Rasanya
ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin
lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang
dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru
sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram
ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala
nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya
baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan
berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya
yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak
yang kritis.
“Mama,
mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan
kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai
kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa
menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah
menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu
kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia
marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua
atau siapapun. Juna harus sabar.”
Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang
kerap membuatku naik pitam.
Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat
aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna
sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan
kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan
Merajuk?
Anak
tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah
luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan
menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup,
aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap
Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.” Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu
sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam
kemudian.
Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.
Aku
akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa
disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka
memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan
sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka.
Aku
cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah
ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang
pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu
karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap
aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik.
Sikap
Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah
memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna
masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas
malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi
harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena
lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak
sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku
membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku
sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku
tersebut. Bismillah.
Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran, tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.
Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!"
Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran, tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.
Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!"