Ada kejadian yang cukup membuat perasaan ini terasa tidak enak dikarenakan seseorang : Ibu.
Sejak aku masih remaja hingga sekrang menurutku Ibu adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk menjadi wadahku bercerita segala hal. tentang apa yang telah aku alami, lalui dan rasakan. Ibu menjadi tempat yang tepat untuk berkeluh kesah serta meminta pendapat. Hampir tidak ada hal yang aku rahasiakan pada Ibu.
Kebiasaan menceritakan segala hal kepada Ibu ternyata sedikit membuatku 'galau' saat telah menjadi istri. Tentunya sama seperti saat aku masih belum menikah, aku masih saja menceritakan berbagai kisah termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku dan suamiku. Yang tentunya tidak aku sortir sama sekali, baik buruk semuanya aku ceritakan pada Ibu. Lantas pada siapa lagi yang aku percaya cerita itu akan aman bila selain Ibu? Tidak ada Ibu yang akan menjatuhkan anaknya, bukan?
Sayangnya aku tidak memahami bagaimana perasaan Ibu.
Aku seharusnya bisa membatasi diri atas cerita-ceritaku. Karena Ibu tetaplah seorang Ibu.
Setiap kali ada masalah atau bertengkar dengan suami (walaupun sampai sekrang bertengkar kami hanya hal-hal sepele, paling tinggi aku merajuk kepada beliau) aku akan langsung menceritakannya kepada Ibu. menumpahkan segala emosi dan kemarahanku. Ternyata hal itu berpengaruh kepada Ibu. Ibu ikut menjadi kesal dengan suamiku!
Oke, perbedaannya adalah jika seorang istri kesal dengan suaminya, kekesalannya itu akan menguap seiring dengan kembali harmonisnya hubungan itu. Jadi, saat aku dan suamiku sudah kembali mesra aku akan melupakan kekesalanku itu. Berbeda dengan Ibu. Ibu akan selalu kesal dan mempengaruhi perasaannya kepada si menantu!
Kacaulah aku!
Bagaimanapun aku tidak mau Ibu menjadi kesal atau berkurang rasa sukanya kepada suamiku. Aku bahagia melihat bagaimana Ibu menyayangi suamiku dan bagaimana suamiku menyayangi suamiku. Setiap manusia punya kekurangan, termasuk suamiku. Setiap manusia memiliki sisi yang bertentangan dengan orang lain, termasuk suamiku. Dan sekarang aku yang pusing menghadapi kegamangan sikap Ibu. Antara masih sayang dan kesal dengan suamiku.
Pernyataan Ibu yang merasa kesal dengan sikap suamiku (yang tentunya berdasarkan apa yangaku ceritakan pada Ibu) membuat Ibu malas datang kerumah kami. Ibu lebih memilih menahan rindunya kepada sang cucu daripada datang kerumah kami. Pun jika kami kesana Ibu hanya bereaksi sekedarnya. Makin bingunglah aku!
Pada titik ini aku menyadari bahwa seorang Ibu tetaplah Ibu. Tetaplah ia akan merasa sakit saat anaknya disakiti, tetaplah akan menyimpan luka saat melihat anaknya menangis atau terluka. Hal ini memberikan pelajaran untukku, aku harus mampu berperan ditengah-tengah. Sebagai anak dan sebagai istri. Aku belajar untuk tidak menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, cukuplah yang indah-indah dan bagusnya saja agar Ibu tidak memiliki beban pikiran atau perasaan tentang kehidupan rumah tanggaku.
Lantas, kepada siapa aku mengadu?
Jawaban terbaiknya adalah : Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar