Senin, 17 Juli 2017

Cerpen_Tentang Cinta



Tentang Cinta
Oleh : Yulistia Akbari


Ini hari ketiga hujan mencurahkan tangisannya ke kotaku. Hawa dingin, namun tak sedingin hatiku yang telah membeku beberapa bulan terakhir, tidak mempengaruhiku untuk beristirahat sejenak saja dari pekerjaanku yang sepertinya tidak akan pernah habis walaupun aku bekerja selama 24 jam.

Aku butuh melarikan diri dari rasa tak menentu setelah perpisahan kami lima bulan yang lalu atau aku akan menjadi gila jika hanya berada dirumah. Aku tidak akan mampu membendung mataku ketika harus duduk di dapur, tempat dimana tujuh tahun aku memasakkan makanan untuknya. Atau aku akan menumpahkan tangisku saat aku menonton televisi, tempat kami menghabiskan sisa hari ketika malas keluar rumah. Berada dirumah hanya akan membuatku seperti membeku, seperti hawa kota ini.

Aku berhenti menyentuh laptopku.

“Kau tidak pernah bisa memahamiku!”

Aku teringat bagaimana aku selalu mengatakan padanya tentang bagaimana ia tidak membahagiakanku, tentang apa yag tidak ia penuhi, tentang apa yang tidak ia berikan padaku dan tentang apa yang selalu membuatku marah kepadanya. Tanpa aku pahami, apakah aku telah memahaminya, apakah aku telah membahagiakanya, atau apakah aku telah menjadi pasangan terbaik untukya. Itulah keegoisaku.

Biasanya ia tidak akan pernah membalas kemarahanku, ia hanya akan diam dan beberapa saat kemudian ia akan mendekatiku. Bertanya banyak hal kepadaku. Mecandaiku. Atau juga membelikanku es krim dalam jumlah banyak. Tapi ia tidak pernah meminta maaf padaku. Satu hal yang selalu membuatku memendam dendam.

“Apakah kau mencintaiku?” tanyaku malam itu padanya.
“Tentu.” Ujarnya tanpa megalihkan mata dari smartphone-nya. Hatiku kesal.
“Lantas, kenapa kau tidak pernah mengatakannya duluan?” balasku sambil menaikkan selimut hingga sebatas leher.
“Apakah masih perlu?”
“Tentu saja. Cinta itu tidak hanya ditunjukkan, tapi juga diucapkan.”
“Apakah ada kata yang lebih indah dari aku mencintaimu? Jika ada akan aku ucapkan.”

Hatiku kesal. Percakapan tentang perasaan ini tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah menjawab atau membalas pertanyaanku tentang perasaan cinta nya. Ia hanya akan bercanda. Lagi. Dan harapanku tentang perbicangan cinta ala film korea hanya akan membuat malamku semakin mengesalkan, dan terbawa mejadi mimpi buruk.

“Apakah kau akan tetap mencintaiku, bahkan ketika kita belum memiliki buah hati hingga tujuh tahun pernikahan ini?”. Itu adalah pertanyaanku saat ini, yang tidak perlu lagi kau jawab.

***

“Saya terima nikahnya Annisa Prameswari binti Muhammad Majid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!” Gun mengucapkannya dengan mantap dan tegas, yang diikuti koor “Amin” dari setiap tamu undangan. Semua orang meneteskan airmata bahagia hari itu. 11 Februari. Tujuh tahun silam.

Itu adalah saat paling bahagia untukku. Bagiku ia adalah pria paling tampan diseluruh dunia, dan aku menikahi orang yang aku yakini dapat memberikan masa depan padaku.

Gunawan, seperti namanya, adalah pria paling baik hati yang pernah aku kenal.  Hatinya seputih awan. Ia selalu membantuku dalam segala hal, ia tidak pernah membiarkaku kesulitan sendiri. Bahkan saat aku tertidur pun ia akan memberikan bantal dikepalaku. Ia adalah lelaki luar biasa yang Tuhan kirimkan untukku. Ia melayaniku seperti aku adalah emas nya yang paling berharga.

Namun sikapnya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tidak pernah ia iringi dengan kata-kata cinta seperti yag aku harapkan. Aku-lah yang pertama kali akan memeluknya dengan hangat dan mengatakan “Aku mencintaimu” setiap paginya. Akulah yang akan bersandar pada bahunya dan melingkarkan tangannya di pinggangku setiap malam sebelum tidur, dengan begitu aku baru dapat tertidur dengan nyenyak. Akulah yang setiap hari megirimkan pesan sigkat untuk mengatakan aku merindukannya. Aku, aku dan hanya aku. Tanpa aku sadari sikapku membuat aku haus akan pernyataan cintanya. Membuatku berpikir, bahkan kami menikah bukan karena ia melamarku. Namun karena kami bersepakat untuk menikah. Ya, ia tidak pernah melamarku.

Dan aku baru menyadari ketimpangan perasaan ini pada tahun keempat pernikahan kami. Tahun keempat bahkan disaat kami belum memiliki anak.

***

Aku tidak pernah sadar kapan perselisihan kami semakin meruncing. Perbedaan pendapat baik hal kecil sekalipun akan mudah menjadi pemicu pertengkaran kami. Gunawan yang dulu selalu sabar meghadapiku mulai terlihat emosi setiap kali aku mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Aku menjadi sosok mudah tersinggung, sensitif dan juga mudah terluka. Apapun yang Gun lakukan selalu salah dimataku. Apapun yag ia katakan akan mudah menyakitiku. Aku bahkan tidak tahu, apakah karena kesalahannya atau aku yang terlalu tidak bisa menerima apapun darinya. Bagiku semua sikap dan perkataannya akan selalu menyakitiku, karena aku selalu berpikir ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

“Aku lelah!” teriakku suatu hari, pada tahun keenam akhir perikahan kami. “Aku lelah selalu menduga apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku lelah menjadi yang paling mencintai didalam pernikahan ini. Aku lelah! Aku lelah selalu bertanya pada diriku apakah kau mencintaiku atau tidak! Ya, kau memang memberikan segalanya padaku, apapun yang aku inginkan selalu kau berikan. Kau selalu berusaha membahagiakaku. Tapi aku tidak pernah tau Gun, apakah kau mencintaiku atau tidak! Kau bahkan tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dan aku lelah dalam komitemen ini, komitmen yang bahkan aku tidak tau apakah kita saling mencintai atau tidak.”

Dan seperti biasa, Gun hanya akan diam tanpa membalas kata-kataku, sekasar apapun hardikaku. Ia hanya akan menerima. Dan bahkan ketika aku mengusulkan agar kami berpisah, ia hanya diam. Bersikap seolah menyetujui, dan kami benar-benar berpisah  setelah hakim mengetuk palu.

***
Dalam lima bulan terakhir aku menyandang status baruku, aku hanya menghabiskan waktu dengan pekerjaaku, setidaknya inilah yang membantuku untuk tetap bernyawa.

Walaupun disetiap hariku, aku selalu merindukannya higga darahku mendidih. Atau kadang aku sugguh membutuhkannya hingga aku menangis menggigil.

Aku ingin memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cinta yang ia harapkan, atau menemukan cintanya. Walaupun mungkin bukan aku adalah yang sesungguhnya ia cinta. Toh aku merasa kasihan padanya kerena aku akan selalu menjadi sosok paling egois baginya

Ah, hawa dingin ini memelukku.

Ponsel ku bergetar, pesan masuk. Apakah perutmu masih sering sakit?
Nomor yang sangat ku kenal.

Gun.





Pangkalpinang, 18 Juli 2017

Senin, 22 Mei 2017

Pangkalpinang, 22 Mei 2017





Akhir-akhir ini aku sering sekali mudah tersinggung dan marah kepada Ibu dan Bapak, terutama Ibu.
Tentunya dari sisi manapun sikap ini tidak akan penah dibenarkan. Sikap seperti itu hanya akan melabeli diri saya sebagai anak durhaka, tidak tahu diri ataupun kurang ajar. Seharusnya si anak tetap bersikap menyayangi, sabar dan juga tetap meuruti semua perkataan orangtuanya. Tanpa terkecuali.
Aku kembali merenungi kenapa mudah sekali timbul dihatiku pergesekan-pergesekan atas sikap orangtuaku kepadaku ataupun kepada anakku.
Ibu.
Tidak satupun dan tidak pernah sekalipun aku berhenti menyayangi Ibu. Hanya saja, terkadang sifat Ibu yang terlalu mengatur, protektif dan juga tidak dapat memahami keadaaku seringkali tidak dapat aku tolerir sehingga membuat Ibu marah. Seperti beberapa hari yang lalu sewaktu Ibu menyuruhku untuk membersihkan dan merapikan pakaian yang telah menumpuk, bukannya bermaksud untuk menolak, namun saat Ibu meminta melakukan itu aku merasa sangat lelah, badan terasa tidak enak dan sangat mengantuk. Sekiranya harapaku untuk Ibu dapat mengerti kelelahanku akibat selalu begadang karena Juna musnah sudah. Ibu marah, mendumel dibelakangku dan akhirnya tidak menegurku. Aku membiarkanya saja tidak meegurku, da aku pun memilih bersikap untuk tidak menegur Ibuku. Terhitung sejak malam Sabtu, artinya telah tiga hari kami saling mendiamkan.

Bapak.
Entahlah, jika berbicara Bapak yang aku rasakan adalah suatu perasaan yang absurd. Aku tidak mau membahas tetang perasaanku kepada Bapak. Terlepas dari semua itu, Bapak adalah sosok yang baik sesugguhnya. Hanya saja karakter Bapak yang angkuh dan tidak dapat meempatkan sikap apalagi perkataan lah yang serigkali membuatku tidak menyukainya. Kekesalaku memuncak ketika siang itu perutku sakit da harus BAB. Keti ka aku berada di kamar mandi aku mendengar Juna menyalakan kompor, sontak aku meeriakinya. Ingin sekali aku berangkat utuk mematika kompor itu namun apalah daya pencernaanku sedang tidka bersahabat, ia meghalagiku untuk segera beragkat mematikan kompor. Kemudian Bapak datag sambil sedikit megoceh, latas aku yag mendengar kedatagan Bapak sambil berteriak dari dalam kamar mandi memita tolong Bapak agar mematika kompor Karen aaku sedang BAB. Tapi jawaba Bapak malah membuatku tersiggung, “Sudah tau ini hidup ya dimatikan lah! Gila!” hardiknya. Jujur saja, aku sagat tersinggung dengan ucapan Bapak. Bagiku itu bukanlah ucapan yang pantas utuk dikatakan kepada anak. Latas saja aku meyahutnya, “Gimana kalo lagi keluar gii tai-nya!” balasku keras.

Kedua orangtuaku adalah orangtua yang baik, sangat baik malah. Aku ingat tidak satupun keinginaku yang tidak mereka usahakan untuk memenuhinya demi kami anak-anaknya. Mereka berusaha mati-matian untuk membahagiakanku. Lelah yang mereka tepiskan agar dapat melihat kami bahagia dan juga berhasil.

Permasalahan  timbul ketika aku telah menikah. Mereka masih menjadi wujud protektif dan menjadi lebih egois. Aku tidak tahu apa peyebabnya. Atau mungkin saja aku tidak sempat memikirkan tetang perasaan mereka karena aku pun sedang sibuk membagun rumah tanggaku. Ada suami yang harus aku pahami, salami dan juga perhatikan. Ada anak yang baru berusia 3 (tiga) tahun yang membutuhkan perhatianku, tenagaku da juga kehadiranku. Apalagi saat ini aku haya berdua degan Juna karena suamiku sedang berkuliah lagi di Kota Kembang.

Bayangkan saja, setiap malam aku tidur paling cepat pukul 01.00 wib pagi karena Juna paling cepat tidur pada jam tersebut. Akibat terlalu banyak tidur siang atau tidur sore. Bayangkan saja jika aku harus bangun pagi dan kemudian harus melajutkan bekerja hingga pukul 16.00 wib. Jika sepulag bekerja aku harus langsug membereska rumah, menghadapi tingkah Juna yang aktif tanpa ada rehat sedikitpun atau pun diberikan “dispensasi” untuk istirahat. Begitu saja terus berulang-ulang. Aku tidak pernah tidur siang samasekali. Lantas, bagaimana aku dapat mengimbagi posisi ku sebagai Ibu, Anak, Istri sekaligus Pegawai walaupun hanya sebatas honorer?

Aku hanya ingin tidak dibenturkan dengan sikap egois dan kasar dalam kesehariaku. Bukakah kita sama-sama lelah, sama-sama perlu istirahat, sama-sama memerlukan waktu untuk diri sendiri walaupun sedikit.

Aku tahu sebagai seorang anak aku belum memberikan yang terbaik untuk orangtuaku. Bahka pada sampai detik ini aku masih menyusahkan mereka dengan “menump\h hidup” pada Ibu Bapak. Merepoti mereka degan sikap Juna yang luar biasa aktif. Aku sangat bersyukur Allah memberikan kedua orangtua yang luar biasa baik hatinya.

Setelah meulis ini, aku merasakan kesedihan dan juga uap amarahku menghilang seketika.


Senin, 26 Desember 2016

😊

Tidak terasa sudah setahun lebih suami berada jauh dari kami. Semoga waktu ia disana berkah dan Allah memudahkan semua langkah nya menimba ilmu di kota hujan itu.

Rindu sekali.
Tapi hati ini terasa dekat padanya. Rindu ini sudah semakin bisa diajak bekerja sama. Tidak lagi membuatku menangis hingga mata bengkak atau pun membuatku tak nafsu makan.

Tapi rindu tetap bersemayam dengan manis sambil menikmati secangkir teh hangatdi jendela hatiku.
Kadang aku merasa sepi tanpa nya. Namun kesepian ini aku tepiskan sambil mengatakan pada hatiku, bersabarlah.

Sampai detik ini aku tidak akan pernah berhenti memujinya. Aku selalu merasa bahagia bersamanya.
Sesekali memang ia membuatku marah dan juga kesal dengan tingkah lakunya yang tidak romantis atau pun tidak peka itu. Tapi hal itu tidak mengurangi rasa cintaku padanya.

Aku betah memandang wajah nya berjam jam saat ia tidur. Aku betah memeluknya di sepanjang malam sampai pagi. Dan aku suka mencium nya disaat bangun tidur. Entahlah, setiap kali aku memandangnya aku jatuh cinta pada nya. *berlaku ketika aku tidak sedang ngambek,ya...*

Entah apa yang membuatku berlaku demikian. Padahal ia tidak pernah memperlakukanku dengan manis seperti oppa oppa di film korea. Tidak ada lelaki semanis oppa di drama korea.


Rabu, 21 Desember 2016

Jembatan Emas, Juna dan Mama

Minggu kemarin saya memutuskan untuk mengajak Juna mengunjugi Jembatan Emas yang katanyaaaa lagi hits di Pangkalpinang.

Berbekal rasa penasaran dan jenuh karena gak ada aktifitas menarik dirumah pada hari libur, maka saya dan Juna pergi untuk melihat seperti apa jembatan yang konon menghabiskan dana sekitar 450 milyar rupiah tersebut.

Perjalanan sore itu diwarnai dengan rintik hujan centil nan manjaaah tapi pastinya gak berhasil menyurutkan semangat pasangan emak-anak ini untuk menghabiskan sore yang menyenangkan. Sesampainya kami di lokasi, terlihat beberapa pengunjung mulai berdatangan.

Dan inilah Jembatan Emas itu.

Selentingan yang beredar nama "emas" merupakan singkatan dari Eko Maulana Ali Suroso, mantan gubernur Bangka Belitung yang sudah mangkat.

Jembatan Emas memiliki daya tarik karena bascule yang bisa terbuka dan menutup, membentang sepanjang 700 meter dari daratan Kota Pangkalpinang hingga pesisir pantai Airanyir.

Sebagai orang awam saya berpendapat design jembatan ini sederhana saja, tidak ada sesuatu yang unik ataupun menarik (maapkan hamba yang bukan apa-apa, hanya komentar sederhana daei lubuk hati terdalam). Namun pemandangan kiri kanan dari jembatan ini yang cukup menyegarkan mata dan pikiran setiap pengunjungnya. Kebanyakan pengunjung, termasuk saya, menghabiskan waktu disana untuk berfoto-foto dan juga berjalan kaki disekitar jembatan tersebut.

Jembatannya sih biasa. Tapi euforia ketika disana yang luar biasa. Mungkin karena kurang piknik dan hiburan kali yaaaa jadi sewaktu sampe disini bawaanya asyik aja. Foto-foto bersama Juna dan juga bercanda bersama Juna udah bikin 'darmawisata' ini terasa heboh dan juga asyik. Emak bahagia anak nya gembira. Weekend sederhana ternyata bisa jadi bermakna yaaaa, permisah.

Dan perjalanan kami diakhiri dengan adegan Juna yang tertidur di motor sepanjang jalan pulang. Terpaksa emak jagoan perkasa ini menahan tubuh Juna yang semok dengan satu tangan dari jembatan hingga rumah. Dan itu bukan main membuat tangan kiri saya pegal". Tapi, demi anak apa aja deeeh dijabanin.

Demikian kisah petualangan Emak Anak hari ini. Next time saya mau ngajak Juna lagi deh hunting tempat jalan yang deket plus menyenangkan, onusnya dapet view yang cantik untuk foto.

Pangkalpinang, 21 Desember 2016


Minggu, 27 November 2016

Bahagia Itu Sederhana



Tanggal 27 November 2016 merupakan hari bersejarah untuk ku sebagai seorang Mama, soalnya tanggal itu adalah sehari penuh Juna tidak memakai pampers lagi, hohohohoh ^^

Gimana gak bangga dan bahagia coba, secara Juna udah berusia 2,5 tahun dan masih pipis dan pup di pempers. Ditambah badannya yang bongsor (20 kg *tepok jidat) pampers udah membuat kulitnya merah dan gatal.

Mulai beberapa minggu yang lalu aku sudah melatih Juna untuk buang air kecil dan pup di kamar mandi. Itu aku lakukan setiap Juna sudah berada dirumah dan aku pulang bekerja. Karena jika Juna dirumah pengasuhnya masih tetap menggunakan pampers. Pengasuh juna belum membiasakan Juna untuk buang air kecil dan pup di kamar mandi, mungkin karena akan kerepotan membersihkan rumah jika pipis dan pup yang berceceran di rumah. Atau menunggu “kesadaran” Juna untuk bisa mengatakan keinginnya untuk pup dan pipis di kamar mandi. It’s okay, kasihan juga jika pengasuh Juna harus kerepotan membersihkan rumah sambil mengasuh Juna.

Setiap Juna pipis dan pup di lantai, aku dengan sabar dan riang aku akan membersihkan lantai. Setiap setengah jam sekali kadang lima belas menit sekali aku bertanya pada Juna apakah ia mau pipis atau pup. Dengan semangat aku akan menggendong Juna ke kamar mandi ketika melihatnya sudah berpose untuk pup (baca : jongkok) agar ia pup di WC. Semuanya ternyata tidak membutuhkan perjuangan yang lama, sekitar dua minggu.

Saat itu aku yang baru saja pulang dari minimarket mencari Juna yang tidak terlihat di ruang TV. Saat aku lihat, ia sedang pipis sambil berdiri di tepi pintu kamar mandi, walaupun air pipis nya berceceran di celananya karena ia belum bisa membuka celana dengan benar. Malam itu aku sangat bahagia, aku berkata pada Juna bahwa aku bangga sekali Juna bertambah pintar. Dan kami berpelukan dengan erat di depan pintu kamar mandi (maapkeun Mama Juna yang memang rada lebay pemirsaaaaahhhh :D)

Lusanya sengaja Juna tidak aku pakaikan pempers dan Alhamdulillah setiap mau pipis dan pup ia mengatakanya kepadaku dan akan segera aku ajak dia untuk ke WC.

Ternyata hal kecil seperti ini sangat membahagiakan bagi seorang Ibu. Setiap perkembangan anak yang disaksikan langsung merupakan anugerah terbesar bagi seorang Ibu.

Aku sangat bangga pada para Ibu Rumah Tangga yang mampu mendidik dan mengurus anaknya sendirian tanpa bantuan siapapun sekaligus enyaksikan perkembangan anaknya setiap menit dan detik. Itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah tergantikan.

Dan untuk Juna… semoga kau menjadi anak yang sholeh juga pintar ya, nak,
Mama mencintaimu, Juna.

Sabtu, 19 November 2016

Debaranku

Debaran yang membuat aku kikuk
Seharusnya ini terjadi pada masa itu saja
Aku tak ingin terbaca
Ataupun mengartikan sesuatu yang salah

Debaran itu menghukumku
Harusnya aku tidak merasakan apapun
Agar hati tidak tegelitik
Agar jiwa tidak membara
Pada sesuatu yang keliru

Jangan pernah pertemukan aku lagi dengannya
Atau hapuskan saja noda dihatiku, Tuhan!

Ibarat ombak di laut
Tak kuasa aku hentikan

Hati itu rumit
Tetapi lebih rumit untuk mendalami nya
Aku tidak akan mencari tahu
Aku hanya akan diam
Dalam debaranku


Sabtu, 03 September 2016

Beda status beda rasanya 😆

Malam ini saya ingin menceritakan gejolak yang berkecamuk di dalam hati. Saya menyebutnya rasa bersalah.

Alkisah malam ini saya pergi bertiga bersama para sohib sejak masa perkuliahan, panggil saja kumbang dan macan. Biasanya si bocah ganteng, Arjuna, akan nempel kemanapun mamanya pegi. Dikarenakan ia tertidur sejak pukul lima sore hingga saat tulisan ini dimuat, maka pegilah kami bertiga ke pesta pernikahan teman semasa kuliah dahulu.

Pulang dari pesta, secara mendadak kami meencabakan untuk nonton di bioskop. Mereka mengantar saya pulang terlebih dahulu dan menunggu saya berganti pakaian (so sweet kan?). Terjyata arjuna belum juga bangun, maka saya izin kepada bapak dan suami (via sms) untuk bermalam minggu bersama mereka.

Sesampainya di bioskop film yg tersedia hanya dua. Dan ternyata bangku penonton pun yang tersisa adalah pada deretan paling depan. Si kumbang menolak untuk menonton dengan alasan kepalanya sakit jika harus duduk di depan. Ia sudah beberapa kali merasakan hal tersebut.

Si macan terlihat datar saja, tapi saya tahu jika ia sangat ingin menonton. Hatisaya bimbang. Membatalkan menonton dan nogkrong bersama bertiga atau mengikuti macan untuk menonton, tetapi artinya kami hanya menonton berdua. Seperti orang berkencan dimalam minggu.

Akhirnya dengan semua jawaban "terserah" dari kumbang dan macan, saya memilih menonton karena memang saya belum pernah menonton di bioskop ini. Saya pikir, kapan lagi kesempatan merasakan jonton disini dengan keadaan punya si ganteng juna yang lagi aktif dan rempong?

Lalu pulanglah si kumbang (walaupun sungguh saya tak enak hati). Dan masuklah saya dan macan ke teater.  Sejak duduk hati saya gelisah. Entahlah. Saya merasa ini bukan hal benar.
Malam minggu nonton bioskop berdua bersama lelaki. Walaupun tidak melakukan hal yang tidak pantas, toh dia adalah teman karib, tapi tetap saja status saya adalah istri seorang laki-laki.

Rasanya menonton tadi tidak membuat saya bahagia. Rasanya tidak sebanding, rasa penasaran ini dengan rasa bersalah yang saya dera karena berduaan dengan teman lelaki saya ini. Walaupun tidak ada apa" diantara kami.

Andainya ini dilakukan suami saya, tentu saya sudah marah besar.

Setelah film selesai, saya bergas pulang takut sekali kelihatan orang yang dikenal atau teman dari suami yang mengenal saya. Kan tidak lucu mereka melihat saya hanya berduaan dengan macan. Apa kata dunia?

Akhirnya saya tahu, ketika sudah menikah wanita akan mengalami berbagai macam perubahan yang sangat drastis. Salah satunya   dengan keadaan seperti ini. Tidak ada lagi kebebasan untuk berkumpul dengan lawan jenis secara seenaknya seperti dulu. Hilang sudah kemerdekaan untuk menghabiskan wqktu bersama mereka dengan bebas tanpa beban.

Akan terasa canggung jika bersama salah satu dari mereka jika hanya hanya berdua di suatu tempat terbuka. Rasa tidak nyaman itu menyeruak di dalam hati dan pikiran. Pikiran saya hanya berkata " ini tidak pantas. Ini tidak boleh terjadi, seharusnya".
Selama ini Juna adalah penyelamat saya. Bersama juna saya bebas bersama siapapun, baik itu lelaki. Sendiri berdua atau bertiga, asal ada Juna hati ini akan terasa menyenangkan dan bebas. Tanpa rasa bersalah.

Malam ini adalah keputusan yang keliru. Dan saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Banyak hal yang tidak sepadan u tuk dikorbankan.

Pernikahan mengubah wanita.
Dan wanita yang sudah menikah harus berubah.
Menjadi lebih baik tentunya.


Minggu, 28 Agustus 2016

Cerita Agustus ku

Ada beberapa keinginan dalam hidup yang nyatanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Membuat waktu berjalan terasa amat lambat dan sungguh terasa menyesakkan.
Itu adalah saat dimana kamu merasa patah hati.
Aku mengira patah hati hanya untuk mereka yang sedang kasmaran dimasa belia. Ternyata setua ini pun aku masih bisa patah hati.

Malam tadi aku memandang wajah Arjuna dengan mata yang berkaca. Ia tidak terlalu rewel rasanya. Mungkin ia paham bahwa ibunya ini sedang menata hati. Ibunya sedang merasa bersedih. Sudah berapa kali ia menyaksikan ibunya dalam wajah kelelahan ini menangis. Ia akan bersikap seolah mengerti. Diam tanpa melakukan hal hal aneh yang sesekali membuat ibunya dongkol.

Apapun yang terjadi aku sungguh ingin memberikan segala yang terbaik yang aku punya untuk Arjuna. Aku tahu perjuangan itu sungguh sulit, pun disaat aku sedang patah hati ini. Kesepian ini. Sendiri ini. Tapi dihadapannya aku harus kuat. Aku menguatkan hatiku walaupun harus menangis.

Rasanya jika patah hati, obat yang terbaik adalah menangis bukan?
Maka dalam masa ini bukan hal aneh aku menjadi mudah menangis. Memikirkan musabab aku patah hati saja membuat aku menangis. Menulis untuk menenangkan hati saja membuat menangis. Si cengeng ini sepertinya kehabisan kata kata dan selalu ingin menangis.

Aku mempertanyakan pada diriku. Apa alasan aku patah hati?
Kenapa aku patah hati?

Patah hati dialami saat kita sedang jatih cinta. Yup, aku sedang keadaan jatuh cinta. Lalu saat kita sedang penuh rasa cinta itu, hati ini disakiti. Itulah patah hati. Disakiti teramat sangat, itulah patah hati. Aku tidak mengkategorikannya sakit hati. Karena sakit masih membuat hati ini berbentuk. Tapi patah? Aku tahu walaupun sesuatu yg patah itu diusahakan untuk disambunv agar seperti awal, itu tak akan pernah bisa menjadi sama.

Itulah patah hati.
Saat hatimu seperti bukan hatimu lagi. Aaat hatimu terlalu mencintai dan terluka, teramat dalam. Itulah patah hati. Saat memikirkannya saja kamu menangis,itulah patah hati. Saat berharap semua tak pernah ada. Itulah patah hati. Patah hati hanya terjadi pada rasa cinta yang besar.

Banyak hal yang membuat aku patah hati.
Kondisi seperti ini sungguh sulit untukku. Tapi aku belajar untuk tetap tersenyum, walau mata ini ingin sekali menangis. Apapun akan membuatku menangis. Ah... ini yang aku benci dalam parade patah hati dihidupku, aku mudah menangis! Cengeng!

Aku akan menjawab kenapa aku patah hati.

Penyebab patah hatiku adalah tidak adanya rasa saling pengertian.

Mungkin saja aku tidak bisa memahami orglain. Bukannya aku tdk bisa, aku tidak mau memahami orglain yang tidak memahamiku. Yah, aku terdengar sedikit pendendam.
Aku tidak mau menahami dan mengerti apapun atas orang yang tidak pernah berusaha memahami hatiku. Orang yang selalu menganggap hal penting untukku adalah todak penting untuknya.  Orang yang bersikap tidak adil padaku. Oramg yang menganggap semua tindakanku tidak benar. Orang yg tidak mau menerima bahwa ia salah, ia keliru dan ia seharusnya meminta maaf. Bukan menyalahkanku. Orang itu menyakitiku.

Aku memahami situasinya, dalam keadaan lain aku samgat mempercayainya. Sungguh, aku sangat mempercayainya. Tetapi aku tidak bisa memahaminya. Mengerti keinginannya. Begitupun sebaliknya. Lantas yang eterjadi hanya segumpalang keangkuhan dan kesombongan masing-masing saja.

Aku mundur. Aku berlari. Aku memaki sampai aku puas.

Apa aku menyesal?
Yah, aku menyesal. Menyesal melakukan semuanya. Mungkin seharusnya aku biarkan saja semuanya seolah tak terjadi agar tak ada amarah diantara kami. Mungkin sebaiknya aku diam saja dan bercerita yang indah-indah saja kepadanya dan kepada semua orang. Walaupun hatiku sakit. Walaupun hatiku remuk. Tetapi itu bukan aku.

Biarlah... biarkan waktu yang menjawab semua patah hatiku. Apapun itu, aku akan selalu mendoakan ia dalam keadaan terbaiknya.

Dan biarlah waktu yang menyembuhkan hatiku. Aku tahu aku bisa. Walaupun harus sendiri.

Bahkan jika kehidupanku harus kehilangan dia, aku pasti akan menangis. Tapi aku akan tetap kuat untuk Arjuna. Mungkin sepanjang hidupku aku akan menyesali karena memberikan cacat dalam hidup Arjuna. Tapi aku akan berusaha menebusnya seumur hidupku.

Aku tidak lagi mengharapkan yang terbaik untuk hidupku. Aku hanya mengusahakan untuk Arjuna.


Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -