Kamis, 18 Juni 2015

CERPEN

_RIO_


Rasanya sangat tidak menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh, lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman! Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik, merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah, menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut versi Rio pula.
“Aku tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.” Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata  kantor yang selalu memberikan pelayanan prima kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen, Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai, apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu, baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu. Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit. Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu. Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota yang sama.
“Ya, manusia hanyalah seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?

 *********
“Selamat ulang tahun, Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua orang.
Akhirnya, Rio berhasil menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan juga senyum teman sekantornya.
*********








Pangkalpinang, 16 Juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -