Kamis, 20 Agustus 2015

Lirik Lagu Siti Nurhaliza & Cakra Khan - Seluruh Cinta

Menatap kepergian dirimu
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu

Tiada lagi bait yang indah
Terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tiada cinta yang setulus cintamu (Cintamu)
Tiada yang sanggup gantikan dirimu

Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku

Renungan Sore Sebelum Senja


Suatu ketika seorang sahabat lama mengirimkan aku sebuah pesan. Isinya : "aku ingin cerita" yang langsung aku balas dengan jawaban iya nan semangat. Taulah aku bahwa gosip, berita atau curhatan yang akan ia sampaikan akan sangat seru.

Ceritanya begini.
Temanku ini sudah menikah sekitar lima tahun dengan suaminya dan sudah dikaruniai dua orang anak. Pernikahannya bahagia dan bila kita lihat secara kasat mata, tidak ada yang kurang dari perpaduan antara mereka berdua. Si istri berwajah cantik dan memiliki pekerjaan yang mapan sama layaknya dengan suami yang tampan dan memiliki kedudukan di perusahaan tempat ia bekerja. Intinya mereka pasangan bahagia.

"Aku menyukai teman suamiku"
Rasanya pesan dari sahabatku itu membuat aku tertegun dan tersentak. Siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati sahabatku ini. Aku tahu bahwa ia bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata-kata suka. "Bagaimana bisa?" akhirnya aku balas pesan itu denga perasaan sedikit shock.

Lalu ia menceritakan tentang pertemuannya dengan sahabat suaminya itu secara tidak disengaja. Itu pun karena diperkenalkan oleh sang suaminya sendiri. Lalu seperti love at first sight, ia merasakan getaran yang telah lama padam sejak janji sehidup semati itu ia ikrarkan.

"Mungkin karena karakternya seperti suamiku." itu yang ia katakan ketika aku bertanya apa yang membuatnya jatuh cinta.

Aku belum bisa mencerna kenapa pada pernikahan yang bahagia dan nyaris sempurna, rasa kagum atau jatuh cinta pada orang ketiga masih mungkin terjadi. Ataukah rasa cinta satu untuk selamanya itu memang tidak pernah ada? Lantas bagaimana orang yang dalam pernikahan bisa setia satu sama lain dalam kurun waktu yang bertahun-tahun?

"Aku tidak tahu, rasa itu hadir tanpa bisa aku duga. Mungkin aku kagum saja." Hanya itu pembelaan diri yang sahabatku utarakan.

Perasaan.
Tidak ada yang bisa mencegah ia untuk jatuh dan tunduk. Maka aku hanya mengatakan pada sang sahabat lama untuk tidak mengikuti rasa itu. Bertahanlah, pasti hanya sementara. Tidak ada yang bisa mencegah perasaan itu muncul, tapi kita bisa menekan dan memilih untuk tidak menurutinya. Bersikap egois pada perasaan sendiri itu adalah perkara rumit, tapi tidak mustahil. Aku tidak mau menghakimi sahabatku itu, bagiku ia tidak dapat memilih untuk menjatuhkan rasa. Itu bukan salahnya. Hanya saja, saat ini rasa itu adalah ujian untuknya dan pernikahannya. Apakah ia memilih untuk mengabaikan dan setia pada sang suami, atau memilih untuk menuruti rasa lantas 'menduakan' sang suami. Bukankah setia tidak melulu tentang keberadaan raga, tapi juga hati dan jiwa di dalamnya?

Senin, 03 Agustus 2015

Pernikahan : Antara Pria dan Wanita


Mungkin banyak orang pernah mendengar kutipan : "Galaunya seorang wanita berakhir saat ia menikah, sedangkan galaunya pria dimulai ketika ia menikah."

Bisa jadi kutipan itu benar adanya. Kebanyakan wanita merasa pernikahan berarti masa pencarian mereka berakhir dan disitulah ia akan mulai mengimpikan sebuah 'perjalanan' yang happy ending seperti yang banyak diceritakan buku-buku dongeng. Perjalanan yang diisi dengan cinta, kasih sayang dan juga perhatian bertubi-tubi dari pasangan dan orang-orang disekitarnya.

Lalu pada sisi pria ia akan dihadapi dengan segala 'kenyatan' yang sebelumnya tidak ia perkirakan. Ketika pendapatannya hanya pas-pasan untuk membayar cicilan rumah, tagihan listrik, telpon, membeli beras, membeli susu, pampers dan segala macam arisan yang harus ia ikuti dikarenakan permintaan istri maka terdamparlah ia pada zona galau! galau karena selama ini ia terbiasa hanya melakukan rutinitas : bangun - makan - kerja - main - tidur - bangun - makan - kerja - main - tidur. Lalu saat ia serta merta harus berubah menjadai suami, dan kalau beruntung segera menjadi ayah, ia tergopoh-gopoh karena merasa mentalnya belum siap. Ia keluar dari zona nyamannya. Karena kehidupan seperti itu tidak pernah ia bayangkan. Mendengar tangisan anak kecil, memandikan si bayi, mengganti pampers, melihat rumah yang berantakan, istri yang tidak sempat memasak, dan yang paling parah melihat istri yang awut0awutan tanpa make up yang membuatnya cantik. Karena pada saat berpacaran sang wanita selalu tampil prima. Sang pria terbangun dari dongeng nya.

Itulah sekilas tentang pernikahan, setidaknya dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika pernikahan terjadi, ada perbedaan "bayangan" antara wanita dan pria. Wanita membayangkan saat ia menikah berarti ia telah memiliki sang suami dengan seutuhnya. Berharap sang suami hanya miliknya, untuknya, dan bersikap hanya demi dirinya. Wanita tetap ingin dipuja, dicintai, diperhatikan, dan di nomer satukan. Bahkan saat ia telah memiliki anak, sang wanita ingin tetap kadar 100 % yang mungkin telah dijanjikan tidak pernah berkurang, bahkan satu persen pun! karena wanita bisa mendeteksi dengan cepat saat kadar itu berkurang. Dan kadang wanita pun menjadi tidak realistis saat menuntut sang suami menjadi sesempurna itu dengan melupakan bahwa sang suami juga telah merasa lelah dengan pekerjaan dikantor dan berbagai hal lainnya sehingga ia membutuhkan sedikit "me time" , salah staunya dengan menjelajah dunia maya, games atau sekedar ngopi bersama teman. Laki-laki tidak bisa serta merta meninggalkan hidupnya, hobinya dan juga teman-temannya saat telah menikah. Berbeda dengan wanita yang rela akan meninggalkan semua itu demi menjadi istri dari pria pujaannya.

Seharusnya para pria tahu, dengan segala yang terjadi sepanjang hari (ditambah apalagi sang wanita dalah istri bekerja) , wanita membutuhkan perhatian lebih dari pasangannya. Hal itu sangat berguna demi normal nya kelangsungan adrenalin istri. Agar ia tetap rasional dalam menjalani hari-hari. karena pernikah bagi wanita tetaplah dongeng!

Jika pada masa sebelum menikah sang pria kerap memberikan mawar disetiap hari, maka tolonglah, jangan hentikan kebiasaan itu. Karena hal itulah yang membuat ia merasa selalu dicintai. Semua kebahagiaan yang pernah pria perjuangkan dan berikan seharusnya jangan pernah berhenti saat telah bersama menjadi sepasang suami istri.

Dan bisa dipastikan, pria akn berhenti melakukan hal-hal romantis saat telah menikah (kebanyakan).

Wanita yang kerap kali memikul tanggung jawab mengurus anak, bekerja diluar rumah, dan juga mengurus rumah setidaknya berhak untuk mendapatkan perhatian dan curahan kelembutan. Walaupun segala yang ia lakaukan merupakan ladang amalah dan pahala untuknya. Tapi wanita tetaplah wanita.

Saat kalian dirumah, bisalah kalian menyingkirkan satu jam saja gadget dari hadapan anda hanya untuk sekedar membiarkan sang istri merebahkan kepalanya di dada anda karena menjalankan hari yang melelahkan, dan dengarkanlah ia dengan tulus saat bercerita. Lalu setelah itu anda punya banyak waktu untuk gadget anda. Bersikap adilah pada para istrimu.

Jangan membuat para istri berpikiran bahwa gadget lebih seksi dibanding dirinya.

Kamis, 18 Juni 2015

Cerpen_

Mudik


Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik. Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia  lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh melakukan froud. Sebagai seorang operation manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk mengunjungi Fatiah sebelum  mereka menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan pemecatan.  “Perusahaan tidak akan pernah memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi anti froud dihadapan muka Roky sekaligus maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu  setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika tak mau disebut kampong.  Ia merasa menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang, apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah, istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang. Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi istrinya, tapi tidak punya uang.  Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran. Ah, bagaimana ini!


CERPEN

_RIO_


Rasanya sangat tidak menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh, lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman! Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik, merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah, menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut versi Rio pula.
“Aku tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.” Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata  kantor yang selalu memberikan pelayanan prima kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen, Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai, apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu, baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu. Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit. Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu. Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota yang sama.
“Ya, manusia hanyalah seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?

 *********
“Selamat ulang tahun, Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua orang.
Akhirnya, Rio berhasil menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan juga senyum teman sekantornya.
*********








Pangkalpinang, 16 Juni 2015

CERPEN

Adell dan Lais 
(Part I)




Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell  gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini. Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah, lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak. Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya. “Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral berwarna dominan pink, warna kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk, terlihat menarik dengan blazer yang ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai, kecil, simple dan elegan. Setidaknya tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer sebelum menyapukan foundation. Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft. Eyeliner yang membuat matanya yang sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya cokelat, setelah Adell melakukan mix and match beberapa warna lipstick hingga terciptalah warna baby pink yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya. Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi. Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu dengan gentleman meminta izin pada sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik. Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.

Selasa, 19 Mei 2015

Jatuh Hati Untuk Yang Terakhir Kali

Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.

Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.

Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))

Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta.  Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.

Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap  dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.

satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.

Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.




Senin, 18 Mei 2015

CERPEN_Perempuan



Terlahirlah aku sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh agama. Aku seperti binatang sirkus yang  tersangkar.
Apalah artinya kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil anak oleh  manusia berpenis yang aku panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu, aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan “anak kampang” bila ia pulang dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar, lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku. Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung. “Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku. Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia. Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya saja, kalu bosan buka laptop dan bermain game! Bukannya membantu istri. Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama temannya.”
Baru saja aku berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.” Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan hal yang sama.”
“Tapi kenapa kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu, Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu. Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya, kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat, aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia anakku!!!”
Ibu seolah bukan Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu, “Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan masuk ke dalam rumah.

****
Sudah dua bulan aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu padaku.
Sebenarnya aku mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku, “Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama. Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua! Sayang sekali.”
“Tapi Jarot sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja. Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada Diana dan Puan.”
“Ah kasihan Puan….”
Mendadak aku memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!” aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk! Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah.  Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku ikut mati bersama Ibu.

****




Pangkalpinang, 13 Mei 2015

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -