Selasa, 21 April 2015

CERPEN 4



Tentang Crista
Oleh : Yulistia Akbari


            Yuni berjalan menuju parkiran mobil. Ditangannya banyak barang yang telah ia beli di supermarket hanya untuk sekedar melampiaskan amarahnya yang tersisa walaupun ia tidak tahu apa yang harus dibelinya.
            Ia masuk kedalam mobil dan menutupnya. Kemudian menghela nafas panjang dan berat. Kenapa hal sekecil ini membuat pikiranku menjadi kacau, batinnya.
            Di usianya yang menginjak kepala lima ia telah meraih apa yang belum tentu mampu diraih oleh orang lain. Kedudukan yang terhormat, gaji yang lebih dari cukup, suami yang setia dan baik, juga ia telah mendapatkan kebahagiaan yang lengkap karena telah memiliki buah hati semata wayangnya, Crista, yang kini telah menginjak usia 17 tahun.
            Yang menjadi pikirannya selama ini adalah anak perempuan semata wayangnya, Crista. Gadis cantik jelita itu begitu memakan banyak pikiran Yuni diabnding dengan pekerjaannya yang menumpuk dikantor. Akhir- akhir ini Yuni merasakan perubahan sikap Crista. Ataukah Yuni yang tidak bisa menerima keadaan  Crista yang beranjak dewasa?
            Saat masih kecil Crista adalah anak yang sangat lucu. Paras manisnya yang berhidung mancung dan lesung pipit membuat siapapun yang memandangnya akan merasa gemas. Ditambah dengan sikap periangnya yang suka bercerita. Disekolah pun ia termasuk anak yang pintar karena selalu berhasil meraih peringkat sepuluh besar disekolahnya. Kecerdasan yang menurun dari Papanya, dan kecantikan yang menurun dari Mamanya membuat Crista menjadi sosok yang sangat sempurna.
            Namun akhir-akhir ini Yuni merasakan perubahan pada sikap anaknya. Crista cenderung lebih menutup diri dan sudah jarang bercerita mengenai hari-harinya kepada dirininya. Crista lebih sering hang out bersama teman-temannya. Lebih sering mengurung diri dikamar sambil mendengarkan radio, browsing atau sekedar membaca buku.
            Dan yang paling berubah dari diri Crista dalah ia mulai memiliki teman lelaki yang sering datang kerumah setiap malam Minggu.
            Entah kenapa Yuni kurang merasa suka jika Crista harus memiliki hubungan dengan lelaki disaat ia masih harus sekolah dan menuntut ilmu. Walalupun tidak bisa dipungkiri di usianya yang belasan itu jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan lawan jenis adalah hal yang sangat menyenangkan, karena Yuni juga pernah muda.
            Tapi ia tidak mau Crista terjebak lebih dalam dari yang seharusnya. Perubahan  pada diri Crista membuat Yuni banyak berfikir. Ia takut Crista terjebak dalam pergaulan yang salah yang dapat menghancurkan masa depannya yang masih panjang.
            Yuni mulai melajukan mobilnya. Ia mengikuti alur jalan yang bahkan ia tidak tahu harus kemana. ” Crista... ” gumannya pelan.
            Siang tadi Yuni dan Crista bertengkar hebat.
” Mama pikir Crista tidak bisa menjaga diri? Crista udah besar, Ma.” Kata Crista.
“ Iya, kamu memang sudah besar, tapi belum cukup dewasa untuk bisa bersikap! Mama menghawatirkanmu karena Mama sayang padamu.”
“ Mama terlalu protektif! Apa salahnya Crista jalan bersama teman-teman. Toh nilai Crista di sekolah tetap baguskan, Ma?! “
“ Tapi Mama tidak suka kamu berpacaran! Kamu masih terlalu kecil!”
” Crista sudah dewasa, Ma! Teman teman Crista semuanya juga sudah memiliki pacar, kenapa Crista tidak?! ”
” Tidak ada jawaban apa-apa untuk pertanyaanmu itu, dan Mama tetap tidak mengizinkanmu untuk berpacaran disaat kamu masih sekolah!”
            Crista mengis dan segera masuk ke kamarnya. Selalu seperti itu. Seolah kamarnya adalah surga kedua untuknya. Entah apa yang ia lakukan didalam kamarnya seolah ia tidak punya waktu lagi untuk Mama nya.
            Yuni hanya merasa kesepian.
Mungkin inilah saat-saat tersulit yang harus Yuni jalani dalam menghadapi anaknya yang sedang mengalami masa puber. Entahlah, Yuni hanya merasa belum bisa menerima  dengan perubahan anaknya tersebut.
****
”Aku gak tau harus gimana lagi menghadapi Crista, Ka.” Eka, sahabat yang selalu setia bersama Yuni. Tidak hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sahabat yang setia. Persahabatan yang telah mereka  jalin sejak duduk di bangku perkuliahan.
            Eka menyuguhkan secangkir teh hangat, ”Diminum dulu tehnya. Itu hanya masalah pubertas, Yun. Bukankah kita dulu juga mengalaminya?”
” Tapi aku takut, Ka. Aku gak mau Crista salah langkah. Aku takut.”
Eka diam sejenak dan mengalihkan pandangannya, ” Jangan mengingat masa lalumu, Yuni. Aku tahu ini semua ketakutanmu.”
Yuni hanya terdiam.
            Eka benar. Sikap Yuni yang protektif dan berlebihan kepada Crista adalah wujud ketakutannya atas semua kesalahan yang pernah Yuni lakukan di masa lalu. Yuni kembali terbayang dengan kejadian di masa lalu, saat ia masih remaja.
            Sama halnya dengan Crista, di usia yang ke tujuh belas tahun Yuni mulai merasakan jatuh cinta. Betapa indahnya perasaan yang ia miliki saat itu. Faisal. Nama lelaki itu Faisal. Wajahnya yang tampan dengan kulit putih bersih. Senyum manisnya dan tatap matanya yang tajam bagi Yuni adalah mantra terhebat yang diberikan alam untuknya. Sejak pertama kali melihatnya, waktu itu ia adalah murid pindahan di SMA, Yuni sudah jatuh cinta kepadanya. Tidak hanya wajahnya yang manis itu yang membuat Yuni terpesona, tetapi lelaki kurus tinggi itu juga memiliki tutur kata yang indah juga pintar.    Yang paling membahagiakan adalah ternyata ia juga menaruh hati pada Yuni. Dan pendek kata, mereka pun menjalin  cinta.
Cinta masa remaja memang adalah cinta yang paling penuh dengan bunga-bunga. Begitupun apa yang Yuni rasakan bersama Faisal. Kebersamaan dan kebahagiaan tiada duanya. Dan ternyata kebersamaan itu membuat mereka terlena. Dan hal paling ternista pun terjadi diantara insan remaja tersebut.
****
            Masih lekat dalam ingatakan Yuni saat orangtuanya  memperlihatkan wajah berang. Papa memukul Yuni dengan sebalok kayu yang entah ia dapatkan dari mana. Dan Mama hanya menangis penuh dengan kesedihan saat mengetahui dirinya hamil. ”Papa tidak sudi punya cucu diluar nikah! Dasar kamu anak tidak tahu diuntung! Dasar tidak bisa menjaga diri! Mau jadi apa kamu?!”  masih terngiang dan tak akan Yuni lupakan perkataan Papa yang sangat menyakiti hati. Tapi ia hanya bisa diam dan menerima pukulan dari Papa. Karena aku yang salah.
            Papa tidak sudi nama baiknya tercoreng dihadapan keluarga besar, akhirnya bersama Mama dan Papa, mereka pergi ke luar kota dengan satu tujuan : menggugurkan kandungan.  Dan sejak hari itu, Yuni tidak pernah lagi bertemu Faisal.  Teman-teman bilang, ia kembali pindah sekolah. Tapi, belakang Yuni tahu bahwa Papa memanfaatkan kekuasaanya untuk membujuk Kepala Sekolah memindahkan Faisal dari sekolah kami, entah bagaimana caranya. Tapi aku tahu, Papa bisa melakukan apa saja demi harga diri dan kehormatan.
            Setelah aku menggugurkan kandungan, waktu berjalan begitu mengambang bagi Yuni. Cinta yang hilang tak tahu dimana. Memang harga dirinya terselamatkan, Yuni si gadis cantik nan anggun. Wanita baik-baik dari keluarga terhormat. Tapi tak satu pun yang tahu bahwa ia  pernah mengandung dan melakukan aborsi, kecuali Mama, Papa, Fasisal mungkin. Tapi Tuhan tahu. Hidup Yuni berjalan sebagaimana adanya, tepatnya seperti yang Papa inginkan. Kuliah, menikah, dan sukses.
*****
            Dibangku kuliah Yuni bertemu dengan Eka. Sosok supel, cerdas dan ramah adalah sahabat terbaik yang aku punya. Melalui Eka lah Yuni bertemu dengan Anggara. Dan mereka pun menjalin kasih. Saat hubungan mereka terasa semakin serius, Yuni pun memutuskan untuk jujur kepada Eka dan Anggara tentang masa lalunya. Dan ternyata Tuhan masih menyayangi Yuni, Angga dan Eka menerima masa lalunya dengan ikhlas walaupun awalnya tampak shock. Tapi, semuanya baik-baik saja bahkan Anggara melamar Yuni dan telah menjadi suaminya selama delapan belas tahun, tanpa pernah mengungkit masa lalu.
            ”Kamu gak bisa mengekang dia atas perubahan alami itu. Hanya butuh cara yang tepat.” Eka berkata dengan santainya.
” Caranya bagaimana, Ka... aku bingung.”
” Dengan jujur, katakan ketakutanmu. Dan berikan ia alasan yang logis, jangan hanya berkata tidak tanpa memberikan alasan yang bisa ia terima. Crista itu cerdas, ia tidak akan menerima peraturan tanpa tahu tujuannya. Lagipula, siapa sih yang bisa menahan perasaan jatuh cinta. Ingat, Crista itu masih 17 tahun.”
Lama Yuni diam. Akhirnya rasa haus menggerogoti, teh manis yang sudah dingin itu pun ia minum. ”Kamu benar, Ka. Aku harus jujur pada Crista.
****
Malam menunjukkan pukul delapan. Anggara belum juga pulang dari kantor, macet membuat ia terlambat. Dan Crista seperti biasa berada di dalam kamarnya. Ragu Yuni melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi poster Spiderman, entah kenapa gadis secantik Crista menyukai pahlawan laba-laba ini. Ia menarik nafas panjang, dan mengetuk  pintunya. ”Crista, ini mama. Mama mau bciara, boleh?” Diam. Tak ada sahutan. Tapi setu detik kemudian pintu terbuka, ”Masuk ma.”
Yuni memasuki istana pribadi Crista dan duduk di atas tempat tidurnya. “Tentang peraturan mama yang ngelarang kamu pacaran.” Aku memulai pembicaraan. Crista diam sambil memandangiku, penuh tanya.  “Ada alasannya, Crista. Mama gak mau sekolahmu terganggu.”
“ Tapi Crista tetap di tiga besar kan ma?” Crita meyakinkan diri. Ya, Yuni tahu. Siapapun tidak akan bisa menampik keenceran otak Crista.
“ Siapa nama pacarmu?” Yuni kembali bertanya.
“ Baru pdkt kok ma,” jawab Crista. Ada sedikit kelegaaan
” Ada yang ingin mama ceritakan kepadamu, dan Mama harap kamu sudah siap menerima cerita Mama.”
Dan aku mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun silam pada Crista.*
****
”Aku menceritakan semuanya pada Crista, Mas.” Kata Yuni pada Anggara malam ini, saat hanya berdua ditempat tidur. Anggara memandangnya heran. “Tentang masa laluku, yang pernah aborsi.” Lanjutnya.
“ Kenapa, sayang? Apa yang terjadi hingga kamu menceritakannya pada anak kita?”
“Crista sudah mulai jatuh cinta, Mas. Dan kami bertengkar hebat karena aku melarangnya pacaran. Aku takut kesalahan yang terjadi di masa lalu terjadi kembali kepada anak kita. Aku gak mau, Mas. Aku takut.”
Anggara masih memandangku lembut, keteduhan hati yang ia pancarkan. Aku melanjutkan cerita,
“Akhirnya aku jujur pada Crista, ketakutan yang aku rasakan.”
“ Bagaimana reaksinya?”
“ Crista ternyata memiliki gen-mu lebih dominan, Mas. Ia menerima ceritaku, seperti halnya ia menerima ku. Crista berkata bahwa baginya aku adalah mama terbaik yang ia punya. Dengan atau tanpa kesalahan di masa laluku. Seperti yang kamu katakan waktu melamarku, mas.”
Dan Anggara memeluk Yuni dengan hangat malam itu. ia bahagia. Sangat bahagia.
****
Crista mendekati Mamanya yang sedang memotong bonsai. Yuni berhenti sejenak dan memandangnya, ”Ada apa, sayang?”
”Ma, Crista gak mau pacaran.”
“Lho kenapa?”
“Cowok gak bisa dipercaya.”
“Lho..lho, kenapa sih?”
“Crista nyaris aja jadian sama Hari kalo gak keburu ketauan kalo ternyata dia ceweknya banyak. Amit-amit deh ma pacaran ama playboy.”
Yuni tersenyum. “Artinya Tuhan masih sayang sama Crista. Crista masih dilindungi dari orang jahat.”
“Iya Ma, tar aja pacarannya. Kalo Crista udah cukup gede. Sekarang mau sekolah aja dulu.”
Yuni memeluk Crista erat, dan mencium pipinya.
“Crista mau dapet jodoh kaya Papa.”
Yuni tersenyum memandang Crista yangcantik, “Pasti, sayang. Bahkan yang lebih baik dari papa.”
Sore itu terasa sangat indah untuk Yuni





Maret 2011

CERPEN 3



FAISAL
Oleh Yulistia Akbari

Pukul 07.35 wib
Aku terjebak di perempatan menunggu giliran untuk bisa melewati rute macet ibukota ini. Setidaknya traffic light yang sudah kehilangan warna kuning itu berkenan membantu kelancaran lalu lintas yang semakin semerawut.
“Koran Yuk, koran Yuk.”  Makhluk mungil menawarkan harian pagi di tangannya. Dekil, hitam, kecil dan pakaiannya sedikit kotor terkena debu. Sepersekian detik aku mencoba meneliti wajahnya yang tampak polos, wajah khas anak-anak, seperti belum mengerti makna dari kehidupan yang akan ia hadapi esok.  “Berapa, Dek?” tanyaku. “Dua ribu, Yuk.” Ia menatapku, seperti ada yang tertohok di jantung ini. Aku mengeluarkan lembaran lima ribu rupiah, “Satu ya. Kembaliannya untukmu.”  Aku menyerahkan uang tersebut sambil tersenyum. Si Adek, begitu aku menyapanya, tersenyum sambil menyerahkan harian pagi ke tanganku, “Terima kasih, yuk.”
Dan lampu hijau menyala, klakson mobil dan motor bergema dibelakang ku.  Menandakan aku harus menancapkan gas dengan segera. Aku membalas tatapan terima kasih si Adek dengan senyum.
****
Selalu seperti itu setiap pagi.
Setiap hari aku akhirnya selalu bertemu dengan si Adek di perempatan jalan raya itu dan sejak saat itu aku menjadi pelanggan tetapnya. Pelanggan perempatan, karena memang perempatan itu adalah salah satu rute yang aku lalui untuk pergi ke kantor. Entah apa yang menyebabkan aku merasa iba dengan keadaan si Adek, sampai saat ini aku belum sempat menanyakan namanya karena trafficlight seringkali tidak bersahabat denganku, membuat aku terkadang harus terburu-buru melewatinya.
Adek, sosok kecil dengan badan kurus, kulitnya hitam karena terpanggang sinar matahari, rambut lurusnya yang hitam kemerah-merahan, wajahnya biasa saja hanya mata dengan bulu yang lentik itu membuat wajahnya terlihat manis. Senyumnya, aku suka senyumnya yang tulus dan cerah itu. Setiap melihat ia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, ada getar hangat di hati ini. Aku melihat ketulusan disana, rasa terima kasih tanpa batas hanya kerena aku membli koran yang ia jajakan.

Sesampainya di kantor, aku menghidupkan laptop. Tapi ada sesuatu yang menganggu benakku. Aku memikirkan Adek. Aku bukannya jatuh cinta dengan anak laki-laki berusia sekitar sepuluh atau sebelas tahun, setidaknya aku bukan pedhofilia. Tapi ada perasaan tertentu. Sedih, simpati dan kagum. Sedih karena pada usianya yang masih kecil itu, ia harus menjajakan koran diperempatan dengan tubuh dekil serta menghirup debu jalanan yang tentu membuat paru-parunya kotor.

Memperkerjakan anak dibawah umur? Rasanya undang-undang sudah melarang anak dibawah umur untuk bekerja. Kewajiban mereka adalah sekolah.  Dan kenapa setiap pagi ia menjajakan koran? Dan rasa simpati dan kagum hadir saat aku memandang wajahnya. Yang terpancarkan bukanlah kesedihan atau penderitaan. Tapi ada semangat dan keyakinan, entahlah, ada secercah harapan yang ia miliki. Mungkin. Atau, ia bahagia dengan keadaanya sehingga melupakan kegetiran yang ia hadapi. Apa yang menyebabkan si kecil Adek menjadi penjaja koran, tanpa sekolahkah, atau tanpa orangtua? Atau itu yang dinamakan takdir?
Tanpa sadar aku telah memandangi  screensaver laptop sambil melamun. Banyak sekali pertanyaan yang bergumul di otakku hantya karena sosok yang tidak ku kenal itu.
****
Hari ini hari minggu pagi, waktunya berolahraga. Aku bersepeda mengelilingi komplek rumah dan tiba-tiba terbesit dibenakku untuk menuju perempatan berharap aku bertemu dengan si Adek, aku ingin mengajaknya ngobrol. Ku kayuh sepeda dengan semangat, mungkin rasa penasaranku akan terhapus. Dan aku bersyukur saat berada di dekat perempatan itu aku melihat sosok Adek yang sedang menawarkan koran kepada para pengendara motor di perempatan. Aku mengayuh sepeda lebih dekat dan ke tepi jalan. Ia melihatku, dan tersenyum, lalu mendekatiku. “Koran, Yuk?” tanyanya.
“Yup, dan semangkuk bubur ayam. Boleh nambah, mau? Ayuk tau warung bubur yang enak didekat sini.” Jawabku.
 Ia tertegun sepersekian detik, “Gratis Yuk ya?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. “Oke.”
Dan ia berjalan disampingku yang juga saat ini hanya berjalan sambil menuntun sepeda. Pemandangan yang cukup kontra pagi itu, setidaknya terlihat cukup banyak mata pengendara motor dan orang-orang dipinggir jalan melihat kami berjalan berdampingan.  Dan sampailah kami di warung bubur “Bu Syam”.  Setelah memesan dua porsi bubur dan dua teh botol, kami pun duduk. “Ada apa ya, Yuk?” tanyanya. Dan aku tersenyum, banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.
****
Nama si Adek adalah Faisal dan baru kemarin ia berulang tahun yang  ke sepuluh, seperti perkiraanku. Ia lahir di salah satu kabupaten yang ada di pulau ini dengan kondisi perekonomian kurang menguntungkan. Ayahnya adalah seorang petani karet yang tidak memiliki lahan, hanya menggarap kebun milik oranglain dengan upah yang tidak mencukupi mereka sekeluarga. Faisal memiliki dua orang adik, laki-laki dan perempuan dengan usia yang tidak berjarak jauh, masing-masing satu tahun. Dan yang paling miris adalah, Ibu Faisal meninggal setelah melahirkan adik bungsu mereka. Awalnya, Faisal masih masih sempat merasakan bangku sekolah, tapi hanya bertahan selama satu tahun dengan baru mengenal angka dan huruf. Kondisi perekonomian yang kurang baik, dibawah rata-rata malah,  membuatnya terpaksa membantu sang ayah dalam menjaga adik dan mencari nafkah.

Kemudian, datanglah seorang teman menawarkan sang ayah untuk mencari lapangan pekerjaan lain yang lebih menghasilkan uang banyak dibanding menggarap karet, apalagi harga karet sekarang sedang turun, otomatis upah sang ayah semakin menurun pula. Teman ayahnya itu mengajak sang ayah untuk ber-TI (tambang inkonvensional) dengan iming-iming akan mendapatkan hasil yang lebih lumayan. Maka, pergilah sang ayah bersama temannya menuju desa teerpencil diseberang laut untuk mengeruk hasil bumi yang memang melimpah di pulau ini, dengan satu tujuan : memperbaiki kondisi perekonomian mereka. “Nanti biar Abang dan adek-adek bisa sekolah lagi, jaga mereka ya, Bang? Ayah titip sama Abang.” Itu ucapan sang Ayah ketika akan pergi bersama temannya untuk ber-TI.

Faisal bertahan tanpa ayahnya dengan membantu tetangga yang memiliki warung bakso disamping rumahnya. Ayahnya memang menitipkan sejumlah uang, tapi uang tersebut sudah ia belikan beras dan minyak tanah, peninggalan uang yang tidak seberapa memakasa bocah berusia belum genap sepuluh tahun waktu itu, untuk bisa memikirkan nasib tiga perut kecil. Ia sendiri, dan kedua adiknya. Mungkin ini yang membuat Faisal terlihat lebih dewasa, pancaran kepribadiannya. “Lumayan yuk, bisa makan bakso tiap hari. Ical dan adek  jadi tidak begitu kelaparan. Kalau bosan  makan bakso, kita makan nasi sama pucuk ubi. Ada batang ubi ditanam Ayah di belakang rumah.” Paparnya sambil menyedot teh botol dengan nikmat.

Sudah hampir satu bulan ayah Faisal tidak pulang, tanpa kabar. Kemudaian, Faisal mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal, tertimbun pasir TI. Sekelompok orang datang kerumahnya keesokan harinya dengan membawa jenazah ayahnya, dan memberikan sejumlah uang untuk Faisal. Ia tidak menangis, kedua adiknya terisak. Tapi Faisal meneguhkan untuk tidak menangis. Tekadnya kuat, ia tidak akan menangis, setidaknya didepan kedua adiknya. Dan satu tekad kembali muncul, ia harus melindungi dan menjaga kedua adiknya. Agar tidak miskin seperti ayahnya, adiknya harus sekolah.
****
Aku pun sulit mencerna cerita yang ia paparkan padaku, anak berusia sepuluh  tahun dengan tekad menyekolahkan adiknya, alangkah ajaib. Sedangkan banyak sekali aku menemukan mereka, orangtua, dengan umur yang sudah dewasa malah tidak bertekad menyekolahkan anaknya karena satu alasan yaitu tidak ada uang. Sedangkana bocah ingusan ini malah menjadikan kondisi perekonomian sebagai pemicunya untuk membahagiakan dan menyukseskan adik-adiknya. Sulit untuk tidak menahan airmata ketika dia bercerita.

Dan akhirnya, berbekal uang seadanya dan ajakan seorang amang di desanya yang memiliki usaha distributor oli di ibukota, maka pergilah Faisal ke kota, adik-adiknya dititipkan kepada salah satu sanak keluarga yang menawarkan diri untuk merawat mereka. Faisal bersyukur atas tawaran tersebut, dan dengan senang hati.  Sesampainya Faisal di kota, ia bekerja dengan rajin di kantor Mang Dul, begitu ia menyapa amang tersebut sebagai ,tukang-bersih kantor. Faisal yang memang rajin bekerja serta keprihatinan hidup yang ia alami membuat  Mang Dul memberikan gaji yang lumayan untuknya. “Lumayan Yuk, seminggu sekali Ical pulang ke kampung, atau dua minggu, Ical titip uang untuk adek-adek, untuk uang sekolah dan makan. Yang penting uang sekolahnya Ical bayar terus. Untung, bibik yang jagain adek-adek itu baik sekali yuk. Ngomong-ngomong, nama ayuk siapa, yuk?”. Aku menggigit krupuk lalu berkata, “Tia, nama ayuk Tia”.

Dan demi menambah penghasilan, ia menjadi penjual koran. Ia bekerja dari jam enam pagi hingga pukul sembilan. Dan setelah itu Faisal pergi ke kantor milik Mang Dul untuk bekerja. Malamnya, ternyata, ia jadi tukang parkir disalah satu sudut kota. Bahkan untuk bermain ia kehilangan rasa. “Lebih baik nyari uang yuk untuk adek-adek, yuk.” Katanya seraya menuntaskan bubur ayam dihadapannya. Penasaran aku bertanya, “kenapa sih Ical memilih bertekad menyekolahkan adek-adek? Kenapa sekolah?”.
Dia memasukkan sesendok bubur kemulutnya lalu menjawab, “Ical nonton di film Laskar Pelangi yuk, kalo pinter sekolah, jadi sukses. Malah bisa pergi ke Paris.”
****
Di Pulau yang dinobatkan sebagai salah satu Provinsi yang sejahtera ini, dengan angka kemiskinan terendah, ternyata aku menemukan fenomena langka yaitu warga yang benar-benar miskin, dan berjuang melawan kemiskinannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap Ical, kini aku menyapanya dengan Ical, selain setiap pagi membeli koran yang ia tawarkan. Kadang aku memberinya sedikit uang untuk ia dan adik-adiknya. Jika sedang libur, kerap aku mengajaknya makan bubur di warung Bu Syam.

Satu hal yang aku rasakan, betapa aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku miliki. Keluarga yang bahagia dan orangtua yang lengkap, pekerjaan yang baik, dan tentunya kondisi perekonomian yang baik pula. Dibandingkan dengan anak sekecil itu yang harus berjuang setengah mati demi satu tekad menyekolahkan adiknya, usahaku selama ini tidak bermakna apa-apa. Dan alangkah mirisnya jika akau harus mengeluh atas apa yang telah aku miliki. Dan cerita Ical mengajarkan aku tentang rasa syukur, semangat dan tekad. Terima kasih Ical. Dan tetap semangat!!




Pangkalpinang, 24 Maret 2011



 *Cerpen ini dimuat di Bangka Pos pada bulan April 2011 dengan diubah Judul menjadi "Ical"

CERPEN 2



Awan, Si Mata Elang
Oleh : Yulistia Akbari


 Akhir-akhir ini aku selalu terbangun dalam keadaan berfikir. Lebih tepatnya memikirkan seseorang. Aku tahu, seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku bisa menjalani kehidupanku dengan normal-normal saja. Dan seharusnya perasaan ini tidak ada.

Tapi aku tidak bisa mencegahnya. Aku selalu membayangkan orang itu. Wajahnya, tingkahnya dan juga bagaimana setiap perkataanya yang membuatku tertawa. Aku suka setiap sudut ciptaan Sang Mahakarya ini, semua titik seperti sempurna dimataku. Dan yang paling aku suka adalah mata elangnya. Kadang aku akan tersenyum sendiri saat melihat gayanya bercanda yang sering membuatku terpingkal.

Aku tau, aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta kembali padanya. Ia, cinta masa sekolahku, saat kami masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sudah cukup lama, aku kira rasa itu telah menghilang seiring waktu mengalir. Ku kira, jarak juga sudah melenyapkan keinginan itu. Tapi semuanya kembali, saat aku menemukan ia kembali datang.

****

Hari itu langit terlihat mendung, tapi kami memutuskan untuk pergi ke pantai berdua, hanya sekedar duduk dan bercerita. Kebiasaan yang kami lakukan saat ia pulang di musim liburan kuliahnya.  Dan sampailah kami di pantai sejuta umat, Pasir Padi. Kami duduk disalah satu pondok sambil menikmati es kelapa muda.
"Jadi, sekarang kamu sudah punya pacar? Kok bisa?" Tanyaku sambil bercanda. Ia menggerutu kesal karena ledekanku, "Ya iyalah, karena aku tampan." Balasnya tak mau kalah. Selalu seperti itu, setiap pertemuan akan kami isi dengan candaan, pertengkaran, kadang-kadang curahan hati tentang kisah cinta. "Namanya Jingga, ia adik tingkatku. Orangnya biasa saja, tapi cukup menarik." Itu katanya saat memulai kisahnya padaku. "Oh ya? Namanya bagus. Aku suka.". Walaupun dalam hati, aku ingin bilang, “Sebenarnya aku tidak suka. Tidak suka sama sekali”.

Petir menggelegar, dan hujan deras pun turun. Pondok tempat kami bernaung ini hanya melindungi tubuh sekedarnya saja dari percikan hujan yg turun. Aku pun merapat padanya. Karena tak ingin basah dengan hujan, juga karena aku ingin lebih dekat dengannya. Saat itu, aku berkata dalam hati "Terima kasih hujan".

Dan sore itu kami bercerita dalam keadaan hujan, sekaligus duduk berdekatan. Rapat sekali. Ia meneruskan ceritanya tentang Jingga, "Tapi sayangnya, aku selalu membuat dia bersedih." Aku menyeruput es kelapa dihadapanku dan bertanya, "Kenapa? Bukankah kamu menyukainya?" Ia menarik nafas panjang, "Aku tidak bisa bersikap romantis." Jawabannya yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Ia membuatku merasa lucu, ya ya ya, aku tau bagaimana si mata elang ini tidak bisa merangkai kalimat cinta, merayu wanita ataupun menggombali wanita. Ia terlalu apa adanya. Terlalu kaku. "Lantas, bagaimana kalian bisa berpacaran?" Tanyaku. "Ia yang mengutarakannya lebih dulu." Jawabnya. “Dan kebetulan, kamu juga menyukainya. Wow, beruntung sekali dirimu.” Aku menimpali, ia tidak menjawab.

Kembali kami diam. Sore itu hujan semakin deras, petir semakin menjadi-jadi, "Wan, kalo tiba-tiba terjadi tsunami, kita orangg pertama yang kena lho." Gumanku, dan langsung mendapatkan jitakan dikepala. "Ngomong sembarangan, lagi dipinggir pantai nih!" Dan aku hanya bersungut-sungut kesakitan karena jitakannya dari tangannya yang kekar. Dan selama hujan itu, ia bercerita tentang si Jingga kepadaku. Sejujurnya, aku tidak begitu memperhatikan ceritanya tentang Jingga. Karena yang ingin aku rasakan adalah saat kami berdekatan, saat kami serapat ini, saat aku bisa merasakan bahwa kulitnya hangat sekali.

Awan. Dia adalah sahabatku. Sekaligus orang yang sangat aku cintai. Kepadanya aku selalu bercerita tentang kesusahanku, tentang rahasia-rahasiaku, dan tentang semua yang aku lalui. Tapi ia adalah orang yang terakhir yang ku harap tahu tentang perasaanku padanya. Aku tidak ingin, perasaanku ini merubah kebersamaan kami yang telah lama dalam ikatan persahabatan. Ia sangat dekat denganku, tapi sebetulnya sangat jauh.

Awan, masih saja ia bercerita tentang Jingga yang memaksaku untuk berwajah cerah saat mendengarkan kisahnya, miris bukan? Tapi aku selalu suka mendengarkan Awan saat bercerita, karena aku bisa menjelajahi wajahnya saat melihatnya bercerita. Mata elangnya, dengan alis hitam tebal. Juga bulu mata lentiknya. Aku juga menjelajahi hidungya yang mancung dan bibir penuhnya yang selalu tersenyum itu. Aku suka. Suka sekali.

"Aku tidak tau bagaimana hubungan kami nanti. Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan kuliahku. Dan akan kembali kesini. Bekerja disini, mungkin"
"Hubungan jarak jauh bukan hal yg mustahil,wan. Asal saling percaya"
"Dekat saja jarang aku mendatanginya, apalagi jauh berseberangan laut."
"Ya kalau cinta, harus diperjuangkan."
Awan diam, menatap laut. "Entahlah."
Aku pun balas diam karena tidak bisa memberi solusi, "Nikmati saja setiap detik kebersamaan. Apalagi jika kita tahu bahwa akan sulit bersama dengan orang itu. Selama kesempatan dan waktu masih ada." Aku seperti mengucapkan kalimat itu pada diriku sendiri.
"Ya, kau benar. Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini."
"Jika ia memang ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya. Tapi, jika ia bukan takdirmu, sekuat apapun mempertahankan, ia akan lepas."

Ia sahabatku, sebagai sahabat aku harus membesarkan hatinya dan menyemangatinya. Karena itulah kewajiban sahabat. Walaupun sahabat dihadapanku ini adalahan lelaki yang aku cintai. Cinta, tidak boleh merusak persahabatan. Karena itu, perasaan cinta untuk Awan tak pernah aku utarakan, sebesar apapun itu, karena aku takut kebahagiaan kami selama menjadi sahabat ini akan lenyap dan hilang. Biarlah cinta ini ada dihatiku, dan aku nikmati sendiri. Seperti kataku kepada Awan bahwa "Jika ia memang ditakdirkan untukmu, akan selalu ada jalan untuk bersamanya".

"Hujan sudah reda, bagaimana kalau kita melihat orang menjaring ikan disana?" Ajaknya.
Dan kami berjalan ditepi pantai, dibawah rintik hujan. Seperti sepasang kekasih, kami bergandengan menuju pantai menghabiskan waktu sore itu bersama. Semuanya, sudah cukup membahagiakanku.

Aku mendongak keatas, langit terlihat menampakkan kecerahannya. Dan awan putih, sedikit demi sedikit bermunculan.









Pangkalpinang, Desember 2011

CERPEN



Nasehat Ibu
Oleh : Yulistia Akbari


“Bangun la Dek! Lah jam berape neh, leteh Ibu ni milang kek ikak bangun la pagi-pagi. Jangan bangun siang macem ni. Ka tu bini nya, masak kelak ka belaki nek macem ni la. Bangun siang teros!”  suara petir pun mungkin kalah besarnya dibandingkan suara Ibu pagi ini. Hampir setiap pagi Ibu akan mengeluarkan “nyanyian merdu” itu, begitu aku menjulukinya. Tapi jika tidak mendengar suara itu, boro-boro aku akan berangkat dari tempat tidur, malah aku akan semakin semangat menina-bobokan diriku. Dan dengan mata yang masih berat,  badan yang masih lesu dan rasa dingin yang menjalar, aku akan memaksakan diri beranjak dari pembaringan, semalam aku baru tidur jam empat pagi.
            Aku lihat Ibu sedang mencuci piring di dapur, “Lah besak-besak, dak kene-kene dibilang. Jam berape ari  ni. Agik gadis dulu dak de Ibu macem ka ni dak, Dek. Dirik tu la besak, bantulah Ibu ini. Badan Ibu ni dak kuat agik lah.” Oke, sepertinya iklan pagi akan berlanjut menjadi FTV pagi atau ceramah spiritual.
Aku ke kamar mandi dan cuci muka, lalu menuju meja makan. Mencomot pisang goreng dan menenguk teh hangat buatan Ibu. “Nyamen ok, bangun tiduk langsung makan. Cem mane kelak ka lah belaki Dek, dek. Anak ka nek sekolah, laki ka nek begawe. Masak ka nek bangun siang macem ni.  Heran bener lah ku kek ikak ni. Diajar, la diajar bangun pagi. Tapi dak pacak pacak la.  Jadilah beinternet tu, ku cabut ku kelak e!!!” Ibu mulai marah-marah. Dan aku tidak menyahut apa-apa, soalnya jika perkataan Ibu itu dijawab sedikit saja atau pun dibantah keabsahanya, bisa-bisa terjadi Perang Dunia 13.
            Aku beranjak dan mengambil sapu, kemudian mulai menyapu rumah. Hanya itu yang bisa meredakan amarah ibu saat ini, membersihkan rumah. Lumayanlah, untuk sementara suara Ibu yang membahana terdengar sayaup-sayup menghilang.
####
            Kali ini ada materi lain yang Ibu jadikan bahan “ceramah spiritual”, yaitu : susana kamarku. “Urus la Dek Dek kamar ka tu. Tempet tiduk belambur macem kapal pecah. Bersih sehari, belambur e seminggu. Dandan men keluar dak salah-salah bedeliw e, bidadari ge kalah wangi e. Men ditingok kamar e, Tuhan la tahu e.” Kali ini nada Ibu tidak begitu tinggi seperti pagi tadi, sedikit santai karena sambil menonton sinetron yang paling tidak aku sukai. “Kelak ken cerita e adek orang kayo, Bu. Pembantu banyak kek ngeringkes e.” Jawabku sambil bercanda.
“Kajin sek jadi orang kayo, dak kek ade kamar ge nek pembantu ngurus e. Cem mane tah ka ni men belaki kelak, kamar ka belambur, gancang ditinggal kek laki kelak e”.
“Wew, Bu. Jahat ge doa ibu kek Adek ni.” Protesku, ada juga sedikit ke khawatiran, kan perkataan Ibu itu didengar Tuhan.
“Bukan, sege dak kene-kene dibilang. Dirik tu bini, pacak-pacak la ngurus rumah, kamar diringkes, bangun tu pagi-pagi. Umur ka tu lah besak la dek, tahun ni la due puluh due, masak nek macem ni la. Ibu ni la makin tue, leteh begawe di kantor, leteh begawe dirumah. Dibantu la ibu ni, jangan la pemales macem ni.”
            Kalau Ibu sudah mulai mengeluarkan preambule nya, aku akan dengan wajah sumringah mengambil tumpukan baju yang sudah kering dari jemuran, dan melipatnya sambil menemani ibu menonton sinteron yang membosankan itu.
            Ibu adalah sosok Ibu rumah tangga yang sempurna sebenarnya. Masakannya enak, pintar mengurus rumah, dan juga sangat telaten terhadap keluarga. Tapi, takdir mengharuskannya menjadi salah satu pegawai negeri. Dan yang paling menyedihkan adalah, aku menjadi anak perempuannya yang ia didik agar menjadi seorang wanita sesungguhnya, hanya saja, entah kenapa gen yang ada ditubuhku menolak mentah-mentah semua yang diharapkan ibuku. Yang terjadi adalah, aku tidak suka memasak- walaupun bisa. Aku tidak suka membersihkan rumah- bisa, tapi malas. Aku juga bukan anak penurut-kalem-manis seperti yang diidam-pidamkan Ibu. Tapi, terlepas dari semua protes Ibu terhadap sifatku yang amburadul ini, aku tahu Ibu sangat sayang kepadaku. Dan aku pun begitu, aku sangat mencintai Ibu dari apapun di dunia. Ibu yang senyum dan tawanya selalu menceriakan, Ibu yang pelukanya selalu menghangatkan, Ibu yang setiap hari selalu mencium pipi dan mengucapkan rasa sayangnya padaku, Ibu yang rela memberikan dunia-andai ia bisa- kepadaku. Ibu, adalah segalanya.
####
            Pangkalpinang membara alias panas terik sedang melanda, aku baru saja mengangkat pakaian kering di samping rumah. Lalu mandi dan berdandan, siap untuk mengelilingi ibukota bersama dua sahabatku nanti sore, Hari dan Jo.
“Nek kemane, Dek?” Tanya ibu.
“Biasa Mam, jalan jalan.” Balasku tanpa mengalihkan wajah dari cermin.
“Bejalan, trus. Dak sua aben mateh dirumah. Kawan laki bai ude e. Pagi kek ni, siang kek ni, malem kek ni.”  
Hduuh, mulai deh si Ibu mengomel. Perasaan tiap hari ada saja materi  omelan Ibu. “Dak tau la Bu, takdir e kawan adek laki semue.”
“Aokla, tapi dak seger ditingok tetangga rumah ni. Siang, malem laen-laen jemput e. Orang yang nek dirik bener-bener kelak e ge mikir mikir men adek gati digonceng orang laki.”
“Ya ampun Bu, tu Hari kek Jo,Bu. Ude ge, kawan adek mane  ade orang bini ge bu. Men ade ge, tuh, la diluar pulau Bangka gale. Sege tu lah, Adek nek kuliah diluar dak jadi.”
“Kajin e sek, Dek. Tapi dak usah nue igak bekawan kek orang laki tu.”
Aku membalikkan badanku dan berkata, “Ibu sayang, Ibu tenang bai la pokok e. biar kawan adek laki semue, dyorang baek dan adek pacak jage diri.”
Lalu klakson motor terdengar. Aku mencium pipi Ibu dan menyambut kedua sahabatku.
####
            Itu kejadian dua puluh lima tahun yang lalu, saat aku masih bisa menyepelekan setiap perkataan Ibu. Sekarang aku mengerti setiap makna perkataan Ibu, kenapa seorang wanita harus bisa memasak, harus bisa mengurus rumah, harus bisa menjadi perempuan yang baik karena pada akhirnya wanita harus menjadi seorang istri dan ibu.
            Semua perubahan terjadi saat aku menikah dengan Bian. Setelah menikah, aku mengerti apa yang ibu katakan. Sulitnya bangun pagi, susahnya menjalani kehidupan rumah tangga. Sulit, karena Bian adalah tipikal suami sejati! Bian tidak menyukai masakan yang bukan buatan istrinya. Oh tidak, pada masa awal pernikahan aku merasa sangat tersiksa karena harus melakukan satu hal yang paling tidak aku suka : MASAK! Tapi, demi cinta dan bakti, aku harus rela melakukannya. Beruntung, Bian hanya tersedak saat sayur bayam yang aku buat sedikit keasinan. Entah kenapa hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus makan masakanku.
Dan cobaanku belum berakhir. Masih pada awal masa pernikahanku, kami masih tinggal bersama kedua orangtua Bian. Dan ibunda Bian tercinta alias mertuaku adalah Ibu rumah tangga sejati, yang artinya aku harus bisa mengimbanginya. Tidak mungkin sebagai menantu aku malah membebani Mama, begitu aku menyapa Ibunda Bian, dengan pekerjaan rumah setelah aku tinggal bersamanya. Apalagi, setelah Ibu meninggal sebelum aku menikah, Mama adalah pengganti Ibu, walaupun tidak akan pernah seperti Ibu.
            Jadi, hasilnya adalah pada masa awal pernikahanku, aku menampilkan edisi terbaik yang aku punya. Bangun pukul lima pagi, setelah sholat shubuh aku langsung memasakkan sarapan untuk Bian, membereskan rumah : menyapu-mengepel-mencuci piring. Dan kemudian menyiapkan diri sendiri untuk kekantor.  Masa awal pernikahan adalah masa-masa seperti dalam training camp menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Tapi ternyata, aku berhasil merubah kebiasaan burukku. Setelah menikah, apalagi ketika aku hamil, aku semakin giat untuk menyelaraskan kehidupan rumah tanggaku dengan menjadi istri yang baik dan mempersiapkan diri menjadi Ibu yang baik bagi anakku kelak. Dan dalam setiap gerak hidupku pada saat itu, aku selalu mengingat Ibu. Mengingat betapa beratnya perjuangan ibu, seperti yang aku rasakan. Ibu, andai bisa aku mengatakan betapa aku merindukanmu di surga. Dan betapa aku rindu dengan celotehanmu tentang bagaimana menjadi seorang wanita. Bu, Adek sayang Ibu.
####
Aku sudah berusia hampir setengah abad, dan Annika, putri semata wayangku baru saja menginjak usianya yang kedua puluh. Ternyata Annika adalah cetak biruku tanpa cela. Melihat tingkah dan wajahnya, seperti masuk dalam hidupku berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan aku juga seperti mengalami apa yang dulu Ibu alami. Semakin Annika besar, semakin aku merasakan kekhawatiran yang dulu Ibu rasakan. Dan rasanya, aku mulai menjadi seperti Ibu saat aku berkata : “Annika, cubelah kamar trui diringkes ok. Ka ni bejalan terus, pening kepala Ibu ningok e. Dak sua aben dirumah, dak retak agik la kek kaen baju, kek piring kotor. Macem mane ka ne men belaki kelak e.”

Tamat


Dedicated for my Mom,
Pangkalpinang, 11 April 2011

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -