Selasa, 26 September 2017

Resah Sang Mama



Rasanya ingin mencubit makhluk lucu dihadapanku ini dengan sekuat tenaga. Atau mungkin lebih kejam : memasukkannya kembali ke dalam perutku dan me-restart nya menjadi bayi mungil yang dapat aku program perilakunya sesuai dengan keinginanku. Tapi aku buru-buru sadar bahwa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memprogram ulang karakternya, ia bukan robot. Lalu yang aku lakukan hanyalah mengehala nafas panjang dan berat, lalu diam. Yang tepat adalah mendiamkannya.
Usianya baru tiga tahun empat bulan, walaupun badannya seperti anak lima tahun dengan berat duapuluh delapa kilogram. Wow. Fantastis. Mungkin perkembangan tubuhnya yang pesat selaras dengan perkembangan sel-sel otaknya sehingga ia menjadi anak yang kritis.
“Mama, mama tidak sopan. Pukul-pukul kaki Juna!” ujarnya setelah aku pukul pelan kakinya karena tidak mau membereskan mainan yang telah ia hamburkan di lantai kamar. Bagaimana bisa anak berusia tiga tahun ini bisa mendikteku tanpa menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia melakukan kesalahan dan malah menyalahkanku dengan mengatakan aku tidak sopan? Ia copy paste perkataannku! Itu kata-kata yang aku ucapkan kepadanya ketika bocah tampan itu memukulku saat ia marah atau keiginannya tidak aku penuhi, “Juna, tidak sopan memukul orangtua atau siapapun. Juna harus sabar.”  

Biasanya ia akan menjawab dengan tegas : “Juna enggak mau sabar!” jawaban yang kerap membuatku naik pitam. 

Tapi telah beberapa bulan terakhir ini aku lelah naik pitam. Lelah marah-marah panjang lebar. Aku mengambil sikap : mendiamkanya saat ia memukul dan membereskan mainannya yang berantakan tanpa berkata sepatah kata pun dan menyimpan mainan tersebut ditempat yang tidak bisa ia raih (aku menyebutnya “masa hukuman”, walaupun Juna menangis merengek merayu-rayu aku tidak akan memberikan mainan tersebut aku tidak akan memberika mainan tersebut kepadanya).
Saat aku mendiamkannya, Juna akan mendatangiku dan memelukku dengan berkata “juna sayang Mama, Juna rindu Mama, Mama jangan marah.”
Dan kata-katanya yang paling terbaru adalah, “Mama jangan merajuk”
Jangan Merajuk?
Anak tiga tahun itu sudah tahu Mama nya merajuk? Walaupun sebearnya hatiku telah luluh dengan pelukan, ciuman, dan kata-katanya yang menggemaskan itu, aku akan menahan diri beberapa saat untuk tetap mendiamkannya. Setelah aku rasa cukup, aku akan berkata : “Mama memaafkan Juna, tapi Juna tidak boleh mengulangi sikap Juna tersebut karena itu bukan sikap yang baik.”  Dan akan dijawabnya cepat dengan “Iya, Mama.”
Lalu sikap itu akan tetap berulang keesokan harinya, atau paling cepat beberapa jam kemudian.

Ya, kembali aku hanya bisa menghela napas panjang. Dan berdoa semoga sikap Juna ini akan segera berubah dan ia menjadi anak yang penyayang, tidak suka kekerasan dan juga berbakti. Amin.

Aku akui sedikit banyak sikap Juna disebabkan ia mencontoh perilaku orang dewasa disekitarnya, terutama aku. Dua sikap Juna yang membuatku was-was adalah : suka memukul saat marah atau keinginannya tidak dituruti dan sering menyalahkan sesuatu atau orang ketika ia gagal atau terluka. 
Aku cukup khawatir dengan sikap Juna yang akan memukul lantai rumah dengan marah ketika ia jatuh, atau ia akan membanting helm nya karena ia kesulitan memasang pengaitnya, juga ia akan memukul tangannya sendiri ketika ia melepaskan sesuatu karena tidak sengaja. Aku paling tidak suka menyalahkan  oranglain apalagi disalahkan. Dan aku berharap aku dapat mengubah sikap Juna ini menjadi sikap dan perilaku yang lebih baik. 
Sikap Juna yang suka memukul saat marah bisa jadi ia mengekor sikapku yang akan mudah memukulnya saat darah sudah mencapai ubun-ubun ditegah malam. Ya, saat Juna masih merengek-rengek mengajak bermain padahal sudah lewat pukul duabelas malam, dan tubuhku lelah karena selalu begadang tiap malam padahal pagi-pagi harus bangun dan bekerja, seringkali membuatku memukul Juna disaat itu karena lelah dan marah telah berakumulasi. Sekarang aku masih menyesali ketidak sabaranku tersebut. Lelah bekerja membuat kemarahanku memuncak, keterbatasanku membuat aku mengambil keputusan yang tidak tepat dalam menghadapi anakku sendiri. Dan sekarang akulah yang berkewajiban memperbaiki kesalahanku tersebut. Bismillah.

Honestely, sifat Juna 90% mirip sekali dengan sifatku. Pemarah, tidak sabaran,  tidak mudah menyerah, selalu beranggapan ia dapat melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak bisa dinasehati dengan kata-kata kasar, dan juga manja. Aku berharap Juna lebih memiliki sifat Papa-nya yang penyabar dan penurut (mungkin nanti kalo dapet anak perenpua bakalan punya sifat kaya si Papa kali yeeeeeeee, Amin!). Ah... Abang Juna, Mama sungguh mencintaimu apa adanya, karena bagaimana karaktermu tentunya tanggungjawab Mama sepenuhnya. Semoga Mama dan Papa bisa mendidikmu menjadi anak yang sholeh, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiennnnnnnnnnnnnnn.


Jadi teringat dengan kata-kata Ibu sewaktu aku masih remaja : "Nanti, kalo Adek punya anak yang 'bandel' jangan heran apalagi dipukul, soalnya Adek tuh bandel!" 



  

Minggu, 24 September 2017

Bahagiaku Bukan Bahagiamu




Hidup ini selalu dinamis, berubah dan juga tidak stagnan. Selalu mengarah pada perubahan yang tidak akan pernah berhenti berputar. Entah perubahan itu kearah yang lebih baik, atau menjemukan bahkan merusak, kita tidak pernah tahu.
Perubahan sedikit demi sedikit pun tidak luput dalam kehidupaku. Aku yang dahulu hanyalah anak bungsu yang manja, hanya memikirkan tentang bahagiaku saja, karirku saja, dan pusat kebahagiaanku hanya bermain dan menemani Ibu, lambat laun pun berubah setelah menjadi istri.
Suamiku yang baik hati membawaku kerumahnya yang mungil namun membahagiakan. Membesarkan buah hati kami dan juga menjalani aktifitas sebagaimana layaknya pasangan muda pada umumnya. Pagi hari bekerja dengan sebelumnya menitipkan anak ke pengasuhnya, pulang kerja di sore hari (bersyukurlah kota ini bebas macet yang membuat kepala mau pecah), dan menjalankan rutinitas ibu rumah tangga dimulai sejak beduk magrib berkumadang. Aku menjalaninya dalam lelah yang bahagia. Setelah pulang kerja, aku akan segera memasakkan lauk untuk makan malam, mencuci piring, membereskan rumah dan bercanda bersama anak dan suamiku. Aku bahagia. Walaupun harus tidur paling cepat pukul duabelas malam dan bagun pagi-pagi sekali. Aku bahagia karena aku didukung oleh suami yang sungguh baik dan perhatian.

Namun dalam bahagiaku, aku melupakan ada Ibu yang kesepian.

Ketika suami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Kota Hujan, otomatis aku dan buah hati harus ‘hijrah’ kerumah Ibu karena selain lokasi rumah kami dan tempat aku bekerja cukup jauh dan membuatku kesulitan untuk mengasuh anak sendirian selepas pulang bekerja, masalah financial pun menjadi prioritas utama. Harapan kami, dengan tinggal sementara dirumah Ibu akan dapat mengurangi keterbatasan financial yang akan aku hadapi ketika suami harus melajutkan kuliah. Ibu pun menyanggupi dan dalam aku kembali masuk dalam zona nyamanku.

Ketika seorang anak telah menikah, bagaimanapun anak tersebut akan tetap dianggap sebagai “anak kecil” yang masih harus diatur, diarahkan dan juga diawasi. Sedangkan dalam paradigma seorang anak yang telah menikah, ia akan berpikir bahwa ia adalah seseorang yang telah dewasa, memiliki pendapat, pola dan pemikiran tertentu tentang bagaimana dan apa yang harus ia lakukan. Entah itu dalam mengelola keuangan, mengasuh anak, mengurus anak dan juga memenejemen waktu.
Tapi perbedaan “idealisme” antara  orangtua dan anak yang telah menikah namun tinggal serumah tidak akan berjalan dengan mulus dan rata seperti jalan tol ataupun paha cherrybelle. Perlahan tapi pasti pergesekan akan terjadi. Seperti yang terjadi antara aku, Ibu dan Bapak.
Terutama Ibu.
Ibu masih seperti Ibu yang dulu, tidak berubah. Aku yang telah berubah. Ibu masih Ibu yang manja, yang ingin dimengerti, yang mudah merajuk, dan juga keras kepala. Ibu seyogyaya tidak pernah berubah. Aku telah mahfum dengan sikap Ibu ini. Tapi sekali lagi, aku yang berubah.
Ibu yang tetap ingin bisa berkisah dan bercerita denganku berjam-jam.
Ibu yang tetap ingin aku menyapu dipagi hari, mencuuci piring disore hari.
Ibu yang tetap ingin memarahiku ketika aku tidak mencuci baju, memasak ataupun bangun kesiangan.
Ibu yang tetap ingin mengatur bagaimana aku berpakaian dan bersikap.
Ibu yang tetap ingin aku memboncengnya kemanapun ia pergi  dengan senang hati.
Ibu tidak berubah. Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat lagi menemaninya bercerita sampai tengah malah dan memeluknya sepanjang malam karena harus mengurus anakku yang aktif luar biasa, Alhamdulillah.  
Aku yang tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan rumah seperti seharusnya karena anakku yang rewel tidak mau ditinggal, atau seringkali merecokiku setiap kali aku bekerja dan juga kelelahan dahsyat yang melanda setiap kali pulang bekerja.
Aku yang tidak dapat lagi menemani Ibu pergi dengan bebas dan nyaman karena harus membawa anakku kemana-mana dengan segala kerepotan dan kehebohan yang ada.
Aku yang terlalu memprioritaskan suamiku dan anakku sehingga aku melupakan bahwa Ibu pun ingin tetap menjadi prioritasku.
Aku yang terlalu asyik dengan duniaku sehigga aku melupaka bahwa aku adalah dunia Ibu.
Aku berubah.
Aku merasa telah dewasa, sehingga walaupun aku memiliki keterbatasan financial, aku tetap memiliki hak utuk menentukan dan mengatur ingin seperti apa aku mengasuh anakku. Dengan caraku. Dengan polaku. Yang tentunya berbeda dengan cara mereka mendidikku.
Aku yang berubah.
Aku yang tidak dapat memberikan perhatian yang sama antara Ibu, Suamiku dan Anakku. Aku mengorbakan Ibu dalam kebahagiaanku.

Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana harus menjadi seseorang yang adil bagi mereka. Ditambah dengan kenyataan bahwa kami harus mengikuti suami yang akan ditempatkan bekerja di kota Palembang, membuat hubungan ini menjadi semakin memburuk.
Ibu down.
Ibu seperti kehilangan arah. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku adalah dunia Ibu. Karena aku sedang menggenggam duniaku, aku lebih memikirkan duniaku sehingga melupakan Ibu. Aku yang lebih mengejar bahagiaku sehingga melupakan bahagia Ibu.
Aku sadar aku terlihat kejam dimata Ibu ketika aku  memilih  untuk bersama keluargaku dibandingkan bersama Ibu. Bahkan aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak. Tinggal dengan mertua terdengar tidak lebih baik dibadingkan tinggal bersama dengan orangtua sendiri. Bisa jadi keputusan ini akan aku sesali, tapi aku sadar aku akan lebih menyesal jika harus membuat anak-anakku nantinya hidup seperti aku sewaktu kecil. Selalu berjauhan dengan Bapakku. Aku hanya mampu memotivasi diriku bahwa aku akan bahagia dimanapun aku berada asalkan aku bersama dengan keluargaku. Aku yakin semua kesulitan akan mampu aku hadapi asalkan aku bersama dengan orang yang aku cintai, dan mencitaiku.
Aku berubah.
Hidupku berubah. Aku bukan lagi anak gadis remaja Ibu yang dapat menemani Ibu seperti yang dahulu aku lakukan.
Semoga Allah memberikan jalan keluar atas segala kecamuk yang sedang aku hadapi.
Semoga Allah memberikanku kesempatan untuk membahagiakan Ibu dan Bapak, setidaknya agar mereka bisa meganggapku sebagai anak yang mereka harapkan. Bukannya sebagai aak yang mereka sesalkan.

Minggu, 13 Agustus 2017

Dilema Hijrah Part I



Hijrah kerumah mertua?

It’s so shocking!
Itu adalah reaksi pertama ku ketika suami mengatakan bahwa ia harus pindah ke Kota Palembang akibat peralihan status nya sebagai pegawai kemetrian. Hiks…hiks….hikss….

Otomatis kalo di Palembang pastinya bakalan tinggal dirumah mertua. Secara, belum tau nih aku bakalan kerja atau enggak degan kondisi mertua yang memang sekarang sakit-sakitan (FYI : mama mertua sakit diabetes dan stroke ringan plus papa mertua yang kayanya sering batuk-batuk). Sebagai menantu yang baik hati mana rela dan tega berada di kota yang sama tapi tinggal jauh dari mereka yang sakit-sakitan tanpa ada yang stay dirumah itu. Iya, mama dan papa selama ini hanya tiggal berdua tidak ditemani anak-anak lainnya. Tapi Alhamdulillah ada dua orang ipar yang tinggalnya berdekatan dengan mertua. Cuma, menurutku tetep aja lebih “aman” kalo ada yag tinggal bersama mereka. Dulu aku sempet ngomong sama suami kalo mama dan papa di bawa aja ke Bangka, biar tinggal sama kami. Jujur, aku kasia kalo ngebayangin mama dan papa berdua aja dirumah sebesar itu dengan kondisi fisik yang tidak lagi bugar.

But, gimana dengan Ibuku? Bapakku?
Ibu dan Bapak pun hanya tinggal berdua disini. Sedangkan Abangku tinggal di Mentok, yang otamatis ga bisa lihat ibu setiap hari atau menemani ibu setiap hari.

Aku kudu piye????

Disatu sisi, aku ingin berdekatan dengan suami.
Disatu sisi, aku juga ingin berdekatan dengan Ibu dan Bapak di masa tua Ibu. Karena Ibu hanya memiliki aku dan Abang (berbeda dengan suami yang merupakan enam bersaudara, dan dua diantaraya tinggal di Palembang).

Dilema…. Sungguh dilemaaaaaaaaaaaa………………..

Belum lagi dengan ketakutan ku  yang harus tinggal dirumah mertua.
Ketakutan?
Iya, aku sangat ketakukan untuk tinggal bersama mertua. Bukan karena mertua, tapi karena “keterbatasan” diriku sendiri.
Selama ini aku mengenal mertua sebagai orang yang sangat baik, pemuran dan juga tidak cerewet. Namun : rajin dan pembersih!

Sedangkan aku?
Aku adalah sosok yang pemalas, bekerja berdasarkan mood (bukan tipe konsisten), pemalas, agak arogan, sensitif dan juga buka anak rumahan! Disini agak berbanding terbalik denga kebiasaan dirumah mertua yang kudu bangun pagi, rajin beresi rumah, rajin biki makanan dan sujka menghabiskan waktu dirumah aja.
Ngebayagin ngeberesi rumah mertua yang luas totalnya bisa dua kali lipat dari rumah Ibu (karena bertingkat) aja udah sesak napas! Hahahahhahahaa. Kan, kalo emang disana kemugkinan aku bakalan jadi Mama Rumah Tangga, alias belom kerja. *pengen nangis*. Aku sih bukan megkhawatirkan akan “mertua yang nyebelin’, tapi aku khawatir bakalan jadi “menantu yang nyebelin ataupu menantu yang tidak diharapkan” karena “kedok”-ku terbuka setelah tinggal bersama. Aku takut predikat “menantu kesayangan nomor-3” bakalan melucur ke predikat terakhir. *tuhhhh kaaaaaaaaannn jadi sedih lagi*

Ada opsi aku tinggal terpisah aja dari suami, tapi gakk… gakkk… udah prinsip aku untuk gak bakal jauhan dari suami. Aku ingin kami selalu bersama membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah.  Akuuu gak mau jauh dari suamikuuuu yang aku cintai ataupu anakku jauh dari papanya yang sangat ia sayangi. Aku ga mau anak-anakku kekurangan kasih saying ataupun merasa kurang akan kasih-sayang dari papa nya.

Ahhhh…….. galau ku sungguh galaaaaauuuuuuuuuuuu!!!

Galau banget ninggalin Ibuku.
Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia. Dan kami pun dimurahkan rezeki agar bisa gunjungi Ibu Bapak sesering mungkin. Aku sayang sekali sama Ibu.

Dan semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untuk kami semua.
Niatku, untuk dapat mengurus orangtuaku seperti mereka mengurusku diwaktu kecil. Semoga dalam waktu dekat dapat berkumpul dan berdekatan dengan Ibu, Bapak, Mama dan Papa. Jadi bisa ngurusin keempatnya secara brsamaan, adil dan juga peuh cinta.

Amiiennnnnn ^,^


Senin, 17 Juli 2017

Cerpen_Tentang Cinta



Tentang Cinta
Oleh : Yulistia Akbari


Ini hari ketiga hujan mencurahkan tangisannya ke kotaku. Hawa dingin, namun tak sedingin hatiku yang telah membeku beberapa bulan terakhir, tidak mempengaruhiku untuk beristirahat sejenak saja dari pekerjaanku yang sepertinya tidak akan pernah habis walaupun aku bekerja selama 24 jam.

Aku butuh melarikan diri dari rasa tak menentu setelah perpisahan kami lima bulan yang lalu atau aku akan menjadi gila jika hanya berada dirumah. Aku tidak akan mampu membendung mataku ketika harus duduk di dapur, tempat dimana tujuh tahun aku memasakkan makanan untuknya. Atau aku akan menumpahkan tangisku saat aku menonton televisi, tempat kami menghabiskan sisa hari ketika malas keluar rumah. Berada dirumah hanya akan membuatku seperti membeku, seperti hawa kota ini.

Aku berhenti menyentuh laptopku.

“Kau tidak pernah bisa memahamiku!”

Aku teringat bagaimana aku selalu mengatakan padanya tentang bagaimana ia tidak membahagiakanku, tentang apa yag tidak ia penuhi, tentang apa yang tidak ia berikan padaku dan tentang apa yang selalu membuatku marah kepadanya. Tanpa aku pahami, apakah aku telah memahaminya, apakah aku telah membahagiakanya, atau apakah aku telah menjadi pasangan terbaik untukya. Itulah keegoisaku.

Biasanya ia tidak akan pernah membalas kemarahanku, ia hanya akan diam dan beberapa saat kemudian ia akan mendekatiku. Bertanya banyak hal kepadaku. Mecandaiku. Atau juga membelikanku es krim dalam jumlah banyak. Tapi ia tidak pernah meminta maaf padaku. Satu hal yang selalu membuatku memendam dendam.

“Apakah kau mencintaiku?” tanyaku malam itu padanya.
“Tentu.” Ujarnya tanpa megalihkan mata dari smartphone-nya. Hatiku kesal.
“Lantas, kenapa kau tidak pernah mengatakannya duluan?” balasku sambil menaikkan selimut hingga sebatas leher.
“Apakah masih perlu?”
“Tentu saja. Cinta itu tidak hanya ditunjukkan, tapi juga diucapkan.”
“Apakah ada kata yang lebih indah dari aku mencintaimu? Jika ada akan aku ucapkan.”

Hatiku kesal. Percakapan tentang perasaan ini tidak akan pernah berhasil. Ia tidak akan pernah menjawab atau membalas pertanyaanku tentang perasaan cinta nya. Ia hanya akan bercanda. Lagi. Dan harapanku tentang perbicangan cinta ala film korea hanya akan membuat malamku semakin mengesalkan, dan terbawa mejadi mimpi buruk.

“Apakah kau akan tetap mencintaiku, bahkan ketika kita belum memiliki buah hati hingga tujuh tahun pernikahan ini?”. Itu adalah pertanyaanku saat ini, yang tidak perlu lagi kau jawab.

***

“Saya terima nikahnya Annisa Prameswari binti Muhammad Majid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!” Gun mengucapkannya dengan mantap dan tegas, yang diikuti koor “Amin” dari setiap tamu undangan. Semua orang meneteskan airmata bahagia hari itu. 11 Februari. Tujuh tahun silam.

Itu adalah saat paling bahagia untukku. Bagiku ia adalah pria paling tampan diseluruh dunia, dan aku menikahi orang yang aku yakini dapat memberikan masa depan padaku.

Gunawan, seperti namanya, adalah pria paling baik hati yang pernah aku kenal.  Hatinya seputih awan. Ia selalu membantuku dalam segala hal, ia tidak pernah membiarkaku kesulitan sendiri. Bahkan saat aku tertidur pun ia akan memberikan bantal dikepalaku. Ia adalah lelaki luar biasa yang Tuhan kirimkan untukku. Ia melayaniku seperti aku adalah emas nya yang paling berharga.

Namun sikapnya yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tidak pernah ia iringi dengan kata-kata cinta seperti yag aku harapkan. Aku-lah yang pertama kali akan memeluknya dengan hangat dan mengatakan “Aku mencintaimu” setiap paginya. Akulah yang akan bersandar pada bahunya dan melingkarkan tangannya di pinggangku setiap malam sebelum tidur, dengan begitu aku baru dapat tertidur dengan nyenyak. Akulah yang setiap hari megirimkan pesan sigkat untuk mengatakan aku merindukannya. Aku, aku dan hanya aku. Tanpa aku sadari sikapku membuat aku haus akan pernyataan cintanya. Membuatku berpikir, bahkan kami menikah bukan karena ia melamarku. Namun karena kami bersepakat untuk menikah. Ya, ia tidak pernah melamarku.

Dan aku baru menyadari ketimpangan perasaan ini pada tahun keempat pernikahan kami. Tahun keempat bahkan disaat kami belum memiliki anak.

***

Aku tidak pernah sadar kapan perselisihan kami semakin meruncing. Perbedaan pendapat baik hal kecil sekalipun akan mudah menjadi pemicu pertengkaran kami. Gunawan yang dulu selalu sabar meghadapiku mulai terlihat emosi setiap kali aku mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Aku menjadi sosok mudah tersinggung, sensitif dan juga mudah terluka. Apapun yang Gun lakukan selalu salah dimataku. Apapun yag ia katakan akan mudah menyakitiku. Aku bahkan tidak tahu, apakah karena kesalahannya atau aku yang terlalu tidak bisa menerima apapun darinya. Bagiku semua sikap dan perkataannya akan selalu menyakitiku, karena aku selalu berpikir ia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

“Aku lelah!” teriakku suatu hari, pada tahun keenam akhir perikahan kami. “Aku lelah selalu menduga apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku lelah menjadi yang paling mencintai didalam pernikahan ini. Aku lelah! Aku lelah selalu bertanya pada diriku apakah kau mencintaiku atau tidak! Ya, kau memang memberikan segalanya padaku, apapun yang aku inginkan selalu kau berikan. Kau selalu berusaha membahagiakaku. Tapi aku tidak pernah tau Gun, apakah kau mencintaiku atau tidak! Kau bahkan tidak pernah benar-benar mengutarakannya. Dan aku lelah dalam komitemen ini, komitmen yang bahkan aku tidak tau apakah kita saling mencintai atau tidak.”

Dan seperti biasa, Gun hanya akan diam tanpa membalas kata-kataku, sekasar apapun hardikaku. Ia hanya akan menerima. Dan bahkan ketika aku mengusulkan agar kami berpisah, ia hanya diam. Bersikap seolah menyetujui, dan kami benar-benar berpisah  setelah hakim mengetuk palu.

***
Dalam lima bulan terakhir aku menyandang status baruku, aku hanya menghabiskan waktu dengan pekerjaaku, setidaknya inilah yang membantuku untuk tetap bernyawa.

Walaupun disetiap hariku, aku selalu merindukannya higga darahku mendidih. Atau kadang aku sugguh membutuhkannya hingga aku menangis menggigil.

Aku ingin memberikannya kesempatan untuk mendapatkan cinta yang ia harapkan, atau menemukan cintanya. Walaupun mungkin bukan aku adalah yang sesungguhnya ia cinta. Toh aku merasa kasihan padanya kerena aku akan selalu menjadi sosok paling egois baginya

Ah, hawa dingin ini memelukku.

Ponsel ku bergetar, pesan masuk. Apakah perutmu masih sering sakit?
Nomor yang sangat ku kenal.

Gun.





Pangkalpinang, 18 Juli 2017

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -