Minggu, 13 Agustus 2017

Dilema Hijrah Part I



Hijrah kerumah mertua?

It’s so shocking!
Itu adalah reaksi pertama ku ketika suami mengatakan bahwa ia harus pindah ke Kota Palembang akibat peralihan status nya sebagai pegawai kemetrian. Hiks…hiks….hikss….

Otomatis kalo di Palembang pastinya bakalan tinggal dirumah mertua. Secara, belum tau nih aku bakalan kerja atau enggak degan kondisi mertua yang memang sekarang sakit-sakitan (FYI : mama mertua sakit diabetes dan stroke ringan plus papa mertua yang kayanya sering batuk-batuk). Sebagai menantu yang baik hati mana rela dan tega berada di kota yang sama tapi tinggal jauh dari mereka yang sakit-sakitan tanpa ada yang stay dirumah itu. Iya, mama dan papa selama ini hanya tiggal berdua tidak ditemani anak-anak lainnya. Tapi Alhamdulillah ada dua orang ipar yang tinggalnya berdekatan dengan mertua. Cuma, menurutku tetep aja lebih “aman” kalo ada yag tinggal bersama mereka. Dulu aku sempet ngomong sama suami kalo mama dan papa di bawa aja ke Bangka, biar tinggal sama kami. Jujur, aku kasia kalo ngebayangin mama dan papa berdua aja dirumah sebesar itu dengan kondisi fisik yang tidak lagi bugar.

But, gimana dengan Ibuku? Bapakku?
Ibu dan Bapak pun hanya tinggal berdua disini. Sedangkan Abangku tinggal di Mentok, yang otamatis ga bisa lihat ibu setiap hari atau menemani ibu setiap hari.

Aku kudu piye????

Disatu sisi, aku ingin berdekatan dengan suami.
Disatu sisi, aku juga ingin berdekatan dengan Ibu dan Bapak di masa tua Ibu. Karena Ibu hanya memiliki aku dan Abang (berbeda dengan suami yang merupakan enam bersaudara, dan dua diantaraya tinggal di Palembang).

Dilema…. Sungguh dilemaaaaaaaaaaaa………………..

Belum lagi dengan ketakutan ku  yang harus tinggal dirumah mertua.
Ketakutan?
Iya, aku sangat ketakukan untuk tinggal bersama mertua. Bukan karena mertua, tapi karena “keterbatasan” diriku sendiri.
Selama ini aku mengenal mertua sebagai orang yang sangat baik, pemuran dan juga tidak cerewet. Namun : rajin dan pembersih!

Sedangkan aku?
Aku adalah sosok yang pemalas, bekerja berdasarkan mood (bukan tipe konsisten), pemalas, agak arogan, sensitif dan juga buka anak rumahan! Disini agak berbanding terbalik denga kebiasaan dirumah mertua yang kudu bangun pagi, rajin beresi rumah, rajin biki makanan dan sujka menghabiskan waktu dirumah aja.
Ngebayagin ngeberesi rumah mertua yang luas totalnya bisa dua kali lipat dari rumah Ibu (karena bertingkat) aja udah sesak napas! Hahahahhahahaa. Kan, kalo emang disana kemugkinan aku bakalan jadi Mama Rumah Tangga, alias belom kerja. *pengen nangis*. Aku sih bukan megkhawatirkan akan “mertua yang nyebelin’, tapi aku khawatir bakalan jadi “menantu yang nyebelin ataupu menantu yang tidak diharapkan” karena “kedok”-ku terbuka setelah tinggal bersama. Aku takut predikat “menantu kesayangan nomor-3” bakalan melucur ke predikat terakhir. *tuhhhh kaaaaaaaaannn jadi sedih lagi*

Ada opsi aku tinggal terpisah aja dari suami, tapi gakk… gakkk… udah prinsip aku untuk gak bakal jauhan dari suami. Aku ingin kami selalu bersama membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.  Akuuu gak mau jauh dari suamikuuuu yang aku cintai ataupu anakku jauh dari papanya yang sangat ia sayangi. Aku ga mau anak-anakku kekurangan kasih saying ataupun merasa kurang akan kasih-sayang dari papa nya.

Ahhhh…….. galau ku sungguh galaaaaauuuuuuuuuuuu!!!

Galau banget ninggalin Ibuku.
Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia. Dan kami pun dimurahkan rezeki agar bisa gunjungi Ibu Bapak sesering mungkin. Aku sayang sekali sama Ibu.

Dan semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk kami semua.
Niatku, untuk dapat mengurus orangtuaku seperti mereka mengurusku diwaktu kecil. Semoga dalam waktu dekat dapat berkumpul dan berdekatan dengan Ibu, Bapak, Mama dan Papa. Jadi bisa ngurusin keempatnya secara brsamaan, adil dan juga peuh cinta.

Amiiennnnnn ^,^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -