Jumat, 15 Mei 2015

Cerpen_CINTA PERTAMA



Oleh : Yulistia Akbari


Kesibukan di kantor sempat mengalangiku untuk memboyong keluarga berlibur ke kampung halaman. Lalu sejak satu minggu yang lalu, aku membawa Juna, anakku,  untuk kembali ke kota ini. Pangkalpinang. Kali ini tanpa ditemani suami, karena kesibukannya di kantor tentunya
Sore itu Juna merengek ingin jalan-jalan mengitari kota, katanya bosan jalan-jalan ke pantai terus. Lalu aku putuskan mengendarai mobil berdua bersama Juna untuk mengenalkannya dengan setiap sudut kota.  Tanpa sadar aku melewati jalan ini, jalan yang sudah lama tidak aku lalui. Dulu jalan ini sepi sekali hanya tedapat beberapa kantor saja, sekarang sudah menjadi komplek perkantoran. Mataku tertuju pada salah satu kantor di sudut jalan.
Sudah lama aku tidak memperhatikan pekarangan kantor itu. Sekarang bangungannya sudah modern, cat bangunannya pun baru dengan tanaman hias yang berwarna-warni. Tapi plang kantor itu belum berubah, masih tertulis Kantor Urusan Agama. Banyak sekali perubahan kantor itu, termasuk pohon alpukat yang dulu rimbun sudah tak nampak disana. Dulu, paling aku ingat pohon alpokat itu selalu berbuah banyak dengan daun yang besar besar itu merindangi sekitarnya. Kantor itu menjadi tidak terlalu silau oleh matahari yang terik.
Dadaku berdegup karena resonansi masa lalu. Ada yang aku rindukan saat pohon alpukat itu masih berdiri kokoh dengan daun rindangnya. Yang batangnya sangat besar sehingga mudah untuk dinaiki oleh siapapun. Aku memandang pekarangan kantor itu dengan lekat, ah pohon itu telah dihilangkan.
Aku ingat sekali bagaimana kehadiran pohon alpukat itu membawa cerita yang amat panjang setelahnya. Sudah ribuan kali aku berjalan melewati kantor itu setiap harinya, minimal dua kali dalam satu hari yaitu saat pergi dan pulang menuju sekolahnya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga dengan seragam abu-abu. Ada yang berbeda sore itu, saat aku baru saja pulang dari sekolah untuk mengikuti latihan silat , ketika aku melewati pohon alpukat di depan kantor itu, tiba-tiba saja satu buah alpukat jatuh tepat di depan kakiku. Hampir saja aku berteriak karena kaget, lantas aku dongakkan kepala arah pohon alpukat arah jatuhnya si buah. Mataku menangkap sosok tidak berbaju, hanya mengenakan kaos dalam dan celana jeans. Lelaki kurus itu tersenyum. Aku mendengus kesal, siapa pula lelaki iseng itu. Apakah ia sengaja menjatuhkan buah alpukat ke arahku? Aku berusaha tidak mempedulikan lalu kembali berjalan kaki dan melewati kantor itu seolah tidak ada yang terjadi.
Keesokan harinya saat aku pulang sekolah dan kembali melewati jalan yang sama, aku kembali melihat lelaki yang kemarin berada di pohon alpukat. Kali ini dandanannya berbeda, terlihat lebih rapih dengan setelan cokelat. Wajahnya bersih tapi badannya kurus. Senyumnya manis tapi terlihat terlalu lebar. Aku tidak mempedulikan ketika lelaki itu kembali tersenyum padaku.
☻☻☻☻☻
“Siapa namamu?” saat itu hari kelima setelah lelaki itu hampir menjatuhkan buah alpukatnya kepadaku. Lelaki itu menyodorkan buah alpukat yang ia masukkan dalam kantung plastik hitam yang besar. Ragu aku untuk mengambilnya. “Ambillah, aku sengaja mengambilkannya untukmu.” Kembali ia menyodorkan kantung plastik berisi buah alpukat itu dari balik pagar kantor.
“Terima kasih.” Ujarku sambil meraih plastik itu. Saat tanganku ingin meraihnya, ia menahan plastik itu, “Namamu siapa?” tanyanya lagi. Kali ini ia bertanya dengan senyum yang manis, dapat aku lihat deretan giginya yang berbaris kecil dengan gigi depan yang sedikit jarang. “Nia. Namaku Nia. “ Barulah ia melepaskan plastik itu dan betul-betul menyerahkan kepadaku.
“Nama abang siapa?” aku balik bertanya. Dalam hati aku bingung untuk memanggil lelaki ini siapa, abang, om atau bapak? Karena tentu lelaki ini sudah bekerja dan usianya diatasku. “Nama abang Arai. Panggil saja Rai.”
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kalinya, lalu berpamitan untuk segara pulang. “Mau abang antarkan?” tanya Bang Rai. Aku menggeleng pelan, menolaknya. Bisa dimarahi Ibu bila aku pulang dengan orang tidak dikenalnya. Sore itu aku pulang membawa buah alpukat yang besar-besar dan aku serahkan kepada Ibu. Ibu bertanya darimana aku mendapatkannya, lalu aku jawab saja “Dari Bang Rai.”
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu entah kenapa aku sangat senang sekali setiap akan pergi kesekolah. Mungkin karena aku bisa melewati kantor itu dan bertemu dengan Bang Rai. Walaupun kami hanya sebatas saling tersenyum dan menyapa ringan saat aku melewati kantornya. Pagi-pagi sekali ia sudah berada di kantornya dan berdiri di dekat pintu untuk menungguku lewat. Aku akan mengucapkan salam padanya dan meneruskan perjalananku menuju sekolah. Saat siang pulang sekolah, Bang Rai pun sudah dengan seaku menunggu di dekat pintu pagar kantor hanya untuk menyapaku dan mengucapkan “Hati-hati. Maukah abang antar?” dan selalu saja aku menolaknya. Walaupun sebenarnya ingin.
Suatu siang, saat aku kembali melewati kantornya saat pulang sekolah, ia tidak hanya menyapaku. Tetapi kembali menghampiriku. “Maukah adek ikut bersama abang sore ini?” tanyanya.
Aku mengernyitkan dahi, “Kemana?”
“Temani abang mencari cemara di pantai.”
Aku menimbang-nimbang, seharusnya sore ini aku latihan silat, tapi mungkin bisa aku tunda sementara. Karena aku ingin sekali pergi dengan lelaki dihadapanku ini. “Baiklah, tapi adek harus pulang sebelum pukul lima sore.”
Aku melihat keriangan diwajahnya, “Baik, kita berangkat pukul tiga.”
Lantas sore itu kami berboncengan dengan motornya yang berwarna biru untuk mencari cemara. Ia mengajakku ke pantai Sampur. Ternyata disana memang banyak sekali pohon cemara. Sayang pantai ini tidak biru lagi, sudah banyak hilang keindahannya karena tambang inkonvensional. Aku melihat banyak ibu-ibu yang mencari lokan di pantai. Karena penasaran aku mengajaknya untuk mendekati ibu-ibu itu dan ikut membantu mencari lokan.
“Ayo kita cari cemaranya, Dek.” Ajak Bang Rai. Aku menuruti. “Abang suka sekali dengan tanaman ya?” tanyaku.
“Ya, abang senang sekali dengan tanaman. Adek lihat tanaman bonsai di depan kantor? Itu abang semua yang menanam.”
“Abang mirip Atok Adek. Atok Adek senang sekali mengurus bonsainya. Kadang seharian waktunya ia habiskan untuk menyemprot bonsainya. Lalu kasihan bonsainya, diikat-ikat atok dengan kawat. Katanya biar tetap kecil.”
Bang Rai tertawa mendengar pernyataanku, “Itulah seninya berbonsai Dek. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti indah dan seninya berbonsai.”
“Biasanya orang yang suka berbonsai itu cerewet.”
“Adek tahu darimana?”
“Nenek yang becerita, tapi Atok memang cerewet sekali, Bang.”
Lalu kami terbahak bersama-sama. Entah karena merasa lucu dengan jawabanku, atau Bang Rai merasa ia memang berkarakter seperti itu. Belakangan aku baru tahu, ternyata sifat Bang Rai hampir mirip dengan Atok.
☻☻☻☻☻
Sejak hari itu Bang Rai memberanikan diri untuk mendatangi rumahku dan memperkenalkan diri dengan keluargaku. Ibu, Bapak, Atok dan Nenek menerima Bang Rai dengan baik. Apalagi nenek, yang merasa senang sekali aku memiliki teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di  departemen agama. Kata Ibu, nenek dulunya juga pegawai negeri yang bekerja di departemen agama. Tapi sejak melahirkan paman , adik Ibu yang pertama, nenek memutuskan untuk berhenti bekerja karena lebih memilih mengurus paman yang waktu itu sering sekali sakit-sakitan.
Hampir setiap malam Bang Rai yang perantauan itu menghabiskan malamnya dirumah hanya untuk sekedar mengobrol denganku. Hanya setiap malam minggu saja kami diizinkan untuk pergi makan malam berdua  ataupun sekedar mengelilingi kota, itu pun tidak lewat dari jam sembilan malam.
Bang Rai senang sekali bercerita, dan ceritanya tidak pernah membosankan. Ia senang sekali menceritakan tentang masa kecilnya dan keluarganya yang berada di Sumatera Barat. Bang Rai pun bercerita bahawa telah empat tahun merantau ke Pulau Bangka semenjak diterima sebagai pegawai negeri. Karena hanya sendiri Bang Rai memutuskan untuk tinggal saja di kantornya, sekalian menjaga kantor katanya. Terjawablah keherananku tentang banyaknya tanaman yang indah di kantornya itu.
Bang Rai juga bercerita tentang kesedihan saat ibunya meninggal dunia, tentang hobinya membaca buku dan tentang sastra dan puisi yang tidak pernah aku pahami. Pernah ia mengajakku ke toko buku untuk menemaninya membeli buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi, alih-alih langsung ia baca, ia justru menyuruhku untuk membacanya terlebih dahulu. Ternyata bertahun-tahun setelah itu buku yang ia berikan padaku untuk dibaca ini di film kan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah ada. Ia menjadi canduku dalam membaca, ia adalah salah satu orang yang membuatku mencintai buku setelah Atok.
Entah sejak kapan hari-hariku selalu bersama dengan Bang Rai. Ia selalu menjemputku setelah pulang sekolah, lalu mengajakku makan siang. Kadang-kadang aku hanya menemaninya makan siang saja, “Adek bosan makan nasi padang” kilahku. Lalu ia akan membelikanku es krim sebagai penggantinya. Tidak ada hari tanpa Bang Rai. Uniknya, tidak pernah ada kata cinta yang keluar dari bibir kami berdua. Tapi bisa dirasakan, dan siapapun yang melihat akan tahu bahwa kami dimabuk cinta. Aku jatuh cinta, pertama kalinya dalam hidupku. Beginilah cinta, rasanya indah dan juga membuat hati berbunga. Pendek kata, aku bahagia.
☻☻☻☻☻
Kebiasaanku adalah suka membuka setiap pesan yang masuk ke handphone Bang Rai, beliau pun tidak pernah melarangku. Lalu saat pesan-pesan itu masuk aku akan segera menyampaikannya pada Bang Rai. Kadang aku membacakannya ketika ia sedang asik memotong daun-daun bonsai yang sudah kecil itu. Entahlah, Bang Rai seperti ada di dunianya sendiri saat ia asyik memperindah tanaman-tanamannya, atau sekedar menyirami tanaman-tanamannya yang sudah tertata rapi didepan kantor. Dengan kaos dalam warna putih serta celana pendek, rokok yang tak lepas dari bibir tipisnya, tangan yang memegang gunting tanaman itu artinya ia tidak akan lagi peduli dengan handphone atau ajakanku kemanapun. Saat sedang seperti itu, sebaiknya aku duduk saja didekatnya sambil mendengarkan ia berkisah tentang tanaman-tanamannya. Jika beruntung, sesekali ia menggumankan puisi untukku.
Siang itu sepulang sekolah, Bang Rai membelikanku es krim. Aku hanya menunggunya di motor sambil memegag handphone Bang Rai. Terdengarlah bunyi bip beberapa kali. Aku membaca pesan yang masuk :

Bang, Dinda baru pulang dari tukang jahit. Ternyata baju yang akan Dinda pakai untuk acara pernikahan kita nanti masih kebesaran. Padahal sewaktu diukur rasanya pas. Tak sabar Dinda menunggu hari itu tiba, Bang.

Ada pilu yang mendadak menghujam jantungku, ada godam yang meluluh lantakkan hatiku. Rasanya sakit sekali sampai ke relung tulang terdalamku. Aku pandangi wajah Bang Rai yang tersenyum kepadaku sambil memegang es krim kesukaanku, aku balas memandanginya lekat dan dalam. Aku mengerti apa makna pesan singat ini.
Rasanya tak percaya Bang Rai merahasiakan hal besar ini padaku. Rasanya sungguh menyakitkan. Bang Rai menyerahkan es krim itu kepadaku. Dan aku membalas dengan menyerahkan handphone yang telah terbuka pesan singkatnya. Bang Rai membaca pesan itu, dan menatapku kaku. Tak bisa berbicara. Ia melihat genangan air mata disudut mataku. Aku tak ingin melihatnya. Dan ia hanya terdiam terpaku saat melihatku membuang es krim pemberiannya. Dan sejak saat itu aku tidak ingin mendengar kabar apapun darinya. Dan sejak saat itu pula aku tidak menyukai es krim lagi.
Aku tidak ingin mengingat apa yang terjadi setelah itu, karena hari-hari setelahnya adalah rasa nyeri di ulu hati dan kerinduan yang bertalu-talu di hatiku yang harus aku lawan walaupun setiap hari deraian air mata menghiasi. Inilah rasanya terluka oleh cinta, tak ada bandingannya.
☻☻☻☻☻

Sudah tujuh tahun berlalu.
Seiring waktu aku mencoba melupakan setiap detail kejadian yang terjadi. Aku bersahabat dengan kenangan, aku bersahabat dengan rasa sakit yang pernah aku rasakan karena cinta pertama. Dan sekrang aku memandangi kantor itu yang telah berubah. Begitupun dengan kehidupanku, yang telah berubah walaupun dengan susah payah aku bangun kembali semenjak kejadian itu.
“Mama, ayo kita pulang! Juna sudah mengantuk.” Lelaki mungil berusia tiga tahun ini menyadarkanku dari lamunan. Aku tersenyum kepadanya, “Apa yang mama lihat dari kantor itu Ma?” tanya Juna keheranan. Aku membelai kepalanya dengan lembut, “Dulu di kantor itu ada pohon alpukat yang sangat rindang. Buahnya besar besar. Sungguh enak jika dimakan. Mama kira pohon itu masih berdiri kokoh sejak terakhir mama lihat, ternyata sudah tak ada.”

☻☻☻☻☻





Ibu oh Ibu

Ada kejadian yang cukup membuat perasaan ini terasa tidak enak dikarenakan seseorang : Ibu.

Sejak aku masih remaja hingga sekrang menurutku Ibu adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk menjadi wadahku bercerita segala hal. tentang apa yang telah aku alami, lalui dan rasakan. Ibu menjadi tempat yang tepat untuk berkeluh kesah serta meminta pendapat. Hampir tidak ada hal yang aku rahasiakan pada Ibu.

Kebiasaan menceritakan segala hal kepada Ibu ternyata sedikit membuatku 'galau' saat telah menjadi istri. Tentunya sama seperti saat aku masih belum menikah, aku masih saja menceritakan berbagai kisah termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku dan suamiku. Yang tentunya tidak aku sortir sama sekali, baik buruk semuanya aku ceritakan pada Ibu. Lantas pada siapa lagi yang aku percaya cerita itu akan aman bila selain Ibu? Tidak ada Ibu yang akan menjatuhkan anaknya, bukan?

Sayangnya aku tidak memahami bagaimana perasaan Ibu. 
Aku seharusnya bisa membatasi diri atas  cerita-ceritaku. Karena Ibu tetaplah seorang Ibu.

Setiap kali ada masalah atau bertengkar dengan suami (walaupun sampai sekrang bertengkar kami hanya hal-hal sepele, paling tinggi aku merajuk kepada beliau) aku akan langsung menceritakannya kepada Ibu. menumpahkan segala emosi dan kemarahanku. Ternyata hal itu berpengaruh kepada Ibu. Ibu ikut menjadi kesal dengan suamiku!

Oke, perbedaannya adalah jika seorang istri kesal dengan suaminya, kekesalannya itu akan menguap seiring dengan kembali harmonisnya hubungan itu. Jadi, saat aku dan suamiku sudah kembali mesra aku akan melupakan kekesalanku itu. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan selalu kesal dan mempengaruhi perasaannya kepada si menantu!

Kacaulah aku!
Bagaimanapun aku tidak mau Ibu menjadi kesal atau berkurang rasa sukanya kepada suamiku. Aku bahagia melihat bagaimana Ibu menyayangi suamiku dan bagaimana suamiku menyayangi suamiku. Setiap manusia punya kekurangan, termasuk suamiku. Setiap manusia memiliki sisi yang bertentangan dengan orang lain, termasuk suamiku. Dan sekarang aku yang pusing menghadapi kegamangan sikap Ibu. Antara masih sayang dan kesal dengan suamiku.

Pernyataan Ibu yang merasa kesal dengan sikap suamiku (yang tentunya berdasarkan apa yangaku ceritakan pada Ibu) membuat Ibu malas datang kerumah kami. Ibu lebih memilih menahan rindunya kepada sang cucu daripada datang kerumah kami. Pun jika kami kesana Ibu hanya bereaksi sekedarnya. Makin bingunglah aku!

Pada titik ini aku menyadari bahwa seorang Ibu tetaplah Ibu. Tetaplah ia akan merasa sakit saat anaknya disakiti, tetaplah akan menyimpan luka saat melihat anaknya menangis atau terluka. Hal ini memberikan pelajaran untukku, aku harus mampu berperan ditengah-tengah. Sebagai anak dan sebagai istri. Aku belajar untuk tidak menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, cukuplah yang indah-indah dan bagusnya saja agar Ibu tidak memiliki beban pikiran atau perasaan tentang kehidupan rumah tanggaku.

Lantas, kepada siapa aku mengadu? 
Jawaban terbaiknya adalah : Tuhan.

Senin, 11 Mei 2015

SELAMAT ULANG TAHUN ARJUNA


                                   
Alhamdulillah akhirnya anak pertama kami berusia satu tahun pada tanggal Tujuh Mei tadi. Aku berhasil menghias kue sendiri untuk ulang tahunnya kali ini, dan alhamdulillah warnanya mera biru sesuai dengan harapanku! Kaya spiderman ya? Heheheheheee.
Sengaja nih aku cari warna merah biru karena aku emang ngefans berat dengan karakter spiderman, keren aja lah pokoknya. Rasanya menyenangkan sekali ya bisa membuatkan sesuatu untuk anak tercinta. Semoga nanti bisa bikin kue lagi untuk Juna dan Papa. Padahal waktu masih gadis paling malesssssssss kalo harus disuruh Ibu yang namanya masak! 

Happy B'day  anakku sayang, jadi anak sholeh dan penghafal Al-Qur'an kaya abang Musa ya nak. Amieennn ^^

'Merebut' Life of Pi


Kali ini aku tidak akan membahas tentang isi novel ini, karena mungkin sebagian besar orang sudah tahu bagaimana kisah novel ini bahkan novel ini sudah difilmkan, lho.

Ada yang menarik dari kisahku mendapatkan novel ini. Dari sekian banyak novel yang aku miliki hanya novel inilah yang tidak pernah aku baca. Entahlah, kata-kata yang termuat didalamnya tidak dapat aku mengerti. Novel ini 'diberikan' oleh seorang abang yang terkenal dengan nama Larsi de Isral. Sebenarnya tidak dberikan. Awalnya beliau menawariku sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca, maka aku yang sangat senang membaca novel ini , dengan senag hati menerima tawaran itu. Waktu berjalan sangat cepat dan akhirnya aku tidak tertarik untuk membaca novel ini. Ya karena itu tadi. Kalimat per kalimat yang disajikan penulis tidak bisa aku terima, mungkin selera yang berbicara. Kebanyakan novel yang aku baca tentang thriller, detektif dan teka teki. Wajar saja aku punya banyak kolek seri Dan Brown dan Stieg Larsson ^^.  Untuk Stieg Larsson aku punya triloginya,lho! Namun novel ini tidak aku kembalikan kepada di peminjam, untuk kenang-kenangan alasanku.

Beberapa hari yang lalu aku berniat mengembalikan novel ini setelah sekian tahun lamanya, masih terganjal dihatiku karena beliau bukan berniat memberikan pada awalnya. Hanya meminjamkan. Tapi niat itu aku urungkan, rasanya sayang novel sebagus ini tidak menjadi koleksi. Maka aku meminta izin kembali pada beliau untuk aku simpan. Ternyata beliau bahkan sudah lupa novel ini ada ditangan adeknya yang iseng ini. Hehehehehee :) Semoga ikhlas ya, Bang ^^

Kisah Istri Paruh Waktu

Rasanya tidak enak sekali memiliki 'titel' istri paruh waktu ini, kesannya seperti menyepelekan kedudukan yang seharusnya dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Tapi apalah daya dengan kebutuhan yang tinggi  di zaman ini rasanya sulit untuk tidak 'membantu' suami.

Pernah terbayang, sering malah, betapa indahnya bila seorang istri hanya berada dirumah. Bangun tidur langsung mengurus sarapan dan kebutuhan suami, memandikan anak serta menyuapinya, membereskan rumah dan memasakkan makanan kesuakaan suami dan anak-anak, membaca buku yang disukai dan menanti kepulangan suami dengan wajah yang cantik dan tubuh harum. Betapa indahnya dunia itu. 

Tapi yang aku hadapi adalah kenyataan. Tidak mudah memang menjadi seorang wanita bekerja sekaligus istri dan ibu dari anak yang baru saja berusia satu tahun. Aku kehilangan masa-masa yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidup, aku kehilangan kesempatan untuk menyaksikan setiap detik perkembangan anakku. Banyak momment berharga yang aku lewatkan hanya untuk mendapatkan beberapa juta rupiah yang hanya aku dapatkan satu bulan sekali. Seringkali merasa berdosa karena yang menyambutku pulang kerja adalah suami, bukan sebaliknya. Tapi, sungguh jika harus memilih maka aku lebih memilih menjadi istri yang penuh waktu alias fulltime! Alhamdulillah, rasa bersalah ini sedikit terobati dengan dukungan suami dan keluarga besar. Ya, suami tidak pernah mengeluh jika aku harus pulang malam dan bergaduh kelelahan. Suami tidak pernah cerewet dengan makanan dirumah. Bahkan beliau yang kerap membantuku untuk mencuci baju, menjemur dan menggosok baju. Suamiku tidak berkeberatan untuk menyapu rumah, mencuci piring atau pun membereskna rumah. Tidak ada gengsi dalam hubungan kami, semuanya saling membantu. Dan aku bersyukur Allah mengirimkan suami seperti suamiku.

Kembali dengan peran istri paruh waktu, hal itu merupakan sesuatu yang sangat melelahkan! Yup melelahkan. Ketika bangun pagi aku harus segera  mnenyiapkan sarapan suami, minimal kopi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk si kecil, jika ia sudah bangun dari tidurnya aku harus memandikannya terlebih dahulu, lalu harus berdandan dan bersiap sebelum bekerja, mengantarkan anak kerumah pengasuh (ini hal yang paling berat) , lalu ke kantor, pulang dari kantor yang hampir magrib, menjemput kembali si kecil, pulang, masak untuk makan malam, membereskan rumah (sesekali), mengasuh si kecil hingga ia tertidur. Rasanya aktifitas itu sudah terstruktur dengan sendirinya. Tired but fun!

Aku mencoba menanamkan dalam hatiku semua yang aku lakukan adalah ibadah dan harus dilakukan dengan senang hati. Karena itu walaupun lelah sehabis kerja aku merasa bahagia memasak untuk suamiku karena itu adalah ibadah dan tentunya aku senang karena suami selalu menghabiskan masakanku. Aku lelah setelah bekerja tapi harus tetap menghadapi rengekan si kecil karena aku sadar, aku hanya memiliki beberapa jam waktu bersamanya jadi tidak ada alasan untukku untuk marah ataupun kesal jika si kecil merengek dan meminta untuk digendong. Aku lelah, tapi aku berusaha untuk tetap memberskan rumah karena ini adalah surga kami yang wajib aku rawat demi kenyamanan kami bersama pula. Semua yang aku lakukan untuk keluarga ku adalah ibadah, karena itu aku bahagia dan berusaha untuk selalu menjalaninya dengan hati gembira.

Menjadi istri paruh waktu membutuhkan dukungan yang besar dari suami, karena jika suami tidak mendukung tentunya akan repot dan melelahkan sekali. Bisa-bisa malah pertengkaran yang terjadi. Yang terpenting, ridho suami diatas segalanya. Jika suami mendukung untuk berkerja, maka bertanggung  jawablah. Dan jika suami tidak mendukung, artinya beliau merasa mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan kita harus menghormati juga menuruti keinginan beliau. Apapun pilihan kita sebagai istri harus dengan persetujuan suami. Istri berhak memilih, tapi suami adalah pengambil keputusan.

Semoga istri-istri paruh waktu lainnya juga bisa memposisikan dirinya pada titik yang tepat. Sehingga keharmonisan dan kesinambungan rumah tangga juga dapat terus terjaga. Insyaallah.

Minggu, 26 April 2015

gerimis sore itu

Gerimisku....
Luluh lantaklah kesombongan matahari saat kau mengguyur tanahku
Meluapkan rasa sederhana
Seperti titik titik yang dapat ku rangkai
Mengembalikan memori indah, pilu atau terbengkalai

Aku duduk menemani bayangku
Yang juga membayangkan seperti apa masa depan
Seperti apa keterpurukan bila tanpa senyuman
Mungkin mati.
Tak ada harapan
Tapi kerinduanlah yang membangkitkan

Terlanjurlah aku tersungkur dalam rayuan
Bila aku bangkit, pedih terasa
Namun jika aku tak bergerak
Yang ku dapati hanyalah kotornya debu di dlm hatiku

Sori itu gerimis..
Begitu merindui
Begitu ku rindui

Rabu, 22 April 2015

Kecuali Kamu by Kotak

Ku bisa hadapi perihnya terluka 
Yang pernah ku rasa di waktu dulu 
Sakitnya sakit sudah ku rasa 
Dengan yang dulu, dengan yang dulu
 

Ku pernah tersenyum waktu di hatiku 
Lagi hancur lebur berkeping-keping 
Pahitnya pahit sudah ku rasa 
Dengan yang dulu, dengan yang dulu
 

Kecuali kamu, cuma sama kamu 
Kecuali kamu, sakit sekali, sakit sekali  
Tuhan tolong aku, bisakah ku minta
Janganlah kau beri sakit yang ini 
Cintaku hanya yang satu ini 
Ku belum pernah, ku belum pernah
Kecuali kamu, cuma sama kamu

 Kecuali kamu, aku tak mengerti

Mengapa ku rasa sakit sekali mencintaimu
Kecuali kamu, cuma sama kamu 

Kecuali kamu, aku tak mengerti 
Mengapa ku rasa sakit sekali mencintaimu, mencintaimu


Pernah merasakan jatuh cinta tapi sakit dalam waktu yang bersamaan? Jika belum, mungkin anda bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang beruntung ataupun bisa juga termasuk orang-orang yang  belum merasakan 'keunikan' rasa cinta. Yup, cinta itu unik.

Karena hanya orang-orang yang memiliki hati yang memiliki rasa cinta.

 


Wanita Lelakiku

Wanita Lelakiku
oleh Yulistia Akbari


Hujan.
Seperti mengguyurkan tirai kenangan dalam imajinasiku. Rasanya syahdu, rasanya pilu, rasanya tersentak. Setiap hujan turun yang ia kabarkan adalah kerinduan, adalah kebencian, adalah penyesalan dan adalah kenangan. Kenangan yang telah merobek mimpi-mimpi dan perasaan, kenangan akan dalamnya buaian.

Ada yang berkata cinta pertama tidak akan padam, akan selalu menggelayuti setiap langkah kehidupan. Apakah seburuk itu cinta pertama? bahkan untuk cinta pertama yang harus usai? Rasanya tak adil jika cinta pertama diperlakukan sangat istimewa sedemikian rupa. Bagaimana dengan cinta yang seharusnya menjadi cinta terakhir, cinta yang sah! cinta yang menjadi masa depan, cinta yang seharusnya diperjuangkan mati-matian.

"Kau sangat cantik, Dinda. Abang beruntung sekali memilikimu." Rasanya kalimat itu tak pernah habis aku dengar dari mulut lelaki yang sangat aku cintai ini. ia selalu membuatku merasa percaya bahwa aku adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang ia cintai, yang ia miliki dan sangat ia sayangi. Aku selalu tersenyum manja saat suamiku mengucapkan kata itu.

Ya, suamiku. Lelaki pertamaku, lelaki terakhirku. Lelaki yang telah aku percayakan untuk kubiarkan menanamkan benih kasih sayangnya di rahimku. Lelaki yang dimana aku berjanji di depan Tuhan akan selalu setia dan menjaganya, lelaki yang telah aku tuliskan dalam hatiku. Satu dan selamanya. Lelaki yang aku anggap sangat sempurna, bertanggung jawab dan penuh kasih sayang pada keluarga ini.

Namun segalanya ternyata berbeda. Ternyata ia tak sama dengan apa yang aku perkirakan. Tidak... Tidak... ia tidak secinta itu pada diriku. Mungkin pada Ghazi, anak kami, ia mencintai penuh.

Bagiku, kamu adalah sesuatu yang teramat spesial dalam kehidupanku. Ya, aku juga merindukanmu.

Rasanya aku ingin menghempaskan benda itu ke lantai, menghancurkannya. Pesan singkat yang aku baca, seperti merubuhkan pertahananku.

* * * *

Siapa di antara kamu yang tidak merasakan bahwa kekuatan untuk mencintai adalah tanpa batas? Dan bukanlah waktu sebagaimana halnya cinta tak terbagi dan tak mengenal ruang. -Khalil Gibran-

Tidak Suamiku,   kau tak akan pernah bisa adil dalam membagi hatimu. Karena keadilan tidak akan pernah berbanding lurus dengan membagi cinta. Akan selalu ada yang kecewa, tersisih dan kalah di dalamnya. Ingin rasanya aku mengatakan hal itu pada suamiku yang sedang asyik bercengkrama dengan Ghazi. Aku tersenyum kepada mereka. "Kemarilah, Dinda. Bergabunglah bersama kami. Letakkan lah sejenak celemek mu itu." ujar suamiku.

Tak akan ada habisnya aku mencintai lelakiku ini. Lelaki cerdas nan tampan ini telah memikatku sejak pertama kali bertemu, bahkan sampai saat ini pun ia masih memikatku. Tak pernah sejengkal pun aku meragukan cintanya padaku. Namun aku pun memahami bahwa dihatinya yang luas itu tidak hanya ada namaku, ia telah membaginya pada wanita lain. Hanya saja aku tak tahu seberapa besar bagian  yang telah diambil wanita itu.

Inilah rasa sakitnya terhianat cinta, lebih hebat dibandingkan rasa cinta itu sendiri.

"Apakah kau setia padaku, Dinda?" suatu malam suamiku bertanya padaku. Kala itu kami menikmati indahnya bintang setelah Ghazi terlelap, sepi namun hangat. Ia memelukku, dan aku berujar "Ya, Kanda. Hanya dirimu. Lantas... bagaimana denganmu?"

Ia tidak langsung menjawab, aku merasakan belaian tangannya pada rambutku berhenti beberapa detik. "Jika kau mengartikan setia adalah tidak sedetik pun aku berhenti mencintaimu, maka aku termasuk di dalamnya."
"Apakah bisa seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanyaku.
Ia menghentikan belaiannya, dan merenggangkan pelukannya. Ia pandangi wajahku lekat , "Kenapa Dinda pertanyakan hal ini ? "
Aku tersenyum, "Hanya bertanya. Jawablah"
Aku melihatnya berfikir. Aku telusuri wajahnya yang tampan itu. Matanya yang indah, dengan bulu mata nan lentik. Hidungnya terukir indah, dan garis bibirnya selalu membuatku terpesona kala tersenyum. "Ya, tentu bisa. Seperti aku mencintaimu dan Ghazi dalam waktu yang bersamaan...."

"Bukan. Bukan tentang aku dan Ghazi, kanda."
"Lantas?"
"Apakah ada wanita lain dihatimu selain aku? wanita selain diriku yang kau cintai. Wanita selain diriku yang menempati hatimu...."

Ilham terdiam, getir. 

* * * *

Aku menyapu langkahku yang gontai, lemah. Aku tahu tak akan mudah menghapus semua kenangan yang terukir dalam diantara kita, manalah mungkin dapat aku musnahkan dari ingatakanku. Bahkan imajinasi terliarku adalah untuk dapat memilikimu, menyentuhmu, dan selalu mendekapmu. Tidak sedetikpun aku mampu melupakanmu, karena melupakanmu seperti tergelung oleh duri. Semakin aku coba lepaskan, semakin erat.
Maka aku biarkan namamu, cintamu, kasihmu bebas dalam aliran darahku. Bukankah di hati pula akan melekatnya?

Aku tidak tahu harus berharap apa padamu, karena tak pantas rasanya meletakkan harapan disana. Kita bukanlah merpati yang saling mengejar bebas. Kita seperti kisah lama namun tak akan usang. Maka biarkanlah seperti itu adanya.

Andaikan saja aku seperti pelangi, yang akan hadir disetiap hujanmu.
Sandingkan saja aku seperti matahari, yang cukup hangatkanmu dari jauh.
Cukup seperti itulah.... karna saat ini Tuhan bukan untuk kita.


Ginan membaca e-mail yang akan ia alamatkan pada Ilham. Berat rasanya untuk menghela nafas. Ia paham apa yang telah terjadi. Mungkin sudah terlalu lama Ginan masuk dalam kehidupan Ilham, mengoyak ketenangan yang seharusnya tidak ia usik. Ginan memandang dua wajah cantik di wallpaper laptop nya. Rasanya seperti setengah bernyawa saat harus melepaskan bayangan yang melekat dalam kehidupannya dalam kurun delapan tahun terakhir ini, namun inilah keputusan. Walaupun hati ini terlalu luas untuk hanya mencintai satu orang, namun dalam cinta tidak ada tempat untuk orang ketiga. Ginan harus melepaskan Ilham, walau tidak berarti melupakan.

Ma, Papa sudah di jalan bersama anak-anak. Tunggu di kantor ya, sebentar lagi Papa jemput.

Pesan singkat itu menyadarkan Ginan dari lamunanya. Segera ia  menekan tombol sent pada menu email nya. Menutup laptop dan kemudian membalas pesan singkat suaminya. Mama tunggu ya Papa sayang...


Selasa, 21 April 2015

Persahabatan 3 Serangkai






PERSAHABATAN


Sahabat, teman, karib atau apalah istilahnya merupakan sosok yang dibutuhkan siapa saja didunia ini. Tentu saja, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa Tuhannya dan orang lain (untuk paham ini sedikit saya modifikasi ya, guys!) Sama seperti saya, yang tidak bisa hidup tanpa makhluk yang namanya sahabat.

Sahabat atau teman ini sama seperti cinta, ia seperti candu yang membuatmu  ketagihan dan ingin terus bersama. Karena didalamnya lah kita bisa berbagi tawa, kesusahan, cerita dan mimpi. Jika kamu belum melakukannya kepada teman-temanmu, berarti mereka bukan sahabatmu. Sahabat saya kategorikan sebagai makhluk wajib dalam hidup sosial saya, ya ya ya tentu saja. karena mungkin hampir sebagian rahasia hidup saya ceritakan dan diskusikan kepada sahabat-sahabat saya ini.

kali ini saya akan bercerita tentang dua sahabat saya yang ada di foto ini.
Saya lupa bagaimana persabahatan kami bertiga bisa terjalin. Kira-kira dengan Titok dimulai sejak kami duduk di bangku SMA. saat itu kami duduk satu bangku. nah, sejak itulah kami mulai akrab. Mulai dari curhat, belajar , contek-contekan, dan menjahili oranglain. Persahabatan ini semakin akrab karena saya kerap kali menjadi mak comblang sahabat saya yang super cantik ini  (blah, kalo si doi tau pasti senaaaang sekali saya memujinya). Titok pribadi yang lugas, cenderung pendiam tapi kalu sudah akrab dia itu lebih 'judes' dari yang kita kira, sedikit emosian, tapi baik hati. yup, emosi kami masih labil. hahahha. istilahnya, belum dewasa secara utuh.
Beralih ke Iznarita. Gadis cantik bertumbuh tambun ini bisa dikategorikan sebagai pribadi yang 9 betul! (jika dibandingkan dengan aku dan titok) dia ramah, cantik, alim (dibandingkan kami tentunya) , tidak pernah ngomong kasar, santun dan yaa... yaa... yaaa..... sejauh ini merupakan pribadi yang bersahabat dan menyenangkan. keakraban kami bermula saat kami harus menjalani masa-masa pemusatan latihan untuk menghadapi kejuaran nasional ditingkat pelajar, hanya beda jenis olahraga yang diikuti saja. Ita mengikuti tenis meja dan saya pencak silat.  entah benang merah apa yang menghubungkan kami, saya lupa hingga akhirnya kami bertiga bersahabat nan akrab hingga sekarang menjadi istri dan ibu.

Ada kejadian lucu diantara kami yang tidak akan kami lupakan.
Terkisahlah pada saat itu kami sedang jalan-jalan ke Pantai Pasir Padi, hal wajib yang kami lakukan saat mereka berdua pulang ke Bangka saat libur kuliah. Saat itu kebetulan aku dan Titok sudah memiliki pacar, hanya ita yang masih jomblo. Lalu lewatlah kami di depan Biru Laut, restoran di pinggir pantai yang menjadi icon pantai pasir padi tersebut. Aku kemudian berkata : "Hei, siapa yang menikah dulu... pokoknya traktir ya." ucapku. :Ya, traktirnya di Biru Laut!" kata Ita. untuk anak kuliahan tentu makan di restoran itu tergolong mahal. "Wah, curang! kata titok." saat itu titok sungguh galau mendengar ucapakan kami. Tentu saja, saat itu titok merasa takut harus mentraktir kami karena saat itu ia lah yang memiliki hubungan serius dengan seorang pria yang telah mapan. Kamibertiga akhirnya sepakat akan janji itu.

Bertahun-tahun berlalu, akhirnya masa itu tiba. Namun apa yang kami bayangkan waktu itu jauh berbeda dengan apa yang terjadi. ternyata yang lebih dulu menikah adalah Ita!!!! Ya, siapa disangka! ita akhirnya melepas masa lajangnya lebih dulu dibanding kami. Aku dan titok tertawa lega. sangat legaaaa!!! karena akhirnya Italah yang ditasbihkan harus membayar janji itu. Baru kemudian aku yang lebih dulu menikah, dan Titok lah yang akhirnya terakhir.

Setiap berkumpul janji itu saja yang kami ulang-ulang pada Ita. akhirnya, janji untuk mentraktir kami terealisasi pada tahun 2014 setelah kami memiliki satu orang anak. Walaupun bukan di Biru Laut! :P

CERPEN 4



Tentang Crista
Oleh : Yulistia Akbari


            Yuni berjalan menuju parkiran mobil. Ditangannya banyak barang yang telah ia beli di supermarket hanya untuk sekedar melampiaskan amarahnya yang tersisa walaupun ia tidak tahu apa yang harus dibelinya.
            Ia masuk kedalam mobil dan menutupnya. Kemudian menghela nafas panjang dan berat. Kenapa hal sekecil ini membuat pikiranku menjadi kacau, batinnya.
            Di usianya yang menginjak kepala lima ia telah meraih apa yang belum tentu mampu diraih oleh orang lain. Kedudukan yang terhormat, gaji yang lebih dari cukup, suami yang setia dan baik, juga ia telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap karena telah memiliki buah hati semata wayangnya, Crista, yang kini telah menginjak usia 17 tahun.
            Yang menjadi pikirannya selama ini adalah anak perempuan semata wayangnya, Crista. Gadis cantik jelita itu begitu memakan banyak pikiran Yuni diabnding dengan pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Akhir- akhir ini Yuni merasakan perubahan sikap Crista. Ataukah Yuni yang tidak bisa menerima keadaan  Crista yang beranjak dewasa?
            Saat masih kecil Crista adalah anak yang sangat lucu. Paras manisnya yang berhidung mancung dan lesung pipit membuat siapapun yang memandangnya akan merasa gemas. Ditambah dengan sikap periangnya yang suka bercerita. Disekolah pun ia termasuk anak yang pintar karena selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar disekolahnya. Kecerdasan yang menurun dari Papanya, dan kecantikan yang menurun dari Mamanya membuat Crista menjadi sosok yang sangat sempurna.
            Namun akhir-akhir ini Yuni merasakan perubahan pada sikap anaknya. Crista cenderung lebih menutup diri dan sudah jarang bercerita mengenai hari-harinya kepada dirininya. Crista lebih sering hang out bersama teman-temannya. Lebih sering mengurung diri dikamar sambil mendengarkan radio, browsing atau sekedar membaca buku.
            Dan yang paling berubah dari diri Crista dalah ia mulai memiliki teman lelaki yang sering datang kerumah setiap malam Minggu.
            Entah kenapa Yuni kurang merasa suka jika Crista harus memiliki hubungan dengan lelaki disaat ia masih harus sekolah dan menuntut ilmu. Walalupun tidak bisa dipungkiri di usianya yang belasan itu jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan lawan jenis adalah hal yang sangat menyenangkan, karena Yuni juga pernah muda.
            Tapi ia tidak mau Crista terjebak lebih dalam dari yang seharusnya. Perubahan  pada diri Crista membuat Yuni banyak berfikir. Ia takut Crista terjebak dalam pergaulan yang salah yang dapat menghancurkan masa depannya yang masih panjang.
            Yuni mulai melajukan mobilnya. Ia mengikuti alur jalan yang bahkan ia tidak tahu harus kemana. ” Crista... ” gumannya pelan.
            Siang tadi Yuni dan Crista bertengkar hebat.
” Mama pikir Crista tidak bisa menjaga diri? Crista udah besar, Ma.” Kata Crista.
“ Iya, kamu memang sudah besar, tapi belum cukup dewasa untuk bisa bersikap! Mama menghawatirkanmu karena Mama sayang padamu.”
“ Mama terlalu protektif! Apa salahnya Crista jalan bersama teman-teman. Toh nilai Crista di sekolah tetap baguskan, Ma?! “
“ Tapi Mama tidak suka kamu berpacaran! Kamu masih terlalu kecil!”
” Crista sudah dewasa, Ma! Teman teman Crista semuanya juga sudah memiliki pacar, kenapa Crista tidak?! ”
” Tidak ada jawaban apa-apa untuk pertanyaanmu itu, dan Mama tetap tidak mengizinkanmu untuk berpacaran disaat kamu masih sekolah!”
            Crista mengis dan segera masuk ke kamarnya. Selalu seperti itu. Seolah kamarnya adalah surga kedua untuknya. Entah apa yang ia lakukan didalam kamarnya seolah ia tidak punya waktu lagi untuk Mama nya.
            Yuni hanya merasa kesepian.
Mungkin inilah saat-saat tersulit yang harus Yuni jalani dalam menghadapi anaknya yang sedang mengalami masa puber. Entahlah, Yuni hanya merasa belum bisa menerima  dengan perubahan anaknya tersebut.
****
”Aku gak tau harus gimana lagi menghadapi Crista, Ka.” Eka, sahabat yang selalu setia bersama Yuni. Tidak hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sahabat yang setia. Persahabatan yang telah mereka  jalin sejak duduk di bangku perkuliahan.
            Eka menyuguhkan secangkir teh hangat, ”Diminum dulu tehnya. Itu hanya masalah pubertas, Yun. Bukankah kita dulu juga mengalaminya?”
” Tapi aku takut, Ka. Aku gak mau Crista salah langkah. Aku takut.”
Eka diam sejenak dan mengalihkan pandangannya, ” Jangan mengingat masa lalumu, Yuni. Aku tahu ini semua ketakutanmu.”
Yuni hanya terdiam.
            Eka benar. Sikap Yuni yang protektif dan berlebihan kepada Crista adalah wujud ketakutannya atas semua kesalahan yang pernah Yuni lakukan di masa lalu. Yuni kembali terbayang dengan kejadian di masa lalu, saat ia masih remaja.
            Sama halnya dengan Crista, di usia yang ke tujuh belas tahun Yuni mulai merasakan jatuh cinta. Betapa indahnya perasaan yang ia miliki saat itu. Faisal. Nama lelaki itu Faisal. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih. Senyum manisnya dan tatap matanya yang tajam bagi Yuni adalah mantra terhebat yang diberikan alam untuknya. Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu ia adalah murid pindahan di SMA, Yuni sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak hanya wajahnya yang manis itu yang membuat Yuni terpesona, tetapi lelaki kurus tinggi itu juga memiliki tutur kata yang indah juga pintar.    Yang paling membahagiakan adalah ternyata ia juga menaruh hati pada Yuni. Dan pendek kata, mereka pun menjalin  cinta.
Cinta masa remaja memang adalah cinta yang paling penuh dengan bunga-bunga. Begitupun apa yang Yuni rasakan bersama Faisal. Kebersamaan dan kebahagiaan tiada duanya. Dan ternyata kebersamaan itu membuat mereka terlena. Dan hal paling ternista pun terjadi diantara insan remaja tersebut.
****
            Masih lekat dalam ingatakan Yuni saat orangtuanya  memperlihatkan wajah berang. Papa memukul Yuni dengan sebalok kayu yang entah ia dapatkan dari mana. Dan Mama hanya menangis penuh dengan kesedihan saat mengetahui dirinya hamil. ”Papa tidak sudi punya cucu diluar nikah! Dasar kamu anak tidak tahu diuntung! Dasar tidak bisa menjaga diri! Mau jadi apa kamu?!”  masih terngiang dan tak akan Yuni lupakan perkataan Papa yang sangat menyakiti hati. Tapi ia hanya bisa diam dan menerima pukulan dari Papa. Karena aku yang salah.
            Papa tidak sudi nama baiknya tercoreng dihadapan keluarga besar, akhirnya bersama Mama dan Papa, mereka pergi ke luar kota dengan satu tujuan : menggugurkan kandungan.  Dan sejak hari itu, Yuni tidak pernah lagi bertemu Faisal.  Teman-teman bilang, ia kembali pindah sekolah. Tapi, belakang Yuni tahu bahwa Papa memanfaatkan kekuasaanya untuk membujuk Kepala Sekolah memindahkan Faisal dari sekolah kami, entah bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Papa bisa melakukan apa saja demi harga diri dan kehormatan.
            Setelah aku menggugurkan kandungan, waktu berjalan begitu mengambang bagi Yuni. Cinta yang hilang tak tahu dimana. Memang harga dirinya terselamatkan, Yuni si gadis cantik nan anggun. Wanita baik-baik dari keluarga terhormat. Tapi tak satu pun yang tahu bahwa ia  pernah mengandung dan melakukan aborsi, kecuali Mama, Papa, Fasisal mungkin. Tapi Tuhan tahu. Hidup Yuni berjalan sebagaimana adanya, tepatnya seperti yang Papa inginkan. Kuliah, menikah, dan sukses.
*****
            Dibangku kuliah Yuni bertemu dengan Eka. Sosok supel, cerdas dan ramah adalah sahabat terbaik yang aku punya. Melalui Eka lah Yuni bertemu dengan Anggara. Dan mereka pun menjalin kasih. Saat hubungan mereka terasa semakin serius, Yuni pun memutuskan untuk jujur kepada Eka dan Anggara tentang masa lalunya. Dan ternyata Tuhan masih menyayangi Yuni, Angga dan Eka menerima masa lalunya dengan ikhlas walaupun awalnya tampak shock. Tapi, semuanya baik-baik saja bahkan Anggara melamar Yuni dan telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun, tanpa pernah mengungkit masa lalu.
            ”Kamu gak bisa mengekang dia atas perubahan alami itu. Hanya butuh cara yang tepat.” Eka berkata dengan santainya.
” Caranya bagaimana, Ka... aku bingung.”
” Dengan jujur, katakan ketakutanmu. Dan berikan ia alasan yang logis, jangan hanya berkata tidak tanpa memberikan alasan yang bisa ia terima. Crista itu cerdas, ia tidak akan menerima peraturan tanpa tahu tujuannya. Lagipula, siapa sih yang bisa menahan perasaan jatuh cinta. Ingat, Crista itu masih 17 tahun.”
Lama Yuni diam. Akhirnya rasa haus menggerogoti, teh manis yang sudah dingin itu pun ia minum. ”Kamu benar, Ka. Aku harus jujur pada Crista.
****
Malam menunjukkan pukul delapan. Anggara belum juga pulang dari kantor, macet membuat ia terlambat. Dan Crista seperti biasa berada di dalam kamarnya. Ragu Yuni melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi poster Spiderman, entah kenapa gadis secantik Crista menyukai pahlawan laba-laba ini. Ia menarik nafas panjang, dan mengetuk  pintunya. ”Crista, ini mama. Mama mau bciara, boleh?” Diam. Tak ada sahutan. Tapi setu detik kemudian pintu terbuka, ”Masuk ma.”
Yuni memasuki istana pribadi Crista dan duduk di atas tempat tidurnya. “Tentang peraturan mama yang ngelarang kamu pacaran.” Aku memulai pembicaraan. Crista diam sambil memandangiku, penuh tanya.  “Ada alasannya, Crista. Mama gak mau sekolahmu terganggu.”
“ Tapi Crista tetap di tiga besar kan ma?” Crita meyakinkan diri. Ya, Yuni tahu. Siapapun tidak akan bisa menampik keenceran otak Crista.
“ Siapa nama pacarmu?” Yuni kembali bertanya.
“ Baru pdkt kok ma,” jawab Crista. Ada sedikit kelegaaan
” Ada yang ingin mama ceritakan kepadamu, dan Mama harap kamu sudah siap menerima cerita Mama.”
Dan aku mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun silam pada Crista.*
****
”Aku menceritakan semuanya pada Crista, Mas.” Kata Yuni pada Anggara malam ini, saat hanya berdua ditempat tidur. Anggara memandangnya heran. “Tentang masa laluku, yang pernah aborsi.” Lanjutnya.
“ Kenapa, sayang? Apa yang terjadi hingga kamu menceritakannya pada anak kita?”
“Crista sudah mulai jatuh cinta, Mas. Dan kami bertengkar hebat karena aku melarangnya pacaran. Aku takut kesalahan yang terjadi di masa lalu terjadi kembali kepada anak kita. Aku gak mau, Mas. Aku takut.”
Anggara masih memandangku lembut, keteduhan hati yang ia pancarkan. Aku melanjutkan cerita,
“Akhirnya aku jujur pada Crista, ketakutan yang aku rasakan.”
“ Bagaimana reaksinya?”
“ Crista ternyata memiliki gen-mu lebih dominan, Mas. Ia menerima ceritaku, seperti halnya ia menerima ku. Crista berkata bahwa baginya aku adalah mama terbaik yang ia punya. Dengan atau tanpa kesalahan di masa laluku. Seperti yang kamu katakan waktu melamarku, mas.”
Dan Anggara memeluk Yuni dengan hangat malam itu. ia bahagia. Sangat bahagia.
****
Crista mendekati Mamanya yang sedang memotong bonsai. Yuni berhenti sejenak dan memandangnya, ”Ada apa, sayang?”
”Ma, Crista gak mau pacaran.”
“Lho kenapa?”
“Cowok gak bisa dipercaya.”
“Lho..lho, kenapa sih?”
“Crista nyaris aja jadian sama Hari kalo gak keburu ketauan kalo ternyata dia ceweknya banyak. Amit-amit deh ma pacaran ama playboy.”
Yuni tersenyum. “Artinya Tuhan masih sayang sama Crista. Crista masih dilindungi dari orang jahat.”
“Iya Ma, tar aja pacarannya. Kalo Crista udah cukup gede. Sekarang mau sekolah aja dulu.”
Yuni memeluk Crista erat, dan mencium pipinya.
“Crista mau dapet jodoh kaya Papa.”
Yuni tersenyum memandang Crista yangcantik, “Pasti, sayang. Bahkan yang lebih baik dari papa.”
Sore itu terasa sangat indah untuk Yuni





Maret 2011

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -