Minggu, 13 Agustus 2017

Dilema Hijrah Part I



Hijrah kerumah mertua?

It’s so shocking!
Itu adalah reaksi pertama ku ketika suami mengatakan bahwa ia harus pindah ke Kota Palembang akibat peralihan status nya sebagai pegawai kemetrian. Hiks…hiks….hikss….

Otomatis kalo di Palembang pastinya bakalan tinggal dirumah mertua. Secara, belum tau nih aku bakalan kerja atau enggak degan kondisi mertua yang memang sekarang sakit-sakitan (FYI : mama mertua sakit diabetes dan stroke ringan plus papa mertua yang kayanya sering batuk-batuk). Sebagai menantu yang baik hati mana rela dan tega berada di kota yang sama tapi tinggal jauh dari mereka yang sakit-sakitan tanpa ada yang stay dirumah itu. Iya, mama dan papa selama ini hanya tiggal berdua tidak ditemani anak-anak lainnya. Tapi Alhamdulillah ada dua orang ipar yang tinggalnya berdekatan dengan mertua. Cuma, menurutku tetep aja lebih “aman” kalo ada yag tinggal bersama mereka. Dulu aku sempet ngomong sama suami kalo mama dan papa di bawa aja ke Bangka, biar tinggal sama kami. Jujur, aku kasia kalo ngebayangin mama dan papa berdua aja dirumah sebesar itu dengan kondisi fisik yang tidak lagi bugar.

But, gimana dengan Ibuku? Bapakku?
Ibu dan Bapak pun hanya tinggal berdua disini. Sedangkan Abangku tinggal di Mentok, yang otamatis ga bisa lihat ibu setiap hari atau menemani ibu setiap hari.

Aku kudu piye????

Disatu sisi, aku ingin berdekatan dengan suami.
Disatu sisi, aku juga ingin berdekatan dengan Ibu dan Bapak di masa tua Ibu. Karena Ibu hanya memiliki aku dan Abang (berbeda dengan suami yang merupakan enam bersaudara, dan dua diantaraya tinggal di Palembang).

Dilema…. Sungguh dilemaaaaaaaaaaaa………………..

Belum lagi dengan ketakutan ku  yang harus tinggal dirumah mertua.
Ketakutan?
Iya, aku sangat ketakukan untuk tinggal bersama mertua. Bukan karena mertua, tapi karena “keterbatasan” diriku sendiri.
Selama ini aku mengenal mertua sebagai orang yang sangat baik, pemuran dan juga tidak cerewet. Namun : rajin dan pembersih!

Sedangkan aku?
Aku adalah sosok yang pemalas, bekerja berdasarkan mood (bukan tipe konsisten), pemalas, agak arogan, sensitif dan juga buka anak rumahan! Disini agak berbanding terbalik denga kebiasaan dirumah mertua yang kudu bangun pagi, rajin beresi rumah, rajin biki makanan dan sujka menghabiskan waktu dirumah aja.
Ngebayagin ngeberesi rumah mertua yang luas totalnya bisa dua kali lipat dari rumah Ibu (karena bertingkat) aja udah sesak napas! Hahahahhahahaa. Kan, kalo emang disana kemugkinan aku bakalan jadi Mama Rumah Tangga, alias belom kerja. *pengen nangis*. Aku sih bukan megkhawatirkan akan “mertua yang nyebelin’, tapi aku khawatir bakalan jadi “menantu yang nyebelin ataupu menantu yang tidak diharapkan” karena “kedok”-ku terbuka setelah tinggal bersama. Aku takut predikat “menantu kesayangan nomor-3” bakalan melucur ke predikat terakhir. *tuhhhh kaaaaaaaaannn jadi sedih lagi*

Ada opsi aku tinggal terpisah aja dari suami, tapi gakk… gakkk… udah prinsip aku untuk gak bakal jauhan dari suami. Aku ingin kami selalu bersama membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.  Akuuu gak mau jauh dari suamikuuuu yang aku cintai ataupu anakku jauh dari papanya yang sangat ia sayangi. Aku ga mau anak-anakku kekurangan kasih saying ataupun merasa kurang akan kasih-sayang dari papa nya.

Ahhhh…….. galau ku sungguh galaaaaauuuuuuuuuuuu!!!

Galau banget ninggalin Ibuku.
Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia. Dan kami pun dimurahkan rezeki agar bisa gunjungi Ibu Bapak sesering mungkin. Aku sayang sekali sama Ibu.

Dan semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk kami semua.
Niatku, untuk dapat mengurus orangtuaku seperti mereka mengurusku diwaktu kecil. Semoga dalam waktu dekat dapat berkumpul dan berdekatan dengan Ibu, Bapak, Mama dan Papa. Jadi bisa ngurusin keempatnya secara brsamaan, adil dan juga peuh cinta.

Amiiennnnnn ^,^


Senin, 17 Juli 2017

Cerpen_Tentang Cinta



Tentang Cinta
Oleh : Yulistia Akbari


Ini hari ketiga hujan mencurahkan tangisannya ke kotaku. Hawa dingin, namun tak sedingin hatiku yang telah membeku beberapa bulan terakhir, tidak mempengaruhiku untuk beristirahat sejenak saja dari pekerjaanku yang sepertinya tidak akan pernah habis walaupun aku bekerja selama 24 jam.

Aku butuh melarikan diri dari rasa tak menentu setelah perpisahan kami lima bulan yang lalu atau aku akan menjadi gila jika hanya berada dirumah. Aku tidak akan mampu membendung mataku ketika harus duduk di dapur, tempat dimana tujuh tahun aku memasakkan makanan untuknya. Atau aku akan menumpahkan tangisku saat aku menonton televisi, tempat kami menghabiskan sisa hari ketika malas keluar rumah. Berada dirumah hanya akan membuatku seperti membeku, seperti hawa kota ini.

Aku berhenti menyentuh laptopku.

“Kau tidak pernah bisa memahamiku!”

Aku teringat bagaimana aku selalu mengatakan padanya tentang bagaimana ia tidak membahagiakanku, tentang apa yag tidak ia penuhi, tentang apa yang tidak ia berikan padaku dan tentang apa yang selalu membuatku marah kepadanya. Tanpa aku pahami, apakah aku telah memahaminya, apakah aku telah membahagiakanya, atau apakah aku telah menjadi pasangan terbaik untukya. Itulah keegoisaku.

Biasanya ia tidak akan pernah membalas kemarahanku, ia hanya akan diam dan beberapa saat kemudian ia akan mendekatiku. Bertanya banyak hal kepadaku. Mecandaiku. Atau juga membelikanku es krim dalam jumlah banyak. Tapi ia tidak pernah meminta maaf padaku. Satu hal yang selalu membuatku memendam dendam.

“Apakah kau mencintaiku?” tanyaku malam itu padanya.
“Tentu.” Ujarnya tanpa megalihkan mata dari smartphone-nya. Hatiku kesal.
“Lantas, kenapa kau tidak pernah mengatakannya duluan?” balasku sambil menaikkan selimut hingga sebatas leher.
“Apakah masih perlu?”
“Tentu saja. Cinta itu tidak hanya ditunjukkan, tapi juga diucapkan.”
“Apakah ada kata yang lebih indah dari aku mencintaimu? Jika ada akan aku ucapkan.”

Hatiku kesal. Percakapan tentang perasaan ini tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah menjawab atau membalas pertanyaanku tentang perasaan cinta nya. Ia hanya akan bercanda. Lagi. Dan harapanku tentang perbicangan cinta ala film korea hanya akan membuat malamku semakin mengesalkan, dan terbawa mejadi mimpi buruk.

“Apakah kau akan tetap mencintaiku, bahkan ketika kita belum memiliki buah hati hingga tujuh tahun pernikahan ini?”. Itu adalah pertanyaanku saat ini, yang tidak perlu lagi kau jawab.

***

“Saya terima nikahnya Annisa Prameswari binti Muhammad Majid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!” Gun mengucapkannya dengan mantap dan tegas, yang diikuti koor “Amin” dari setiap tamu undangan. Semua orang meneteskan airmata bahagia hari itu. 11 Februari. Tujuh tahun silam.

Itu adalah saat paling bahagia untukku. Bagiku ia adalah pria paling tampan diseluruh dunia, dan aku menikahi orang yang aku yakini dapat memberikan masa depan padaku.

Gunawan, seperti namanya, adalah pria paling baik hati yang pernah aku kenal.  Hatinya seputih awan. Ia selalu membantuku dalam segala hal, ia tidak pernah membiarkaku kesulitan sendiri. Bahkan saat aku tertidur pun ia akan memberikan bantal dikepalaku. Ia adalah lelaki luar biasa yang Tuhan kirimkan untukku. Ia melayaniku seperti aku adalah emas nya yang paling berharga.

Namun sikapnya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tidak pernah ia iringi dengan kata-kata cinta seperti yag aku harapkan. Aku-lah yang pertama kali akan memeluknya dengan hangat dan mengatakan “Aku mencintaimu” setiap paginya. Akulah yang akan bersandar pada bahunya dan melingkarkan tangannya di pinggangku setiap malam sebelum tidur, dengan begitu aku baru dapat tertidur dengan nyenyak. Akulah yang setiap hari megirimkan pesan sigkat untuk mengatakan aku merindukannya. Aku, aku dan hanya aku. Tanpa aku sadari sikapku membuat aku haus akan pernyataan cintanya. Membuatku berpikir, bahkan kami menikah bukan karena ia melamarku. Namun karena kami bersepakat untuk menikah. Ya, ia tidak pernah melamarku.

Dan aku baru menyadari ketimpangan perasaan ini pada tahun keempat pernikahan kami. Tahun keempat bahkan disaat kami belum memiliki anak.

***

Aku tidak pernah sadar kapan perselisihan kami semakin meruncing. Perbedaan pendapat baik hal kecil sekalipun akan mudah menjadi pemicu pertengkaran kami. Gunawan yang dulu selalu sabar meghadapiku mulai terlihat emosi setiap kali aku mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Aku menjadi sosok mudah tersinggung, sensitif dan juga mudah terluka. Apapun yang Gun lakukan selalu salah dimataku. Apapun yag ia katakan akan mudah menyakitiku. Aku bahkan tidak tahu, apakah karena kesalahannya atau aku yang terlalu tidak bisa menerima apapun darinya. Bagiku semua sikap dan perkataannya akan selalu menyakitiku, karena aku selalu berpikir ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

“Aku lelah!” teriakku suatu hari, pada tahun keenam akhir perikahan kami. “Aku lelah selalu menduga apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku lelah menjadi yang paling mencintai didalam pernikahan ini. Aku lelah! Aku lelah selalu bertanya pada diriku apakah kau mencintaiku atau tidak! Ya, kau memang memberikan segalanya padaku, apapun yang aku inginkan selalu kau berikan. Kau selalu berusaha membahagiakaku. Tapi aku tidak pernah tau Gun, apakah kau mencintaiku atau tidak! Kau bahkan tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dan aku lelah dalam komitemen ini, komitmen yang bahkan aku tidak tau apakah kita saling mencintai atau tidak.”

Dan seperti biasa, Gun hanya akan diam tanpa membalas kata-kataku, sekasar apapun hardikaku. Ia hanya akan menerima. Dan bahkan ketika aku mengusulkan agar kami berpisah, ia hanya diam. Bersikap seolah menyetujui, dan kami benar-benar berpisah  setelah hakim mengetuk palu.

***
Dalam lima bulan terakhir aku menyandang status baruku, aku hanya menghabiskan waktu dengan pekerjaaku, setidaknya inilah yang membantuku untuk tetap bernyawa.

Walaupun disetiap hariku, aku selalu merindukannya higga darahku mendidih. Atau kadang aku sugguh membutuhkannya hingga aku menangis menggigil.

Aku ingin memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cinta yang ia harapkan, atau menemukan cintanya. Walaupun mungkin bukan aku adalah yang sesungguhnya ia cinta. Toh aku merasa kasihan padanya kerena aku akan selalu menjadi sosok paling egois baginya

Ah, hawa dingin ini memelukku.

Ponsel ku bergetar, pesan masuk. Apakah perutmu masih sering sakit?
Nomor yang sangat ku kenal.

Gun.





Pangkalpinang, 18 Juli 2017

Senin, 22 Mei 2017

Pangkalpinang, 22 Mei 2017





Akhir-akhir ini aku sering sekali mudah tersinggung dan marah kepada Ibu dan Bapak, terutama Ibu.
Tentunya dari sisi manapun sikap ini tidak akan penah dibenarkan. Sikap seperti itu hanya akan melabeli diri saya sebagai anak durhaka, tidak tahu diri ataupun kurang ajar. Seharusnya si anak tetap bersikap menyayangi, sabar dan juga tetap meuruti semua perkataan orangtuanya. Tanpa terkecuali.
Aku kembali merenungi kenapa mudah sekali timbul dihatiku pergesekan-pergesekan atas sikap orangtuaku kepadaku ataupun kepada anakku.
Ibu.
Tidak satupun dan tidak pernah sekalipun aku berhenti menyayangi Ibu. Hanya saja, terkadang sifat Ibu yang terlalu mengatur, protektif dan juga tidak dapat memahami keadaaku seringkali tidak dapat aku tolerir sehingga membuat Ibu marah. Seperti beberapa hari yang lalu sewaktu Ibu menyuruhku untuk membersihkan dan merapikan pakaian yang telah menumpuk, bukannya bermaksud untuk menolak, namun saat Ibu meminta melakukan itu aku merasa sangat lelah, badan terasa tidak enak dan sangat mengantuk. Sekiranya harapaku untuk Ibu dapat mengerti kelelahanku akibat selalu begadang karena Juna musnah sudah. Ibu marah, mendumel dibelakangku dan akhirnya tidak menegurku. Aku membiarkanya saja tidak meegurku, da aku pun memilih bersikap untuk tidak menegur Ibuku. Terhitung sejak malam Sabtu, artinya telah tiga hari kami saling mendiamkan.

Bapak.
Entahlah, jika berbicara Bapak yang aku rasakan adalah suatu perasaan yang absurd. Aku tidak mau membahas tetang perasaanku kepada Bapak. Terlepas dari semua itu, Bapak adalah sosok yang baik sesugguhnya. Hanya saja karakter Bapak yang angkuh dan tidak dapat meempatkan sikap apalagi perkataan lah yang serigkali membuatku tidak menyukainya. Kekesalaku memuncak ketika siang itu perutku sakit da harus BAB. Keti ka aku berada di kamar mandi aku mendengar Juna menyalakan kompor, sontak aku meeriakinya. Ingin sekali aku berangkat utuk mematika kompor itu namun apalah daya pencernaanku sedang tidka bersahabat, ia meghalagiku untuk segera beragkat mematikan kompor. Kemudian Bapak datag sambil sedikit megoceh, latas aku yag mendengar kedatagan Bapak sambil berteriak dari dalam kamar mandi memita tolong Bapak agar mematika kompor Karen aaku sedang BAB. Tapi jawaba Bapak malah membuatku tersiggung, “Sudah tau ini hidup ya dimatikan lah! Gila!” hardiknya. Jujur saja, aku sagat tersinggung dengan ucapan Bapak. Bagiku itu bukanlah ucapan yang pantas utuk dikatakan kepada anak. Latas saja aku meyahutnya, “Gimana kalo lagi keluar gii tai-nya!” balasku keras.

Kedua orangtuaku adalah orangtua yang baik, sangat baik malah. Aku ingat tidak satupun keinginaku yang tidak mereka usahakan untuk memenuhinya demi kami anak-anaknya. Mereka berusaha mati-matian untuk membahagiakanku. Lelah yang mereka tepiskan agar dapat melihat kami bahagia dan juga berhasil.

Permasalahan  timbul ketika aku telah menikah. Mereka masih menjadi wujud protektif dan menjadi lebih egois. Aku tidak tahu apa peyebabnya. Atau mungkin saja aku tidak sempat memikirkan tetang perasaan mereka karena aku pun sedang sibuk membagun rumah tanggaku. Ada suami yang harus aku pahami, salami dan juga perhatikan. Ada anak yang baru berusia 3 (tiga) tahun yang membutuhkan perhatianku, tenagaku da juga kehadiranku. Apalagi saat ini aku haya berdua degan Juna karena suamiku sedang berkuliah lagi di Kota Kembang.

Bayangkan saja, setiap malam aku tidur paling cepat pukul 01.00 wib pagi karena Juna paling cepat tidur pada jam tersebut. Akibat terlalu banyak tidur siang atau tidur sore. Bayangkan saja jika aku harus bangun pagi dan kemudian harus melajutkan bekerja hingga pukul 16.00 wib. Jika sepulag bekerja aku harus langsug membereska rumah, menghadapi tingkah Juna yang aktif tanpa ada rehat sedikitpun atau pun diberikan “dispensasi” untuk istirahat. Begitu saja terus berulang-ulang. Aku tidak pernah tidur siang samasekali. Lantas, bagaimana aku dapat mengimbagi posisi ku sebagai Ibu, Anak, Istri sekaligus Pegawai walaupun hanya sebatas honorer?

Aku hanya ingin tidak dibenturkan dengan sikap egois dan kasar dalam kesehariaku. Bukakah kita sama-sama lelah, sama-sama perlu istirahat, sama-sama memerlukan waktu untuk diri sendiri walaupun sedikit.

Aku tahu sebagai seorang anak aku belum memberikan yang terbaik untuk orangtuaku. Bahka pada sampai detik ini aku masih menyusahkan mereka dengan “menump\h hidup” pada Ibu Bapak. Merepoti mereka degan sikap Juna yang luar biasa aktif. Aku sangat bersyukur Allah memberikan kedua orangtua yang luar biasa baik hatinya.

Setelah meulis ini, aku merasakan kesedihan dan juga uap amarahku menghilang seketika.


Senin, 26 Desember 2016

😊

Tidak terasa sudah setahun lebih suami berada jauh dari kami. Semoga waktu ia disana berkah dan Allah memudahkan semua langkah nya menimba ilmu di kota hujan itu.

Rindu sekali.
Tapi hati ini terasa dekat padanya. Rindu ini sudah semakin bisa diajak bekerja sama. Tidak lagi membuatku menangis hingga mata bengkak atau pun membuatku tak nafsu makan.

Tapi rindu tetap bersemayam dengan manis sambil menikmati secangkir teh hangatdi jendela hatiku.
Kadang aku merasa sepi tanpa nya. Namun kesepian ini aku tepiskan sambil mengatakan pada hatiku, bersabarlah.

Sampai detik ini aku tidak akan pernah berhenti memujinya. Aku selalu merasa bahagia bersamanya.
Sesekali memang ia membuatku marah dan juga kesal dengan tingkah lakunya yang tidak romantis atau pun tidak peka itu. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya.

Aku betah memandang wajah nya berjam jam saat ia tidur. Aku betah memeluknya di sepanjang malam sampai pagi. Dan aku suka mencium nya disaat bangun tidur. Entahlah, setiap kali aku memandangnya aku jatuh cinta pada nya. *berlaku ketika aku tidak sedang ngambek,ya...*

Entah apa yang membuatku berlaku demikian. Padahal ia tidak pernah memperlakukanku dengan manis seperti oppa oppa di film korea. Tidak ada lelaki semanis oppa di drama korea.


Rabu, 21 Desember 2016

Jembatan Emas, Juna dan Mama

Minggu kemarin saya memutuskan untuk mengajak Juna mengunjugi Jembatan Emas yang katanyaaaa lagi hits di Pangkalpinang.

Berbekal rasa penasaran dan jenuh karena gak ada aktifitas menarik dirumah pada hari libur, maka saya dan Juna pergi untuk melihat seperti apa jembatan yang konon menghabiskan dana sekitar 450 milyar rupiah tersebut.

Perjalanan sore itu diwarnai dengan rintik hujan centil nan manjaaah tapi pastinya gak berhasil menyurutkan semangat pasangan emak-anak ini untuk menghabiskan sore yang menyenangkan. Sesampainya kami di lokasi, terlihat beberapa pengunjung mulai berdatangan.

Dan inilah Jembatan Emas itu.

Selentingan yang beredar nama "emas" merupakan singkatan dari Eko Maulana Ali Suroso, mantan gubernur Bangka Belitung yang sudah mangkat.

Jembatan Emas memiliki daya tarik karena bascule yang bisa terbuka dan menutup, membentang sepanjang 700 meter dari daratan Kota Pangkalpinang hingga pesisir pantai Airanyir.

Sebagai orang awam saya berpendapat design jembatan ini sederhana saja, tidak ada sesuatu yang unik ataupun menarik (maapkan hamba yang bukan apa-apa, hanya komentar sederhana daei lubuk hati terdalam). Namun pemandangan kiri kanan dari jembatan ini yang cukup menyegarkan mata dan pikiran setiap pengunjungnya. Kebanyakan pengunjung, termasuk saya, menghabiskan waktu disana untuk berfoto-foto dan juga berjalan kaki disekitar jembatan tersebut.

Jembatannya sih biasa. Tapi euforia ketika disana yang luar biasa. Mungkin karena kurang piknik dan hiburan kali yaaaa jadi sewaktu sampe disini bawaanya asyik aja. Foto-foto bersama Juna dan juga bercanda bersama Juna udah bikin 'darmawisata' ini terasa heboh dan juga asyik. Emak bahagia anak nya gembira. Weekend sederhana ternyata bisa jadi bermakna yaaaa, permisah.

Dan perjalanan kami diakhiri dengan adegan Juna yang tertidur di motor sepanjang jalan pulang. Terpaksa emak jagoan perkasa ini menahan tubuh Juna yang semok dengan satu tangan dari jembatan hingga rumah. Dan itu bukan main membuat tangan kiri saya pegal". Tapi, demi anak apa aja deeeh dijabanin.

Demikian kisah petualangan Emak Anak hari ini. Next time saya mau ngajak Juna lagi deh hunting tempat jalan yang deket plus menyenangkan, onusnya dapet view yang cantik untuk foto.

Pangkalpinang, 21 Desember 2016


Minggu, 27 November 2016

Bahagia Itu Sederhana



Tanggal 27 November 2016 merupakan hari bersejarah untuk ku sebagai seorang Mama, soalnya tanggal itu adalah sehari penuh Juna tidak memakai pampers lagi, hohohohoh ^^

Gimana gak bangga dan bahagia coba, secara Juna udah berusia 2,5 tahun dan masih pipis dan pup di pempers. Ditambah badannya yang bongsor (20 kg *tepok jidat) pampers udah membuat kulitnya merah dan gatal.

Mulai beberapa minggu yang lalu aku sudah melatih Juna untuk buang air kecil dan pup di kamar mandi. Itu aku lakukan setiap Juna sudah berada dirumah dan aku pulang bekerja. Karena jika Juna dirumah pengasuhnya masih tetap menggunakan pampers. Pengasuh juna belum membiasakan Juna untuk buang air kecil dan pup di kamar mandi, mungkin karena akan kerepotan membersihkan rumah jika pipis dan pup yang berceceran di rumah. Atau menunggu “kesadaran” Juna untuk bisa mengatakan keinginnya untuk pup dan pipis di kamar mandi. It’s okay, kasihan juga jika pengasuh Juna harus kerepotan membersihkan rumah sambil mengasuh Juna.

Setiap Juna pipis dan pup di lantai, aku dengan sabar dan riang aku akan membersihkan lantai. Setiap setengah jam sekali kadang lima belas menit sekali aku bertanya pada Juna apakah ia mau pipis atau pup. Dengan semangat aku akan menggendong Juna ke kamar mandi ketika melihatnya sudah berpose untuk pup (baca : jongkok) agar ia pup di WC. Semuanya ternyata tidak membutuhkan perjuangan yang lama, sekitar dua minggu.

Saat itu aku yang baru saja pulang dari minimarket mencari Juna yang tidak terlihat di ruang TV. Saat aku lihat, ia sedang pipis sambil berdiri di tepi pintu kamar mandi, walaupun air pipis nya berceceran di celananya karena ia belum bisa membuka celana dengan benar. Malam itu aku sangat bahagia, aku berkata pada Juna bahwa aku bangga sekali Juna bertambah pintar. Dan kami berpelukan dengan erat di depan pintu kamar mandi (maapkeun Mama Juna yang memang rada lebay pemirsaaaaahhhh :D)

Lusanya sengaja Juna tidak aku pakaikan pempers dan Alhamdulillah setiap mau pipis dan pup ia mengatakanya kepadaku dan akan segera aku ajak dia untuk ke WC.

Ternyata hal kecil seperti ini sangat membahagiakan bagi seorang Ibu. Setiap perkembangan anak yang disaksikan langsung merupakan anugerah terbesar bagi seorang Ibu.

Aku sangat bangga pada para Ibu Rumah Tangga yang mampu mendidik dan mengurus anaknya sendirian tanpa bantuan siapapun sekaligus enyaksikan perkembangan anaknya setiap menit dan detik. Itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah tergantikan.

Dan untuk Juna… semoga kau menjadi anak yang sholeh juga pintar ya, nak,
Mama mencintaimu, Juna.

Sabtu, 19 November 2016

Debaranku

Debaran yang membuat aku kikuk
Seharusnya ini terjadi pada masa itu saja
Aku tak ingin terbaca
Ataupun mengartikan sesuatu yang salah

Debaran itu menghukumku
Harusnya aku tidak merasakan apapun
Agar hati tidak tegelitik
Agar jiwa tidak membara
Pada sesuatu yang keliru

Jangan pernah pertemukan aku lagi dengannya
Atau hapuskan saja noda dihatiku, Tuhan!

Ibarat ombak di laut
Tak kuasa aku hentikan

Hati itu rumit
Tetapi lebih rumit untuk mendalami nya
Aku tidak akan mencari tahu
Aku hanya akan diam
Dalam debaranku


Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -