Terlahirlah aku
sebagai manusia tanpa penis, yang dikodrati untuk menjadi babu mereka yang
memiliki itu. Mereka memanggilku perempuan. Aku tahu dunia ini bengis, seperti
tidak memberikan celah pada manusia seperti aku untuk bisa tumbah dan melakukan
keinginan. Aku terkekang. Oleh dogma, oleh paradigma, oleh adat dan juga oleh
agama. Aku seperti binatang sirkus yang
tersangkar.
Apalah artinya
kedudukanku dimata meraka, ya mereka. Mereka yang kalian sebut laki-laki. Sejak
aku terlahir didunia ini dan telah mengenal siapa aku, aku yang mereka panggil
anak oleh manusia berpenis yang aku
panggil Bapak, dan manusia yang kelaminnya sama denganku itu aku panggil Ibu,
aku sudah tahu bahwa laki-laki adalah manusia otoriter busuk. Masih terngiang
dalam di otak dan setiap denyut nadiku bagaimana ia memanggilku dengan sebutan
“anak kampang” bila ia pulang
dibeberapa malam. Baunya pesing, bajunya awut-awutan dengan air muka terlihat
hitam. “Lama sekali kau buka pintu ini!” bentaknya bila harus menggedor pintu
rumah lebih dari tiga kali.
Kadang Ibu tidak
lagi mendengar bunyi panggilan manusia itu karena kelelahan. Saat subuh
dimulai, Ibu sudah pagi-pagi sekali ke pasar untuk mengambil sayur dan sedikit
ikan yang akan dijajakannya keliling kota Pangkalpinang. Biasanya Ibu memulai
berjalan kaki dari kampong kami, Tuatunu menuju Pasar Pagi. Dari Pasar Pagi Ibu
akan berkeliling membawa berbagai sayuran yang ia masukkan ke dalam ember besar,
lalu ember itu ia letakkan di kepala hanya dengan dibantu buntalan kain agar
kepalanya tidak terlalu sakit.
Wajar saja Ibu
tak pernah gemuk, karena kalorinya habis terbakar oleh rasa lelah yang
menggunung karena seharian bekerja. Sepulang berjualan, Ibu akan melanjutkan
dengan mengambil upah cuci. Dan manusia kotor, busuk nan bengis itu hanya akan
terkapar nyenyak diatas pembaringan karena kelelahan pula. Ya, lelah setelah
mabuk-mabukan ditempat yang aku tak tahu dimana. Pernah suatu malam aku
mendengar Ibu menangis sesengukan menahan rasa sakit. Aku tahu, pasti malam itu
si makluk busuk memaksa Ibu untuk membuka bajunya. Lagi-lagi bunyi tamparan
sesekali aku dengar dari balik dinding triplek tipis, pembatas kamarku.
****
Kalau lah bisa
aku persamakan manusia busuk itu seperti kucing jantan, layaklah ia menjadi
binatang saja. Karena hanya kucing jantan yang memakan anaknya sendiri. Dititik
inilah kebencianku pada manusia berpenis semakin meluap. Rasanya sudah cukup
kemurkaanku melihat kodrat seorang perempuan ia cabik-cabik didepan mataku.
Perempuan yang sudah kodratnya menjadi tulang rusuk, patutlah seharusnya dilindungi
dan dilimpahi dengan cinta. Pernah aku mengatakan pada perempuanku ini, “Bunuh
saja Bu dia itu. Untuk apa hidup, tidak ada gunanya.” Yang aku dapatkan adalah
mulut berdarah hasil tamparan Ibu. “Ibu tidak mengajarimu untuk durhaka pada
Bapakmu.”
Saat itu aku merajuk pada Ibu. Apakah pikiran Ibu
sudah rusak akibat sering membawa sayur yang berat dikepalanya sehingga masih
saja membela si busuk itu? Bahkan memanggilnya Bapak pun aku tak sudi! Tak akan
pernah! Cukup aku sebut ia Jarot. Ataukah mungkin Jarot ini telah
mengguna-gunai Ibu sperti yang aku dengar dari Pak Imin, si pemilik warung.
“Hay, Puan. Sungguhlah bodoh Ibumu masih mau bertahan dengan Jarot. Si tukang
mabuk tak bekerja. Mungkin Ibumu terkena kemat.”
Bukan hanya aku
yang merasa geram dengan sikap bertahan Ibu. Tentu saja semua orang di kampungku.
Selentingan aku mendengar bahwa dulu Ibu adalah kembang desa yang sungguh
cantik. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menikah dengan manusia itu padahal
banyak sekali lelaki lain yang sangat mendambakan cinta Ibu. Aku merasa Ibu
merupakan sosok yang rumit, juga bodoh. Dan kebodohannya membuat aku terkukung
dalam pusaran kesialan dalam hidupku, membuat aku jadi sampah dan juga
menjijikkan. Malam itu, bukan tamparan kepada Ibu yang aku dengarkan.
Tapi mataku
melihat sendiri bagaimana si bau pesing ini menjelajah seluruh tubuhku dan
mendaratkan sejumplah tamparan di wajahku. Aku melihat bagaimana nyala matanya
bergairah melihat aku berdarah, mengerah perih. Sadistis. Malam itu, malam itu
menjadi malamku menjadi si anak kucing yang di gigit induk jantannya hingga
berdarah, rusak bahkan mati. Aku merasa mati. Sama dengan Ibu.
****
Sudah aku katakan
bahwa laki-laki hanya akan membuat perempuan merasa lelah dan tidak bahagia.
Buktinya saja sore itu aku mendengar keluh kesah Mbak Maryati, majikan cuci Ibu
yang kelima, bercerita padaku. “Sudahlah aku harus bekerja dari pagi sampai
malam hanya untuk membantunya dalam mencarai nafkah! Masihlah aku harus
menyiapkan makan, mengurusi pakaiannya! Belum lagi dua anak kami yang masih
kecil ini sedang lincah-lincahnya! Lalu, dengan mudah saja dia berkata bikinkan
aku kopi lah. Kenapa masakannya keasinanan, tak ada rasa. Masih sukur aku
masakkan! Laki-laki hanya bikin kesal saja! Dia pikir dengan gajinya segitu dia
sudah membahagiakanku? Kerjanya dirumah Cuma melototin handphone nya
saja, kalu bosan buka laptop dan
bermain game! Bukannya membantu istri.
Harusnya mereka itu tahu kalu istrinya juga lelah!” panas kupingku mendengar
Mbak Maryati berkisah, lebih tepatnya marah kepada suaminya.
Makinlah benar
aku merasa perempuan sebagaimapun bentuknya balik-balik dia harus menjadi babu
didalam rumah tangga. Setinggi-tingginya ia sekolah , setinggi-tinggi
jabatannya ia harus kembali mengurusi manusia-manusia golongan tidak berotak
otoriter itu. Tanpa bisa memilih untuk mau atau tidak melakukannya, karena
hukum menjadi babu itu sudah wajib. Tertitah dalam agama ataupun norma. Justru
bila tidak dilakukan, perempuanlah yang dianggap bejat. Norma itu tidak boleh
disebrangi, harus dilakukan walaupun sang perempuan berdarah-darah.
“Suatu saat kau
menikah Puan, carilah suami yang benar! Yang mau membantu, tidak hanya
menuntut! Dikiranya hidup jaman sekarang itu enak apa?” nasihat Mbak Maryati
aku anggapkan angin lalu saja, karena aku tidak berniat untuk hidup satu atap
dengan manusia berpenis asing manapun. Aku sudah mematri hal itu didalam
benakku, otakku dan juga alam sadarku. Harga mati.
&&&&&
Sore itu angin
berhembus sangat lembut, aku yang merasa amat teramat kelelahan dan juga pegal
hanya ingin rehat pembaringanku saja. Aku melihat Ibu di dapur, sedang menambal
beberapa pakaian sehari-harinya yang mungkin robek. Sudah dua hari Jarot tidak
pulang, entah kemana. Aku tak pernah bertanya pada Ibu, karena aku tak mau
tahu. “Bapakmu sudah dua hari tak pulang, Nak. Mungkin ia pergi memancing bersama
temannya.”
Baru saja aku
berpikir, Ibu seolah menjawab pikiranku. Tapi aku diam saja tidak menanggapi
perkataan Ibu, aku hanya mendekatinya dan duduk dikursi sebelah. Ternyata yang
ditambal Ibu adalah pakaian milik Jarot.
“Buat apa ditambal
baju yang sudah koyak Ibu. Dibuang saja atau dijadikan lap untuk lantai rumah.”
Kataku. Ibu menghentikan jahitannya. Mungkin Ibu merasakan kesinisan dalam
kalimatku. “Puan…. Apakah kau membenci Bapakmu?” pertanyaan Ibu menohokku. “Tak
apa, Puan. Ibu mengerti dia bukan seperti yang kamu harapkan. Ibu pun merasakan
hal yang sama.”
“Tapi kenapa
kita harus bertahan dan diam?!”
“Kita hanya
menjalani apa yang telah digariskan”
“Tapi bukan
untuk menjadi babu dia, Bu! Ibu lihat apa yang dia lakukan ? dia tidak melakukan
apa-apa untuk kita! Bahkan Puan tidak satu titik pun memakan beras hasil
keringat dia! Selama ini dia menguras Ibu!”
Ibu hanya diam.
“Dan Puan tahu
dia menyiksa Ibu! Dia bukan manusia Bu, dia iblis!”
“Puan!” Ibu
membentakku. “Kamu tidak berhak menilai Bapakmu, kamu tidak tahu apa-apa!”
“Puan berhak bu,
Puan berhak! Karena dia yang telah menghancurkan hidup Puan!!! Karena dia Puan
tidak sekolah, Puan tidak bisa bermain, Puan tidak bisa melakukan apa-apa
selain mencuci pakaian busuk dan mendengarkan banyak orang menghina kita bu!”
Tamparan pedas
aku rasakan mendarat di pipiku. Aku merasakan emosi ku membumbung menjadi balon
udara yang siap meletus. Aku sungguh membara, ingin aku balas tamparan itu.
Tapi, tidak pada Ibuku. Tidak pada manusia yang paling aku cintai ini. Aku
memandang Ibu dengan mata yang nyaris merah karena dikuasai kemarahan.
“Jika saja aku
bisa memilih siapa Bapakku, Bu.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membalas
tamparan Ibu. Mual menyerangku.
****
Masih lekat
dalam ingatanku bagaimana tubuh busuk itu mengamburkan darah dari perutnya,
kental dan membanjiri seluruh lantai kamarku. Aku terdiam, dalam guratan
kepedihan dan ketakutan yang menyergapku. Saat itu aku melihat Ibu memgang
pisau dapur, bersimbah darah si busuk Jarot. Ibu naik pitam saat tahu Jarot
mencoba menggagahiku, hanya saja Ibu tak tahu ini yang kesekian kalinya.
“Bangsat! Kau
bangsat! Dia anakku! Dia anakku!!!” Histeris Ibu menyerapah saat mengetahui
bagaimana Jarot telah menyentuhku, untuk yang kesekian kalinya. Ibu terlambat,
aku terlanjur basah oleh keringat dan luka bekas tamparan lelaki itu.
Aku melihatnya
tergeletak di depan mataku, sambil Ibu masih menuskkan pisau itu berkali-kali
ke dada Jarot. “Dia anakku, bukan anakmu anjing!! Kenapa kau nodai dia! Dia
anakku!!!”
Ibu seolah bukan
Ibu yang aku kenal. Ia seperti kerasukan tak menentu. Berkali-kali ia tusukkan
pisau itu, Jarot tak berdaya. Lalu aku tak lagi mendengar erangan Jarot busuk
itu, segera ku sambar tubuh Ibu. Aku peluk Ibu erat-erat hingga tak bisa
bergerak. Aku biarkan tubuhku yang yang telah setengah telanjang menyelimuti
tubuh Ibu yang dibanjiri cipratan darah Jarot. Ibu menangis tersengu-sengu,
“Teganya dia, Puan…. Teganya dia. Kau anakku Puan, Kau anakku!”
“Tidak, kau
harus diselamatkan! Puan, dia telah menodaimu, dia telah menyakitimu! Tidak!”
Aku meliha tnapas
Ibu tersengal-sengal, “Dia bukan Bapakmu! Dia … Puan, harusnya aku katakan
sejak dulu, dia bukan Bapakmu! Harusnya aku kawin lari! Harusnya aku tidak
menuruti kakekmu!”
“Ini salah… ya
salah kakekmu, memaksa aku menikah dengan Jarot! Sudah aku katakan aku tidak
mau, aku tidak mencintainya! Aku mencintai Bayu. Bayu… Bayu Bapakmu! Dia
Bapakmu!! Jarot busukk!!!”
Aku hanya
terdiam, tidak memahami apa yang diceracau Ibu.
“Jarot
jahanammmm!!!!” melengking suara Ibu, tak lama kemudian yang aku ingat hanya
gelap dan bunyi gemuruh kaki di lantai, seperti serombongan kuda berhamburan
masuk ke dalam rumah.
****
Sudah dua bulan
aku hanya memilih diam. Rasanya misteri kehidupan ini masih tidak bisa aku
tafsirkan. Aku memilih untuk menumpulkan otakku agar aku tidak memahami betapa
hancurnya kehidupanku. Sesekali aku merasa mual. Aku berhenti untuk memahamai
bahwa lelaki yang serumah denganku selama berpuluh-puluh tahun ini bukanlah
Bapakku. Ternyata aku bukan anak Bapakku, wajar saja ia melakukan kebusukan itu
padaku.
Sebenarnya aku
mampu mendengar bagaimana para tetangga membisikkan berbagai kisah yang
disampaikan angin yang berhembus ke telingaku yang mulai aku tulikan. “lihatlah
Puan, ternyata ia bukan anaknya Jarot. Pantas saja ia diperkosa oleh si Jarot.”
Kucing kucing kampung
juga mengatakan bagaimana para warga mengutarakan rasa prihatinnya padaku,
“Kasihan Puan, ia harus menanggung sendiri kepedihan hidup. Setelah membunuh
Jarot , Ibunya ikut bunuh diri.”
“Ternyata Jarot
dipaksa menikahi Diana karena Diana terlanjur hamil dengan kekasihnya yang
dulu. Tapi Bapaknya Diana tidak rela Diana menikah dengan Bayu, karena berbeda agama.
Dirayulah Jarot untuk menikahi Diana yang sudah hamil itu dengan diming-imingi
harta. Maulah si Jarot penjudi itu.”
“Ah, andai saja
Diana dinikahkan denganku pun, aku tak menolak. Walau sudah berbadan dua!
Sayang sekali.”
“Tapi Jarot
sunggu jehat, ia tidak pernah mengurus Diana dan Puan. “
“Ya. Wajar saja.
Katanya iamerasa kecewa dengan harta yang diberikan si kakeknya Puan. Tidak
sebanyak yang ia kira. Karena itu ia membalasnya dengan berlaku kejam pada
Diana dan Puan.”
“Ah kasihan
Puan….”
Mendadak aku
memiliki kekuatan untuk mendengar percakapan seluruh warga. Aku tahu yang
mereka bicarakan, tapi aku memilih diam sambil memandang matahari. Tapi tidak
ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi gelap. Rasa mual ini semakin sering
terjadi, pagi siang dan malam. Mual. Sebagaiman mualnya aku membayangkan mata
merah Jarot menikmati setiap lekukan tubuhku, menikmati saat aku berdarah-darah
dihadapannya. Lalu akhirnya ia dibuat Ibu berdarah , dan mati.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………!!!!”
aku berteriak, berteriak pilu. Kepalaku sakit, lalu aku benturkan saja ke
dinding rumah biar sakitku hilang. Bruk! Bruk! Bruk! Biar berdarah seperti
Jarot. Seperti Ibu. Bruk! Bruk! Tubuhku limbung, lelah.
Bruk! Bruk!
Masih aku benturkan kepalaku biar sakitnya hilang. Hilang. Hilanglah. Selanjutnya seperti malam itu, yang terdengar
adalah bunyi gemuruh langkah kuda memasuki kuda. Gelap. Dan aku berharap aku
ikut mati bersama Ibu.
****
Pangkalpinang, 13 Mei 2015


