Ketika Harus ASI Pumping
Eksklusif
Penulis
: Yulistia Akbari
Melahirkan
adalah suatu proses yang sangat luar biasa. Semua keajaiban di dunia seolah
dikumpulkan Tuhan dalam satu moment yaitu melahirkan. Rasa sakit yang tidak
bisa didefinisikan lagi apa maknanya , melebur menjadi titik –titik tidak
berbekas saat bayi pertama kami lahir secara caesar setelah dua belas jam induksi yang tidak membuahkan hasil
yang memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Lalu lahirlah bayi tampan
yang kami beri nama Arjuna Zabran Gunawan dengan gagahnya ke dunia yang penuh
dengan tantangan ini sekitar pada pukul sembilan malam.
Saya
mengalami sedikit kekecewaan kepada pihak rumah sakit ditempat saya melahirkan,
karena para bidannya tidak memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada saat anak
saya lahir. Walaupun dalam keadaan terbius, saya dapat merasakan bahwa tidak
adanya tindakan IMD tersebut, padahal saya tahu seharusnya IMD itu diberikan
kepada bayi baik si Ibu melahirkan normal ataupun operasi. Setelah beberapa menit
saya sadar pun IMD tersebut tidak kunjung diberikan. Beberapa jam berlalusetelah
melahirkan barulah kemudiann para perawat di Rumah Sakit mengatakan kepada saya
bahwa anak saya akan diberikan susu formula (sufor) , “Ibu, bayi nya kita kasih
sufor dulu ya biar gak kelaperan nanti”.
“Nanti
kalau dikasih sufor, anak saya tidak mau lagi menyusui.” Alasan saya dengan
hati-hati, takut menggurui atau menyinggung para perawat yang mungkin seharusnya
sudah mumpuni dibidangnya.
“Besok
kami ajari cara menyusuinya, Bu. Tenang saja, bayinya mau kok nanti menyusui
kan sekarang ASI-nya aja belum keluar.” Jawab perawat bertubuh gempal tersebut.
Berat
hati saya untuk menyetujui pemberian sufor itu, tapi kondisi yang masih lemah
setelah operasi membuat saya tidak mau berbantah dengan perawat, apalagi Ibu
saya terlihat tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Mata saya mencari
keberadaan suami saya yang sepertinya sibuk mengurus mempersiapkan
barang-barang untuk dibawa kerumah sakit. Seandainya suami saya berada di dekat
saya waktu itu, pastilah ia akan mencegah si perawat memberikan sufor. Akhirnya
saya berdiam diri dan hanya menahan sakit sakit sambil hanya menatap
slogan-slogan tentang pentingnya ASI dan IMD bagi bayi yang tertempel didinding
kamar rumah sakit. Walaupun pada nyatanya apa yang tertempel di dinding rumah
sakit bertentangan dengan apa yang saya alami. Keesokan harinya barulah saya
diajarkan untuk menyusui, tentang pelekatan dan rasa sabar oleh perawat. Saat
pertama kali merasakan Arjuna bersemangat untuk menyusui, seperti orang
kelaparan, air mata ini jatuh dengan sedirinya. Bangga , terharu, cinta juga
bahagia menjadi satu.
Tantangan
yang sesungguhnya dalam memberikan ASI dimulai saat kami telah pulang dari
rumah sakit. Rasa semangat untuk memberi ASI sedikit terganggu dengan banyaknya
pendapat “orang-orang lama” entah itu saudara ataupun teman yang menyarankan untuk
memberikan susu formula. “Biar anaknya kenyang, ga nangis terus terusan”
asumsinya.
Saja
jawab santai aja , “Namanya juga bayi, ya nangis dong kerjaannya” saya keukeh tidak mau susu formula. Cukuplah si
perawat yang ‘meracuni’ niat untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak saya
dengan susu formula. Setiap ‘godaan’ yang datang untuk menggunakan susu formula
berhasil saya tepis , apalagi suami sangat mendukung untuk memberikan ASI
eksklusif. Suami tidak pernah absen untuk bangun malam walaupun hanya sekedar
membantu meletakkan bantal diatas tangan demi kenyamanan sang anak untuk
bersandar kala menyusi ditengah malam.
Pada
bulan kedua setelah Arjuna lahir, tiba-tia saja ia tidak mau lagi menyusui.
Entah itu dikarenakan ASI saya yang selalu membuatnya kewalahan karena setiap
kali ia menyusui, beberapa menit kemudian ia akan tersedak karena ASI yang keluar
terlalu kencang tidak sebanding dengan kekuatannya dalam menelan ASI tersebut.
Atau karena ia merasa lebih nyaman menyusi dari dot yang tidak muncrat seperti
saat menyusi langsung, atau bisa jadi karena keduanya. Memang, kebiasaan saya adalah
saat Arjuna menyusui di salah satu
payudara, saya akan menampung ASI yang keluar dari payudara sebelahnya di
botol. Kemudian ASI yang keluar tersebut saya berikan kepada Arjuna melalui
botol. Waktu itu saya berpikir : “Sayang kalo dibuang. Ntar aja stok ASI-nya kalo udah kerja.”
Pola
pikir saya itu salah besar, akibatnya Arjuna lebih suka menyusui di botol karena
lebih teratur keluarnya dibanding ASI saya yang muncrat kemana-mana.
Istilahnya, bingung puting. Pernah saya mencoba untuk relaktasi, tapi saya
menyerah karena suasana tidak mendukung. Ibu saya tidak tahan mendengar
tangisan Arjuna yang membahana ketika disodorkan payudara, “Biarin aja lah
dikasih dot, daripada nangis kaya gitu. Malu sama tetangga.”. Ah, saya memilih
mengalah saja menuruti nasihat Ibu walaupun berat hati. Sama seperti saya
membiarkan perawat memberikan sufor pada Arjuna disaat ia lahir.
Kemudian
saat Arjuna berusia dua bulan setengah, ia sama sekali sudah enggan menyusui
langsung. Tak terhitung rasanya sakit hati ini saat melihat Arjuna membuang muka
ketika disodori payudara untuk menyusui. Ibaratnya sakit patah hati kalah
dengan sakitnya ditolak anak menyusui. Tapi, ASI eksklusif harus tetap
berjalan. Harus! Itu tekad saja.
Hasilnya,
adalah saya membeli pompa ASI sebanyak dua buah. Kiri dan kanan. Memerah asi
setiap dua jam sekali adalah hal wajib. Terhitung dalam sehari saya melakukan
dua belas kali pumping. Memberikan ASI
pumping eksklusif, istilah yang saya
buat ini, menjadi semakin berat ketika usia Arjuna menginjak tiga bulan dimana saya
harus kembali bekerja. Perusahaan yang bergerak dibidang perbankan ini tidak
memungkinkan saya untuk fleksibel
memberikan ASI Perah (ASIP) segar adalah salah satu tantangannya. Tapi hal
tersebut dapat diatasi dengan cooler bag
yang menjadi menjadi andalan.
Tantangan
lainnya adalah fisik. Setelah mulai bekerja, saya akui rasa lelah mudah sekali
menyerang. Apalagi pumping yang saya
lakukan setiap dua jam sekali. Titik paling berat adalah saat harus bangun
setiap dua jam mulai pukul 21.00 WIB sampai dengan 05.00 WIB demi memberikan ASIP
segar kepada Arjuna. Niat ini memang sudah saya canangkan sejak memberikan ASI pumping eksklusif bahwa saat dirumah ASIP
segar harus selalu saya sediakan bagi Juna dan saat saya berada di dekat Juna.
Hasilnya, kurang tidur dan makan menjadi hal biasa.
Tak
terbayangkan remuk redam dan kerepotannya saat memberikan ASIP pada Juna ini. Bangun
tengah malam, mengurus Juna yang termasuk kategori anak yang rewel, bekerja dan
bolak-balik mengantar ke rumah pengasuh, rasanya dua puluh empat jam terasa
kurang. Pernah terlintas dalam pikiran untuk
berhenti bekerja saja demi memberikan ASI eksklusif ini ini, tapi pertimbangan
lain membuat saya harus menghemas rapat-rapat niat itu.
Semakin
hari, produksi ASI saya semakin menipis. Entah itu dikarenakan karena ASI yang keluar
melalui pumping bukan isapan, atau
karena kelelahan, atau juga karena pumping
yang biasanya dari dua jam sekali menjadi empat jam sekali karena saya tertidur
kelelahan atau kesibukan kerja, saya tidak tahu pasti. Lalu hal yang paling
mengerikan terjadi : stok ASI dan juga produksi ASI benar-benar menurun di usia
Ajuna delapan bulan menjelang sembilan
bulan.
Dengan
berat hati kami memberikan susu formula kepada Arjuna, walaupun masih diselingi
ASI. Air mata merebak kemana-mana. Gagal
sudah niat S2. untuk Arjuna tersayang. Tapi suami menguatkan hati saya dengan
berkata : “Tidak apa-apa, kan setidaknya sudah berhasil eksklusif sampai lewat enam
bulan. Nanti kalau Juna punya adek, insyaallah samapai S2, jadikan ini
pelajaran”
Perjuangan
memberikan ASI menurut saya sangat luar biasa, karenanya saya sangat iri dengan
para ibu yang tidak bekerja yang mampu mengurus anak dan memberikan anak mereka
ASI eksklusif sampai dua tahun. Dan saya sangat kagum pada para ibu bekerja
yang berhasil memberikan ASI hingga dua tahun pada anak mereka. Semoga saja apabila
Tuhan memberikan kesempatan lain, saya mampu untuk memberikan ASI sampai 2 tahun
untuk anak saya tanpa satu tetes pun susu formula. Amin, semoga Tuhan selalu merahmati
para ibu yang berjuang demi memberikan ASI pada buah hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar