Akhir-akhir
ini aku sering sekali mudah tersinggung dan marah kepada Ibu dan Bapak,
terutama Ibu.
Tentunya
dari sisi manapun sikap ini tidak akan penah dibenarkan. Sikap seperti itu
hanya akan melabeli diri saya sebagai anak durhaka, tidak tahu diri ataupun
kurang ajar. Seharusnya si anak tetap bersikap menyayangi, sabar dan juga tetap
meuruti semua perkataan orangtuanya. Tanpa terkecuali.
Aku kembali
merenungi kenapa mudah sekali timbul dihatiku pergesekan-pergesekan atas sikap
orangtuaku kepadaku ataupun kepada anakku.
Ibu.
Tidak
satupun dan tidak pernah sekalipun aku berhenti menyayangi Ibu. Hanya saja,
terkadang sifat Ibu yang terlalu mengatur, protektif dan juga tidak dapat
memahami keadaaku seringkali tidak dapat aku tolerir sehingga membuat Ibu
marah. Seperti beberapa hari yang lalu sewaktu Ibu menyuruhku untuk membersihkan
dan merapikan pakaian yang telah menumpuk, bukannya bermaksud untuk menolak, namun
saat Ibu meminta melakukan itu aku merasa sangat lelah, badan terasa tidak enak
dan sangat mengantuk. Sekiranya harapaku untuk Ibu dapat mengerti kelelahanku
akibat selalu begadang karena Juna musnah sudah. Ibu marah, mendumel
dibelakangku dan akhirnya tidak menegurku. Aku membiarkanya saja tidak
meegurku, da aku pun memilih bersikap untuk tidak menegur Ibuku. Terhitung
sejak malam Sabtu, artinya telah tiga hari kami saling mendiamkan.
Bapak.
Entahlah,
jika berbicara Bapak yang aku rasakan adalah suatu perasaan yang absurd. Aku
tidak mau membahas tetang perasaanku kepada Bapak. Terlepas dari semua itu,
Bapak adalah sosok yang baik sesugguhnya. Hanya saja karakter Bapak yang angkuh
dan tidak dapat meempatkan sikap apalagi perkataan lah yang serigkali membuatku
tidak menyukainya. Kekesalaku memuncak ketika siang itu perutku sakit da harus
BAB. Keti ka aku berada di kamar mandi aku mendengar Juna menyalakan kompor,
sontak aku meeriakinya. Ingin sekali aku berangkat utuk mematika kompor itu
namun apalah daya pencernaanku sedang tidka bersahabat, ia meghalagiku untuk
segera beragkat mematikan kompor. Kemudian Bapak datag sambil sedikit megoceh,
latas aku yag mendengar kedatagan Bapak sambil berteriak dari dalam kamar mandi
memita tolong Bapak agar mematika kompor Karen aaku sedang BAB. Tapi jawaba
Bapak malah membuatku tersiggung, “Sudah tau ini hidup ya dimatikan lah! Gila!”
hardiknya. Jujur saja, aku sagat tersinggung dengan ucapan Bapak. Bagiku itu
bukanlah ucapan yang pantas utuk dikatakan kepada anak. Latas saja aku
meyahutnya, “Gimana kalo lagi keluar gii tai-nya!” balasku keras.
Kedua
orangtuaku adalah orangtua yang baik, sangat baik malah. Aku ingat tidak
satupun keinginaku yang tidak mereka usahakan untuk memenuhinya demi kami
anak-anaknya. Mereka berusaha mati-matian untuk membahagiakanku. Lelah yang
mereka tepiskan agar dapat melihat kami bahagia dan juga berhasil.
Permasalahan timbul ketika aku telah menikah. Mereka masih
menjadi wujud protektif dan menjadi lebih egois. Aku tidak tahu apa peyebabnya.
Atau mungkin saja aku tidak sempat memikirkan tetang perasaan mereka karena aku
pun sedang sibuk membagun rumah tanggaku. Ada suami yang harus aku pahami,
salami dan juga perhatikan. Ada anak yang baru berusia 3 (tiga) tahun yang
membutuhkan perhatianku, tenagaku da juga kehadiranku. Apalagi saat ini aku
haya berdua degan Juna karena suamiku sedang berkuliah lagi di Kota Kembang.
Bayangkan
saja, setiap malam aku tidur paling cepat pukul 01.00 wib pagi karena Juna
paling cepat tidur pada jam tersebut. Akibat terlalu banyak tidur siang atau
tidur sore. Bayangkan saja jika aku harus bangun pagi dan kemudian harus melajutkan
bekerja hingga pukul 16.00 wib. Jika sepulag bekerja aku harus langsug
membereska rumah, menghadapi tingkah Juna yang aktif tanpa ada rehat sedikitpun
atau pun diberikan “dispensasi” untuk istirahat. Begitu saja terus
berulang-ulang. Aku tidak pernah tidur siang samasekali. Lantas, bagaimana aku
dapat mengimbagi posisi ku sebagai Ibu, Anak, Istri sekaligus Pegawai walaupun
hanya sebatas honorer?
Aku hanya
ingin tidak dibenturkan dengan sikap egois dan kasar dalam kesehariaku. Bukakah
kita sama-sama lelah, sama-sama perlu istirahat, sama-sama memerlukan waktu
untuk diri sendiri walaupun sedikit.
Aku tahu
sebagai seorang anak aku belum memberikan yang terbaik untuk orangtuaku. Bahka
pada sampai detik ini aku masih menyusahkan mereka dengan “menump\h hidup” pada
Ibu Bapak. Merepoti mereka degan sikap Juna yang luar biasa aktif. Aku sangat
bersyukur Allah memberikan kedua orangtua yang luar biasa baik hatinya.
Setelah
meulis ini, aku merasakan kesedihan dan juga uap amarahku menghilang seketika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar