Jumat, 22 Januari 2021
Aku dan Kopi
Minggu, 01 November 2020
Aku
Aku ingin menuliskan isi hatiku.
Namun sedang tak bisa menulis, karena aku tak tahu perasaanku.
Apakah aku?
Siapakah aku?
Bagaimana aku?
hanya itu yang terulis dii benakku.
Aku ingin menulis
Menuliskan isi hatiku
Tapi tak tahu apa yang ingin ku tulis
Kamis, 11 Juni 2020
Covid-19 membunuh kesempatan kami untuk memadu kebersamaan.
Rabu, 08 April 2020
Hamil? Insyaallah segera!
Minggu, 05 April 2020
Ketika Harus ASI Pumping Eksklusif
Jumat, 07 Februari 2020
Ada namamu disana
Ingin sekali aku menyapamu, bahkan sekedar untuk menyapa dan menanyakan kabarmu. Apakah kau baik-baik saja disana tanpa diriku. Apakah kau seterluka aku dengan keadaan ini. Apakah kau merindukan aku seperti aku merindukanmu. Ataukah kau mengharapkan kehadiranku seperti aku begitu merasakan keahausan akan kedatanganmu.
Ada namamu disana.
Namun aku tak kuasa untuk memanggilmu. Aku tak mampu lagi. Yang dapat ku lakukan saat ini adalah menangis, di dalam hati. Tidak tidak. Ini bukan lagi menangis dalam hati jika air mataku sudah bercucuran. Ingus ku naik turun.
Tuhan. Tuhan. Tuhan.
Mengapa ada rasa cinta yang besar dalam hatiku jika aku tak kuasa membahagiakan dan dibahagiakan oleh orang yang aku cintai. Mengapa Kau pertemukan bila akan terpisahkan? Tahukan Engkau Tuhan, hatiku begitu sakit. Sudah tiga malam aku menangis dan mataku bengkak. Aku tak bisa tidur, aku merana.
Ada namamu disana.
Namun aku hanya mematung dalam kesendirianku.
Aku hanya mampu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku sangat merindukanmu. Imajinasiku emmbayangkan senyummu dihadapan wajahku. Hangatnya pelukanmu. Betapa aku sangat bahagia ketika bersamamu. Aku mengutuk diriku sendiri yang sangat menginginkan dirimu.
Ada namamu disana.
Kamis, 09 Januari 2020
"Bu, Dia Kentut!"
Sepanjang Sudirman hingga Ahmad Yani
Ku lahirkan bayi-bayi kekecewaanku dalam bentuk kristal yang menguap
Kau mengatakan padaku bahwa nafasmu nafasku satu helaan nafas
Namun pada akhirnya hilang sudah paru-paruku, satu.
Kini ku dengar lonceng berbunyi
Dengusan, bau miang, busuk, canda tawa
Mereka tertawa kegirangan
Tak tahu bahwa empedu mau pecah
Tak tahu bertahun-tahun setelah itu mereka bisa merasakan yang sama
Katanya aku galau
"Bu, dia kentut!"
Ah persetan dengan kentutmu!
Otakku sedang bekerjasama dengan hati dalam mengelabui diriku
Memaksa mengenangmu
Kembali tenggelam bersama perahu memori
Berlayar. Mengarungi hempasan.
Bahkan berjuta detik setelahnya aku masih mengenang harum tubuhmu
Tawamu seperti merah putih yang ditarik fan dikembangkan
Lalu petugas akan berkata : "Bendera siap!"
Cih!
Bagaimana bisa aku menganalogikan senyumu sedemikian rupa
Mungkin karena hanya senyummu dan kibaran Sang Saka yang membuat hatiku bergetar dan menangis dalam masa yang sama
Mengapa serumit itu Tuhan menciptakan
Harapan. Hasrat. Mimpi
Namun ternyata ia tertinggal
Karena hanya sebagai alunan. Lantunan. Dendangan nada indahku
Ketika ku diperkenalkan Tuhan tentang cara mencintai dan dicintai untuk kali pertama
Ku pandangi si wangi berkelupak layu
Layaknya asa.
Wangi.
Tapi telah layu.
Januari 2020
Selasa, 07 Januari 2020
Kenanga
Kenanga
Kamis, 02 Januari 2020
Januari 2020
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti
tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja
kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa
***
sekarang aku memahami artinya.
sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.
sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.
aku hanya akan tersenyum.
aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.
mungkin aku menyesalinya.
namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.
Senin, 16 Desember 2019
Bia
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.
"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.
Dan hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Namun aku dan dirinya kini telah menjadi satu. Tidak pernah seharipun kami terlepas satu sama lain. Pertemuan adalah seperti obat pereda nyeri dalam hatiku. Setiap malam, wajahnya seperti potongan kolase yang bermain-main dalam benakku.
Aku membayangkan bagaimana bila disetiap malam aku bisa membelainya, menyentuhnya dan merasakan manis bibir ranumnya. Bia. Tidak pernah terjadi apapun diantara kami, setidaknya hingga detik ini. Setiap bertemu yang kami lakukan hanyalah minum kopi bersama dan menceritakan keseharian masing-masing, berbagi tentang kepenatan dan juga cerita remeh yang kami temui disepanjang hari.
"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat, aku sungguh merasa bosan namun ingin menemukan sedikit inspirasi." ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya dengan lembut. Bisakah aku saja yang kau hisap? lirihku dalam hati, fantasiku bermain.
Lalu kami melaju kencang menuju salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi bersamanya, hal itu telah aku putuskan beberapa minggu yang lalu.
"Aku suka tempat ini. Tenang, tapi menenggelamkan." ujarnya.
"Sesekali aku kesini jika sedang merasa ingin menyendiri."
"Apakah kau pernah merasa kesepian? Seperti ada potongan dalam hatimu, hilang. Dan belum kau temukan." Bia mentap air terjun yang menggulung-gulung dihadapannya. Bahkan saat percikan air itu jatuh di wajahnya, menghembuskan rambutnya yang ikal ia terlihat sungguh menarik.
Aku diam, enggan menjawab.
Ia pun diam.
"Kenapa?" tanya nya heran.
"Aku sedang merasakan hal tersebut." jawabku. Ia membalasnya dengan kernyitan di dahi.
"Bisa jadi, sebenarnya kau adalah potongan kosong dalam hatiku. Dan selamanya aku tidak akan pernah bisa melengkapi kekosongan yang tertinggal itu. Karena potongan itu adalah dirimu."
Ia tertegun,
Dan entah apa yang mendorongku untuk berani merasakan manisnya bibir berlipstik merah menyala itu.
Dan Bia tak menolak, ia menikmatinya.
Kami saling jatuh cinta.
Menjelajahi waktu dan ruang bersama. Melupakan apa yang telah mengikat kami selama ini, meluluh lantakkan sakralnya hidup yang selama ini mengikat. Bersamanya aku melupakan dogma dan norma. Aku menikmati setiap tawa, cerita dan sentuhan kami entah itu kecil ataupun bergairah. Aku sungguh merasa jatuh cinta padanya. Pada kesederhanaannya dan juga kecerdasannya. Bagaimana ia mampu mengolah semua kata terasa indah ditelingaku, ataupun perilaku nya yang manja mampu menyihirku. Aku terbutakan. Ataukan memang begini memabukkannya jatuh cinta saat telah terikat?
Pernah suatu malam aku ingin sekali memutuskan untuk berhenti. Sungguh berhenti menemuimu. Namun keesokannya aku akan berada dalam keadaan mencari-cari kehadiranmu. Begitu terus berulang dan berulang. Sehingga aku memutuskan untuk menikmati saja. Tenggelam dalam kecanduanku padamu.
Entah apa yang kau rasakan.
Bisa jadi aku hanyalah selingan, dan seharusnya itulah yang boleh ia rasakan. Begitupun diriku.
"Harusnya, kau memang hanya remahan biskuit dalam toples makanan ku." ujarnya suatu hari.
"Tapi entah kenapa, aku merasakan porsi yang sama. antara dirimu dan dirinya."
Aku hanya diam. Mencerna semua perkataannya.
"Namun, keberadaanku berbeda denganmu. Aku, tidak bisa mengorbankan kehidupanku untuk terus bersamamu."
Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?". Aku mencoba emmahami arah pembicaraan ini.
"Aku merasa kita harus berhenti." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Setelah selama ini? Kita sudah bersama selama lima bulan, Bia! Dan semua terasa menyenangkan."
Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, menciumnya dengan sepenuh hatiku. Bibirnya yang tebal memenuhi bibirku. Aku suka setiap ia melumatku. Manis.
Ia menarik diri.
"Aku tahu. Dan ini terasa terlalu menyenangkan." ia menjawab. matanya kosong. "Aku seperti membutuhkanmu setiap detik. Bahkan saat dirumah yang aku lakukan hanyalah mengecek sosial mediamu, melihat aktifitasmu dan berharap kau bisa mengirimu pesan setiap detik. Dan itu berpengaruh pada kehidupanku. Malam itu, Ben bertanya apakah ada yang salah dalam diriku. "
"Dan saat itu kau sadar bahwa kita harus berhenti?" tandasku.
Bia mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bersedia bertemu satu kali dalam sebulan. Tapi Bia, jangan berhenti menemuiku. Aku membutuhkanmu."
"Bagaimana bisa? Aku sungguh ketakukan sekarang!"
"Tidak ada yang tahu. Kita tidak akan membicarakannya pada siapapun."
"Perasaanku kacau! Aku takut ini akan mempengaruhi keluargaku. Kita harus berhenti. Berhenti!"
"Tapi Bia... aku sungguh mencintaimu."
"Dan kau pun tahu aku mencintaimu. Bersamamu seperti surga untukku."
Lalu kami terdiam. Aku tahu, Bia membutuhkan waktu untuk mengeti apa yang ia rasakan. Aku tidak akan memaksanya, tidak akan. Ia memiliki lebih banyak yang dipertaruhkan dalam hidupnya. Ia bergantung pada suaminya. Si brengsek Ben. Pria tampan, mapan dan juga setia itu. Yang akan ia ceritakan dengan bangga kepadaku betapa ia bersyukur memiliki Ben dalam hidupnya.
Ben yang selalu ada dalam kondisi tersulit Bia. Entah itu dalam mengurus anak-anak mereka atau pun sekedar mencuci pakaian untuknya. Aku sangat membenci itu, namun bersyukur. Setidaknya Bia bahagia dalam pernikahannya. Dan aku mengerti ia dalam persimpangan.
Hanya saja, aku berharap hubungan kami selamanya.
Aku memandang ujung sepatuku. Aku tidak akan mempertahankan Bia. Biarlah ia memutuskan suara hatinya, dan kebimbangannya. Tugas ku, hanya menunggunya.
Sudah 360 hari sejak pertemuan terakhir kami. Dan tidak ada komunikasi sama sekali. Kadang hatiku memanggil-manggilnya, terasa dahaga akan kehadirannya. Namun, aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin mengganggu keputusannya.
Sore itu aku memandang laut dari tepian jembatan. Rautmu menari-nari di pelupuk mataku. Ada rindu dalam hatiku yang mengingkan untuk meyentuhmu. Saat kau berkata betapa indahnya mata dan senyumku. Betapa kau menyukai kegenitanku. Dan betapa kau menyukai rasa yang ada diantara kita. "Bersamamu aku merasa dicintai." itu katamu.
Angin menghembus wajahku. Pori-poriku terasa menciut. Dingin. Sedingin hatiku.
"Mama, ayo kita bermain lempar bola ini. Papa menunggu." Alya memanggilku dengan nada riang. Di ujung sana Ali melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum memandangnya, lalu meraih tangan Alya untuk menuju Ali. Suamiku.
Sungailiat, Desember 2019
Rabu, 24 Oktober 2018
Aku - rindu
Menjelma seperti merpati
Terbang entah kemana mencari arti
Menghirup kebebasan yang semu
Harapan seperti ambigu
Jika aku ke kiri, aku sepi
Kehilangan sebelah hati
Jika aku kekanan, aku kosong
Seperti ada yang hilang dari diri
Tapi aku belum menemukan kesempatan
Untuk menghimpun kanan dan kiri
Aku merindu
Seperti punguk kepada bulan
Seperti romeo pada juliet
Seperti ibu pada anak
Meruah...
Hambur...
Tak terbendung...
Tak termakna
Hidup seperti apa yang tercitra
Makna apa yang di duga
Aku masih berada seperti adanya
Berusaha
Berusaha
Berusaha
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...
