Sabtu, 26 September 2015

kisah sang Ibu

Pernah terjadi suatu percakapan singkat antara saya dan ibu di dapur suatu malam. Ibu bercerita tentang bagaimana kesusahan perekonomian ibu sejak menikah hingga kami dewasa. Saat masih remaja aku tidak terkalu menggubris kisah inibsebagai kisah yang istimewa, namun saat saya telah menikah tiba-tiba saja kisah ibu itu menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani kisah romansa rumah tangga kami yang baru seumur jagung ini.

Alkisah ibu menceritakan tentang bagaimana ia memutuskan menikahibseorang tentara tampan yang bergaji kecil. Malam itu atok bertanya apakah Ibu sudah siap dan bulat tekad menikahi seorang tentara yang gajinya kecil dan siap ditinggal lama untuk bertugas. Menjawablah ibu dengan kata "iya".

Tapi kata "iya" yang meluncur dari mulut ibu bukan sembarang jawaban demi meluluskan niat untuk menikah. Tapi leboh kepada keputusan seumur hidup yang haram untuk ibu keluhkan. Dan memang, sejak saat itu, bahkan sampai saya menikah tak pernah saya mendengar ibu mengguman barang selirih apapun tentang betapa sulitnya atau betapa kurangnya gaji bapak dalam memenuhi kebutuhan kami. Waktu itu gaji PNS belumedahsyat sekarang. Apalagai tentara, dizaman ibu PNS itu diremehkan, pegawai timah atau kobatin lah yang menjadi idola.

Tapi Ibu adalah sosok yang berkarakter. Seberapapun gaji bapak diterimaibu dengan ikhlas dan todak dengan mengeluh. Ia cukup cukupkan gaji itu untuk memenuhi kebutihan. Ibu berkata, memebeli baju adalah hal terakhir dalam pikiran ibu. Setahun sekali belumtentu. Boro boro untuk liburan.

Masih saya ingat saat masih kecil hingga remaja, saya adalah tipe anak yang "banyak maunya". Selalu minta dibelikan ini, dibelikan itu. Bando, mainan, pita, baju dan banyak lagi. Setiap permintaan saya selalu dijawab ibu : "iya, nanti kalau ibu sudah punya uang". Tidak pernah ibu mengabulkan permintaan saya serta merta. Mungkin memang ibu tidak punya uang, tapi dikemudian hari, entah itu bulan depan atau bulan bulan berikutnya ibu akan menghadirkan baranf yang saya minta itu. Sikap ibu itu menjadikan saya selalu sabar dalam memiliki sesuatu. tidak cepat marah atau kesal jika keinginan tidak dituruti sekaligus menumbuhkan pola pikir "pasti saya punya/dapatkan walaupun tidak sekarang".

Ibu pernah menceritakan bagaimana dulu bapak bisa mrnghasilkan uang jutaan dalam hitungan minggu drngan bisnis "ilegal" yang ia lakoni. MEmang, di masa itu hp bisa gonta ganti, beli ini beli itu tinggal minta sama bapak. Tapu ternyata, justru ibu yang blingsatan.
Hati ibu tak tenang melepas suaminya bekerja. Pikiran tentang resiko selalu membayang bayangi ibu. Bahkan sampai ibu tidak tidur. Akgirnya, ibu memutuskan bicara kepada bapak untuk menghentikan bisnisnya itu. "Biarlah ibu bapak kasih uang gaji saja, asal hati ibu tenang menerimanya. Daripada uang banyak, tapi ibu ketakukan." Kata ibu suatu malam.

Lalu kembali lah kami berhemat sejak bapak berhenti berbisnis. Dan rumah tangga bapak ibu selalu jauh dari perselisihan tentang uang. Hingga saat ini.

Kisah ibu sungguh menggajarkan aaya tentang arti bagaimana kita harus ikhlas menerima segala resski yang suami berikan. Entah itu cukup atau tidak versi istri. Apalagi jika sblm menikah si istri sudah tau berapa pendapatan suami. Ya, kisah ibu ini memotivasi saya untuk tidak mudah mengeluh tentang uang. Tentang sulitnya memenuhi kebutuhan. Tentang sedikit menurunkan standart. Tentang tidak mudah iri pada kehidupan orang. Tentang bagimana seorang istri yang baik adalah tidak pernah mengeluh tentang rezeki yang Allah berikan. 

Ah, masih jauhlah ilmu saya dibanding Ibu. Tapi semoga saja saya bisa meneladani ibu. Satu kata yang lekat di hati saya : "kalau sudah berkomitmen, harus siap menerima resiko! Jangan mengeluh atas apa yang sudah kita sanggupi di depan."

Mom  u're the best!! I love u.

catatan hati seorang istri (episode 1)

Ada kekhwatiran saat memutuskan memberi izin kepada suami untuk melanjutkan pendidikannya di pulau sebrang. Tapi kekhawatiran itu terkalahkan dengan kepercayaan bahwa suami akan selalu menjaga rasa percaya itu.

Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.

Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.

Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.

Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.

Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.

Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.

Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.

Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.

Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya

Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan.  Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?

Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.

Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.

Rabu, 23 September 2015

Ketika Kau Merasa Jenuh

Aku mulai merasakan suatu titik jenuh.

Ya, suatu rasa yang alami tentunya karena bisa menghampiri siapapun dan kapanpun. Rasa jenuh ini berkutat pada rutinitas , pemikiran dan tentunya perasaan.

Lantas bagaimana bila rasa jenuh ini menghampiri?

Dalam bayangan saya, untuk menuntaskan kejenuhan ini adalah meninggalkan seluruh rutinitas yang monoton dalam beberapata tahun terakhir ini (baca : pekerjaan) dan melempar jubah kebosanan ini pada liburan yang menyenangkan. Tidak ada tugas, perintah bos, kekesalan, emosi dan juga segala 'pernak pernik' kericuhan di kantor yang menghampiri keseharian. Aku melepaskan jubah itu pada suatu pemandangan yang indah, petualangan bersama suami dan anaku yang akhirnya akan membuat suatu udara baru dalam hidup ini.

Liburan.
Mungkin saja aku butuh liburan.

Aku butuh memanjakan diri seperti saat masih single. Salon, tempat hiburan, nongkrong, rekreasi dan juga membaca buku sepuas hati tanpa terganggu dengan apapun. Bisa juga dengan kembali menekuni olahraga kesukaanku.

Jenuh.
Aku merasa jenuh secara fisik dan juga mental.
aku baru sadar, kejenuhan bisa datang pbahkan saat kita berada pada zona yang nyaman. Ya, aku merasa nyaman sekali dengan keadaanku. Suami yang baik luar biasa, anak yang tampan dan cerdas, rumah, pekerjaan, orangtua dan mertua yang menyayangiku. Semua telah lengkap. Tidak ada kekurangan materi dalam hidupku. Tapi tetap saja jenuh ini datang.

Ah.... entah bagaimana.
jenuh ini menggunung.

Kamis, 20 Agustus 2015

Lirik Lagu Siti Nurhaliza & Cakra Khan - Seluruh Cinta

Menatap kepergian dirimu
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu

Tiada lagi bait yang indah
Terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tiada cinta yang setulus cintamu (Cintamu)
Tiada yang sanggup gantikan dirimu

Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku

Renungan Sore Sebelum Senja


Suatu ketika seorang sahabat lama mengirimkan aku sebuah pesan. Isinya : "aku ingin cerita" yang langsung aku balas dengan jawaban iya nan semangat. Taulah aku bahwa gosip, berita atau curhatan yang akan ia sampaikan akan sangat seru.

Ceritanya begini.
Temanku ini sudah menikah sekitar lima tahun dengan suaminya dan sudah dikaruniai dua orang anak. Pernikahannya bahagia dan bila kita lihat secara kasat mata, tidak ada yang kurang dari perpaduan antara mereka berdua. Si istri berwajah cantik dan memiliki pekerjaan yang mapan sama layaknya dengan suami yang tampan dan memiliki kedudukan di perusahaan tempat ia bekerja. Intinya mereka pasangan bahagia.

"Aku menyukai teman suamiku"
Rasanya pesan dari sahabatku itu membuat aku tertegun dan tersentak. Siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati sahabatku ini. Aku tahu bahwa ia bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata-kata suka. "Bagaimana bisa?" akhirnya aku balas pesan itu denga perasaan sedikit shock.

Lalu ia menceritakan tentang pertemuannya dengan sahabat suaminya itu secara tidak disengaja. Itu pun karena diperkenalkan oleh sang suaminya sendiri. Lalu seperti love at first sight, ia merasakan getaran yang telah lama padam sejak janji sehidup semati itu ia ikrarkan.

"Mungkin karena karakternya seperti suamiku." itu yang ia katakan ketika aku bertanya apa yang membuatnya jatuh cinta.

Aku belum bisa mencerna kenapa pada pernikahan yang bahagia dan nyaris sempurna, rasa kagum atau jatuh cinta pada orang ketiga masih mungkin terjadi. Ataukah rasa cinta satu untuk selamanya itu memang tidak pernah ada? Lantas bagaimana orang yang dalam pernikahan bisa setia satu sama lain dalam kurun waktu yang bertahun-tahun?

"Aku tidak tahu, rasa itu hadir tanpa bisa aku duga. Mungkin aku kagum saja." Hanya itu pembelaan diri yang sahabatku utarakan.

Perasaan.
Tidak ada yang bisa mencegah ia untuk jatuh dan tunduk. Maka aku hanya mengatakan pada sang sahabat lama untuk tidak mengikuti rasa itu. Bertahanlah, pasti hanya sementara. Tidak ada yang bisa mencegah perasaan itu muncul, tapi kita bisa menekan dan memilih untuk tidak menurutinya. Bersikap egois pada perasaan sendiri itu adalah perkara rumit, tapi tidak mustahil. Aku tidak mau menghakimi sahabatku itu, bagiku ia tidak dapat memilih untuk menjatuhkan rasa. Itu bukan salahnya. Hanya saja, saat ini rasa itu adalah ujian untuknya dan pernikahannya. Apakah ia memilih untuk mengabaikan dan setia pada sang suami, atau memilih untuk menuruti rasa lantas 'menduakan' sang suami. Bukankah setia tidak melulu tentang keberadaan raga, tapi juga hati dan jiwa di dalamnya?

Senin, 03 Agustus 2015

Pernikahan : Antara Pria dan Wanita


Mungkin banyak orang pernah mendengar kutipan : "Galaunya seorang wanita berakhir saat ia menikah, sedangkan galaunya pria dimulai ketika ia menikah."

Bisa jadi kutipan itu benar adanya. Kebanyakan wanita merasa pernikahan berarti masa pencarian mereka berakhir dan disitulah ia akan mulai mengimpikan sebuah 'perjalanan' yang happy ending seperti yang banyak diceritakan buku-buku dongeng. Perjalanan yang diisi dengan cinta, kasih sayang dan juga perhatian bertubi-tubi dari pasangan dan orang-orang disekitarnya.

Lalu pada sisi pria ia akan dihadapi dengan segala 'kenyatan' yang sebelumnya tidak ia perkirakan. Ketika pendapatannya hanya pas-pasan untuk membayar cicilan rumah, tagihan listrik, telpon, membeli beras, membeli susu, pampers dan segala macam arisan yang harus ia ikuti dikarenakan permintaan istri maka terdamparlah ia pada zona galau! galau karena selama ini ia terbiasa hanya melakukan rutinitas : bangun - makan - kerja - main - tidur - bangun - makan - kerja - main - tidur. Lalu saat ia serta merta harus berubah menjadai suami, dan kalau beruntung segera menjadi ayah, ia tergopoh-gopoh karena merasa mentalnya belum siap. Ia keluar dari zona nyamannya. Karena kehidupan seperti itu tidak pernah ia bayangkan. Mendengar tangisan anak kecil, memandikan si bayi, mengganti pampers, melihat rumah yang berantakan, istri yang tidak sempat memasak, dan yang paling parah melihat istri yang awut0awutan tanpa make up yang membuatnya cantik. Karena pada saat berpacaran sang wanita selalu tampil prima. Sang pria terbangun dari dongeng nya.

Itulah sekilas tentang pernikahan, setidaknya dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika pernikahan terjadi, ada perbedaan "bayangan" antara wanita dan pria. Wanita membayangkan saat ia menikah berarti ia telah memiliki sang suami dengan seutuhnya. Berharap sang suami hanya miliknya, untuknya, dan bersikap hanya demi dirinya. Wanita tetap ingin dipuja, dicintai, diperhatikan, dan di nomer satukan. Bahkan saat ia telah memiliki anak, sang wanita ingin tetap kadar 100 % yang mungkin telah dijanjikan tidak pernah berkurang, bahkan satu persen pun! karena wanita bisa mendeteksi dengan cepat saat kadar itu berkurang. Dan kadang wanita pun menjadi tidak realistis saat menuntut sang suami menjadi sesempurna itu dengan melupakan bahwa sang suami juga telah merasa lelah dengan pekerjaan dikantor dan berbagai hal lainnya sehingga ia membutuhkan sedikit "me time" , salah staunya dengan menjelajah dunia maya, games atau sekedar ngopi bersama teman. Laki-laki tidak bisa serta merta meninggalkan hidupnya, hobinya dan juga teman-temannya saat telah menikah. Berbeda dengan wanita yang rela akan meninggalkan semua itu demi menjadi istri dari pria pujaannya.

Seharusnya para pria tahu, dengan segala yang terjadi sepanjang hari (ditambah apalagi sang wanita dalah istri bekerja) , wanita membutuhkan perhatian lebih dari pasangannya. Hal itu sangat berguna demi normal nya kelangsungan adrenalin istri. Agar ia tetap rasional dalam menjalani hari-hari. karena pernikah bagi wanita tetaplah dongeng!

Jika pada masa sebelum menikah sang pria kerap memberikan mawar disetiap hari, maka tolonglah, jangan hentikan kebiasaan itu. Karena hal itulah yang membuat ia merasa selalu dicintai. Semua kebahagiaan yang pernah pria perjuangkan dan berikan seharusnya jangan pernah berhenti saat telah bersama menjadi sepasang suami istri.

Dan bisa dipastikan, pria akn berhenti melakukan hal-hal romantis saat telah menikah (kebanyakan).

Wanita yang kerap kali memikul tanggung jawab mengurus anak, bekerja diluar rumah, dan juga mengurus rumah setidaknya berhak untuk mendapatkan perhatian dan curahan kelembutan. Walaupun segala yang ia lakaukan merupakan ladang amalah dan pahala untuknya. Tapi wanita tetaplah wanita.

Saat kalian dirumah, bisalah kalian menyingkirkan satu jam saja gadget dari hadapan anda hanya untuk sekedar membiarkan sang istri merebahkan kepalanya di dada anda karena menjalankan hari yang melelahkan, dan dengarkanlah ia dengan tulus saat bercerita. Lalu setelah itu anda punya banyak waktu untuk gadget anda. Bersikap adilah pada para istrimu.

Jangan membuat para istri berpikiran bahwa gadget lebih seksi dibanding dirinya.

Kamis, 18 Juni 2015

Cerpen_

Mudik


Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik. Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia  lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh melakukan froud. Sebagai seorang operation manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk mengunjungi Fatiah sebelum  mereka menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan pemecatan.  “Perusahaan tidak akan pernah memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi anti froud dihadapan muka Roky sekaligus maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu  setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika tak mau disebut kampong.  Ia merasa menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang, apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah, istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang. Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi istrinya, tapi tidak punya uang.  Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran. Ah, bagaimana ini!


CERPEN

_RIO_


Rasanya sangat tidak menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh, lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman! Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik, merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah, menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut versi Rio pula.
“Aku tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.” Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata  kantor yang selalu memberikan pelayanan prima kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen, Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai, apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu, baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu. Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit. Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu. Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota yang sama.
“Ya, manusia hanyalah seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?

 *********
“Selamat ulang tahun, Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua orang.
Akhirnya, Rio berhasil menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan juga senyum teman sekantornya.
*********








Pangkalpinang, 16 Juni 2015

CERPEN

Adell dan Lais 
(Part I)




Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell  gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini. Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah, lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak. Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya. “Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral berwarna dominan pink, warna kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk, terlihat menarik dengan blazer yang ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai, kecil, simple dan elegan. Setidaknya tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer sebelum menyapukan foundation. Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft. Eyeliner yang membuat matanya yang sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya cokelat, setelah Adell melakukan mix and match beberapa warna lipstick hingga terciptalah warna baby pink yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya. Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi. Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu dengan gentleman meminta izin pada sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik. Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.

Selasa, 19 Mei 2015

Jatuh Hati Untuk Yang Terakhir Kali

Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.

Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.

Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))

Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta.  Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.

Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap  dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.

satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.

Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.




Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -