_RIO_
Rasanya sangat tidak
menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu
dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat
kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh,
lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman!
Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu
ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka
penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio
hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada
siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap
bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada
teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu
kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar
desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik,
merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan
suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk
kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan
pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali
katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang
ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita
ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti
itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang
dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat
pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan
Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin
berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar
terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan
kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring
dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci
keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut
dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat
temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan
penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah,
menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut
versi Rio pula.
“Aku
tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.”
Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit
frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh
dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata kantor yang selalu memberikan pelayanan prima
kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman
sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah
sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat
bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia
akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan
kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat
menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya
selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen,
Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng
yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa
dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf
Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus
belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah
tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio
dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan
siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam
hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik
sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita
dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau
berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama
atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada
diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi
hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang
keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal
mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian
terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia
dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta
Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas
keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada
yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri
sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya
menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang
tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang
disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu
sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan
sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai,
apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu,
baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu
yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu.
Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar
dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit.
Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan
kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik
kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa
adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu.
Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota
yang sama.
“Ya, manusia hanyalah
seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja
jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka
sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa
tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia
yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus
menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang
dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah
dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang
bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio
yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?
*********
“Selamat ulang tahun,
Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan
wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu
pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu
megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua
orang.
Akhirnya, Rio berhasil
menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya
membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli
jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara
bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari
itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia
seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu
untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan
itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan
juga senyum teman sekantornya.
*********
Pangkalpinang,
16 Juni 2015