Kamis, 18 Juni 2015

Cerpen_

Mudik


Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik. Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia  lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh melakukan froud. Sebagai seorang operation manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk mengunjungi Fatiah sebelum  mereka menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan pemecatan.  “Perusahaan tidak akan pernah memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi anti froud dihadapan muka Roky sekaligus maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu  setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika tak mau disebut kampong.  Ia merasa menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang, apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah, istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang. Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi istrinya, tapi tidak punya uang.  Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran. Ah, bagaimana ini!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -