Minggu, 05 April 2020

Ketika Harus ASI Pumping Eksklusif


Ketika Harus ASI Pumping Eksklusif
Penulis : Yulistia Akbari

Melahirkan adalah suatu proses yang sangat luar biasa. Semua keajaiban di dunia seolah dikumpulkan Tuhan dalam satu moment yaitu melahirkan. Rasa sakit yang tidak bisa didefinisikan lagi apa maknanya , melebur menjadi titik –titik tidak berbekas saat bayi pertama kami lahir secara caesar setelah dua belas jam induksi yang tidak membuahkan hasil yang memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Lalu lahirlah bayi tampan yang kami beri nama Arjuna Zabran Gunawan dengan gagahnya ke dunia yang penuh dengan tantangan ini sekitar pada pukul sembilan malam.
Saya mengalami sedikit kekecewaan kepada pihak rumah sakit ditempat saya melahirkan, karena para bidannya tidak memberikan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada saat anak saya lahir. Walaupun dalam keadaan terbius, saya dapat merasakan bahwa tidak adanya tindakan IMD tersebut, padahal saya tahu seharusnya IMD itu diberikan kepada bayi baik si Ibu melahirkan normal ataupun operasi. Setelah beberapa menit saya sadar pun IMD tersebut tidak kunjung diberikan. Beberapa jam berlalusetelah melahirkan barulah kemudiann para perawat di Rumah Sakit mengatakan kepada saya bahwa anak saya akan diberikan susu formula (sufor) , “Ibu, bayi nya kita kasih sufor dulu ya biar gak kelaperan nanti”.
“Nanti kalau dikasih sufor, anak saya tidak mau lagi menyusui.” Alasan saya dengan hati-hati, takut menggurui atau menyinggung para perawat yang mungkin seharusnya sudah mumpuni dibidangnya.
“Besok kami ajari cara menyusuinya, Bu. Tenang saja, bayinya mau kok nanti menyusui kan sekarang ASI-nya aja belum keluar.” Jawab perawat bertubuh gempal tersebut.
Berat hati saya untuk menyetujui pemberian sufor itu, tapi kondisi yang masih lemah setelah operasi membuat saya tidak mau berbantah dengan perawat, apalagi Ibu saya terlihat tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Mata saya mencari keberadaan suami saya yang sepertinya sibuk mengurus mempersiapkan barang-barang untuk dibawa kerumah sakit. Seandainya suami saya berada di dekat saya waktu itu, pastilah ia akan mencegah si perawat memberikan sufor. Akhirnya saya berdiam diri dan hanya menahan sakit sakit sambil hanya menatap slogan-slogan tentang pentingnya ASI dan IMD bagi bayi yang tertempel didinding kamar rumah sakit. Walaupun pada nyatanya apa yang tertempel di dinding rumah sakit bertentangan dengan apa yang saya alami. Keesokan harinya barulah saya diajarkan untuk menyusui, tentang pelekatan dan rasa sabar oleh perawat. Saat pertama kali merasakan Arjuna bersemangat untuk menyusui, seperti orang kelaparan, air mata ini jatuh dengan sedirinya. Bangga , terharu, cinta juga bahagia menjadi satu.
Tantangan yang sesungguhnya dalam memberikan ASI dimulai saat kami telah pulang dari rumah sakit. Rasa semangat untuk memberi ASI sedikit terganggu dengan banyaknya pendapat “orang-orang lama” entah itu saudara ataupun teman yang menyarankan untuk memberikan susu formula. “Biar anaknya kenyang, ga nangis terus terusan” asumsinya.
Saja jawab santai aja , “Namanya juga bayi, ya nangis dong kerjaannya” saya keukeh tidak mau susu formula. Cukuplah si perawat yang ‘meracuni’ niat untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak saya dengan susu formula. Setiap ‘godaan’ yang datang untuk menggunakan susu formula berhasil saya tepis , apalagi suami sangat mendukung untuk memberikan ASI eksklusif. Suami tidak pernah absen untuk bangun malam walaupun hanya sekedar membantu meletakkan bantal diatas tangan demi kenyamanan sang anak untuk bersandar kala menyusi ditengah malam.

Pada bulan kedua setelah Arjuna lahir, tiba-tia saja ia tidak mau lagi menyusui. Entah itu dikarenakan ASI saya yang selalu membuatnya kewalahan karena setiap kali ia menyusui, beberapa menit kemudian ia akan tersedak karena ASI yang keluar terlalu kencang tidak sebanding dengan kekuatannya dalam menelan ASI tersebut. Atau karena ia merasa lebih nyaman menyusi dari dot yang tidak muncrat seperti saat menyusi langsung, atau bisa jadi karena keduanya. Memang, kebiasaan saya adalah  saat Arjuna menyusui di salah satu payudara, saya akan menampung ASI yang keluar dari payudara sebelahnya di botol. Kemudian ASI yang keluar tersebut saya berikan kepada Arjuna melalui botol. Waktu itu saya berpikir : “Sayang kalo dibuang. Ntar aja stok ASI-nya kalo udah kerja.”
Pola pikir saya itu salah besar, akibatnya Arjuna lebih suka menyusui di botol karena lebih teratur keluarnya dibanding ASI saya yang muncrat kemana-mana. Istilahnya, bingung puting. Pernah saya mencoba untuk relaktasi, tapi saya menyerah karena suasana tidak mendukung. Ibu saya tidak tahan mendengar tangisan Arjuna yang membahana ketika disodorkan payudara, “Biarin aja lah dikasih dot, daripada nangis kaya gitu. Malu sama tetangga.”. Ah, saya memilih mengalah saja menuruti nasihat Ibu walaupun berat hati. Sama seperti saya membiarkan perawat memberikan sufor pada Arjuna disaat ia lahir.
Kemudian saat Arjuna berusia dua bulan setengah, ia sama sekali sudah enggan menyusui langsung. Tak terhitung rasanya sakit hati ini saat melihat Arjuna membuang muka ketika disodori payudara untuk menyusui. Ibaratnya sakit patah hati kalah dengan sakitnya ditolak anak menyusui. Tapi, ASI eksklusif harus tetap berjalan. Harus! Itu tekad saja.
Hasilnya, adalah saya membeli pompa ASI sebanyak dua buah. Kiri dan kanan. Memerah asi setiap dua jam sekali adalah hal wajib. Terhitung dalam sehari saya melakukan dua belas kali pumping. Memberikan ASI pumping eksklusif, istilah yang saya buat ini, menjadi semakin berat ketika usia Arjuna menginjak tiga bulan dimana saya harus kembali bekerja. Perusahaan yang bergerak dibidang perbankan ini tidak memungkinkan saya untuk fleksibel memberikan ASI Perah (ASIP) segar adalah salah satu tantangannya. Tapi hal tersebut dapat diatasi dengan cooler bag yang menjadi menjadi andalan.

Tantangan lainnya adalah fisik. Setelah mulai bekerja, saya akui rasa lelah mudah sekali menyerang. Apalagi pumping yang saya lakukan setiap dua jam sekali. Titik paling berat adalah saat harus bangun setiap dua jam mulai pukul 21.00 WIB sampai dengan 05.00 WIB demi memberikan ASIP segar kepada Arjuna. Niat ini memang sudah saya canangkan sejak memberikan ASI pumping eksklusif bahwa saat dirumah ASIP segar harus selalu saya sediakan bagi Juna dan saat saya berada di dekat Juna. Hasilnya, kurang tidur dan makan menjadi hal biasa.
Tak terbayangkan remuk redam dan kerepotannya saat memberikan ASIP pada Juna ini. Bangun tengah malam, mengurus Juna yang termasuk kategori anak yang rewel, bekerja dan bolak-balik mengantar ke rumah pengasuh, rasanya dua puluh empat jam terasa kurang.  Pernah terlintas dalam pikiran untuk berhenti bekerja saja demi memberikan ASI eksklusif ini ini, tapi pertimbangan lain membuat saya harus menghemas rapat-rapat niat itu.

Semakin hari, produksi ASI saya semakin menipis. Entah itu dikarenakan karena ASI yang keluar melalui pumping bukan isapan, atau karena kelelahan, atau juga karena pumping yang biasanya dari dua jam sekali menjadi empat jam sekali karena saya tertidur kelelahan atau kesibukan kerja, saya tidak tahu pasti. Lalu hal yang paling mengerikan terjadi : stok ASI dan juga produksi ASI benar-benar menurun di usia Ajuna delapan bulan  menjelang sembilan bulan.

Dengan berat hati kami memberikan susu formula kepada Arjuna, walaupun masih diselingi  ASI. Air mata merebak kemana-mana. Gagal sudah niat S2. untuk Arjuna tersayang. Tapi suami menguatkan hati saya dengan berkata : “Tidak apa-apa, kan setidaknya sudah berhasil eksklusif sampai lewat enam bulan. Nanti kalau Juna punya adek, insyaallah samapai S2, jadikan ini pelajaran”

Perjuangan memberikan ASI menurut saya sangat luar biasa, karenanya saya sangat iri dengan para ibu yang tidak bekerja yang mampu mengurus anak dan memberikan anak mereka ASI eksklusif sampai dua tahun. Dan saya sangat kagum pada para ibu bekerja yang berhasil memberikan ASI hingga dua tahun pada anak mereka. Semoga saja apabila Tuhan memberikan kesempatan lain, saya mampu untuk memberikan ASI sampai 2 tahun untuk anak saya tanpa satu tetes pun susu formula. Amin, semoga Tuhan selalu merahmati para ibu yang berjuang demi memberikan ASI pada buah hatinya.

Jumat, 07 Februari 2020

Ada namamu disana

Ada namamu disana.

Ingin sekali aku menyapamu, bahkan sekedar untuk menyapa dan menanyakan kabarmu. Apakah kau baik-baik saja disana tanpa diriku. Apakah kau seterluka aku dengan keadaan ini. Apakah kau merindukan aku seperti aku merindukanmu. Ataukah kau mengharapkan kehadiranku seperti aku begitu merasakan keahausan akan kedatanganmu.

Ada namamu disana.

Namun aku tak kuasa untuk memanggilmu. Aku tak mampu lagi. Yang dapat ku lakukan saat ini adalah menangis, di dalam hati. Tidak tidak. Ini bukan lagi menangis dalam hati jika air mataku sudah bercucuran. Ingus ku naik turun.

Tuhan. Tuhan. Tuhan.
Mengapa ada rasa cinta yang  besar dalam hatiku jika aku tak kuasa membahagiakan dan dibahagiakan oleh orang yang aku cintai. Mengapa Kau pertemukan bila akan terpisahkan? Tahukan Engkau Tuhan, hatiku begitu sakit. Sudah tiga malam aku menangis dan mataku bengkak. Aku tak bisa tidur, aku merana.

Ada namamu disana.

Namun aku hanya mematung dalam kesendirianku.
Aku hanya mampu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku sangat merindukanmu. Imajinasiku emmbayangkan senyummu dihadapan wajahku. Hangatnya pelukanmu. Betapa aku sangat bahagia ketika bersamamu. Aku mengutuk diriku sendiri yang sangat menginginkan dirimu.

Ada namamu disana.

Kamis, 09 Januari 2020

"Bu, Dia Kentut!"

Aku pernah menangisimu
Sepanjang Sudirman hingga Ahmad Yani
Ku lahirkan bayi-bayi kekecewaanku dalam bentuk kristal yang menguap
Kau mengatakan padaku bahwa nafasmu nafasku satu helaan nafas
Namun pada akhirnya hilang sudah paru-paruku, satu.

Kini ku dengar lonceng berbunyi
Dengusan, bau miang, busuk, canda tawa
Mereka tertawa kegirangan
Tak tahu bahwa empedu mau pecah
Tak tahu bertahun-tahun setelah itu mereka bisa merasakan yang sama

Katanya aku galau

"Bu, dia kentut!"
Ah persetan dengan  kentutmu!
Otakku sedang bekerjasama dengan hati dalam mengelabui diriku
Memaksa mengenangmu
Kembali tenggelam bersama perahu memori
Berlayar. Mengarungi hempasan.

Bahkan berjuta detik setelahnya aku masih mengenang harum tubuhmu
Tawamu seperti merah putih yang ditarik fan dikembangkan
Lalu petugas akan berkata : "Bendera siap!"
Cih!
Bagaimana bisa aku menganalogikan senyumu sedemikian rupa
Mungkin karena hanya senyummu dan kibaran Sang Saka yang membuat hatiku bergetar dan menangis dalam masa yang sama

Mengapa serumit itu Tuhan menciptakan
Harapan. Hasrat. Mimpi
Namun ternyata ia tertinggal

Karena hanya sebagai alunan. Lantunan. Dendangan nada indahku
Ketika ku diperkenalkan Tuhan tentang cara mencintai dan dicintai untuk kali pertama

Ku pandangi si wangi berkelupak layu
Layaknya asa.
Wangi.
Tapi telah layu.








Januari 2020

Selasa, 07 Januari 2020

Kenanga

Kenanga

oleh :
Yulistia Akbari


Kampung kami geger.
Desas-desus, obrolan, ghibah ataupun percakapan panjang lebar sedang berlangsung dengan khidmat di kampung yang memang ramai dengan ibu-ibu ini. Untung saja mereka tidak membuat suatu whatsapp grup, mungkin notifikasi nya akan penuh setiap detik beriisi gunjingan mereka yang tidak berkesudahan.percakapan tak berkesudahan yang dapat membuat para ibu-ibu itu lupa masak. Lupa mengurus anak. Lupa mencuci. Lupa membersihkan rumah ataupun lupa bahwa lima menit lagi suaminya akan pulang kerumah dalam keadaan lelah setelah bekerja.
 Rupanya kampung kami sedang riuh dikarenakan kedatangan seorang wanita muda yang baru beberapa bulan pindah ke kampung kami ini. namanya Kenanga. Ia seorang janda. Pantas saja ibu-ibu itu berisik.
“Pak, katanya janda itu sudah tiga kali menikah lho Pak.” Malam itu Bu Mimin memulai percakapan dengan suaminya, seranya menyerahkan secangkir kopi panas. Pak Ono sedang asing bermain dengan handphone-nya. Bu Mimin melirik, suaminya sedang membaca Babe.
“Masa semuda itu sudah tiga kali janda ya pak.” Sarkasme. Nada sindiran pedas keluar dari bibir Bu Mimin. “Katanya, ia baru berusia empat puluh lima lho Pak.”
Akhirnya Bu Mimin menceritakan gossip yang sedang beredar.
Wanita yang dikenal dengan nama Kenanga itu pertama kali menikah saat ia berusia delapan belas tahun. Setelah tamat dari sekolah menengah kedua orangtuanya langsung menikahkannya dengan seorang laki-laki tampan berusia dua puluh Sembilan tahun, waktu itu suami pertamanya adalah seorang pegawai negeri. Mereka di gadang-gadang sebagai pasangan yang serasi. Pengantin yang serasi menurut masyrakat. Prianya tampan dan mapan, wanitanya cantik dan anggun. Pernikahan mereka dikaruniai sepasang anak yang lucu, laki-laki dan perempuan. Pendek kata, secara kasat mata pernikahan mereka sangat cocok. Serasi. Pas. Mantab! Apalagi ditambah sepuluh tahun kemudian ternyata suaminya sudah memegang salah satu jabatan strategis di pemerintahan. Semakinlah Kenanga dielu-elukan dengan label “beruntung.” Kenanga hanya tersenyum simpul dan selalu bersahaja walaupun banyak orang memuji keberuntungannya dan juga kebahagiaan yang menurut mereka sempurna. Namun, tidak ada hidup yang sempurna. Beberapa tahun kemudian, suami Kenanga meninggal karena serangan jantung. Padahal usianya baru empat puluh tahun, sedang bugar-bugarnya. Sedang menanjak pula karirnya. Mau dikata apalagi, Kenanga menjadi janda saat ia berusia duapuluh Sembilan tahun, dengan tanggung jawab seorang anak laki-laki dan juga perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenanga bingung bagimana ia harus menghidupi anak-anaknya. Juga hidupnya. Pensiunan janda yang tidak seberapa tidak dapat menutupi biaya hidup sehari-hari. Akhirnya Kenanga memilih untuk mencoba usaha. Bermodalkan peninggalan suaminya, ia membuka suatu butik di pusat perbelanjaan kota. Katanya, usahanya maju.
Karena kecantikan Kenanga, juga statusnya yang janda, membuat banyak sekali kumbang-kumbang ingin hinggap menghisap madunya. Layaknya bunga yang masih segar dan merekah, seperti itulah kumbang nakal banyak mengerumuninya. Namun Kenanga kokoh. Kenanga tidak suka kumbang jantan nakal yang hanya menunjukan eksistensi kejantanannya. Bayang-bayang almarhum suaminya masih melekat di hati Kenanga. Bagaiman kebaikan, kesabaran dan kasih sayang yang dilimpahkan suaminya membuat Kenanga tidak mudah jatuh jatuh dalam rayuan nakal sesaat para kaum adam.
Dua tahun berlalu. Kenanga menginjak usia tiga puluh satu. Entah bagaimana ada seorang pria yang berhasil mengusik hatinya. Lelaki itu memang pernah singah dalam kehidupan Kenanga. Ialah mantan kekasih Kenanga semasa SMA. Dengan status duda beranak tiga, istrinya pun meninggal setelah melahirkan anak yang ketiga, Kenanga menganggap itu adalah takdir yang menentukan bahwa Kenanga harus bersatu dengan kekasih masa lalunya. Maka, di penghujung usia tiga puluh tiga Kenanga memutuskan mengakhiri kesendiriannya. Kenanga menikahi kekasih masa lalu nya. Katanya, Kenanga kembali hidup bahagia bersama kekasih masa lalunya. Namun mereka tidak memiliki anak. Kenanga bersikeras tidak mau memiliki anak, karena Kennga menganggap dua anak kandungnya dan tiga anak tiri sudah cukup meramaikan keluarga barunya itu.
“Tapi, apa Bapak tau. Ternyata suaminya tidak mau Pak! Suami barunya tetap mau punya anak dari pernikahannya dengan Kenanga!” Bu Mimin menggebu-gebu.
Kenanga mengarungi bahtera rumah tangganya dengan penuh gejolak. Di satu sisi, kenanga merasa keberatan dengan permintaan suami keduanya untuk menambah momongan. Bayangkan saja kerepotan yang sudah dialami oleh Kenanga mengasuh kelima anaknya sekarang. Bahkan Kenanga tidak bisa fokus untuk menjaga butik karena harus mengurus anak-anaknya. Maka Kenanga mencari orang untuk menjaga butiknya. Dan di satu sisi lainnya, Kenanga merasa ia harus menuruti permintaan suaminya. Titah suami adalah diatas segalanya. Dan hamil lah Kenanga untuk ketiga kalinya. Ia kerepotan. Kacau. Balau.
Sedang dalam kerepotannya tiba-tiba kabar yang sangat ditakutkan muncul. Suami keduanya meninggal! Lagi! Kali ini karena kecelakaan. Avanza yang dikendarainya menabrak truk yang tiba-tiba pecah ban. Saat itu suaminya dalam perjalanan pulang dari Sadai ke Pangkalpinang. Lemas dan serasa lolos lah tulang belulang Kenanga. Ia kembali menjanda. Kesedihan yang menghinggapinya membuat janin berusia dua bulan itu luruh. Keguguran. Semakin lara dan nestapa hati Kenanga.
Kenaga bersikeras mengurus anak-anak tirinya. Namun keluarga mantan suaminya keberatan, maka dengan berat hati Kenanga “mengembalikan” anak-anak tirinya kepada nenek dan atoknya. Bagaimanapun, mereka lebih berhak.
Cerai mati. Dua kali. Mengerikan.
“Orang bilang, Kenanga itu ada tahi lalat pak di dekat selangkangnya. Besar. Makanya kata orang, itu bisa ‘makan laki’ Pak. Alias siapapun yang menikahinya pasti mati! Bawa sial Pak!” Bu Mimin berapi-api.
“ah ibu, percaya mitos saja.” Pak Ono menyanggah.
“Bapak gak percaya, itu sudah ada buktinya Pak. Tapi, memang sih Kenanga itu cantik. Badanya semok. Lihat saja, Pak Samin sudah mondar-mandir saja didepan rumahnya. Gatal mau memperistri. Padahal, baru beberapa bulan saja Kenanga ada disini.”
“Sudahlah Bu, jangan menggosipkan orang. Tidak baik. Dosa.”
“Pak, kalo emang kenyataan bukan gossip Pak. Fakta!”
“Iya, tapi tetap saja jadinya ghibah.”
Pak Ono beranjak dari kursinya yang menuju dispenser, mengambil air putih. Keringat kecil membasahi dahinya. Malam ini cuaca terasa panas.
“Pak, masih ada satu lagi Pak ceritanya.” Seloroh Bu Mimin mengekori suaminya yang menuju kamar tidur dan mengambil buku bacaan yang belum ia tamatkan.
Ternyata setelah suami kedua Kenanga meninggal, Kenanga lama menjanda. Ia sibuk dengan usaha dan anaknya-anaknya. Ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa, mungkin sekitaran duduk di bangku perkuliahan, Kenanga telah berusia tiga puluh sembilan, ia kembali bertemu dengan seorang laki-laki yang tertarik padanya. Tentunya dengan banyak sekali pilihan lelaki yang berminat memperistrinya. Tapi Kenanga bukanlah wanita yang sembarangan memilih pria. Dengan statusnya, ia digadang-gadang hanya tertarik dengan pria tampan dan kaya. Gossip beredar, karena Kenanga butuh dukungan secara financial. Ya wajar sih, jika seorang janda membutuhkan sosok yang bisa mendukung dan memenuhi kebutuhan lahir nya, tidak hanya batin. Wanita mana yang bisa hidup tanpa pakaian indah, tas yang cantik ataupun sepatu yang mempesona? Apalagi harga perhiasa terus melambung tinggi. Mana ada wanita yang bisa hidup tanpa kemilau yang membuat siapapun pemakainya menjadi cantik seperti bidadari? Apalagi sosok seperti Kenanga. Terkenal akan kecantikan keanggunannya.
“Nah masalahnya sekarang kenapa kampung jadi heboh, katanya Paaaakkk……”
Katanya suami ketiga kenanga adalah suami orang. ia adalah istri kedua. Kalo ini suami Kenanga bukan duda. Jadi, Kenanga adalah pelakor. Pengganggu laki orang. namun, tentu saja bisa jadi laki orang itu yang duluan mengganggu Kenanga. Wanita cantik selalu menjadi pusat perhatian, bukan? Pria yang gatal liat janda cantik, gelatik.  Ya, gelatik. Burungnya gelatik. Apakah salah Kenanga jika burung gelatik itu datang menggoda, menawarkan kasih sayang dan juga rasa aman. Aman hatinya. Aman kantongnya. Salah Kenanga kah? Pada suami ketiga, Kenanga sungguh jatuh cinta. Kenyamanan yang ia rasakan melebihi apapun.
“katanya, suami ketiga Kenanga ini biasa saja Pak wajahnhya. Tidak setampan suami-suai sebelumnya. Juga tidak se-kaya suami-suami sebelumnya. Tapi, katanya ia pejabat Pak. Pejabat biasa. Gak kaya-kaya amat.”
Pak Ono membalikkan halaman novelnya. Bu Mimin membersihkan wajahnya dan menggunakan krim malam. Ia masih berbicara dengan suaminya walaupun sedang becermin.
“Nah, katanya Pak suami ketiga Kenanga ada di kampung ini Pak!”
Kenanga pindah ke kampung ini agar dapat melihat suaminya stiap hari walaupun harus merahasiakannya. Itu kata gossip yang beredar. Beberapa kali orang melihat ada lelaki yang masuk kerumahnya melalui pintu belakang, namun tak pernah kelihatan mukanya. Kenanga sangat mencintai suami ketiganya, mungkin karena ia kesepia sehingga sosok suami menjadi salah satu hal yang sangat ia butuhkan. Entah sekedar untuk berbincang, mencurahkan perasaan, dan atau bercinta. Ayolah, janda muda  mana yang tahan tidak bercinta? Kerinduan itu pasti menyeruak. Walaupun ia bukan janda gatal.
“Ibu penasaran Pak siapa suami Kenanga. Kira-kira siapa ya Pak? Bu Mimin beralih ketempat tidur, menarik selimut dan meredupkan lampu.
Pak Ono menutup bukunya. Kemudian mengganti baju.
“hari ini jadwal ronda lagi pak?”
“Iya Bu. Ya udah, Bapak pergi dulu ya Bu. Sudang ditunggu pak Kodri dan teman-teman disana. Sekalian mau gaple-an dulu.” Pak Ono mengecup kening istrinya dan berpamitan.
Mata Bu Mimin sudah sangat mengantuk. Padahala ia masih ingin bertanya kepada suaminya. Kata orang, suami Kenanga itu posturnya tidak terlalu tinggi, rambutnya ikal. Kulitnya putih. Jika berjalan terlihat gontai. Wajahnya tidak kelihatan, tapi banyak yang bilang hidungnya bangir.  Siapa tau pak Ono kenal orang dengan postur seperti itu.
Bu Mimin menguap, ia ngantuk sekali. Nyaris terlelap jika bukan karena dering telpon.
Ah, handphone Bapak ketinggalan. Dengan malas Bu Mimin meraih handphone dan bersiap me-reject panggilan ketika ia melihat nama yang tertulis di layar : Kenanga.
Malam itu pukul 23.45.
Barulah Bu Mimin tersadar bahwa suaminya berambut ikal dan jika berjalan terlihat gontai. Juga tidak terlalu kaya.



Sungailiat, 8 Januari 2020

Kamis, 02 Januari 2020

Januari 2020

ku lepas semua yang ku inginkan
tak kan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti

pernahkan engkau coba mengerti
lihatlah ku disini
mungkingkah jika kau bermimpi
salahkah tuk menanti

tak kan lelah aku menanti
tak kan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
kan ku kenang di hati saja

kau telah hati yang terdalam
hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa


***

sekarang aku memahami artinya.

sesuatu yang kita sangka-sangka , ternyata hanyalah serpihan harapan belaka.

sesuatu yang aku kira kan terwujud selamanya, ternyata hampa.

aku hanya akan tersenyum.

aku merasa bahagia atas apa yang pernah ada.

mungkin aku menyesalinya.

namun, akhirnya aku bisa terbang dengan bebas bersama harapan baruku.


Senin, 16 Desember 2019

Bia

Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu

Api cintaku padamu tak pernah padam, tak pernah padam
_Sandy Sandoro_

Aku bergumul dengan perasaanku ketika ia berkata : "Ah, kamu seperti orang yang sedang jatuh cinta." dengan wajah santai sambil menghisap puntung rokok yang paling aku benci itu. Ia tidak memahami kecemasanku ketika harus menunggu kabar darinya, bertanya-tanya keberadaannya dan harus memastikan setiap detik arlojiku dan bertanya dalam hati apakah aku bisa menemuinya. Aku terus menerus merasa rindu padanya. Aku kecanduan ingin melihat wajah dan bercengkrama bersamanya. Tapi ia menganggapku hanya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada godam yang menghantam jantungku.

* * *

Kali pertama pertemuan kami di suatu pesta. Aku melihatnya dengan balutan gaun putih dengan potongan leher rendah. Ia menggenggam tas kecil yang dipenuhi mutiara. Senyumnya menawan hati, tutur katanya semanis delima. Saat itulah pertama kali aku menyentuh jemarinya yang lentik dan halus. Sekejap aku melupakan suasana pesta dan hanya menatapnya. "Bia." ketika dirinya memperkenalkan diri. Ia sungguh menggoda, sungguh memukau. Aku ingin melumat bibir ranumnya, sepertinya. 

Lalu kita bertemu beberapa bulan kemudian.

"Aku tak menyangka kita akan bertemu disini".  Itu adalah pertemuan kali kedua kami. Jantungku masih tersentak saat melihat senyumnya, darahku mendidih bergelora. Kenapa ia sangat menggairahkan? Batinku  berteriak dan berontak. "Mau kopi?' tanyaku. Ia membalasnya dengan anggukan kecil. Lantas kami meninggalkan bookstore itu dan menuju cofeeshop.

Ia suka sekali bercerita. Tapi ceritanya tidak pernah membosankan ditelingaku. Ia bercerita tentang bagaimana ia menyukai pekerjaannya sebagai penulis buku. Menurutnya itu adalah pekerjaan paling menyenangkan karena ia bisa menuangkan seluruh ide dan juga bersenang-senang dengan khayalan. "Jika berkhayal, berkhayallah setinggi mungkin dan semustahil mungkin." Dari situ aku tahu betapa ia sangat menyukai hal-hal yang berbau literasi. Pantas saja bercerita dengannya terasa menyenangkan. Aku seperti melihat awan biru cerah yang mengelilinginya. Dan setiap ia tersenyum, darahku berdesir. Jantungku berdegup.

Ia juga bercerita tentang kedua orangtuanya yang telah meninggal. Bercerita tentang suami dan anak-anaknya. Santai, semua terasa santai. Natural. Dan ia menceritakannya dengan sangat menyenangkan, sambil menghisap rokok itu dalam-dalam. Tawanya renyah sehingga siapapun yang mendengarnya akan turut geli dan tertawa.

Kenapa Tuhan menciptakan sosok yang sangat mempesona ini?

Menikmati wajahnya yang rupawan membuatku menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bosan. Tanpa bosan melihat senyumnya, tanpa bosan mendengar cerita dan petualangannya ataupun sekedar mendengar guyonnya yang renyah. Ia menyihirku dalam suatu suasana yang romantis, memenuhi tubuhku dengan aliran birahi yang tak nampak namun kuat. Aku tersihir dalam keberadaannya.

"Bisakah kita bertemu lagi?" tanyaku pada akhir perjumpaan kami. Lalu ia memberikan nomor ponselnya padaku.



* * *

Kau Candu
Canduku
Senyummu Candu
Matamu Candu
Tawamu Candu
Aromamu Candu
Suaramu Candu
Kehadiranmu Candu
Kau adalah candu


Dan hari telah berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Namun aku dan dirinya kini telah menjadi satu. Tidak pernah seharipun kami terlepas satu sama lain. Pertemuan adalah seperti obat pereda nyeri dalam hatiku. Setiap malam, wajahnya seperti potongan kolase yang bermain-main dalam benakku.

Aku membayangkan bagaimana bila disetiap malam aku bisa membelainya, menyentuhnya dan merasakan manis bibir ranumnya. Bia. Tidak pernah terjadi apapun diantara kami, setidaknya hingga detik ini. Setiap bertemu yang kami lakukan hanyalah minum kopi bersama dan menceritakan keseharian masing-masing, berbagi tentang kepenatan dan juga cerita remeh yang kami temui disepanjang hari.

"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat, aku sungguh merasa bosan namun ingin menemukan sedikit inspirasi." ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya dengan lembut. Bisakah aku saja yang kau hisap? lirihku dalam hati, fantasiku bermain.

Lalu kami melaju kencang menuju salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi bersamanya, hal itu telah aku putuskan beberapa  minggu yang lalu.

"Aku suka tempat ini. Tenang, tapi menenggelamkan." ujarnya.
"Sesekali aku kesini jika sedang merasa ingin menyendiri."
"Apakah kau pernah merasa kesepian? Seperti ada potongan dalam hatimu, hilang. Dan belum kau temukan." Bia mentap air terjun yang menggulung-gulung dihadapannya. Bahkan saat percikan air itu jatuh di wajahnya, menghembuskan rambutnya yang ikal ia terlihat sungguh menarik.

Aku diam, enggan menjawab.

Ia pun diam.

"Kenapa?" tanya nya heran.
"Aku sedang merasakan hal tersebut." jawabku. Ia membalasnya dengan kernyitan di dahi.

"Bisa jadi, sebenarnya kau adalah potongan kosong dalam hatiku. Dan selamanya aku tidak akan pernah bisa melengkapi kekosongan yang tertinggal itu. Karena potongan itu adalah dirimu."

Ia tertegun,
Dan entah apa yang mendorongku untuk berani merasakan manisnya bibir berlipstik merah menyala itu.

Dan Bia tak menolak, ia menikmatinya.

* * *


Aku jatuh cinta.
Kami saling jatuh cinta.
Menjelajahi waktu dan ruang  bersama. Melupakan apa yang telah mengikat kami selama ini, meluluh lantakkan sakralnya hidup yang selama ini mengikat. Bersamanya aku melupakan dogma dan norma. Aku menikmati setiap tawa, cerita dan sentuhan kami entah itu kecil ataupun bergairah. Aku sungguh merasa jatuh cinta padanya. Pada kesederhanaannya dan juga kecerdasannya. Bagaimana ia mampu mengolah semua kata terasa indah ditelingaku, ataupun perilaku nya yang manja mampu menyihirku. Aku terbutakan. Ataukan memang begini memabukkannya jatuh cinta saat telah terikat?

Pernah suatu malam aku ingin sekali memutuskan untuk berhenti. Sungguh berhenti menemuimu. Namun keesokannya aku akan berada dalam keadaan mencari-cari kehadiranmu. Begitu terus berulang dan berulang. Sehingga aku memutuskan untuk menikmati saja. Tenggelam dalam kecanduanku padamu.

Entah apa yang kau rasakan.
Bisa jadi aku hanyalah selingan, dan seharusnya itulah yang boleh ia rasakan. Begitupun diriku.

"Harusnya, kau memang hanya remahan biskuit dalam toples makanan ku." ujarnya suatu hari.
"Tapi entah kenapa, aku merasakan porsi yang sama. antara dirimu dan dirinya."

Aku hanya diam. Mencerna semua perkataannya.

"Namun, keberadaanku berbeda denganmu. Aku, tidak bisa mengorbankan kehidupanku untuk terus bersamamu."

Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?". Aku mencoba emmahami arah pembicaraan ini.

"Aku merasa kita harus berhenti." akhirnya kalimat itu keluar dari mulutmu.
"Setelah selama ini? Kita sudah bersama selama lima bulan, Bia! Dan semua terasa menyenangkan."

Aku menarik tubuhnya kedalam pelukanku, menciumnya dengan sepenuh hatiku. Bibirnya yang tebal memenuhi bibirku. Aku suka setiap ia melumatku. Manis.

Ia menarik diri.

"Aku tahu. Dan ini terasa terlalu menyenangkan." ia menjawab. matanya kosong. "Aku seperti membutuhkanmu setiap detik. Bahkan saat dirumah yang aku lakukan hanyalah mengecek sosial mediamu, melihat aktifitasmu dan berharap kau bisa mengirimu pesan setiap detik. Dan itu berpengaruh pada kehidupanku. Malam itu, Ben bertanya apakah ada yang salah dalam diriku. "

"Dan saat itu kau sadar bahwa kita harus berhenti?" tandasku.

Bia mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca.

"Aku tidak mau kehilanganmu. Aku bersedia bertemu satu kali dalam sebulan. Tapi Bia, jangan berhenti menemuiku. Aku membutuhkanmu."

"Bagaimana bisa? Aku sungguh ketakukan sekarang!"

"Tidak ada yang tahu. Kita tidak akan membicarakannya pada siapapun."

"Perasaanku kacau! Aku takut ini akan mempengaruhi keluargaku. Kita harus berhenti. Berhenti!"

"Tapi Bia... aku sungguh mencintaimu."

"Dan kau pun tahu aku mencintaimu. Bersamamu seperti surga untukku."

Lalu kami terdiam. Aku tahu, Bia membutuhkan waktu untuk mengeti apa yang ia rasakan. Aku tidak akan memaksanya, tidak akan. Ia memiliki lebih banyak yang dipertaruhkan dalam hidupnya. Ia bergantung pada suaminya. Si brengsek Ben. Pria tampan, mapan dan juga setia itu. Yang akan ia ceritakan dengan bangga kepadaku betapa ia bersyukur memiliki Ben dalam hidupnya.

Ben yang selalu ada dalam kondisi tersulit Bia. Entah itu dalam mengurus anak-anak mereka atau pun sekedar mencuci pakaian untuknya. Aku sangat membenci itu, namun bersyukur. Setidaknya Bia bahagia dalam pernikahannya. Dan aku mengerti ia dalam persimpangan.

Hanya saja, aku berharap hubungan kami selamanya.

Aku memandang ujung sepatuku. Aku tidak akan mempertahankan Bia. Biarlah ia memutuskan suara hatinya, dan kebimbangannya. Tugas ku, hanya menunggunya.

* * *


Sudah 360 hari sejak pertemuan terakhir kami. Dan tidak ada komunikasi sama sekali. Kadang hatiku memanggil-manggilnya, terasa dahaga akan kehadirannya. Namun, aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin mengganggu keputusannya.

Sore itu aku memandang laut dari tepian jembatan. Rautmu menari-nari di pelupuk mataku. Ada rindu dalam hatiku yang mengingkan untuk meyentuhmu. Saat kau berkata betapa indahnya mata dan senyumku. Betapa kau menyukai kegenitanku. Dan betapa kau menyukai rasa yang ada diantara kita. "Bersamamu aku merasa dicintai." itu katamu.

Angin menghembus wajahku. Pori-poriku terasa menciut. Dingin. Sedingin hatiku.

"Mama, ayo kita bermain lempar bola ini. Papa menunggu." Alya memanggilku dengan nada riang. Di ujung sana Ali melambaikan tangan ke arahku. Aku tersenyum memandangnya, lalu meraih tangan Alya untuk menuju Ali. Suamiku.






Sungailiat, Desember 2019


Rabu, 24 Oktober 2018

Aku - rindu

Menjelma seperti merpati
Terbang entah kemana mencari arti
Menghirup kebebasan yang semu
Harapan seperti ambigu

Jika aku ke kiri, aku sepi
Kehilangan sebelah hati
Jika aku kekanan, aku kosong
Seperti ada yang hilang dari diri
Tapi aku belum menemukan kesempatan
Untuk menghimpun kanan dan kiri

Aku merindu

Seperti punguk kepada bulan
Seperti romeo pada juliet
Seperti ibu pada anak

Meruah...
Hambur...
Tak terbendung...

Tak termakna

Hidup seperti apa yang tercitra
Makna apa yang di duga
Aku masih berada seperti adanya

Berusaha

Berusaha

Berusaha

Rabu, 27 September 2017

The Lucky Guy



 “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa’ : 23-24]





Wajahnya tampan, mata bulat indah dengan bulu mata lentiknya tersusun sempurna melengkapi lengkungan alis hitam nya yang lebat. Hidungya terukir kokoh seperti melengkapi kesempurnaan indah wajahnya. Kulitnya yang putih cemerlang akan kemerahan ketika terpapar matahari. Dan ketampanannya akan memancar kala bibir tipisnya melebarkan senyuman kepada siapapun yang memandangnya.

Banyak orang menyebutnya sebagai “lucky guy”. Sebuah julukan yang ambigu menurutku. Karena makna dari keberuntungannya adalah, ia bisa mendapatkan segala yang ia miliki sekarang ini bukan karena kerja kerasnya, namun pure dari factor x alias keberuntungan atau sebenarnya ia telah berusaha maksimal dibalik sikap cengengesan-nya yang tidak meyakinkan siapapun.

Tapi ia tidak pernah peduli dengan anggapan oranglain, entah orang menilai semua kerja keras yang ia lakukan mati-matian dinilai “tidak berharga” karena ia sukses karena berutung ataupun orang menilai dirinya dengan cara yang berbeda. “Aku tidak berkeberatan samasekali jika memang aku adalah orang yang beruntung.” Ujarnya.

Pernah aku mendapat cerita tetangnya yang mendaftar menjadi pegawai di detik-detik terakhir dan akhirnya lulus pada satu kali tes. Pada masa nya harus pemberkasan, ia adalah orang yang terakhir kali mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan itu pun masih perlu dibantu temannya. Namun yang menyebalkan, justru surat keputusan sebagai calon pegawai miliknya lebih dahulu terbit dibandingkan teman-teman yang lain.

Itu hanya salah satu dari kisah keberuntungannya.

Ia sering mengatakan kepadaku, “dalam setiap keadaan selalu ada orang-orang yang bersedia dan ikhlas membantu, atau disaat-saat genting keadaan yang baik selalu berpihak. Makanya, jadilah orang yang ikhlas membantu oranglain.”

Aku sering merasa iri kepadanya karena aku adalah tipikal yang selalu berusaha mati-matian untuk meraih sesuatu. Aku tidak terlalu percaya dengan keberutungan. Menurutku, untuk meraih sesuatu diperlukan usaha yang maksimal dan ketika kita berhasil meraihnya itu lebih memuaskan daripada mendapatkan sesuatu secara kebetulan. Mungkin itu yang membuat diriku menjadi sosok ambisius, sedangkan dia adalah sosok easy going. Namun beberapa tahun terakhir aku akhirnya memahami mengapa ia selalu menjadi oaring yang beruntung setelah menemukan hadist ini : “Sangat beruntung orang yang berbakti kepada orangtuanya…” (HR. ath-Thabrani)

Jika pada buku-buku yang aku baca selalu aku temukan kisah pemuda yang berbakti kepada orangtuanya, mungkin dalam dunia nyata dia adalah salah satu dari pemuda itu. Ia adalah pemuda paling berbakti yang pernah aku lihat didunia nyata.

Ia tidak pernah membantah perkataan orangtuanya, apalagi bersikap dan berkata kasar. Semua perkataan orangtua adalah titah baginya. ia akan dengan ikhlas mengurus orangtuanya yang sekarang telah menua, mengurut kaki mereka, membuatkan jus, memasakkan makanan dan apapun yang menyenangkan hati orangtuanya. Ia tidak pernah bersikap nakal atau apapun yang membuat hati kedua orangtuanya jengkel. Ia sungguh-sugguh contoh anak yang berbakti. Jangankan jika dimarahi orangtua, dimarahi kakak-kakak nya pun ia tidak pernah marah ataupun sakit hati. Apalagi mendendam. Kadang aku berfikir, hatinya terbuat dari apa.

Dan sikapnhya yang lemah lembut dan berbakti kepada orangtua tersebutlah yang menurutku membantunya dalam kehidupa. Allah membantunya dalah setiap langkah hidupnya kini. Ia tidak pernah kesusahan karena Allah membantunya, balasan karena ia tidak pernah menyusahkan kedua orangtuanya.

Tidak hanya kepada kedua orangtuanya, kepada mertua-nya pun ia bersikap hormat, patuh, tunduk dan juga penuh kasih sayang. Ia tidak perah membedakan sedikitpun perhatian antara ibu kandungnya dan ibu mertua. Ketika ia membeli tas untuk ibunya, maka ibu mertua akan mendapatkan serupa. Ketika ia membelikan baju untuk mertua, maka ibunya pun akan mendapatkannya. Ia selalu berusaha bersikap adil.

Dengan sikap mulia seperti itu, bukankah wajar jika Allah memberikannya “hadiah” dengan selalu melancarkan segala urusan kehidupannya yang kerap kita sebut keberuntungan?





Selasa, 26 September 2017

Resah Sang Mama



Rasanya ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak yang kritis.
“Mama, mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua atau siapapun. Juna harus sabar.”  

Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang kerap membuatku naik pitam. 

Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan Merajuk?
Anak tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup, aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.”  Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam kemudian.

Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.

Aku akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka. 
Aku cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan  oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik. 
Sikap Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku tersebut. Bismillah.

Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran,  tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.


Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!" 



  

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -