Wanita Lelakiku
oleh Yulistia Akbari
Hujan.
Seperti mengguyurkan tirai kenangan dalam imajinasiku. Rasanya syahdu, rasanya pilu, rasanya tersentak. Setiap hujan turun yang ia kabarkan adalah kerinduan, adalah kebencian, adalah penyesalan dan adalah kenangan. Kenangan yang telah merobek mimpi-mimpi dan perasaan, kenangan akan dalamnya buaian.
Ada yang berkata cinta pertama tidak akan padam, akan selalu menggelayuti setiap langkah kehidupan. Apakah seburuk itu cinta pertama? bahkan untuk cinta pertama yang harus usai? Rasanya tak adil jika cinta pertama diperlakukan sangat istimewa sedemikian rupa. Bagaimana dengan cinta yang seharusnya menjadi cinta terakhir, cinta yang sah! cinta yang menjadi masa depan, cinta yang seharusnya diperjuangkan mati-matian.
"Kau sangat cantik, Dinda. Abang beruntung sekali memilikimu." Rasanya kalimat itu tak pernah habis aku dengar dari mulut lelaki yang sangat aku cintai ini. ia selalu membuatku merasa percaya bahwa aku adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia cintai, yang ia miliki dan sangat ia sayangi. Aku selalu tersenyum manja saat suamiku mengucapkan kata itu.
Ya, suamiku. Lelaki pertamaku, lelaki terakhirku. Lelaki yang telah aku percayakan untuk kubiarkan menanamkan benih kasih sayangnya di rahimku. Lelaki yang dimana aku berjanji di depan Tuhan akan selalu setia dan menjaganya, lelaki yang telah aku tuliskan dalam hatiku. Satu dan selamanya. Lelaki yang aku anggap sangat sempurna, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada keluarga ini.
Namun segalanya ternyata berbeda. Ternyata ia tak sama dengan apa yang aku perkirakan. Tidak... Tidak... ia tidak secinta itu pada diriku. Mungkin pada Ghazi, anak kami, ia mencintai penuh.
Bagiku, kamu adalah sesuatu yang teramat spesial dalam kehidupanku. Ya, aku juga merindukanmu.
Rasanya aku ingin menghempaskan benda itu ke lantai, menghancurkannya. Pesan singkat yang aku baca, seperti merubuhkan pertahananku.
Siapa di antara kamu yang tidak merasakan bahwa kekuatan untuk mencintai adalah tanpa batas? Dan bukanlah waktu sebagaimana halnya cinta tak terbagi dan tak mengenal ruang. -Khalil Gibran-
Tidak Suamiku, kau tak akan pernah bisa adil dalam membagi hatimu. Karena keadilan tidak akan pernah berbanding lurus dengan membagi cinta. Akan selalu ada yang kecewa, tersisih dan kalah di dalamnya. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu pada suamiku yang sedang asyik bercengkrama dengan Ghazi. Aku tersenyum kepada mereka. "Kemarilah, Dinda. Bergabunglah bersama kami. Letakkan lah sejenak celemek mu itu." ujar suamiku.
Tak akan ada habisnya aku mencintai lelakiku ini. Lelaki cerdas nan tampan ini telah memikatku sejak pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini pun ia masih memikatku. Tak pernah sejengkal pun aku meragukan cintanya padaku. Namun aku pun memahami bahwa dihatinya yang luas itu tidak hanya ada namaku, ia telah membaginya pada wanita lain. Hanya saja aku tak tahu seberapa besar bagian yang telah diambil wanita itu.
Inilah rasa sakitnya terhianat cinta, lebih hebat dibandingkan rasa cinta itu sendiri.
"Apakah kau setia padaku, Dinda?" suatu malam suamiku bertanya padaku. Kala itu kami menikmati indahnya bintang setelah Ghazi terlelap, sepi namun hangat. Ia memelukku, dan aku berujar "Ya, Kanda. Hanya dirimu. Lantas... bagaimana denganmu?"
Ia tidak langsung menjawab, aku merasakan belaian tangannya pada rambutku berhenti beberapa detik. "Jika kau mengartikan setia adalah tidak sedetik pun aku berhenti mencintaimu, maka aku termasuk di dalamnya."
"Apakah bisa seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanyaku.
Ia menghentikan belaiannya, dan merenggangkan pelukannya. Ia pandangi wajahku lekat , "Kenapa Dinda pertanyakan hal ini ? "
Aku tersenyum, "Hanya bertanya. Jawablah"
Aku melihatnya berfikir. Aku telusuri wajahnya yang tampan itu. Matanya yang indah, dengan bulu mata nan lentik. Hidungnya terukir indah, dan garis bibirnya selalu membuatku terpesona kala tersenyum. "Ya, tentu bisa. Seperti aku mencintaimu dan Ghazi dalam waktu yang bersamaan...."
"Bukan. Bukan tentang aku dan Ghazi, kanda."
"Lantas?"
"Apakah ada wanita lain dihatimu selain aku? wanita selain diriku yang kau cintai. Wanita selain diriku yang menempati hatimu...."
Ilham terdiam, getir.
Aku menyapu langkahku yang gontai, lemah. Aku tahu tak akan mudah menghapus semua kenangan yang terukir dalam diantara kita, manalah mungkin dapat aku musnahkan dari ingatakanku. Bahkan imajinasi terliarku adalah untuk dapat memilikimu, menyentuhmu, dan selalu mendekapmu. Tidak sedetikpun aku mampu melupakanmu, karena melupakanmu seperti tergelung oleh duri. Semakin aku coba lepaskan, semakin erat.
Maka aku biarkan namamu, cintamu, kasihmu bebas dalam aliran darahku. Bukankah di hati pula akan melekatnya?
Aku tidak tahu harus berharap apa padamu, karena tak pantas rasanya meletakkan harapan disana. Kita bukanlah merpati yang saling mengejar bebas. Kita seperti kisah lama namun tak akan usang. Maka biarkanlah seperti itu adanya.
Andaikan saja aku seperti pelangi, yang akan hadir disetiap hujanmu.
Sandingkan saja aku seperti matahari, yang cukup hangatkanmu dari jauh.
Cukup seperti itulah.... karna saat ini Tuhan bukan untuk kita.
Ginan membaca e-mail yang akan ia alamatkan pada Ilham. Berat rasanya untuk menghela nafas. Ia paham apa yang telah terjadi. Mungkin sudah terlalu lama Ginan masuk dalam kehidupan Ilham, mengoyak ketenangan yang seharusnya tidak ia usik. Ginan memandang dua wajah cantik di wallpaper laptop nya. Rasanya seperti setengah bernyawa saat harus melepaskan bayangan yang melekat dalam kehidupannya dalam kurun delapan tahun terakhir ini, namun inilah keputusan. Walaupun hati ini terlalu luas untuk hanya mencintai satu orang, namun dalam cinta tidak ada tempat untuk orang ketiga. Ginan harus melepaskan Ilham, walau tidak berarti melupakan.
Ma, Papa sudah di jalan bersama anak-anak. Tunggu di kantor ya, sebentar lagi Papa jemput.
Pesan singkat itu menyadarkan Ginan dari lamunanya. Segera ia menekan tombol sent pada menu email nya. Menutup laptop dan kemudian membalas pesan singkat suaminya. Mama tunggu ya Papa sayang...
"Kau sangat cantik, Dinda. Abang beruntung sekali memilikimu." Rasanya kalimat itu tak pernah habis aku dengar dari mulut lelaki yang sangat aku cintai ini. ia selalu membuatku merasa percaya bahwa aku adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia cintai, yang ia miliki dan sangat ia sayangi. Aku selalu tersenyum manja saat suamiku mengucapkan kata itu.
Ya, suamiku. Lelaki pertamaku, lelaki terakhirku. Lelaki yang telah aku percayakan untuk kubiarkan menanamkan benih kasih sayangnya di rahimku. Lelaki yang dimana aku berjanji di depan Tuhan akan selalu setia dan menjaganya, lelaki yang telah aku tuliskan dalam hatiku. Satu dan selamanya. Lelaki yang aku anggap sangat sempurna, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada keluarga ini.
Namun segalanya ternyata berbeda. Ternyata ia tak sama dengan apa yang aku perkirakan. Tidak... Tidak... ia tidak secinta itu pada diriku. Mungkin pada Ghazi, anak kami, ia mencintai penuh.
Bagiku, kamu adalah sesuatu yang teramat spesial dalam kehidupanku. Ya, aku juga merindukanmu.
Rasanya aku ingin menghempaskan benda itu ke lantai, menghancurkannya. Pesan singkat yang aku baca, seperti merubuhkan pertahananku.
* * * *
Siapa di antara kamu yang tidak merasakan bahwa kekuatan untuk mencintai adalah tanpa batas? Dan bukanlah waktu sebagaimana halnya cinta tak terbagi dan tak mengenal ruang. -Khalil Gibran-
Tidak Suamiku, kau tak akan pernah bisa adil dalam membagi hatimu. Karena keadilan tidak akan pernah berbanding lurus dengan membagi cinta. Akan selalu ada yang kecewa, tersisih dan kalah di dalamnya. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu pada suamiku yang sedang asyik bercengkrama dengan Ghazi. Aku tersenyum kepada mereka. "Kemarilah, Dinda. Bergabunglah bersama kami. Letakkan lah sejenak celemek mu itu." ujar suamiku.
Tak akan ada habisnya aku mencintai lelakiku ini. Lelaki cerdas nan tampan ini telah memikatku sejak pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini pun ia masih memikatku. Tak pernah sejengkal pun aku meragukan cintanya padaku. Namun aku pun memahami bahwa dihatinya yang luas itu tidak hanya ada namaku, ia telah membaginya pada wanita lain. Hanya saja aku tak tahu seberapa besar bagian yang telah diambil wanita itu.
Inilah rasa sakitnya terhianat cinta, lebih hebat dibandingkan rasa cinta itu sendiri.
"Apakah kau setia padaku, Dinda?" suatu malam suamiku bertanya padaku. Kala itu kami menikmati indahnya bintang setelah Ghazi terlelap, sepi namun hangat. Ia memelukku, dan aku berujar "Ya, Kanda. Hanya dirimu. Lantas... bagaimana denganmu?"
Ia tidak langsung menjawab, aku merasakan belaian tangannya pada rambutku berhenti beberapa detik. "Jika kau mengartikan setia adalah tidak sedetik pun aku berhenti mencintaimu, maka aku termasuk di dalamnya."
"Apakah bisa seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanyaku.
Ia menghentikan belaiannya, dan merenggangkan pelukannya. Ia pandangi wajahku lekat , "Kenapa Dinda pertanyakan hal ini ? "
Aku tersenyum, "Hanya bertanya. Jawablah"
Aku melihatnya berfikir. Aku telusuri wajahnya yang tampan itu. Matanya yang indah, dengan bulu mata nan lentik. Hidungnya terukir indah, dan garis bibirnya selalu membuatku terpesona kala tersenyum. "Ya, tentu bisa. Seperti aku mencintaimu dan Ghazi dalam waktu yang bersamaan...."
"Bukan. Bukan tentang aku dan Ghazi, kanda."
"Lantas?"
"Apakah ada wanita lain dihatimu selain aku? wanita selain diriku yang kau cintai. Wanita selain diriku yang menempati hatimu...."
Ilham terdiam, getir.
* * * *
Aku menyapu langkahku yang gontai, lemah. Aku tahu tak akan mudah menghapus semua kenangan yang terukir dalam diantara kita, manalah mungkin dapat aku musnahkan dari ingatakanku. Bahkan imajinasi terliarku adalah untuk dapat memilikimu, menyentuhmu, dan selalu mendekapmu. Tidak sedetikpun aku mampu melupakanmu, karena melupakanmu seperti tergelung oleh duri. Semakin aku coba lepaskan, semakin erat.
Maka aku biarkan namamu, cintamu, kasihmu bebas dalam aliran darahku. Bukankah di hati pula akan melekatnya?
Aku tidak tahu harus berharap apa padamu, karena tak pantas rasanya meletakkan harapan disana. Kita bukanlah merpati yang saling mengejar bebas. Kita seperti kisah lama namun tak akan usang. Maka biarkanlah seperti itu adanya.
Andaikan saja aku seperti pelangi, yang akan hadir disetiap hujanmu.
Sandingkan saja aku seperti matahari, yang cukup hangatkanmu dari jauh.
Cukup seperti itulah.... karna saat ini Tuhan bukan untuk kita.
Ginan membaca e-mail yang akan ia alamatkan pada Ilham. Berat rasanya untuk menghela nafas. Ia paham apa yang telah terjadi. Mungkin sudah terlalu lama Ginan masuk dalam kehidupan Ilham, mengoyak ketenangan yang seharusnya tidak ia usik. Ginan memandang dua wajah cantik di wallpaper laptop nya. Rasanya seperti setengah bernyawa saat harus melepaskan bayangan yang melekat dalam kehidupannya dalam kurun delapan tahun terakhir ini, namun inilah keputusan. Walaupun hati ini terlalu luas untuk hanya mencintai satu orang, namun dalam cinta tidak ada tempat untuk orang ketiga. Ginan harus melepaskan Ilham, walau tidak berarti melupakan.
Ma, Papa sudah di jalan bersama anak-anak. Tunggu di kantor ya, sebentar lagi Papa jemput.
Pesan singkat itu menyadarkan Ginan dari lamunanya. Segera ia menekan tombol sent pada menu email nya. Menutup laptop dan kemudian membalas pesan singkat suaminya. Mama tunggu ya Papa sayang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar