Cerita persahabatanku dengan kopi dimulai ketika aku mulai bekerja di salah satu perusahaan. Saat itu kerap sekali ku habiskan waktu menjelajahi dunia maya hingga tengah malam, balas dendam setelah seharian lelah menjelajahi dokumen dan pergulatan bersama tim. Agar tubuh terasa fit dan siap menjalani rutinitas tanpa rasa kantuk, aku akan menyeduh menyeduh kopi, walaupun masih berupa kopi instan. Cukup satu sachet satu hari, kalau tidak aku tidak akan bisa tidur hingga subuh menyerang.
Sejak saat itu tiada hari tanpa kopi instan.
Jika pekerjaan menumpuk, dan mencegah mata ini terlelap maka si kopi adalah solusinya.
Aku tidak menyukai kopi hitam. Bagiku rasanya terlalu "tua", pekat dan juga tak cocok ditambahkan es.
Aku menyukai kopi, namun yang instan.
Mungkin seperti itulah karakterku : suka yang simpel, enak dan cocok dengan segala sesuatu yang fleksibel. Otentik tidak terlalu menjadi pertimbangan. Aku tak suka yang terlalu rumit, cukuplah kehidupanku yang rumit.
Berkali-kali aku bertanya, kenapa aku tidak menyukai kopi hitam. Semua kembali pada satu kesimpulan : aku dapat meminumnya namun tidak terlalu ku sukai.
Sedangkan kopi instan, aku dapat meminumnya setiap hari namun tidak boleh melebihi kadar toleransi tubuhku. Kalau tidak, bencana akan datang. Aku tak bisa tidur! Namun, aku membutuhkan lebih dari dua sachet kopi disaat-saat yang tak terduga, disaat-saat kritis dan genting.
Rasa manis yang mampu membangkitkan semangat.
Pahit yang tak pekat membuatku mengercap
Kopi ku.
Terasa menyenangkan ketika menikmatinya sambil berhadap-hadapan.
Bersama menyeruput kopi dan memandang wajahmu.
Kopi ku.
Kopi mu.
Kopi kita.
Semenjak hamil, aku memutuskan untuk tidak meminum kopi instan lagi. Menurutku tak baik untuk kesehatan janin. Telah lima bulan aku menghindari dan meminimalisir menikmati kopi instan. Sesekali aku tergoda, namun aku selalu berusaha kembali ke jalan yang benar.
Menghindari sesuatu yang sudah kita sukai bertahun-tahun ternyata sangat sulit.
Namun aku memiliki alasan yang sangat tepat : ada kehidupan yang ingin ku jaga.
Demikianlah kisah persabahatanku bersama kopi. Suatu saat kau akan ku nikmati kembali, cepat atau lambat namun pada waktu yang tepat. Tentunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar