Tentang Cinta
Oleh :
Yulistia Akbari
Ini hari
ketiga hujan mencurahkan tangisannya ke kotaku. Hawa dingin, namun tak sedingin
hatiku yang telah membeku beberapa bulan terakhir, tidak mempengaruhiku untuk
beristirahat sejenak saja dari pekerjaanku yang sepertinya tidak akan pernah
habis walaupun aku bekerja selama 24 jam.
Aku butuh
melarikan diri dari rasa tak menentu setelah perpisahan kami lima bulan yang
lalu atau aku akan menjadi gila jika hanya berada dirumah. Aku tidak akan mampu
membendung mataku ketika harus duduk di dapur, tempat dimana tujuh tahun aku
memasakkan makanan untuknya. Atau aku akan menumpahkan tangisku saat aku
menonton televisi, tempat kami menghabiskan sisa hari ketika malas keluar
rumah. Berada dirumah hanya akan membuatku seperti membeku, seperti hawa kota
ini.
Aku berhenti
menyentuh laptopku.
“Kau tidak pernah bisa memahamiku!”
Aku teringat
bagaimana aku selalu mengatakan padanya tentang bagaimana ia tidak
membahagiakanku, tentang apa yag tidak ia penuhi, tentang apa yang tidak ia
berikan padaku dan tentang apa yang selalu membuatku marah kepadanya. Tanpa aku
pahami, apakah aku telah memahaminya, apakah aku telah membahagiakanya, atau
apakah aku telah menjadi pasangan terbaik untukya. Itulah keegoisaku.
Biasanya ia
tidak akan pernah membalas kemarahanku, ia hanya akan diam dan beberapa saat
kemudian ia akan mendekatiku. Bertanya banyak hal kepadaku. Mecandaiku. Atau
juga membelikanku es krim dalam jumlah banyak. Tapi ia tidak pernah meminta
maaf padaku. Satu hal yang selalu membuatku memendam dendam.
“Apakah kau mencintaiku?” tanyaku malam itu padanya.
“Tentu.”
Ujarnya tanpa megalihkan mata dari smartphone-nya.
Hatiku kesal.
“Lantas, kenapa kau tidak pernah mengatakannya
duluan?” balasku sambil
menaikkan selimut hingga sebatas leher.
“Apakah masih perlu?”
“Tentu saja. Cinta itu tidak hanya ditunjukkan,
tapi juga diucapkan.”
“Apakah ada kata yang lebih indah dari aku
mencintaimu? Jika ada akan aku ucapkan.”
Hatiku kesal.
Percakapan tentang perasaan ini tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah
menjawab atau membalas pertanyaanku tentang perasaan cinta nya. Ia hanya akan
bercanda. Lagi. Dan harapanku tentang perbicangan cinta ala film korea hanya
akan membuat malamku semakin mengesalkan, dan terbawa mejadi mimpi buruk.
“Apakah kau akan tetap mencintaiku, bahkan ketika
kita belum memiliki buah hati hingga tujuh tahun pernikahan ini?”. Itu adalah pertanyaanku saat ini, yang tidak
perlu lagi kau jawab.
***
“Saya terima
nikahnya Annisa Prameswari binti Muhammad Majid dengan mas kawin seperangkat
alat sholat dibayar tunai!” Gun mengucapkannya dengan mantap dan tegas,
yang diikuti koor “Amin” dari setiap tamu undangan. Semua orang meneteskan
airmata bahagia hari itu. 11 Februari. Tujuh tahun silam.
Itu adalah
saat paling bahagia untukku. Bagiku ia adalah pria paling tampan diseluruh
dunia, dan aku menikahi orang yang aku yakini dapat memberikan masa depan
padaku.
Gunawan,
seperti namanya, adalah pria paling baik hati yang pernah aku kenal. Hatinya seputih awan. Ia selalu membantuku dalam
segala hal, ia tidak pernah membiarkaku kesulitan sendiri. Bahkan saat aku
tertidur pun ia akan memberikan bantal dikepalaku. Ia adalah lelaki luar biasa
yang Tuhan kirimkan untukku. Ia melayaniku seperti aku adalah emas nya yang
paling berharga.
Namun
sikapnya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tidak pernah ia
iringi dengan kata-kata cinta seperti yag aku harapkan. Aku-lah yang pertama
kali akan memeluknya dengan hangat dan mengatakan “Aku mencintaimu” setiap
paginya. Akulah yang akan bersandar pada bahunya dan melingkarkan tangannya di
pinggangku setiap malam sebelum tidur, dengan begitu aku baru dapat tertidur
dengan nyenyak. Akulah yang setiap hari megirimkan pesan sigkat untuk
mengatakan aku merindukannya. Aku, aku dan hanya aku. Tanpa aku sadari sikapku
membuat aku haus akan pernyataan cintanya. Membuatku berpikir, bahkan kami
menikah bukan karena ia melamarku. Namun karena kami bersepakat untuk menikah.
Ya, ia tidak pernah melamarku.
Dan aku baru
menyadari ketimpangan perasaan ini pada tahun keempat pernikahan kami. Tahun
keempat bahkan disaat kami belum memiliki anak.
***
Aku tidak
pernah sadar kapan perselisihan kami semakin meruncing. Perbedaan pendapat baik
hal kecil sekalipun akan mudah menjadi pemicu pertengkaran kami. Gunawan yang
dulu selalu sabar meghadapiku mulai terlihat emosi setiap kali aku mengucapkan
kata-kata kasar padanya.
Aku menjadi
sosok mudah tersinggung, sensitif dan juga mudah terluka. Apapun yang Gun
lakukan selalu salah dimataku. Apapun yag ia katakan akan mudah menyakitiku.
Aku bahkan tidak tahu, apakah karena kesalahannya atau aku yang terlalu tidak
bisa menerima apapun darinya. Bagiku semua sikap dan perkataannya akan selalu
menyakitiku, karena aku selalu berpikir ia tidak mencintaiku seperti aku
mencintainya.
“Aku lelah!”
teriakku suatu hari, pada tahun keenam akhir perikahan kami. “Aku lelah selalu
menduga apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku lelah menjadi yang paling
mencintai didalam pernikahan ini. Aku lelah! Aku lelah selalu bertanya pada
diriku apakah kau mencintaiku atau tidak! Ya, kau memang memberikan segalanya
padaku, apapun yang aku inginkan selalu kau berikan. Kau selalu berusaha
membahagiakaku. Tapi aku tidak pernah tau Gun, apakah kau mencintaiku atau
tidak! Kau bahkan tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dan aku lelah dalam
komitemen ini, komitmen yang bahkan aku tidak tau apakah kita saling mencintai
atau tidak.”
Dan seperti
biasa, Gun hanya akan diam tanpa membalas kata-kataku, sekasar apapun
hardikaku. Ia hanya akan menerima. Dan bahkan ketika aku mengusulkan agar kami
berpisah, ia hanya diam. Bersikap seolah menyetujui, dan kami benar-benar
berpisah setelah hakim mengetuk palu.
***
Dalam lima
bulan terakhir aku menyandang status baruku, aku hanya menghabiskan waktu dengan
pekerjaaku, setidaknya inilah yang membantuku untuk tetap bernyawa.
Walaupun
disetiap hariku, aku selalu merindukannya higga darahku mendidih. Atau kadang
aku sugguh membutuhkannya hingga aku menangis menggigil.
Aku ingin
memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cinta yang ia harapkan, atau
menemukan cintanya. Walaupun mungkin bukan aku adalah yang sesungguhnya ia
cinta. Toh aku merasa kasihan padanya kerena aku akan selalu menjadi sosok
paling egois baginya
Ah, hawa
dingin ini memelukku.
Ponsel ku
bergetar, pesan masuk. Apakah perutmu masih sering sakit?
Nomor yang sangat
ku kenal.
Gun.
Pangkalpinang, 18 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar