Mudik
Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk
berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali
lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah
hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi
Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa
ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia
realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik.
Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa
ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta
merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana
masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya
seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah
di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh
melakukan froud. Sebagai seorang operation
manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa
menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk
mengunjungi Fatiah sebelum mereka
menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun
pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli
menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan
pemecatan. “Perusahaan tidak akan pernah
memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi
anti froud dihadapan muka Roky sekaligus
maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani
menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky
menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi
bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris
yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk
kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu
bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia
berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah
dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi
sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar
pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh
disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia
enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya
Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang
mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka
sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika
tak mau disebut kampong. Ia merasa
menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima
belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan
untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani
berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah
menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang,
apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah
tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang
selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan
niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa
penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika
menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa
mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan
kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami
mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila
membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu
seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua
kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh
terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke
kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan
kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah
perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau
pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan
tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan
bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau
tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia
adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke
kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang
sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan
kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain
uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan
malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu
dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang
menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug
tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah,
istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita
harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita
harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan
keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang.
Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi
istrinya, tapi tidak punya uang.
Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran.
Ah, bagaimana ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar