu
Syam.
Satu hal yang aku rasakan, betapa
aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku miliki. Keluarga yang bahagia dan
orangtua yang lengkap, pekerjaan yang baik, dan tentunya kondisi perekonomian
yang baik pula. Dibandingkan dengan anak sekecil itu yang harus berjuang setengah
mati demi satu tekad menyekolahkan adiknya, usahaku selama ini tidak bermakna
apa-apa. Dan alangkah mirisnya jika akau harus mengeluh atas apa yang telah aku
miliki. Dan cerita Ical mengajarkan aku tentang rasa syukur, semangat dan
tekad. Terima kasih Ical. Dan tetap semangat!!
Pangkalpinang,
24 Maret 2011
*Cerpen ini dimuat di Bangka Pos pada bulan April 2011 dengan diubah Judul menjadi "Ical"
CERPEN 2
Awan, Si Mata Elang
Oleh : Yulistia Akbari
Akhir-akhir ini aku selalu terbangun dalam
keadaan berfikir. Lebih tepatnya memikirkan seseorang. Aku tahu, seharusnya
tidak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjalani kehidupanku dengan
normal-normal saja. Dan seharusnya perasaan ini tidak ada.
Tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku
selalu membayangkan orang itu. Wajahnya, tingkahnya dan juga bagaimana setiap
perkataanya yang membuatku tertawa. Aku suka setiap sudut ciptaan Sang
Mahakarya ini, semua titik seperti sempurna dimataku. Dan yang paling aku suka
adalah mata elangnya. Kadang aku akan tersenyum sendiri saat melihat gayanya
bercanda yang sering membuatku terpingkal.
Aku tau, aku telah jatuh cinta. Jatuh
cinta kembali padanya. Ia, cinta masa sekolahku, saat kami masih mengenakan
seragam putih abu-abu. Sudah cukup lama, aku kira rasa itu telah menghilang
seiring waktu mengalir. Ku kira, jarak juga sudah melenyapkan keinginan itu.
Tapi semuanya kembali, saat aku menemukan ia kembali datang.
****
Hari itu langit terlihat mendung,
tapi kami memutuskan untuk pergi ke pantai berdua, hanya sekedar duduk dan
bercerita. Kebiasaan yang kami lakukan saat ia pulang di musim liburan
kuliahnya. Dan sampailah kami di pantai
sejuta umat, Pasir Padi. Kami duduk disalah satu pondok sambil menikmati es
kelapa muda.
"Jadi, sekarang kamu sudah punya
pacar? Kok bisa?" Tanyaku sambil bercanda. Ia menggerutu kesal karena
ledekanku, "Ya iyalah, karena aku tampan." Balasnya tak mau kalah.
Selalu seperti itu, setiap pertemuan akan kami isi dengan candaan,
pertengkaran, kadang-kadang curahan hati tentang kisah cinta. "Namanya Jingga, ia
adik tingkatku. Orangnya biasa saja, tapi cukup menarik." Itu katanya saat
memulai kisahnya padaku. "Oh ya? Namanya bagus. Aku suka.". Walaupun
dalam hati, aku ingin bilang, “Sebenarnya
aku tidak suka. Tidak suka sama sekali”.
Petir menggelegar, dan hujan deras
pun turun. Pondok tempat kami bernaung ini hanya melindungi tubuh sekedarnya
saja dari percikan hujan yg turun. Aku pun merapat padanya. Karena tak ingin
basah dengan hujan, juga karena aku ingin lebih dekat dengannya. Saat itu, aku
berkata dalam hati "Terima kasih
hujan".
Dan sore itu kami bercerita dalam
keadaan hujan, sekaligus duduk berdekatan. Rapat sekali. Ia meneruskan
ceritanya tentang Jingga, "Tapi sayangnya, aku selalu membuat dia
bersedih." Aku menyeruput es kelapa dihadapanku dan bertanya, "Kenapa?
Bukankah kamu menyukainya?" Ia menarik nafas panjang, "Aku tidak bisa
bersikap romantis." Jawabannya yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
Ia membuatku merasa lucu, ya ya ya,
aku tau bagaimana si mata elang ini tidak bisa merangkai kalimat cinta, merayu
wanita ataupun menggombali wanita. Ia terlalu apa adanya. Terlalu kaku.
"Lantas, bagaimana kalian bisa berpacaran?" Tanyaku. "Ia yang
mengutarakannya lebih dulu." Jawabnya. “Dan kebetulan, kamu juga
menyukainya. Wow, beruntung sekali dirimu.” Aku menimpali, ia tidak menjawab.
Kembali kami diam. Sore itu hujan
semakin deras, petir semakin menjadi-jadi, "Wan, kalo tiba-tiba terjadi
tsunami, kita orangg pertama yang kena lho." Gumanku, dan langsung
mendapatkan jitakan dikepala. "Ngomong sembarangan, lagi dipinggir pantai
nih!" Dan aku hanya bersungut-sungut kesakitan karena jitakannya dari
tangannya yang kekar. Dan selama hujan itu, ia bercerita tentang si Jingga
kepadaku. Sejujurnya, aku tidak begitu memperhatikan ceritanya tentang Jingga.
Karena yang ingin aku rasakan adalah saat kami berdekatan, saat kami serapat
ini, saat aku bisa merasakan bahwa kulitnya hangat sekali.
Awan. Dia adalah sahabatku. Sekaligus
orang yang sangat aku cintai. Kepadanya aku selalu bercerita tentang
kesusahanku, tentang rahasia-rahasiaku, dan tentang semua yang aku lalui. Tapi
ia adalah orang yang terakhir yang ku harap tahu tentang perasaanku padanya.
Aku tidak ingin, perasaanku ini merubah kebersamaan kami yang telah lama dalam
ikatan persahabatan. Ia sangat dekat denganku, tapi sebetulnya sangat jauh.
Awan, masih saja ia bercerita tentang
Jingga yang memaksaku untuk berwajah cerah saat mendengarkan kisahnya, miris
bukan? Tapi aku selalu suka mendengarkan Awan saat bercerita, karena aku bisa
menjelajahi wajahnya saat melihatnya bercerita. Mata elangnya, dengan alis
hitam tebal. Juga bulu mata lentiknya. Aku juga menjelajahi hidungya yang
mancung dan bibir penuhnya yang selalu tersenyum itu. Aku suka. Suka sekali.
"Aku tidak tau bagaimana
hubungan kami nanti. Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan kuliahku. Dan akan
kembali kesini. Bekerja disini, mungkin"
"Hubungan jarak jauh bukan hal
yg mustahil,wan. Asal saling percaya"
"Dekat saja jarang aku
mendatanginya, apalagi jauh berseberangan laut."
"Ya kalau cinta, harus
diperjuangkan."
Awan diam, menatap laut.
"Entahlah."
Aku pun balas diam karena tidak bisa
memberi solusi, "Nikmati saja setiap detik kebersamaan. Apalagi jika kita
tahu bahwa akan sulit bersama dengan orang itu. Selama kesempatan dan waktu
masih ada." Aku seperti mengucapkan kalimat itu pada diriku sendiri.
"Ya, kau benar. Mungkin hanya
itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini."
"Jika ia memang ditakdirkan
untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya. Tapi, jika ia bukan takdirmu,
sekuat apapun mempertahankan, ia akan lepas."
Ia sahabatku, sebagai sahabat aku
harus membesarkan hatinya dan menyemangatinya. Karena itulah kewajiban sahabat.
Walaupun sahabat dihadapanku ini adalahan lelaki yang aku cintai. Cinta, tidak
boleh merusak persahabatan. Karena itu, perasaan cinta untuk Awan tak pernah
aku utarakan, sebesar apapun itu, karena aku takut kebahagiaan kami selama
menjadi sahabat ini akan lenyap dan hilang. Biarlah cinta ini ada dihatiku, dan
aku nikmati sendiri. Seperti kataku kepada Awan bahwa "Jika ia memang
ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya".
"Hujan sudah reda, bagaimana
kalau kita melihat orang menjaring ikan disana?" Ajaknya.
Dan kami berjalan ditepi pantai,
dibawah rintik hujan. Seperti sepasang kekasih, kami bergandengan menuju pantai
menghabiskan waktu sore itu bersama. Semuanya, sudah cukup membahagiakanku.
Aku mendongak keatas, langit terlihat
menampakkan kecerahannya. Dan awan putih, sedikit demi sedikit bermunculan.
Pangkalpinang, Desember 2011
CERPEN
Nasehat Ibu
Oleh : Yulistia Akbari
“Bangun la Dek! Lah jam berape neh, leteh Ibu ni milang kek ikak bangun
la pagi-pagi. Jangan bangun siang macem ni. Ka tu bini nya, masak kelak ka
belaki nek macem ni la. Bangun siang teros!” suara
petir pun mungkin kalah besarnya dibandingkan suara Ibu
pagi ini. Hampir setiap
pagi Ibu akan mengeluarkan “nyanyian
merdu” itu, begitu aku menjulukinya. Tapi jika
tidak mendengar suara itu, boro-boro
aku akan berangkat dari tempat tidur,
malah aku akan semakin semangat menina-bobokan diriku.
Dan dengan mata yang masih berat, badan
yang masih lesu dan rasa dingin yang menjalar, aku akan memaksakan diri beranjak
dari pembaringan, semalam
aku baru tidur jam empat pagi.
Aku
lihat Ibu sedang mencuci piring di dapur, “Lah
besak-besak, dak kene-kene
dibilang. Jam berape ari ni. Agik gadis
dulu dak de Ibu macem ka ni dak, Dek. Dirik tu la besak, bantulah Ibu ini. Badan Ibu ni dak kuat agik
lah.” Oke, sepertinya iklan pagi akan
berlanjut menjadi FTV pagi atau ceramah spiritual.
Aku ke kamar
mandi dan cuci muka, lalu menuju meja makan. Mencomot pisang goreng dan
menenguk teh hangat buatan Ibu.
“Nyamen ok, bangun tiduk langsung makan.
Cem mane kelak
ka lah belaki Dek, dek. Anak ka nek sekolah, laki ka
nek
begawe. Masak ka nek bangun siang macem ni.
Heran bener lah ku kek ikak ni. Diajar, la diajar bangun pagi. Tapi dak
pacak pacak la. Jadilah beinternet tu,
ku cabut ku kelak e!!!” Ibu mulai marah-marah.
Dan aku tidak menyahut apa-apa, soalnya jika perkataan Ibu itu dijawab sedikit
saja atau pun dibantah keabsahanya, bisa-bisa terjadi Perang Dunia 13.
Aku
beranjak dan mengambil sapu, kemudian mulai menyapu rumah. Hanya itu yang bisa
meredakan amarah ibu saat ini, membersihkan rumah. Lumayanlah, untuk sementara
suara Ibu yang membahana
terdengar sayaup-sayup menghilang.
####
Kali
ini ada materi lain yang Ibu jadikan bahan “ceramah
spiritual”, yaitu :
susana kamarku. “Urus la Dek Dek kamar ka tu. Tempet tiduk
belambur macem kapal pecah. Bersih sehari, belambur e seminggu. Dandan men
keluar dak salah-salah bedeliw e, bidadari ge kalah wangi e. Men ditingok kamar
e, Tuhan la tahu e.” Kali ini nada Ibu tidak begitu tinggi seperti pagi
tadi, sedikit santai karena sambil menonton sinetron yang paling tidak aku
sukai. “Kelak ken cerita e adek orang
kayo, Bu. Pembantu banyak kek ngeringkes e.” Jawabku sambil bercanda.
“Kajin sek jadi orang kayo, dak kek ade kamar ge nek pembantu ngurus e.
Cem mane tah ka ni men belaki kelak, kamar ka belambur, gancang ditinggal kek
laki kelak e”.
“Wew, Bu.
Jahat ge doa ibu kek Adek ni.” Protesku, ada juga sedikit ke khawatiran, kan
perkataan Ibu itu didengar Tuhan.
“Bukan,
sege
dak
kene-kene dibilang. Dirik tu bini, pacak-pacak la ngurus rumah, kamar
diringkes, bangun tu
pagi-pagi. Umur ka tu lah besak la dek, tahun ni la due puluh due, masak nek
macem ni la. Ibu ni la makin tue, leteh begawe di kantor, leteh begawe dirumah.
Dibantu la ibu ni, jangan la pemales macem ni.”
Kalau
Ibu sudah mulai mengeluarkan preambule
nya, aku akan dengan wajah sumringah
mengambil tumpukan baju yang sudah kering dari jemuran, dan melipatnya sambil
menemani ibu menonton sinteron yang membosankan itu.
Ibu
adalah sosok Ibu rumah tangga yang sempurna
sebenarnya. Masakannya enak, pintar mengurus rumah, dan juga sangat telaten terhadap
keluarga. Tapi, takdir
mengharuskannya menjadi salah satu pegawai negeri. Dan yang paling menyedihkan
adalah, aku menjadi anak perempuannya yang ia didik agar menjadi seorang wanita
sesungguhnya, hanya saja, entah kenapa gen yang ada ditubuhku menolak mentah-mentah
semua yang diharapkan ibuku. Yang terjadi adalah, aku tidak suka memasak-
walaupun bisa. Aku tidak suka membersihkan rumah- bisa, tapi malas. Aku juga bukan anak penurut-kalem-manis
seperti yang diidam-pidamkan Ibu. Tapi, terlepas dari semua protes Ibu terhadap
sifatku yang amburadul ini, aku tahu
Ibu sangat sayang kepadaku. Dan aku pun begitu, aku sangat mencintai Ibu dari
apapun di dunia. Ibu yang senyum dan tawanya selalu menceriakan, Ibu yang
pelukanya selalu menghangatkan, Ibu yang setiap hari selalu mencium pipi dan
mengucapkan rasa sayangnya padaku, Ibu yang rela memberikan dunia-andai ia
bisa- kepadaku. Ibu, adalah segalanya.
####
Pangkalpinang membara alias panas
terik sedang melanda, aku baru saja mengangkat pakaian kering di samping rumah.
Lalu mandi dan berdandan, siap untuk mengelilingi ibukota bersama dua sahabatku
nanti sore, Hari dan Jo.
“Nek kemane, Dek?” Tanya ibu.
“Biasa Mam, jalan jalan.” Balasku tanpa
mengalihkan wajah dari cermin.
“Bejalan, trus. Dak sua aben mateh dirumah.
Kawan laki bai ude e. Pagi kek ni, siang kek ni, malem kek ni.”
Hduuh, mulai deh
si Ibu mengomel. Perasaan tiap hari ada saja materi omelan Ibu. “Dak tau la Bu, takdir e kawan adek laki semue.”
“Aokla, tapi dak seger ditingok tetangga rumah ni. Siang,
malem laen-laen jemput e. Orang yang nek dirik bener-bener kelak e ge mikir
mikir men adek gati digonceng orang laki.”
“Ya ampun Bu, tu Hari kek Jo,Bu. Ude ge, kawan adek
mane ade orang bini ge bu. Men ade ge,
tuh, la diluar pulau Bangka gale. Sege tu lah, Adek nek kuliah diluar dak
jadi.”
“Kajin e sek, Dek. Tapi dak usah nue igak bekawan kek
orang laki tu.”
Aku membalikkan
badanku dan berkata, “Ibu sayang, Ibu
tenang bai la pokok e. biar kawan adek laki semue, dyorang baek dan adek pacak
jage diri.”
Lalu klakson motor
terdengar. Aku mencium pipi Ibu dan menyambut kedua sahabatku.
####
Itu kejadian dua puluh lima tahun
yang lalu, saat aku masih bisa menyepelekan setiap perkataan Ibu. Sekarang aku
mengerti setiap makna perkataan Ibu, kenapa seorang wanita harus bisa memasak,
harus bisa mengurus rumah, harus bisa menjadi perempuan yang baik karena pada
akhirnya wanita harus menjadi seorang istri dan ibu.
Semua perubahan terjadi saat aku
menikah dengan Bian. Setelah menikah, aku mengerti apa yang ibu katakan.
Sulitnya bangun pagi, susahnya menjalani kehidupan rumah tangga. Sulit, karena
Bian adalah tipikal suami sejati! Bian tidak menyukai masakan yang bukan buatan
istrinya. Oh tidak, pada masa awal pernikahan aku merasa sangat tersiksa karena
harus melakukan satu hal yang paling tidak aku suka : MASAK! Tapi, demi cinta
dan bakti, aku harus rela melakukannya. Beruntung, Bian hanya tersedak saat
sayur bayam yang aku buat sedikit keasinan. Entah kenapa hal tersebut tidak
menyurutkan niatnya untuk terus makan masakanku.
Dan
cobaanku belum berakhir. Masih pada awal masa pernikahanku, kami masih tinggal
bersama kedua orangtua Bian. Dan ibunda Bian tercinta alias mertuaku adalah Ibu
rumah tangga sejati, yang artinya aku harus bisa mengimbanginya. Tidak mungkin
sebagai menantu aku malah membebani Mama, begitu aku menyapa Ibunda Bian,
dengan pekerjaan rumah setelah aku tinggal bersamanya. Apalagi, setelah Ibu meninggal
sebelum aku menikah, Mama adalah pengganti Ibu, walaupun tidak akan pernah
seperti Ibu.
Jadi, hasilnya adalah pada masa awal
pernikahanku, aku menampilkan edisi terbaik yang aku punya. Bangun pukul lima
pagi, setelah sholat shubuh aku langsung memasakkan sarapan untuk Bian,
membereskan rumah : menyapu-mengepel-mencuci piring. Dan kemudian menyiapkan
diri sendiri untuk kekantor. Masa awal
pernikahan adalah masa-masa seperti dalam training
camp menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Tapi
ternyata, aku berhasil merubah kebiasaan burukku. Setelah menikah, apalagi ketika
aku hamil, aku semakin giat untuk menyelaraskan kehidupan rumah tanggaku dengan
menjadi istri yang baik dan mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik bagi
anakku kelak. Dan dalam setiap gerak hidupku pada saat itu, aku selalu
mengingat Ibu. Mengingat betapa beratnya perjuangan ibu, seperti yang aku
rasakan. Ibu, andai bisa aku mengatakan betapa aku merindukanmu di surga. Dan
betapa aku rindu dengan celotehanmu tentang bagaimana menjadi seorang wanita. Bu, Adek sayang Ibu.
####
Aku sudah
berusia hampir setengah abad, dan Annika, putri semata wayangku baru saja menginjak
usianya yang kedua puluh. Ternyata Annika adalah cetak biruku tanpa cela.
Melihat tingkah dan wajahnya, seperti masuk dalam hidupku berpuluh-puluh tahun
yang lalu. Dan aku juga seperti mengalami apa yang dulu Ibu alami. Semakin Annika
besar, semakin aku merasakan kekhawatiran yang dulu Ibu rasakan. Dan rasanya,
aku mulai menjadi seperti Ibu saat aku berkata : “Annika, cubelah kamar trui diringkes ok. Ka ni bejalan terus, pening
kepala Ibu ningok e. Dak sua aben dirumah, dak retak agik la kek kaen baju, kek
piring kotor. Macem mane ka ne men belaki kelak e.”
Tamat
Dedicated for my Mom,
Pangkalpinang, 11 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...