Senin, 03 Agustus 2015
Pernikahan : Antara Pria dan Wanita
Mungkin banyak orang pernah mendengar kutipan : "Galaunya seorang wanita berakhir saat ia menikah, sedangkan galaunya pria dimulai ketika ia menikah."
Bisa jadi kutipan itu benar adanya. Kebanyakan wanita merasa pernikahan berarti masa pencarian mereka berakhir dan disitulah ia akan mulai mengimpikan sebuah 'perjalanan' yang happy ending seperti yang banyak diceritakan buku-buku dongeng. Perjalanan yang diisi dengan cinta, kasih sayang dan juga perhatian bertubi-tubi dari pasangan dan orang-orang disekitarnya.
Lalu pada sisi pria ia akan dihadapi dengan segala 'kenyatan' yang sebelumnya tidak ia perkirakan. Ketika pendapatannya hanya pas-pasan untuk membayar cicilan rumah, tagihan listrik, telpon, membeli beras, membeli susu, pampers dan segala macam arisan yang harus ia ikuti dikarenakan permintaan istri maka terdamparlah ia pada zona galau! galau karena selama ini ia terbiasa hanya melakukan rutinitas : bangun - makan - kerja - main - tidur - bangun - makan - kerja - main - tidur. Lalu saat ia serta merta harus berubah menjadai suami, dan kalau beruntung segera menjadi ayah, ia tergopoh-gopoh karena merasa mentalnya belum siap. Ia keluar dari zona nyamannya. Karena kehidupan seperti itu tidak pernah ia bayangkan. Mendengar tangisan anak kecil, memandikan si bayi, mengganti pampers, melihat rumah yang berantakan, istri yang tidak sempat memasak, dan yang paling parah melihat istri yang awut0awutan tanpa make up yang membuatnya cantik. Karena pada saat berpacaran sang wanita selalu tampil prima. Sang pria terbangun dari dongeng nya.
Itulah sekilas tentang pernikahan, setidaknya dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika pernikahan terjadi, ada perbedaan "bayangan" antara wanita dan pria. Wanita membayangkan saat ia menikah berarti ia telah memiliki sang suami dengan seutuhnya. Berharap sang suami hanya miliknya, untuknya, dan bersikap hanya demi dirinya. Wanita tetap ingin dipuja, dicintai, diperhatikan, dan di nomer satukan. Bahkan saat ia telah memiliki anak, sang wanita ingin tetap kadar 100 % yang mungkin telah dijanjikan tidak pernah berkurang, bahkan satu persen pun! karena wanita bisa mendeteksi dengan cepat saat kadar itu berkurang. Dan kadang wanita pun menjadi tidak realistis saat menuntut sang suami menjadi sesempurna itu dengan melupakan bahwa sang suami juga telah merasa lelah dengan pekerjaan dikantor dan berbagai hal lainnya sehingga ia membutuhkan sedikit "me time" , salah staunya dengan menjelajah dunia maya, games atau sekedar ngopi bersama teman. Laki-laki tidak bisa serta merta meninggalkan hidupnya, hobinya dan juga teman-temannya saat telah menikah. Berbeda dengan wanita yang rela akan meninggalkan semua itu demi menjadi istri dari pria pujaannya.
Seharusnya para pria tahu, dengan segala yang terjadi sepanjang hari (ditambah apalagi sang wanita dalah istri bekerja) , wanita membutuhkan perhatian lebih dari pasangannya. Hal itu sangat berguna demi normal nya kelangsungan adrenalin istri. Agar ia tetap rasional dalam menjalani hari-hari. karena pernikah bagi wanita tetaplah dongeng!
Jika pada masa sebelum menikah sang pria kerap memberikan mawar disetiap hari, maka tolonglah, jangan hentikan kebiasaan itu. Karena hal itulah yang membuat ia merasa selalu dicintai. Semua kebahagiaan yang pernah pria perjuangkan dan berikan seharusnya jangan pernah berhenti saat telah bersama menjadi sepasang suami istri.
Dan bisa dipastikan, pria akn berhenti melakukan hal-hal romantis saat telah menikah (kebanyakan).
Wanita yang kerap kali memikul tanggung jawab mengurus anak, bekerja diluar rumah, dan juga mengurus rumah setidaknya berhak untuk mendapatkan perhatian dan curahan kelembutan. Walaupun segala yang ia lakaukan merupakan ladang amalah dan pahala untuknya. Tapi wanita tetaplah wanita.
Saat kalian dirumah, bisalah kalian menyingkirkan satu jam saja gadget dari hadapan anda hanya untuk sekedar membiarkan sang istri merebahkan kepalanya di dada anda karena menjalankan hari yang melelahkan, dan dengarkanlah ia dengan tulus saat bercerita. Lalu setelah itu anda punya banyak waktu untuk gadget anda. Bersikap adilah pada para istrimu.
Jangan membuat para istri berpikiran bahwa gadget lebih seksi dibanding dirinya.
Kamis, 18 Juni 2015
Cerpen_
Mudik
Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk
berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali
lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah
hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi
Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa
ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia
realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik.
Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa
ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta
merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana
masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya
seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah
di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh
melakukan froud. Sebagai seorang operation
manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa
menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk
mengunjungi Fatiah sebelum mereka
menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun
pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli
menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan
pemecatan. “Perusahaan tidak akan pernah
memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi
anti froud dihadapan muka Roky sekaligus
maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani
menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky
menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi
bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris
yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk
kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu
bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia
berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah
dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi
sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar
pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh
disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia
enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya
Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang
mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka
sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika
tak mau disebut kampong. Ia merasa
menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima
belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan
untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani
berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah
menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang,
apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah
tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang
selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan
niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa
penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika
menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa
mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan
kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami
mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila
membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu
seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua
kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh
terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke
kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan
kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah
perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau
pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan
tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan
bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau
tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia
adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke
kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang
sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan
kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain
uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan
malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu
dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang
menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug
tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah,
istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita
harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita
harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan
keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang.
Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi
istrinya, tapi tidak punya uang.
Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran.
Ah, bagaimana ini!
CERPEN
_RIO_
Rasanya sangat tidak
menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu
dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat
kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh,
lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman!
Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu
ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka
penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio
hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada
siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap
bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada
teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu
kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar
desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik,
merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan
suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk
kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan
pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali
katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang
ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita
ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti
itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang
dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat
pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan
Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin
berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar
terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan
kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring
dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci
keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut
dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat
temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan
penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah,
menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut
versi Rio pula.
“Aku
tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.”
Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit
frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh
dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata kantor yang selalu memberikan pelayanan prima
kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman
sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah
sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat
bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia
akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan
kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat
menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya
selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen,
Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng
yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa
dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf
Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus
belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah
tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio
dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan
siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam
hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik
sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita
dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau
berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama
atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada
diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi
hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang
keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal
mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian
terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia
dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta
Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas
keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada
yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri
sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya
menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang
tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang
disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu
sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan
sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai,
apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu,
baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu
yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu.
Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar
dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit.
Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan
kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik
kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa
adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu.
Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota
yang sama.
“Ya, manusia hanyalah
seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja
jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka
sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa
tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia
yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus
menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang
dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah
dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang
bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio
yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?
*********
“Selamat ulang tahun,
Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan
wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu
pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu
megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua
orang.
Akhirnya, Rio berhasil
menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya
membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli
jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara
bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari
itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia
seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu
untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan
itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan
juga senyum teman sekantornya.
*********
Pangkalpinang,
16 Juni 2015
CERPEN
Adell dan Lais
(Part I)
(Part I)
Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa
semua yang di kenakannya pagi ini semuanya salah. Blazer fuschia dengan aksen minimalis yang menjadi favoritnya tiba-tiba
terasa tidak menarik. Rok panjang yang kerap Adell gunakan, terasa tak ada yang cocok. Bahkan
saat ini telah kesepuluh kalinya ia berganti setelan.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baju yang tersedia dilemarinya
yang cukup besar itu. Semua warna terlihat cocok dengan Adell, bahkan ia
terlihat cantik seperti biasanya. Hanya saja ia merasa harus mengenakan sesuatu
yang special hari.
Adell kembali mematut wajahnya dihadapan cermin. Usianya kini dua puluh
tujuh tahun. Masih tampak muda, hanya saja tubuhnya tidak selangsing dulu. Beberapa
lemak nakal enggan hilang dari tubuhnya, membuat ia kesal hari ini.
Berkali-kali ia memegang gelambir perut yang terasa semakin banyak saja. “Ah,
lipatan perut ini akan terlihat sangat buruk jika aku tidak duduk dengan tegak.
Atau sebaiknya aku menggunakan slimingsuit
saja?” Adell mulai mengguman dan bertanya pada diri sendiri.
Adell mulai membeli benda itu beberapa bulan yang lalu karena tertarik
dengan khasiat yang super ajaib : membuat pemakainya menjadi langsing dan
seksi. Itu sih kata iklannya. Alhasil, ia merasa sama saja dengan menggunakan
korset. Padahal ia telah membeli dengan harga jutaan, tak ada bedanya dengan
korset delapan puluh ribu. Tetap saja perutnya tak langsing seperti dulu. Adell
sedikit puas karena gelambir perutnya kini tak begitu terlihat sedahsyat sebelumnya.
“Lumayan lah, not bad.”
Ia putuskan untuk mengenakan rok hitam panjang agar pahanya yang
menjadi semakin besar tak terlalu kentara dengan blazer motif mini floral
berwarna dominan pink, warna
kesukaannya, sangat elegan. Ia kembali menatap penampilannya di cermin. Sedikit
puas. Tubuhnya yang semakin berisi itu, jika tidak mau dikatakan gemuk,
terlihat menarik dengan blazer yang
ia kenakan sekarang.
Adell masih ingat bagaimana Lais sangat menyukai bila ia menggunakan
pakaian dengan motif kembang-kembang. “Kau terlihat indah dengan bunga-bunga
yang menyelimutimu.” Sejak saat itu Adell sangat menyukai segala bentuk pakaian
dengan motif bunga-bunga, besar kecil dan juga abstrak. Hanya saja sejak ia
bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang mode ini, ia berhasil menemukan
motif yang sesuai dengan tubuhnya yang berisi. Motif yang tidak terlalu ramai,
kecil, simple dan elegan. Setidaknya
tidak membuat beberapa kliennya merasa sakit mata saat melihat tubuhnya yang
berisi menggunakan baju dengan gambar bunga-bunga sebesar hulahop raksasa.
Adell menyapukan moisturizer
sebelum menyapukan foundation.
Setelah merata, ia tepuk-tepukkan bedak tabur kewajahnya. Hampir tidak pernah ia
menggunakan bedak padat, setidaknya ia menuruti apa yang dokter kulit katakan
karena wajahnya cenderung berminyak dan berjerawat. Adell menyapukan eyeshadow berwarna nude pink, agar terlihat lebih soft.
Eyeliner yang membuat matanya yang
sudah indah terlihat lebih besar. Tak lupa mascara
agar kelentikan bulu matanya semakin bertambah. Dan pamungkas terakhir, lipstick.
Ragu Adell memilih warna yang harus ia pakai. Ia menjauhkan lipstick merah itu karena akan semakin
membuat wajahnya terlihat tua, cokelat membuat ia seperti tak memakai lipstick karena bibirnya pun sebenarnya
cokelat, setelah Adell melakukan mix and
match beberapa warna lipstick
hingga terciptalah warna baby pink
yang feminim pada bibirnya.
“Andainya pertemuan ini lebih cepat beberapa tahun. Mungkin aku akan
memberikan penampilan yang lebih prima daripada sekarang.” Penyesalah didalam
hati Adell. Ia telah menunggu saat-saat pertemuan ini beberapa tahun lamanya.
Jika tak salah hitung, mungkin sudah delapan tahun terlambat pertemuan ini.
Sudah delapan tahun, sejak perpisahan antara Lais dan Adell terjadi.
Saat itu mereka masih duduk di bangku perkuliahan, membina cinta layaknya
remaja yang kasmaran. Perkenalan Adell dan Lais saat Adell menjadi mahasiswa
baru dan Lais menjadi ketua panitia orientasi mahasiswa baru. Layaknya kisah
cinta pada umumnya, beberapa tahun kemudian mereka mengikrarkan diri menjadi
sepasang kekasih. Adell masih ingat saat itu ia duduk di bangku semester dua
dan Lais telah pada masa akhir perkuliahan, menyusun skripsi.
Adell masih ingat pula bagaimana mendengar keluhan Lais yang
berkali-kali tentang susahnya membuat skripsi, sakit hatinya saat bab yang ia
ajukan ditolak pembimbing, belum lagi saat apa yang ia ketik semalam suntuk dan
dianalisa dicoret kanan dan kiri oleh si dosen pembimbing. Bahkan Adell menyaksikan
bagaimana Lais jatuh sakit karena sulitnya membuat skripsi.
Hari itu Adell menemani Lais untuk berobat kerumah sakit, masih Adell
rasakan bagaimana hangat kepala Lais yang bersandar di pangkuan Adell. Mereka
seperti sepasang suami istri. Sebenarnya Adell merasa jengah melihat dua
muda-mudi dipandang sedikit usil oleh para pasien lainnya yang ikut mengantri
giliran. Tapi perasaan jengah itu terkalahkan dengan kebahagiaan Adell yang
merasakan hangatnya tubuh Lais. Adell merasa bahagia menjadi orang yang
dibutuhkan Lais.
“Kau harus lebih menjaga makanmu. Berhentilah merokok itu. Badanmu
sudah cukup kurus, janganlah kau tambah dengan penyakitmu.” Adell berceramah
setelah satu minggu Lais terkapar diatas tempat tidur karena malaria.
“Malaria karena nyamuk sayang, bukan karena rokok.” Bantahnya. Lais
selalu keras kepala.
“Iya, tapi rokok akan membunuhmu dengan cara yang lain. Bahkan lebih
buruk dari malaria!”
Setelah Lais dinyatakan lulus dengan nilai skripsi A dan tentunya IPK cummlaude terbaik dijurusannya, mereka
memutuskan untuk sedikit bersenang-senang berdua. Hari itu hari minggu, Lais
pamit kepada Ibu Adell untuk mengajaknya kesalah satu tempat di ujung kota
hanya untuk bersantai. Satu hal yang Adell suka dari Lais adalah, Lais selalu
dengan gentleman meminta izin pada
sang Ibu bila ingin mengajak Adell pergi. Dengan bonus kepintaran dan
ketampananya. Berbeda dengan beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya yang
selalu mengirimkan pesan, “Aku tunggu di depan kampus.” Atau “aku tunggu di
kafe ini” atau bisa juga “ayo kita makan disini, datanglah.”
Menurut Adell, saat kau jatuh cinta dengan wanita, kau harus bersikap
jantan! Datangi rumahnya, perkenalkan dirimu pada sang orang tua, lalu
beranikan diri untuk mengajak si gadis bersamamu. Tentunya bila diizinkan oleh
sang orangtua. Itulah sikap yang jantan.
“Biasanya kau mengajakku ke perpustakaan. Bosankah?” tanyaku
disela-sela hembusan angin pantai nan sepoi.
“Tidak, aku hanya ingin menikmati ketenangan ini bersamamu.”
“Bahkan saat berisik pun aku tahu kau ingin bersamaku.”
“Kau cantik dengan baju kembang-kembang. Aku suka itu.”
Lalu terkhir yang Adell ingat adalah Lais mendaratkan ciuman pada
bibirnya yang masih ranum. Juga perawan. Adell tersentak, Lais mengambil ciuman
pertamanya. Adell tak menyangka Lais melakukannya, bahkan selama mereka
berpacaran, Lais tak pernah berani mengecup keningnya. Paling hanya memegang
tangannya kala berjalan ke toko buku.
“Bibirmu manis, seperti sari didalam batang bunga asoka.” Itu yang Lais
ucapkan, meledaklah tawa mereka. Ciuman pertama yang canggung, tapi Adell yakin
bahwa mereka tidak akan saling melupakan manisnya ciuman pertama itu. Bahkan
walaupun setelah bertahun-tahun setelahnya, Adell memutuskan untuk tidak lagi
mengharapkan Lais yang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba.
######
Kembali Adell memandang wajah dan tubuhnya di cermin. Sebenarnya ia
masih cantik, wajahnya pun masih kencang. Tak ada yang berubah selain berat
tubuhnya yang semakin bertambah. Tapi Adell masih cantik, masih fashionable, dan masih memikat.
“Datanglah pada jam makan siang, aku menunggumu di perpustakaan. Seperti
dulu.” Itu pesan yang Lais kirimkan padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu
dan setelah pertemuan tak sengaja di salah satu media sosial. Melakukan
pertemanan dan saling bertanya kabar. Setelah hampir satu bulan berhubungan
hanya di dunia maya, Lais memutuskan untuk mengajaknya bertemu. Saat itu Adell
mengiyakan.
Hari itu pun tiba, dada Adell berdegup kencang. Ada hal yang ingin ia
tanyakan langsung dari Lais, “Mengapa kau pergi tanpa memberiku kabar?” itulah
yang hanya ingin diketahui oleh Adell. Ia merasa hari ini ia sangat cantik.
Malah terlalu cantik.
Terdengar bunyi pintu kamar di buka dengan tiba-tiba. “Sayang, ini
sudah jam tujuh. Nanti kita terlambat.” Ucapan lembut lelaki itu membuyarkan
semua gelembung masa lalu yang sedang dinikmati Adell. Buyar, pecah pecah
semuanya seperti tertusuk jarum.
“Iya, sayang. Tunggu sebentar. Aku belum selesai ber-make up.”
Gun memandang penampilan istrinya beberapa menit, “Kau terlihat cantik
hari ini. Sangat cantik.”
“Jika aku tak cantik, tentu kau tak akan suka padaku, suamiku.”
Tiba-tiba saja si mungil Akas yang tampan, anak Adell dan Gun hadir
diantara mereka sambil melipatkan tangan. Ia sudah siap bersekolah. Adell menuntaskan
penampilannya pagi ini. Dalam hati ia masih merasa gamang, antara akan menemui
Lais atau tidak. Ah, Adell memutuskan untuk melupakan niatnya sejenak untuk
mengikuti langkah Gun dan Akas menuju mobil. Hatinya masih ragu.
Selasa, 19 Mei 2015
Jatuh Hati Untuk Yang Terakhir Kali
Tidak ada pasangan yang sempurna, itu sudah fitrahnya. Kalimat yang tepat adalah setiap pasangan saling melengkapi, karena itulah faktanya.
Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.
Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))
Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta. Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.
Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.
satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.
Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.
Menetapkan hati untuk memilih seseorang yang akan menjadi pasangan seumur hidup bukanlah perkara mudah. Seorang wanita terkadang terdorong dengan banyak faktor saat memilih seorang pria dalam hidupnya seperti umur yang sudah 'memaksa' untuk menikah, faktor kemapanan dimiliki si calon tau juga faktor 'kewajaran' karena sudah membina hubungan selama bertahun-tahun. Lalu pada akhirnya memutuskan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi yaitu menikah dengan alasan yang biasanya satu suara : inilah jodohnya.
Sewaktu aku akan memutuskan untuk menikah, bersedia dipinang oleh sang calon suami, herannya aku tidak mempertanyakan apakah kami saling mencintai dengan sangat dalam sehingga memutuskan untuk menikah. Hanya satu yang aku rasakan : aku merasa dia mampu melengkapi diriku. Dan sejauh ini ternyata dugaanku tidak meleset :))
Seiring berjalannya waktu aku menyadari, dalam pernikahan yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan. Bisa dikatakan cinta yang aku rasakan pada suami (saat memutuskan untuk menikah) tidak pada titik rasa yang luar biasa seperti yang disajikan dalam film-film korea atau india. Jika dibandingkan dengan 'rasa cinta' saat berkencan dengan pria-pria yang pernah ada, bisa dikategorikan belum termasuk sebagai rasa cinta. Lucu ya, tapi itulah kenyataannya. Namun yang aku rasakan pasang calon suamiku saat itu adalah aku percaya pada lelaki ini bahwa aku akan bahagia bersamanya. Itulah yang aku rasakan. Suatu kepercayaan. Kepercayaan yang semakin besar beriringan dengan rasa cinta sejak saat ia mengucapkan ijab qabul hingga detik ini. Kemudian faktor yang membuatku yakin adalah, aku terlanjur 'jatuh hati' pada Ibunya (baca : calon mertua), entah karena faktor beliau cantik dan mirip dengan Ibu, atau sifat beliau yang lembut yang membuatku jatuh hati. Istilahnya, aku 'jatuh hati' pada sang calon ibu mertua pada pandangan pertama.
Allah menumbuhkan kepercayaan diantara kami dengan bertahap. Kebersamaan ini mengajarkan kami untuk saling memahami dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada karakter yang bisa menyatu dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga, janganlah kita berharap dengan pernikahan artinya dapat mengubah pribadi atau karakter seseorang. Yang dapat mengubah itu hanya dorongan dari dirinya sendiri. Bayangkan saja, seseorang yang telah hidup dengan karakter,pola pikir dan pola hidup yang telah ada selama bertahun-tahun kemudian kita berharap mampu mendobrak sifat tersebut untuk sama dengan pola yang ada didalam diri kita, rasanya sungguh tidak mungkin kan? Bagaimana jika ada sifat atau pola pikirnya yang membuat kita kesal, tidak bisa diterima dan bahkan marah?! Pertanyaan itu kerap muncul di masa awal pernikahan. Biasanya, aku akan mengutarakan ketidak puasan itu dengan komunikasi yang jelas. aku utarakan bahwa sikapnya menggangguku atau sikapnya itu tidak sesuai dengan konsep yang ada didalam pikiranku. Biasanya akan berujung dengan balas membalas pendapat tapi tidak sampai pada pertengkaran. Lalu suami akan mulai berubah sikapnya, jika menurutnya ada sikap yang patut diubah. Jika ia tidak mengubah pendirian, maka aku akan mengalah dan 'berusaha' menerima keadaan bahwa ia tidak mau mengubah sikapnya. Aku akn berlalu, dan jika terjadi pergesekan pola pikir dikemudian hari aku akan memilih diam dan menyimpan kekesalanku sendiri. Mengalah bukan berarti kalah, tapi mengalah disini adalah mengalahkan ego kita sendiri yang menganggap pola pikir kita adalah yang paling benar. Dengan sikap ini, alhamdulillah , suami pun kerap mengalah jika aku sudah menonjolkan keegoisanku. Hehehehe... saling mengalah judulny ya.
satu kebiasaanku setiap harinya adalah mengucapkan "adek sayang abang, abang sayang gak sama adek?" Rasanya suami sudah muak dengan pertanyaan itu, tapi entahlah, kata-kata itu memang berhasil menciptakan keharmonisan dan kasih sayang diantara kami. Aku kerap mengucapkannya, pada saat memang sedang ada maunya atau sekedar iseng. Lucu saja rasanya. Bagiku, kata sayang dan cinta itu perlu diucapkan. Tidak hanya cukup dibuktikan. Karena lumrahnya wanita suka mendengarkan hal-hal gombal yang menyanjung hati.
Saat ini aku percaya, yang melanggengkan suatu pernikahan adalah kepercayaan. Percaya bahwa pasangan adalah amanat yang harus dijaga sebaik mungkin. Tentunya menjaga amanat yang besar ini dengan mencintainya, menyayanginya, memberikan yang terbaik untuknya dan juga memberikan kebebasan untuknya mencintai kita dengan caranya sendiri. Percaya bahwa dia adalah yang terpilih yang mampu membimbing kita pada arah kebahagiaan yang kekal. Percaya bahwa dia adalah bagian dari puzzle diri kita yang dihadirkan untuk melengkapi rongga-rongga kekurangan yang ada dalam pribadi kita sendiri.
Senin, 18 Mei 2015
CERPEN_Perempuan
Terlahirlah aku
sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang
memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti
tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan
keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh
agama. Aku seperti binatang sirkus yang
tersangkar.
Apalah artinya
kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak
aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil
anak oleh manusia berpenis yang aku
panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu,
aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang
dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan
“anak kampang” bila ia pulang
dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat
hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu
rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak
lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh
dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit
ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai
berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu
akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar,
lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar
kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu
tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang
menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan
dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan
terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah
mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku
mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu
si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan
sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa
aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi
binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik
inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup
kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku.
Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi
dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh
saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah
mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada
Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu
sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih
saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan
pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah
mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung.
“Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang
mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku
yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku.
Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh
cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal
banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu
merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung
dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga
menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku
melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan
mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya
bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu
menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga
berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan
bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia.
Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu
yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai
malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus
menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih
kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan
aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku
masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia
sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya
saja, kalu bosan buka laptop dan
bermain game! Bukannya membantu istri.
Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar
Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar
aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu
didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi
jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak
otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena
hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru
bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh
disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau
menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya
menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati
aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap
dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam
benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin
berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal
hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal
beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak
pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau
tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama
temannya.”
Baru saja aku
berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi
perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang
ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal
baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.”
Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam
kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak
apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan
hal yang sama.”
“Tapi kenapa
kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya
menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan
untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan
apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil
keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu
dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu
membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu,
Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan
tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa
selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas
aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon
udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu.
Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku
memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku
bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas
tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat
dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya,
kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan
kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang
pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot
mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau
bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui
bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat,
aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya
tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali
ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia
anakku!!!”
Ibu seolah bukan
Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan
pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk
itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa
bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti
tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu,
“Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau
harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas
Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan
sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak
menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya
salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak
mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia
Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya
terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot
jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya
gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan
masuk ke dalam rumah.
****
Sudah dua bulan
aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku
tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa
hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai
bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah
Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu
padaku.
Sebenarnya aku
mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang
disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah
Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung
juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku,
“Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh
Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot
dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang
dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama.
Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi
harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja
Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua!
Sayang sekali.”
“Tapi Jarot
sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja.
Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak
sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada
Diana dan Puan.”
“Ah kasihan
Puan….”
Mendadak aku
memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang
mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak
ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering
terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata
merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah
dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!”
aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke
dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti
Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk!
Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah. Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar
adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku
ikut mati bersama Ibu.
****
Pangkalpinang, 13 Mei 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
Aku Bumi
Aku bumi Kau bintang Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -
-
Adell dan Lais (Part I) Adell mematut wajah dan tubuhku didepan cermin lama sekali. merasa semua yang di kenakannya pagi ini semu...
-
ku lepas semua yang ku inginkan tak kan ku ulangi maafkan jika kau ku sayangi dan bila ku menanti pernahkan engkau coba mengerti lihat...
