Senin, 04 April 2016

Maafkan Mama, Arjuna.

Beberapa minggu terakhir adalah hari-hari dengan penuh ujian kesabaran bagi saya karena Arjuna sedang sakit. Bagi Ibu bekerja seperti saya, anak yang sakit adalah suatu keadaan dimana dilema menjadi raja.  Disatu sisi rasanya nurani sebagi ibu sedang diuji konsistensinya untuk mengurus dan menjaga si kecil. Mebayangkan ia demam sambil menangis memanggil nama sang mama adalah hal paling menyedihkan yang pernah dibayangkan, rasa sakit karena diputus kekasih mengalahkan pilu itu.

Kesabaran pun diuji batas maksimalnya, dimana saat seharusnya jam yang berderak lamat-lamat itu menunjukkan kesempatan kita untuk istirahat setelah hampir setengah hari berada di kantor harus diisi dengan menangkan si kecil yang menangis tiada henti. Apalagi si Juna selalu ingin digendong, mama-nya tidak boleh meletakkannya diatas kasur. Harus selalu dipeluk.  Lelah itu mnejadi berlipat-lipat membuat kadar kesabaran berada pada titik nol.

Menulis cerita ini membuat airmata ku berurai, menyesali ketidak sabaranku dalam menjaga si kecil yang sedang rewel. Harusnya seorang ibu adalah sosok yang paling bisa menahan amarah, bukan? sosok yang bisa menahan beribu kesakitan demi anak. Tapi si Ibu ini hanya bisa marah-marah saat si kecilnya rewel di pertigaan malam. Alasannya cuma dua : lelah dan kurang tidur.

Dimana kesabaranku sebagai mama nya Arjuna?

Dimana kesabaranku ketika Juna hanya ingin dipeluk, di gendong dan  dibuai seperti ia masih kecil?
Aku mengutuk kelemahan fisikku, yang aku kira sangat kuat.
Aku menyumpah ketidak mampuanku untuk selalu kuat dan bertahan dalam keterbatasan fisik itu.
Aku memaki diriku sendiri yang telah menaikkan intonasi suaraku disetiap pertigaan malam karena kerewelan Arjuna, disaat aku belum tidur sedetikpun.

Ah, menjadi Ibu bukanlah hal yang mudah. Inilah alasan bahwa kita harus mencintai dan menghormati Ibu lebih dari appaun. Saya akan mengatakan bahwa sangat tidak mudah menjadi Ibu.

salah satu  cita-cita saya sampai pada titik ini adalah : menjadi ibu rumah tangga. 

Cita-cita yang sangat saya tidak mampu menyegerakannya. Pertimbangan-pertimbangan yang banyak saya sesalkan. Jika ada ibu rumah tangga yang berkata pekerjaannya membosankan, mohon bawa kehadapan saya dan saya ceritakan bagaiman sakitnya hati ini melihat anak sakit tapi tidak bisa cuti dari pekerjaan atau cuti telah habis. Bagaimana saya harus diam-diam membawa anak saya pergi keluar dari kantor untuk sekedar imunisasi. Jika ada ibu rumah tangga yang mengatakan bahwa ia tidak bernilai karena ia tidak bekerja, bawa kepada saya dan katakan bahwa bertapa berharganya setiap waktu bersama si kecil yang bisa diisi dengan bermain bersama dan juga mengajarinya banyak hal dibandingan menguyrus beratus-ratus dokumen yang tidak membuat diri ini bahagia layaknya menemani si kecil. Menjawab semua pertanyaannya. Menjadi sosok yang ia cari dan butuhkan. Memasak dan juga membuatkan apa saja yang ia butuhkan.

Tidak akan berguna jabatan yang tinggi bila anak-anak kita hanya menjadi orang yang tidak bermanfaat.
Bukanlah orang yang berhasil apabila kita memiliki gaji yang besar, tetapi anak-anak kekurangan kasih sayang.
Dan bukanlah kesuksesan ketika kita menjadi terhormat dimata manusia tapi anak-anak tidak pernah menyentuh sajadah dan AL qurannya.

Ah, Arjuna.
Maafkan mama dengan segala ketidak sabaran Mama.
Dengan segala sedikitnya waktu yang Mama punya untukmu.
Dengan semua kekurangan yang mama miliki dalam mengasuhmu.
Maafkan Mama yang selalu meninggalkanmu.
Maafkan Mama, Nak.

Semoga seiring berjalannya hari Mama akan menjadi Mama yang selalu sabar untukmu nak.
Airmata ini tidak henti-hentinya saat menulis kalimat-kalimat diatas.  Hati Mama masih terlalu cengeng ya, Nak?

Ya. Karena Mama sangat mencintai Arjuna.

Rabu, 02 Desember 2015

Puisi Seorang Mama

Kau adalah muaraku
perjalanan yang mendidikku
Ku labuhkan padamu

Cintaku tak pernah akn usai
Ada ataupun tiadanya raga

Berlarilah, kebanggaanku
Berlalirah mengejar cita-citaku
Yang aku harapkan akan menjadi cita-citamu
Bila pun tak searah
Aku percaya kau akan bahagia

"Karna doaku hanya satu
Jadikan anak-anakku sebagai ahli duniaMu, dan ahli syurgaMu"

Nikmat Yang Menguji


Tidak bisa aku tampik bahwa kehidupanku yang sekarang sangat patut aku syukuri dengan sebanyak-banyaknya. Berkali-kali aku mengatakan betapa aku sangat berterima kasih kepadaNya yang telah menganugerahiku keluarga yang penuh kasih sayang, suami yang begitu bertanggung jawab dan penuh perhatian kepadaku, mertua yang sangat baik, tidak pernah pilih kasih dan juga sangat mencintai cucunya, serta ipar-ipar yang sangat menyayangi kami sekeluarga. Kebahagiaan itupun dilengkapi dengan kehadiran buah hati kami yang sangat tampan tanpa harus menunggu terlalu lama.

Secara financial walaupun kami bukan tergolong keluarga yang memiliki banyak kelebihan, tapi cukuplah bagiku untuk merasa bahagia. Suami yang telah meiliki rumah dan pekerjaannya sebagai pegawai negeri, sedikit banyak membuat hatiku cukup bangga. Tidak hanya itu, orangtuaku pun turut bangga. Pekerjaanku sebagai pegawai Bank, walaupun bergaji yang tidak besar, setidaknya cukup memenuhi kebutuhan pribadi. Pendek kata, aku bersyukur atas semua nikmatNya.

Tapi rasa syukur dan juga rasa terima kasih ini tidak aku refleksikan dalam bentuk yang real kepada Tuhanku, Allah SWT.

Aku menyadari menurunnya keimananku yang sangat drastis. Padahal, suasana sekelilingku sangat menunjang untuk beribadah dengan leluasa dan juga tepat waktu. Aku mengakui, telah tiga tahun terakhir ini mengalami penurunan keimanan. Terhitung jari aku melakukan sholat lima waktu, paling banyak empat waktu. Subuh adalah sholat yang paling seing aku lewatkan. Berbeda dengan masa aku masih berstatus sebagai anak sekolahan, sholat adalah hal yang paling tidak bisa aku tinggalkan.

Ya, disinilah Allah mengujiku. Allah mengujiku dengan mengamanahkan aku dengan pekerjaan yang baik, namun menguras tenaga dan pikiran. Pulang malam merupakan hal biasa, sehingga rasa letih yang luar biasa membuatku merasa malas untuk sholat subuh. Disitulah Allah mengujiku. Dan sepertinya aku belum lulus ujian ini.

Kemudian, Allah mengujiku dengan menghadirkan anak. Dimana tugasku adalah 24 jam. Waktu tidur tidak seenak dulu. Anak yang terbangun tengah malam dan rasa lelah yang luar biasa, menjadi alasan utama aku melewatkan sholat subuh. Padahal, aku selalu terbangun ketika azan berkumandang. Sungguh celaka hidupku.

Aku pun merasakan kenikmatan sholatku berkurang. Jika dulu, aku berdoa sejadi-jadiNya kepada Allah dan terasa legalah hatiku, tapi kini aku seperti hanya menjalankan ritual. Tanpa bisa memaknainya atau meresapiNyA. Aku merasa hatiku terlalu kotor.

Ah… hal paling bodoh didunia adalah, kita mengetahui ahwa apa yang kita lakukan itu salah namun tetap melakukannya. 

Menurunnya keimananku ini tentu saja berimbas pasa semua sisi pribadiku. Sering bergunjing, pemarah, tidak sabar dan tentu saja mudah mengjina orang lain adalah hal biasa yang aku lakukan.

Allah sedang  mengujiku di dunia, dan aku merasa kini ia mulai bosan menegurku yang tidak pernah menggubris tegurannya. Dulu, Allah seringkali memberikanku masalah-masalah yang membuatku ingat untuk bersujud kepadaNya. Tapi kini hidupku terasa datar tanpa ada masalah, selalu apa yang aku inginkan aku dapatkan. Dan aku mulai merasa takut dengan hal itu. Apakah dugaanku benar? Allah mengujiku, dengan seluruh kenikmatan ini karena ia sudah bosan untuk menugurku, dan tidak rindu lagi dengan rintihan serta tangisanku padaNya?


Pangkalpinang, 03 Desember 2015          

Sabtu, 26 September 2015

kisah sang Ibu

Pernah terjadi suatu percakapan singkat antara saya dan ibu di dapur suatu malam. Ibu bercerita tentang bagaimana kesusahan perekonomian ibu sejak menikah hingga kami dewasa. Saat masih remaja aku tidak terkalu menggubris kisah inibsebagai kisah yang istimewa, namun saat saya telah menikah tiba-tiba saja kisah ibu itu menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani kisah romansa rumah tangga kami yang baru seumur jagung ini.

Alkisah ibu menceritakan tentang bagaimana ia memutuskan menikahibseorang tentara tampan yang bergaji kecil. Malam itu atok bertanya apakah Ibu sudah siap dan bulat tekad menikahi seorang tentara yang gajinya kecil dan siap ditinggal lama untuk bertugas. Menjawablah ibu dengan kata "iya".

Tapi kata "iya" yang meluncur dari mulut ibu bukan sembarang jawaban demi meluluskan niat untuk menikah. Tapi leboh kepada keputusan seumur hidup yang haram untuk ibu keluhkan. Dan memang, sejak saat itu, bahkan sampai saya menikah tak pernah saya mendengar ibu mengguman barang selirih apapun tentang betapa sulitnya atau betapa kurangnya gaji bapak dalam memenuhi kebutuhan kami. Waktu itu gaji PNS belumedahsyat sekarang. Apalagai tentara, dizaman ibu PNS itu diremehkan, pegawai timah atau kobatin lah yang menjadi idola.

Tapi Ibu adalah sosok yang berkarakter. Seberapapun gaji bapak diterimaibu dengan ikhlas dan todak dengan mengeluh. Ia cukup cukupkan gaji itu untuk memenuhi kebutihan. Ibu berkata, memebeli baju adalah hal terakhir dalam pikiran ibu. Setahun sekali belumtentu. Boro boro untuk liburan.

Masih saya ingat saat masih kecil hingga remaja, saya adalah tipe anak yang "banyak maunya". Selalu minta dibelikan ini, dibelikan itu. Bando, mainan, pita, baju dan banyak lagi. Setiap permintaan saya selalu dijawab ibu : "iya, nanti kalau ibu sudah punya uang". Tidak pernah ibu mengabulkan permintaan saya serta merta. Mungkin memang ibu tidak punya uang, tapi dikemudian hari, entah itu bulan depan atau bulan bulan berikutnya ibu akan menghadirkan baranf yang saya minta itu. Sikap ibu itu menjadikan saya selalu sabar dalam memiliki sesuatu. tidak cepat marah atau kesal jika keinginan tidak dituruti sekaligus menumbuhkan pola pikir "pasti saya punya/dapatkan walaupun tidak sekarang".

Ibu pernah menceritakan bagaimana dulu bapak bisa mrnghasilkan uang jutaan dalam hitungan minggu drngan bisnis "ilegal" yang ia lakoni. MEmang, di masa itu hp bisa gonta ganti, beli ini beli itu tinggal minta sama bapak. Tapu ternyata, justru ibu yang blingsatan.
Hati ibu tak tenang melepas suaminya bekerja. Pikiran tentang resiko selalu membayang bayangi ibu. Bahkan sampai ibu tidak tidur. Akgirnya, ibu memutuskan bicara kepada bapak untuk menghentikan bisnisnya itu. "Biarlah ibu bapak kasih uang gaji saja, asal hati ibu tenang menerimanya. Daripada uang banyak, tapi ibu ketakukan." Kata ibu suatu malam.

Lalu kembali lah kami berhemat sejak bapak berhenti berbisnis. Dan rumah tangga bapak ibu selalu jauh dari perselisihan tentang uang. Hingga saat ini.

Kisah ibu sungguh menggajarkan aaya tentang arti bagaimana kita harus ikhlas menerima segala resski yang suami berikan. Entah itu cukup atau tidak versi istri. Apalagi jika sblm menikah si istri sudah tau berapa pendapatan suami. Ya, kisah ibu ini memotivasi saya untuk tidak mudah mengeluh tentang uang. Tentang sulitnya memenuhi kebutuhan. Tentang sedikit menurunkan standart. Tentang tidak mudah iri pada kehidupan orang. Tentang bagimana seorang istri yang baik adalah tidak pernah mengeluh tentang rezeki yang Allah berikan. 

Ah, masih jauhlah ilmu saya dibanding Ibu. Tapi semoga saja saya bisa meneladani ibu. Satu kata yang lekat di hati saya : "kalau sudah berkomitmen, harus siap menerima resiko! Jangan mengeluh atas apa yang sudah kita sanggupi di depan."

Mom  u're the best!! I love u.

catatan hati seorang istri (episode 1)

Ada kekhwatiran saat memutuskan memberi izin kepada suami untuk melanjutkan pendidikannya di pulau sebrang. Tapi kekhawatiran itu terkalahkan dengan kepercayaan bahwa suami akan selalu menjaga rasa percaya itu.

Bukan tidak sedikit cerita bahwa banyak suami yg bersekolah lagi di luar pulau , pada akhirnya bukan pulang membawa ijazah tapi ijab sah alias menikah lagi. Sungguh, itu adalah momok terbesar dalam keputusan itu. Belum lagi ditambah akan kerepotan dalam mengurus si kecil yang lagi belum genap 1,5 tahun. Ditambah dengan bayangan hambatan secara finansial. Banyak sekali resiko dibelakang yang harus diterima. Tapi, entah kenapa, bisa jadi karena kepercayaan yang ditanamkan sang suami membuat saya mengenyampingkan semua itu. Keyakinan itulah yang membuat saya mengizinkan suami untuk sekolah lagi.

Setiap hari, doa yang terpanjatkan kepada Allah hanyalah agar Allah slalu menjaganya agar slalu dalam koridor kehidupan yang benar.

Bagaimana dengan godaan?
Godaan itu datang silih berganti, tentu godaan itu akan datang. Baik dari sisi lawan jenis, teman dan juga lingkungan. Tidak bisa di tampikkan.

Tapi kembali lagi pada rasa percaya : percaya pada suami akan selaku bersikap bijak dan percaya pada Allah akan selalu menerangi hatinya untuk tidak tergoda pada kesenangan sementara semata.
Jika bukan iman dan tanggung jawab yang berbicara, perkara fisik akan mudah terabaikan.

Apalah arti istri yang badannya gemuk , wajahnya tembam dan cerewet ini bila dibandingkan manis dan jelitanya wanita wanita dikota besar sana? Tapi saya percaya, suami menikahi saya bukan karena fisik semata. Jadi, kekurangan lahiriah ini tidak serta merta menjadi alasan beliau untuk 'bertingkah' saat jauh dari sang istri.

Lalu, apakah saya juga lepas dari godaan? Tentu tidak!
Setiap istri slalu butuh tempat untuk menyandarkan segala keluh kesahnya dan meminta nasihat dari sang suami. Butuh sosok yang melindungi dan mengayomi. Lantas, bagaimana sang istri menjalani kehidupan saat berjauhan sedangkan ia sangat membutuhkan sosok sang suami itu?
Saat jauh dari suami salah satu pikiran nakal saya adalah : bisa nongkrong dan berkumpul dengan teman teman saya , yang notabene dulunya banyak kaum adam. Bayang bayang indah itu mengelilingi setiap sudut otak. Jika saja tidak melahirkan secara operasi, mungkin saya sudah latihan silat kembali.

Tapi kemudian Allah menjaga saya. Keberadaan si kecil membuat saya mau tidak mau tidak bisa merealisasikan 'nongkrong' itu. Mana mungkin si kecil dititipkan pada si nenek sedangkan mama nya asyik ngalor ngidul di tempat makan? Lalu pupus lah angan angan indah itu. Paling banter, teman teman lelaki itu yang datang kerumah dengan disambut hangat oleh ibu tercinta. Saat jauh dari suami yang saya harapkan adalah jauh dari godaan laki laki manapun. Saya tidak mau tergoda dan saya tidak mau menggoda. Semoga Allah selalu melindungi.karena pria adalah makhluk yang slalu ada dalam lingkungan saya.. teman banyak pria, di kantor pun kebanyakan berinteraksi dengan pria.

Kesini, saya mulai sadar. Menikah itu tidak gampang. Tapi jangan dirumit rumitkan. Rumusnya adalah percaya!
Memutuskan untuk berkomitmen seumur hidup, memutuskan hanya mengizinkan satu orang untuk memiliki kita, memutuskan untuk mengikuti semua perintah satu orang dan bergantung pada satu orang bukanlah hal yang mudah. Ibaratnya, kita nyaris menyerahkan seluruh daya upaya dan hak kita untuk dikuasai oranglain. Gejolak kadang timbul. Baik itu pikiran, perasaan dan juga mental. Tak ada perjalanan yang datar. Tapi ketika kita percaya, sang nahkoda adalah yang terbaik maka hati ini akan tenang.

Beberapa minggu setelah terpisah dengan suami, kadang saya meneteskan air mata. Bisa jadi hampir setiap malam. Rindu. Hanya kata itu yang tepat. Ternyata keberadaannya sungguh berarti dalam hidup saya. Ternyata memang kehadirannya untuk melengkapi kekurangan saya

Saya yang selalu sembarangan dalam mengurus rumah, selalu ditegurnya untuk rapi, rajin dan teratur. saya yang selalu kelelahan saat pulang bekerja, tak pernah ia bebani sedemikian rupa dalam mengurusnya. Bisa dikatakan ia yang mengurus saya dan anak. Tak pernah sekalipun ia berkata masakan saya tidak enak. Tak pernah sekalipun tak ia habiskan lauk yang saya masak. Tak pernah ia menyalahkan saya jika uang bulanan yang ia berikan kadang tak cukup untuk satu bulan. Tak pernah ia marah bila saya berkumpul dengan teman. Dan ia akan berkata : istirahatlan, biar abang yang berea rumah kala melihat saya pulang malam dari kantor. Belum pernah sekalipun ia memarahi si kecil, kesabarannya tanpa batas. Tak pernah ia bertanya tentang kemana gaji saya, tak pernah ia menuntut banyak hal. Ia sungguh melengkapi saya. Bahkan kekurangan yang ada padanya telah Allah tutupi dengan sejuta kelebihan.  Lantas, bagaimana bisa saya tidak percaya padanya?

Yah, sebenarnya terlalu dini untuk melebih lebihkan kisah pernikahan jarak jauh ini. Toh baru saja sang suami meninggalkan kami. Tapi.... rasanya siapapun akan setuju bila saya katakan pernikahan jarak jauh ini membutuhkan jauh lebih banyak komitmen dan tanggung jawab.

Semoga kami bisa melalui ini dengan sebaik baiknya dan pada akhirnya nanti kami akan menuai hasil yang jauh lebih indah. Hasil dari kesabaran kami.

Rabu, 23 September 2015

Ketika Kau Merasa Jenuh

Aku mulai merasakan suatu titik jenuh.

Ya, suatu rasa yang alami tentunya karena bisa menghampiri siapapun dan kapanpun. Rasa jenuh ini berkutat pada rutinitas , pemikiran dan tentunya perasaan.

Lantas bagaimana bila rasa jenuh ini menghampiri?

Dalam bayangan saya, untuk menuntaskan kejenuhan ini adalah meninggalkan seluruh rutinitas yang monoton dalam beberapata tahun terakhir ini (baca : pekerjaan) dan melempar jubah kebosanan ini pada liburan yang menyenangkan. Tidak ada tugas, perintah bos, kekesalan, emosi dan juga segala 'pernak pernik' kericuhan di kantor yang menghampiri keseharian. Aku melepaskan jubah itu pada suatu pemandangan yang indah, petualangan bersama suami dan anaku yang akhirnya akan membuat suatu udara baru dalam hidup ini.

Liburan.
Mungkin saja aku butuh liburan.

Aku butuh memanjakan diri seperti saat masih single. Salon, tempat hiburan, nongkrong, rekreasi dan juga membaca buku sepuas hati tanpa terganggu dengan apapun. Bisa juga dengan kembali menekuni olahraga kesukaanku.

Jenuh.
Aku merasa jenuh secara fisik dan juga mental.
aku baru sadar, kejenuhan bisa datang pbahkan saat kita berada pada zona yang nyaman. Ya, aku merasa nyaman sekali dengan keadaanku. Suami yang baik luar biasa, anak yang tampan dan cerdas, rumah, pekerjaan, orangtua dan mertua yang menyayangiku. Semua telah lengkap. Tidak ada kekurangan materi dalam hidupku. Tapi tetap saja jenuh ini datang.

Ah.... entah bagaimana.
jenuh ini menggunung.

Kamis, 20 Agustus 2015

Lirik Lagu Siti Nurhaliza & Cakra Khan - Seluruh Cinta

Menatap kepergian dirimu
Meratap menangis sedih tak tertahan
Terbayang saat bersama
Lewati masa terindah
Saat kau memelukku tuturkan cinta

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tak sanggup ku memikirnya lagi
Habis separuh nyawaku tangisimu

Tiada lagi bait yang indah
Terdengar merdu terucap
Merayu menyanjungku tenangkan jiwa

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku
Ku kan s'lalu memujamu hingga nanti kita kan bersama

Tiada cinta yang setulus cintamu (Cintamu)
Tiada yang sanggup gantikan dirimu

Tiada rasa seindah kasihmu
Tiada yang mampu temani diriku

Kaulah slalu mencinta bagiku
Yang slalu mengencamkan perasaanku
Dirimu kan slalu ada di sisiku selamanya

Kau bagaikan nafas di tubuhku
Yang sanggup menghidupkan s'gala gerakku

Renungan Sore Sebelum Senja


Suatu ketika seorang sahabat lama mengirimkan aku sebuah pesan. Isinya : "aku ingin cerita" yang langsung aku balas dengan jawaban iya nan semangat. Taulah aku bahwa gosip, berita atau curhatan yang akan ia sampaikan akan sangat seru.

Ceritanya begini.
Temanku ini sudah menikah sekitar lima tahun dengan suaminya dan sudah dikaruniai dua orang anak. Pernikahannya bahagia dan bila kita lihat secara kasat mata, tidak ada yang kurang dari perpaduan antara mereka berdua. Si istri berwajah cantik dan memiliki pekerjaan yang mapan sama layaknya dengan suami yang tampan dan memiliki kedudukan di perusahaan tempat ia bekerja. Intinya mereka pasangan bahagia.

"Aku menyukai teman suamiku"
Rasanya pesan dari sahabatku itu membuat aku tertegun dan tersentak. Siapa lelaki yang bisa meluluhkan hati sahabatku ini. Aku tahu bahwa ia bukanlah orang yang mudah mengucapkan kata-kata suka. "Bagaimana bisa?" akhirnya aku balas pesan itu denga perasaan sedikit shock.

Lalu ia menceritakan tentang pertemuannya dengan sahabat suaminya itu secara tidak disengaja. Itu pun karena diperkenalkan oleh sang suaminya sendiri. Lalu seperti love at first sight, ia merasakan getaran yang telah lama padam sejak janji sehidup semati itu ia ikrarkan.

"Mungkin karena karakternya seperti suamiku." itu yang ia katakan ketika aku bertanya apa yang membuatnya jatuh cinta.

Aku belum bisa mencerna kenapa pada pernikahan yang bahagia dan nyaris sempurna, rasa kagum atau jatuh cinta pada orang ketiga masih mungkin terjadi. Ataukah rasa cinta satu untuk selamanya itu memang tidak pernah ada? Lantas bagaimana orang yang dalam pernikahan bisa setia satu sama lain dalam kurun waktu yang bertahun-tahun?

"Aku tidak tahu, rasa itu hadir tanpa bisa aku duga. Mungkin aku kagum saja." Hanya itu pembelaan diri yang sahabatku utarakan.

Perasaan.
Tidak ada yang bisa mencegah ia untuk jatuh dan tunduk. Maka aku hanya mengatakan pada sang sahabat lama untuk tidak mengikuti rasa itu. Bertahanlah, pasti hanya sementara. Tidak ada yang bisa mencegah perasaan itu muncul, tapi kita bisa menekan dan memilih untuk tidak menurutinya. Bersikap egois pada perasaan sendiri itu adalah perkara rumit, tapi tidak mustahil. Aku tidak mau menghakimi sahabatku itu, bagiku ia tidak dapat memilih untuk menjatuhkan rasa. Itu bukan salahnya. Hanya saja, saat ini rasa itu adalah ujian untuknya dan pernikahannya. Apakah ia memilih untuk mengabaikan dan setia pada sang suami, atau memilih untuk menuruti rasa lantas 'menduakan' sang suami. Bukankah setia tidak melulu tentang keberadaan raga, tapi juga hati dan jiwa di dalamnya?

Senin, 03 Agustus 2015

Pernikahan : Antara Pria dan Wanita


Mungkin banyak orang pernah mendengar kutipan : "Galaunya seorang wanita berakhir saat ia menikah, sedangkan galaunya pria dimulai ketika ia menikah."

Bisa jadi kutipan itu benar adanya. Kebanyakan wanita merasa pernikahan berarti masa pencarian mereka berakhir dan disitulah ia akan mulai mengimpikan sebuah 'perjalanan' yang happy ending seperti yang banyak diceritakan buku-buku dongeng. Perjalanan yang diisi dengan cinta, kasih sayang dan juga perhatian bertubi-tubi dari pasangan dan orang-orang disekitarnya.

Lalu pada sisi pria ia akan dihadapi dengan segala 'kenyatan' yang sebelumnya tidak ia perkirakan. Ketika pendapatannya hanya pas-pasan untuk membayar cicilan rumah, tagihan listrik, telpon, membeli beras, membeli susu, pampers dan segala macam arisan yang harus ia ikuti dikarenakan permintaan istri maka terdamparlah ia pada zona galau! galau karena selama ini ia terbiasa hanya melakukan rutinitas : bangun - makan - kerja - main - tidur - bangun - makan - kerja - main - tidur. Lalu saat ia serta merta harus berubah menjadai suami, dan kalau beruntung segera menjadi ayah, ia tergopoh-gopoh karena merasa mentalnya belum siap. Ia keluar dari zona nyamannya. Karena kehidupan seperti itu tidak pernah ia bayangkan. Mendengar tangisan anak kecil, memandikan si bayi, mengganti pampers, melihat rumah yang berantakan, istri yang tidak sempat memasak, dan yang paling parah melihat istri yang awut0awutan tanpa make up yang membuatnya cantik. Karena pada saat berpacaran sang wanita selalu tampil prima. Sang pria terbangun dari dongeng nya.

Itulah sekilas tentang pernikahan, setidaknya dari sudut pandang yang berbeda.

Ketika pernikahan terjadi, ada perbedaan "bayangan" antara wanita dan pria. Wanita membayangkan saat ia menikah berarti ia telah memiliki sang suami dengan seutuhnya. Berharap sang suami hanya miliknya, untuknya, dan bersikap hanya demi dirinya. Wanita tetap ingin dipuja, dicintai, diperhatikan, dan di nomer satukan. Bahkan saat ia telah memiliki anak, sang wanita ingin tetap kadar 100 % yang mungkin telah dijanjikan tidak pernah berkurang, bahkan satu persen pun! karena wanita bisa mendeteksi dengan cepat saat kadar itu berkurang. Dan kadang wanita pun menjadi tidak realistis saat menuntut sang suami menjadi sesempurna itu dengan melupakan bahwa sang suami juga telah merasa lelah dengan pekerjaan dikantor dan berbagai hal lainnya sehingga ia membutuhkan sedikit "me time" , salah staunya dengan menjelajah dunia maya, games atau sekedar ngopi bersama teman. Laki-laki tidak bisa serta merta meninggalkan hidupnya, hobinya dan juga teman-temannya saat telah menikah. Berbeda dengan wanita yang rela akan meninggalkan semua itu demi menjadi istri dari pria pujaannya.

Seharusnya para pria tahu, dengan segala yang terjadi sepanjang hari (ditambah apalagi sang wanita dalah istri bekerja) , wanita membutuhkan perhatian lebih dari pasangannya. Hal itu sangat berguna demi normal nya kelangsungan adrenalin istri. Agar ia tetap rasional dalam menjalani hari-hari. karena pernikah bagi wanita tetaplah dongeng!

Jika pada masa sebelum menikah sang pria kerap memberikan mawar disetiap hari, maka tolonglah, jangan hentikan kebiasaan itu. Karena hal itulah yang membuat ia merasa selalu dicintai. Semua kebahagiaan yang pernah pria perjuangkan dan berikan seharusnya jangan pernah berhenti saat telah bersama menjadi sepasang suami istri.

Dan bisa dipastikan, pria akn berhenti melakukan hal-hal romantis saat telah menikah (kebanyakan).

Wanita yang kerap kali memikul tanggung jawab mengurus anak, bekerja diluar rumah, dan juga mengurus rumah setidaknya berhak untuk mendapatkan perhatian dan curahan kelembutan. Walaupun segala yang ia lakaukan merupakan ladang amalah dan pahala untuknya. Tapi wanita tetaplah wanita.

Saat kalian dirumah, bisalah kalian menyingkirkan satu jam saja gadget dari hadapan anda hanya untuk sekedar membiarkan sang istri merebahkan kepalanya di dada anda karena menjalankan hari yang melelahkan, dan dengarkanlah ia dengan tulus saat bercerita. Lalu setelah itu anda punya banyak waktu untuk gadget anda. Bersikap adilah pada para istrimu.

Jangan membuat para istri berpikiran bahwa gadget lebih seksi dibanding dirinya.

Kamis, 18 Juni 2015

Cerpen_

Mudik


Ramadhan berkunjung.
Membiarkan para umat muslim menangguk berjuta-juta pahala dan berkah yang ditaburkan Allah ke muka bumi berkali-kali lipat dari biasanya. Bulan puasa dimana beribu lubang rezeki pula yang Allah hamburkan bagi umatNya. Tanpa sedikitpun luput dari keberkahan itu. Tapi Ramadhan kali ini terasa berbeda untuk Roky. Baru saja satu hari bulan puasa ini ia jalankan, istrinya sudah menyodorkan hal yang paling rumit untuk bisa ia realisasikan. Mudik.
“Bang, ini sudah tahun ketiga kita tidak mudik. Umak sudah rindu melihat bagaimana rupa cucunya yang belum pernah ia  lihat. Kemarin Umak mengirimkan kabar, bahwa ia merindukan kita dan berharap kita dapat berkumpul pada hari lebaran ini.”
Roky tidak menjawab keinginan istrinya serta merta. Roky membutuhkan waktu untuk berfikir. Apalah lagi kalau bukan kerana masalah uang yang menjadi muasal penyebab kegalauan hati Roky. Roky hanya seorang penjual es tebu di alun-alun kota, profesi yang harus ia tekuni setelah di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja selama sepuluh tahun karena dituduh melakukan froud. Sebagai seorang operation manager, patutnya Roky merasa pantas mendapatkan service yang sedikit ‘lebih’ dari kantornya. Sayangnya service itu ia ambil dengan tanpa menggunakan izin, padahal hanya sejumlah tiket yang ia gunakan adalah untuk mengunjungi Fatiah sebelum  mereka menikah. Kasmaran membuat Roky rela melakukan itu. Dan saat satu tahun pernikahan mereka, Roky harus menerima kenyataan bahwa tiket yang ia beli menggunakan uang perusahaan itu adalah noda yang harus ia bayar dengan pemecatan.  “Perusahaan tidak akan pernah memecat seseorang bila ia hanya melakukan kesalahan prosedur, tapi tidak untuk froud!” itu yang diucapkan kepala divisi anti froud dihadapan muka Roky sekaligus maklumat bahwa kini ia di PHK. “Baru aja pegang jabatan sebentar udah berani menyelewengkan dana perusahaan!” Cibiran teman-teman sejawat nya membuat Roky menundukkan muka dalam–dalam saat melewati mereka. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Padahal Roky merasa ia sudah memainkan semuanya dengan cantik, nyaris yakin bahwa tidak aka nada yang tahu bahwa ia memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadi. Hanya untuk menunjukkan pada Fathiah betapa tajir-nya ia, mampu bolak-balik Jakarta ke dusun Fathian seminggu
Lalu, satu tahun pernikahan yang bahagia berganti dengan kesulitan ekonomi yang sungguh memilukan Roky. Setelah pindah dari ibukota menuju daerah kelahiran Roky, terdamparlah Roky pada profesi sebagai penjual es tebu di alun-alun kota itu  setelah berbagai cara untuk usaha dan melamar pekerjaan yang gagal, kandas, dan tidak berhasil.
“Kenapa tidak menetap di Jakarta saja, Bang? Toh disni banyak sekali perusahaan yang bisa Abang coba ?” bujuk Fatiah, rupanya ia enggan meninggalkan ibukota. Gadis dusun ini sudah jatuh cinta dengan macetnya Jakarta. Tapi entahlah, Roky merasa enggan menapaki Jakarta. Mungkin malu yang mendalam atau juga kerinduan pada kampong halaman, rasanya hampir sama. Maka sampailah Roky pada takdir penjual es tebu di alun alun kota halamannya, jika tak mau disebut kampong.  Ia merasa menjual es tebu sedikit manusiawi untuknya. Dalam sehari ia dapat menjual lima belas sampai dua puluh lima gelas es tebu seharga enam ribu per gelasnya. Lumayan untuk menghidupi anak dan istrinya sehar-hari. Tapi untuk mudik? Roky belum berani berhitung-hitung.
Dihitung Roky sudah dua puluh lima kali Fatiah menanyanyakn hal yang sama selama satu minggu puasa ini, “Bagaimana Bang, apakah kita bisa mudik?” Rasanya ingin Roky benturkan kepalanya kedinding rumah tipe empat lima yang ia tempati, atau bisa saja ia tampar mulut Fatiah yang selalu bertanya itu. Tapi rasa cintanya pada Fatiah membuat ia mengurungkan niat keji pada istrinya itu.
“Kenapa tak kau jawab saja jika kau tak bisa penuhi keinginan istrimu itu, kawan.” Itu nasihat yang Roky terima ketika menceritakan permasalahannya pada Joni, si tukang parkir tempat Roky biasa mangkal.
“Aku takut istriku kecewa karena uang tabungan kami sudh ludes. Dan tentunya mana bisa kami mudik. Lagian, untuk apa kami mudik. Mau menunjukkan wajah kekalahan ? ah! “ sungguh kesal hati Roky bila membayangkan harus mudik dengan pekerjaannya sebagai tukang tebu. ZPadahal dulu seminggu sekali ia mengunjungi Fatiah menggunakan pesawat yang transit nya dua kali. Belum lagi ia akan menyewa roda empat untuk menuju rumah Fatiah. Sungguh terlihat sangat berduit. Lalu kini, ia akan membawa anak istrinya itu ke kampong halaman degan menggunakan bis? Atau angkutan umum? Atau juga menggunakan kapal laut? Ah, malu!
“Kau ini, mau mudik saja seperti habis kalah perang. Pakai istilah kalah saja. Kalau mau pulang, ya pulang. Kalu tidak mau pulang ya bilang. Sungguh berbeda makna mau pulang tapi tak ada uang dengan tidak mau pulang walaupun ada uang.”
“aku tidak mau mudik dan tidak punya uang!”
“Ya sudah, sampaikan saja pada istrimu. Jangan bikin kepalamu sakit sendiri. Kan kau suaminya, kau yang atur mau pulang atau tidak.”
Roky terdiam. Benar yang dikatakan Joni, ia adalah seorang suami. Ia yang berhak menentukan untuk mudik atau tidak ke kampong halaman istrinya. Lalu, setengah jam sebelum berbuka Roky sudah pulang sambil membawa gerobak es tebu nya. Tekadnya sudah bulat untuk mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak mau mudik ke kampong halaman istrinya. Selain uang tabungan mereka sudah ludes karena kalah taruhan, ia juga merasa malu dan malas untuk mudik. Terbayang sudah jika harus naik kapal berjam-jam lalu dihiasi dengan naik bis menuju dusun si istri. “Aku adalah suami, aku yang menentukan!” sekali lagi ia memantapkan mentalnya. Sekarang dadanya membusug tinggi seolah akan menyentuh dagu. Semangatnya terpompa laksana akan meletup.
Baru satu langkah ia memasuki pekarangan rumah, istrinya terdengar memanggilnya histeris. “Abang, Ibu meninggal Bang. Kita harus pualng, Bang! Selama ini ternyata Ibu sakit keras , Bang. Bang, kita harus pulang sekarang Bang!”
Fatiah mengguncang-guncang tubuh Roky dengan keras, mukanya terlihat pucat dan sembab. Tapi hatinya lebih terguncang. Bagaimana kini ia harus mengatakan pada FAtiah bila ia mau mudik, demi istrinya, tapi tidak punya uang.  Bagaimana bisa. Wajah Fatiah semakin pucat, dengan air mata bercucuran. Ah, bagaimana ini!


CERPEN

_RIO_


Rasanya sangat tidak menyenangkan berada ditempat yang tidak menyukai keberadaan diri kita, biar itu dekat ataupun jauh. Kuping pun terasa sangat tidak menyenangkan melihat kasak-kusuk mulut yang monyong kekiri dan kekanan saat melihat kita dari jauh, lalu serta merta bibir itu terdiam kala kita mendekat. Ah, sungguh tak nyaman! Tapi mau berkata apa? Sekarang disinilah Rio berdiri , satu bangunan, satu ruangan dengam mereka yang mulai berbisik-bisik saat berbicara, tatapan mereka penuh makna merendahkan. Dan mungkin sedikit benci.
Lalu apa salah Rio hingga ia sedemikian rupa dibenci. Bukankah ia sudah bersikap amat ramah kepada siapa saja yang ia temui di kantor itu. Menyapa dan menyalaminya setiap bertemu. Selalu berbasa basi dan mengeluarkan senyum yang terindah kepada teman-teman, ya setidaknya Rio sendiri menganggap mereka sebagi teman satu kantor, walaupun mereka tidak. “Terlalu sok akrab! “ Sesekali ia mendengar desisan yang menyakitkan hati itu keluar dari bibir-bibir mereka yang terhias lipstick itu, ada yang berwarna pik, merah, coklat dan bahkan ada yang tidak mengenakan lipstick.
Baru dua minggu dan suasana tidak menyukai Rio sudah menjadi pergunjingan hebat seantero makhluk kantor berseragam abu-abu itu. “Entahlah, rasanya sikapnya terlalu berlebihan pada kita semua. Seperti ingin akrab, tetapi terlalu lebay!” kata Ana siang itu saat jam makan siang. “Betul sekali katamu. Aku juga pusing melihat tingkahnya. Kenapa orang seperti itu ya yang ditempatkan di kantor kita?” timpal Ita sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Mungkin karena setidak menyenangkannya dia, sampai ia dimutasi kekantor kita ini.” Seloroh Abdul yang diamini oleh teman-teman lainnya, merasa seperti itulah jawaban yang sesungguhnya.
Lantas, saat Rio datang dan berniat duduk bersama mereka dimeja makan, semua orang merasa harus angkat pantat dari tempat duduknya. Berdiri dan meninggalkan Rio tanpa memperdulikan Rio yang sedang tersenyum ramah pada mereka. Padahal baru saja Rio ingin berbagi sedikit lauk yang ia masak hari itu untuk teman-teman barunya, biar terasa akrab. Batinnya mengguman sendiri.
*********
Hari ini Rio mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam. Batu cincin berwarna semerah delima nangkring dengan gagah di cari tengahnya, besar sekali. Seperti biji salak. “Seperti sales saja ya yang menjual panci keliling kampung.” Bisik Mutia kepada Ita saat doa pagi berlangsung. Disambut dengan cekikikan lembut dari Ita dan anggukan keras tanda menyetujui pendapat temannya itu.
Rio tahu mereka sedang membicarakan penampilan Rio. Tapi, itu tidak menyurutkan hati Rio untuk tetap bersikap ramah, menurut versi Rio, dan untuk terus mengembangkan senyumnya yang indah, menurut versi Rio pula.
“Aku tidak peduli dengan pendapat kalian, karena aku adalah aku.” Itu adalah kalimat yang Rio tuliskan di status facebook nya pagi ini.
Ia mulai sedikit frustasi kala ia menyapa beberapa teman sekantor, teman-temannya hanya menoleh dan memberikan ekspressi wajah datar. Hanya menjawab seperlunya. Ternyata  kantor yang selalu memberikan pelayanan prima kepada nasabah ini, tidak bisa memberikan senyum yang baik untuk teman sejawatrnya di kantor. Lantas, apakah pelayanan mereka kepada nasabah sungguh-sungguh tulus? Wajar? Ikhlas? Semuanya mulai dipertanyakan Rio.
Rio mulai ingat bagaimana personalia di kantor cabang sebelumnya menyampaiakan sebab musabab ia akan dimutasi ke cabang yang sangat jauh dari homebasenya. Sungguh terpukul sekali Rio mendengar keputusan itu.
“Mulai minggu depan kamu dimutasi ke daerah Kalimunci.” Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan dari personalia. “Kenapa saya dipindahkan , Mbak? Bukankah saya selalu achive? Perform saya tidak pernah dibawah angka sembilan puluh persen, Mbak.” Sanggahan yang Rio kumandangkan lebih tepat seperti air cucuran genteng yang akhirnya jatuh ke pelimbahan tanpa ada hambatan. Jatuh saja tanpa dipedulikan. Ia ingat bagaimana si Mbak personalia tersenyum kearahnya , “Maaf Rio tapi ini adalah keputusan bersama dari pimpinan. Menurut meraka, kamu harus belajar tentang sosialisasi diri yang lebih mendalam. Mungkin Kalimunci adalah tempat yang cocok untukmu.”
Semakin gusarlah Rio dengan jawaban mbak Personalia. Sosialisasi? Apa maksudnya. Sosialisasi dengan siapa? Dengan teman sekantor? Tidak ada sosialisasi yang diperlukan dalam hubungan kerja! Karena dunia kerja adalah hubungan yang timbal balik sekadarnya. Tidak perlu ada emosional didalamnya agar tentunya memudahkan kita dalam bekerja. Rio ingat bagaimana ia selalu berada diruang kerjanya tanpa mau berkumpul bersama teman sekantornya, entah untuk pulang menunggu bis bersama atau sekedar karaoke pada sabtu malam selepas bekerja.
Ia hanya berada diruangannya, bertegur sapa seadanya, hanya untuk keperluan kerja. Basa basi hanya untuk urusan kerja. Tidak ada pembicaraan pribadi apalagi gosip yang keluar dari bibirnya. Ia hanya bekerja. Dan tentu itu sangat efisien untuk scoring board kinerjanya. Achievement yang luar biasa seperti hal mudah dalam setiap kinerjanya. Tapi ternyata itu tidak penting. Pencapaian terbaik dalam bidangmu bukanlah hal yang cukup. Terbukti dengan dimutasinya ia dari cabang pusat ke cabang dekil diujung pulau yang Rio ragukan ada dipeta Indonesia atau tidak. Berkali-kali ia mencoba mencari tahu penyebab atas keputusan yang diambil tersebut. Lalu tersimpulah sebuah kesimpulan, tidak ada yang menyukai perilaku Rio yang terlalu penyendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, Rio bekerja dengan baik. Sangat baik malah, tapi keberadaannya menimbulkan efek yang tidak baik bagi seluruh unit. Rio seperti tai yang tergeletak di dapur, siapapun yang melihatnya akan jijik sehingga makanan yang disajikan di dapur itu akan dianggap jorok, dan dibenci. Padahal, tai itu sendiri sangat bermanfaat bagi tubuh. Ia telah dengan susah payah mengeluarkan sisa-sisa limbah dari tubuh manusia, ia sungguh berjasa. Tapi tai tetaplah tai, apalagi tai yang ada di dapur. Tempatnya salah.
*********
“Apapun tindakanmu, baik benar, buruk indah maka manusia tetaplah manusia. Tidak akan ada tingkahmu yang dianggap benar. Maka, jadilah dirimu sendiri dan berbahagialah dengan itu. Nikmati saja.” Sore itu ia menikmati nasi hangat dengan lauk ikan jebung bakar dan kecap manis yang telah dibumbui irisan bawang merah dan cabe rawit. Disampingnya, duduklah Adhyaksa dengan asyik menghirup rokok dalam dalam.
Lelaki berperawakan kecil dengan badan sedikit bungkuk, matanya yang besar tapi berada dibalik kacamata menambah nilai seni dalam wujudnya. Seni abstrak, maksudnya. Adhyaksa adalah satu-satunya orang yang bisa menerima keberadaan Rio di kantor itu. Entah karena ia sama-sama diasingkan atau karena sama-sama berasal dari kota yang sama.
“Ya, manusia hanyalah seonggok daging. Jiwanyalah yang membuat mereka hidup.” Ucap Rio.
“Maka kau beli saja jiwanya, jangan dagingnya.”
“Sayangnya jiwa mereka sangat busuk, hingga harga tinggi yang harus ku bayar kawan.”
“Kau tak tau apa-apa tentang jiwa, manusia tetaplah manusia. Sudah fitrahnya mereka suka mencaci.”
“dan tidak ada manusia yang sempurna, bahkan di mata mereka”
“lantas kenapa harus menjadi sempurna jika apapun yang kau lakukan akan selalu salah dimata mereka?”
Rio terdiam. Apa yang dikatakan Adhyaksa adalah benar. Apapun yang kita lakukan akan selalu salah dimata manusia, lantas apa yang dirapkan untuk berubah? Bahkan Adhyaksa yang bersikap diam tak pernah menegur pun masih saja menjadi bahan cemoohan. Rio yang bersikap ramah peda semuanya, dikatan sok akrab. Lantas, mana yang benar?

 *********
“Selamat ulang tahun, Rio” dengan wajah sumringah semua kerabatnya di kantor akan menegurnya dengan wajah cemerlang, seperti bintang-bintang dilangit pada malam hari. Seperti batu pualam yang telah diasah dan dibersihkan. Seperti kerlipan lampu-lampu megawatt. Rio mengucapkan terima kasih dan dihamburi salam dan kecupan dari semua orang.
Akhirnya, Rio berhasil menaklukkan rasa tidak suka, rasa tidak nyaman dan kebencian yang pada awalnya membara dihati mereka. Teman sekantornya.
“Sungguh mudah membeli jiwa mereka kan, kawan?” Tanya Adhyaksa hari itu. Rio tersenyum kecil. Antara bahagia dan miris. Hanya dengan satu panci besar makanan yang ia bawakan dihari itu, sebagai perayaan ulang tahunnya, semua orang tiba-tiba menjadi ramah. Ia seperti dicintai. Rio merasa bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya ia merasa mampu untuk bersosialisasi.
Tapi panci berisi makan itu selalu ia hadirkan minimal satu bulan sekali, semi menjaga sosialisasi dan juga senyum teman sekantornya.
*********








Pangkalpinang, 16 Juni 2015

Aku Bumi

 Aku bumi Kau bintang  Saling memandangi Namun tak akan serupa Tak pernah bersua - 7 Januari 2021 -